
"Sudah lupakan, isi energimu dengan banyak, setelah ini pembicaraan kita akan sangat menguras energi."
Mendengar ucapannya seketika membuatku menatap kearahnya. "Soal?" Tanyaku penasaran.
Namun bukannya menjawab pertanyaanku, Evan justru asik dengan jajan yang ia beli.
Aku menghabiskan satu cup es krim dan sepotong coklat, "aku sudah siap mendengarkan." Ujarku setelah meletakan botol air mineral yang isinya tinggal setengahnya.
"Del!" Evan menghela nafasnya perlahan. "Ada beberapa hal yang harus aku katakan padamu, terutama tentang rafa."
"Aku tidak ingin mendengar namanya lagi." Mendengar namanya disebut membuat moodku kembali berantakan. Aku bahkan tidak peduli jika lelaki itu membatalkan kerjasama. Aku hanya ingin tenang tanpa berhubungan lagi dengan pria tak berakhlak sepertinya.
"Aku tahu itu, tapi kamu harus dengar ini." Evan menjeda sejenak ucapannya. "Aku tahu segalanya tentang Rafa, aku tahu rencana penjebakkan Dev, aku tahu semuanya." Ucapnya mantap.
Ingin sekali aku menarik hidungnya hingga seperti gajah, bagaimana bisa Evan membiarkan kekacauan ini terjadi sedangkan sebelumnya dirinya tahu jika Rafa merencanakan semua ini.
"Bahkan jika rencana ini gagal, Rafa sudah menyiapkan rencana cadangan." Lanjutnya lagi.
"Sepertinya kamu tahu banyak hal." Ucapku dengan perasaan yang entah.
"Sudah aku katakan tadi, aku tahu semuanya tentang pria itu." Ujarnya dengan angkuh.
"Jika kamu mengetahui rencana Rafa, lalu bagaimana bisa kamu membiarkan rencana itu berjalan dengan lancar. Tidak ada akhlak." Kesalku. Aku kembali mengambil botol menghabiskan sisa airnya.
"Karena aku tahu tidak akan terjadi apapun dengan suamimu, dia hanya akan memainkan sandiwara tidak mempraktekannya." Dengan santainya Evan berkata tanpa peduli dengan perasaanku.
"Benar tidak terjadi apa-apa dengan Dev, lalu bagaimana dengan Adel?" Ucap seseorang tiba-tiba yang tidak kami sadari kedatangannya.
Evan begitu terkejut ketika mendengar suara yang tidak lagi asing baginya. Bahkan ia tidak berani berbalik meski hanya sekedar melihat wanita itu.
"Sejak kapan Kakak ada disini." Tanyaku begitu Kak Shanum sudah berdiri dihadapanku.
"Geser!" Perintahnya, menyuruh dudukku sedikit bergeser. Tanpa menghiraukan pertanyaanku.
"Kakak saja yang ditengah, Kakak kan calon istrinya." Aku masih bertahan diposisi semula. Sepertinya Kakak juga kesal dengan Evan.
"Baru calon." Kekehnya.
"Biarkan aku berdiri saja." Evan bangkit dari duduknya memberikan tempat untuk calon wanitanya. "Apa yang terjadi dengan Adel."
Kak Shanum duduk setelah Evan berdiri. "Kamu tahu Adel begitu menderita, bahkan sampai sakit."
"Serius!" Serunya.
"Tidak apa-apa Van." Ucapku tidak ingin Evan mengetahui kenyataannya.
"Kamu harus bertanggung jawab soal ini, aku tidak akan siapapun menjadi penyebab sakitnya adik kesayanganku." Kak Shanum pasti akan menempatkanku diatas siapapun.
__ADS_1
"Kamu hutang penjelasan padaku Van." Lanjutnya lagi.
"Sha maafkan aku, bukan maksudku menyembunyikan ini dari kalian, dan membiarkan Dev terjebak dengan rencana Rafa, tapi aku memiliki alasan sendiri." Ucap Evan merasa bersalah.
Ia menggaruk kepalanya yang aku kira pasti tidak gatal. "Baiklah aku akan menjelaskan." Ucapnya pasrah setelah melihat raut muka Kak Shanum yang tidak bersahabat.
Kemudian Evan mengatakan jika dia akan selalu tahu apapun yang Rafa rencanakan, namun dia tidak ingin mengatakan darimana sumbernya.
Evan juga mengatakan jika Rafa akan merencanakan cara yang lebih ekstrim untuk bisa mendapatkanku. Rafa akan melakukan penculikan padaku, dalam rencananya juga ia akan memberikan minuman yang bisa membuatku menuntut penuntasan.
Aku sangat geram mendengar fakta baru tentang pria yang pernah singgah dihatiku beberapa tahun lalu.
Namun sekarang hanya tersisa kebencian yang mendalam terhadapnya, Begitu hinanya lelaki yang sangat terobsesi denganku.
"Apa kamu juga akan membiarkan hal ini terjadi?" Tanyaku serius.
"Tentu saja iya," Jawabnya santai, dan sukses membuatku dan Kak Shanum melotok kearahnya. "Maksudku tidak, ah gimana ya menjelaskannya." Evan kembali berucap.
"Maksudku begini, aku akan membiarkan Rafa sukses menculikmu, namun tidak akan membiarkan ia sukses dalam rencana selanjutnya."
"Apa yang kamu rencanakan?"
"Negara kita adalah negara hukum, biarkan saja Rafa berencana menjebakmu, lalu kita rencanakan agar rafa terjebak dalam rencananya sendiri. Dan hukum yang akan berbicara."
Aku yakin Evan pasti punya rencana sendiri untuk hal ini.
"Aku akan membatalkan kerjasama dengannya, tidak masalah jika aku harus membayar mahal konsekuensinya." Lebih baik sedikit rugi soal materi daripada rugi mental jika terus berurusan dengan pria mengerikan sepertinya.
Membayangkan penculikkan saja sudah membuatku begidik ngeri, apalagi jika hal itu terjadi.
"Rafa tidak akan pernah menerima pembatalan kerjasama denganmu." Jawabannya membuatku dan Kak Shanum menatapnya bingung.
"Tidak usah dijelek-jelekkan begitu mukanya." Disituasi seserius ini masih saja sempat-sempatnya ia bercanda.
"Jangan becanda Van." Ucap Kak Shanum.
"Maaf Sha, tidak lagi."
Evan duduk direrumputan, sepertinya ia mulai lelah sejak tadi berdiri. "Bekerjasama denganmu adalah satu-satunya usaha dia yang halal."
"Halal?" Teriakku dan Kak Shanum bersamaan, sehingga membuat beberapa pengunjung taman melihat kearah kami. Di waktu yang sudah hampir masuk jam istirahat membuat taman ini semakin ramai, banyak karyawan yang mendatangi penjual jajanan gerobak.
"Jangan teriak, kalian jadi pusat perhatian." Evan berkata tanpa memandang kearah kami.
"Seharusnya informasi itu sudah lebih dari cukup untuk kalian, jangan bertanya lebih jika aku belum ingin mengatakkannya, semakin banyak tahu akan semakin membuat hidup kalian terancam." Ucapnya lagi dengan serius.
Evan kembali berdiri, mengusap kepala yang terbungkus kerudung milik Kak Shanum. "Sha aku pergi dulu ya, kamu percaya padaku kan, semua pasti akan baik-baik saja."
__ADS_1
Kak Shanum mengangguk lemah, sedikit banyak sepertinya Kak Shanum sudah tahu tentang Evan yang sebenarnya.
Menjadi model hanya sebagai profesi yang bisa dikonsumsi buplik, namun rahasia dibalik kehidupan Evan yang sebenarnya tidak ada yang tahu.
Evan berlalu meninggalkanku dan Kak Shanum, kami berdua diam dengan pikirannya masing-masing.
"Dek cari makan yuk," ajak Kak Shanum memecah keheningan.
"Kemana?"
"Seafood bagaimaan?"
"Adel temani Kak, tapi Adel tidak ikut makan sudah terlalu banyak jajan, perut Adel sudah tidak muat lagi gara-gara ulah Calon Kakak ipar."
Aku sudah tidak ingin memakan apapun, perutku sudah tidak muat untuk menampung makanan lagi.
Evan terlalu banyak meracuniku dengan banyak kalori.
"Evan?"
"Hu,um. Dia meracuniku dengan banyak makanan sedari tadi."
"Baiklah, Kakak cari makan disini saja."
Akhirnya Kak Shanum hanya memesan siomay yang terletak tidak jauh dari tempat kami duduk.
Seafoodnya lain kali saja katanya, tidak enak jika makan sendiri.
Aku menunggu Kak Shanum menghabiskan sepiring siomay, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya.
Kak Shanum mengambil sebotol orange juice didalam plastik yang tadi Evan beli, "Sepertinya ada yang ingin kamu katakan." Ucapnya.
"Ini tentang Evan."
"Katakan!" Kak Shanum meletakan kembali botol orange juice yang hanya diminum beberpa teguk saja.
"Apa yang Kakak ketahui tentangnya?"
Kak Shanum menghela nafasnya perlahan, ia senderkan kepalanya dikursi taman. "Tidak banyak." Ucapnya singkat.
"Evan memegang kunci yang bisa menghancurkan Rafa, namun Rafa tidak mengetahuinya jika Evan tahu semuanya. Hanya itu yang Kakak tahu jangan tanyakan lebih." Lanjutnya lagi.
Kata-kata Kak Shanum semakin membuatku ingin tahu tentang rahasia yang Evan sembunyikan, namun jika Kak Shanum saja tidak diberi tahu apa lagi aku.
☆☆☆
Terimakasih buat yang masih setia sampai di Bab 50.
__ADS_1
Jika ada kata-kata yang salah mohon koreksinya.