Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 58


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." Ucap Evan begitu sampai ditempat Shanum.


Evan masuk setelah Shanum membukakan pintu.


"Van ada apa?" Tanya Shanum bingung, pasalnya ia tidak mempunyai janji temu dengan lelaki itu.


Bahkan Evan juga berkata sehari ini tidak akan menemuinya, ada urusan yang harus diselesaikan sebelum hari esok.


"Tanyakan sama adik kesayanganmu." Balas Evan dengan kesal. Ia duduk di sofa ruang tengah, menyerahkan plastik berisi pesanan Adel.


"Kenapa sebanyak ini?" Tanya Adel terkejut, pasalnya Evan membawa sekantong besar cilok kuah yang sudah dibungkus sampai banyak porsi.


"Kamu tidak mengatakan ingin berapa."


"Harusnya kamu bawa sama abangnya sekalian."


"Harusnya tadi gitu.


Adel melihat isi kantok plastik, "Mau diapakan sebanyak ini?"


"Terserah kamu, itu bukan urusanku lagi."


Evan berkata dengan acuh, "aku haus, bahkan dari kalian tidak ada yang menawarkan minum."


Evan berjalan kedapur, ia melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, tanpa permisi Evan masuk dengan rasa kesal yang semakin meningkat.


"Sialan." Gerutu Evan, sambil menghempaskan diri diranjang Dev.


Evan yang sedang bekerja harus mencari keinginan Adel, sedangkan Dev malah enak-enakan tertidur.


"Woy bangun!" Ucap Evan sedikit berteriak.


"Berisik!" Dev menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya.


Evan tidak mau kalah, ia kembali menarik selimu Dev, mengguncang tubuhnya.


"Kamu gila ya Van, ganggu aja!" Dev berdecak sebal.


"Kamu yang gila!"


"Van kamu gak bisa biarin aku tenang apa, tiap ketemu ngajak ribut mulu, heran."


"Kamu dan Adel memang cocok, pasangan yang sama-sama menyebalkan."


"Hey jangan mengata istriku!" Seru Dev. Mendengar ada yang mengumpat tentang istrinya ia tidak terima.


Meski akhir-akhir ini sikap Adel sedikit menyebalkan, namun Dev tetap tidak terima jika ada yang mengatainya.


"Kalian pasangan yang sangat menyebalkan."


Evan dan Dev masih meneruskan debatnya, sedangkan Shanum masih diselimuti rasa bingung.


"Dek untuk apa semua ini?" Tanya Shanum.


Adel masih memainkan ponselnya, sama sekali belum menyentuh cilok kuah yang beberapa menit lalu begitu ia inginkan.

__ADS_1


"Tanyakan saja sama kekasih Kakak, dia yang bawa." Jawabnya Acuh.


Bu Mira datang dari belakang, duduk disamping Adel, "Adek yang minta dibawakan cilok?" Tanyanya dengan lembut.


"Iya Bu."


"Kenapa tidak dimakan?"


"Sekarang udah gak pengin." Jawabnya dengan enteng.


Shanum menatap Ibunya, memberi pertanyaan lewat sorot matanya.


Bu Mira hanya mengedikkan bahu menandakan ia tidak tahu, lebih tepatnya Bu Mira pura-pura tidak tahu.


Wanita yang usisnya lebih dari setengah abad itu belum bisa memberi tahu sesuatu yang belum pasti, takutnya asumsinya akan mengecewakan jika tidak sesuai dengan realita.


Dev dan Evan keluar bersamaan, tampilan Dev yang semakin mempesona dengan rambut basahnya. "Ahhh Abang, Adek meleleh Bang, makin cakep aja." Goda Adel ia menyambut Dev dengan bergelayut manja dilengannya.


"Lebay." Ucap Evan dengan mengacak rambut Adel.


"Sirik aja sih." Sinis Dev.


Dev menuntun Adel untuk kembali duduk, ia ikut terheran dengan bungkusan cilok didalam kantong plastik. "Siapa yang beli makanan beginian?" Tanyanya dengan bingung.


"Evan." Jawab Adel singkat.


Dev menatap Evan curiga, seakan tidak percaya jika seorang Evan berkunjung kerumah calon mertua membawa cilok.


"Aku belum bangkrut, tidak usah menatapku seperti itu." Evan berkata dengan jengkel, seakan ia paham atas tatapan Dev.


"Hey!" Evan melempar bantal sofa kearah Dev, "jika bukan karena istri manjamu, aku juga tidak akan membelinya."


Adel tidak peduli dengan ucapan Evan, ia seolah tidak terusik dengan kekesalan Evan.


"Del kamu yang mintanya kan, cepat makan!" Perintah Evan pada Adel.


Adel menyandarkan kepalanya di bahu Dev. "Aku tidak mau." Jawabnya dengan santai.


"Del bagaimana bisa begitu, kamu yang memintaku membawakan makanan itu dalam waktu 30 menit. Kamu tahu? Banyak yang aku korbankan tapi sekarang kamu dengan entengnya ngomong gak mau makan!"


Evan semakin kesal dibuatnya.


"Van aku ngomong minta dibelikan cilok kuah dalam waktu 30 menit harus sampai, bukan ingin makan cilok kuah, bahkan kamu datang tidak tepat waktu."


"Aku hanya terlambat dua menit."


"Banyak yang bisa terjadi dalam waktu dua menit, termasuk perasaanku."


"Penyakit menyebalkan ternyata bisa menular." Gerutu Evan.


"Tidak apa-apa, sudah jangan berdebat, ini hanya soal makanan kan? Biar Ibu yang atasi."


Bu Mira menengahi berdebatan anak dan calon menantunya. Sebenarnya hal seperti ini sudah tidak asing lagi, tapi biasanya hanya Dev dan Evan yang terlihat tidak akur.


Tapi kali ini Adel bahkan bersikap sangat menyebalkan.

__ADS_1


Bu Mira berjalan keluar, ia menyerahkan bungkusan plastik kepada satpam rumah.


Memintanya membagikan kepada anak-anak jalanan yang sering terlihat dibelakang komplek.


Meski hanya jajan pinggir jalan, tapi bagi anak-anak yang kurang beruntung sudah sangat senang mendapatkannya.


"Dek ikut Ibu yuh." Ajak Bu Mira setelah ia kembali lagi kedalam rumah.


"Kemana Bu? Adel bahkan sedang tidak ingin melakukan apapun." Jawabnya dengan malas.


"Adel pengin apa?" Pancing Bu Mira.


"Pengin rebahan sambil makan kripik terus mainan ponsel."


"Lanjut Del!" Teriak Evan dengan semangat. Membuat semua pasang mata mengarah kepadanya.


"Kalian kenapa? Tidak ada yang salah kan? Aku hanya mendukung keinginan Adel." Padahal bukan itu maksud Evan.


Evan sudah membayangkan Jika sekarang hobi Adel seperti itu, tidak menutup kemungkinan suatu saat Adel bakal berubah bentuk.


Tidak bisa membayangkan jika Adel menggemuk, Evan tersenyum sendiri membayangkan tubuh Adel yang seperti bola.


Senyum Evan begitu mencurigakan, "Jangan jadi gila, aku bahkan tidak akan bisa sepertimu 13 Tahun yang lalu." Ujar Adel, seakan tahu dengan maksud terselubung Evan.


"Huh menyebalkan, apakah kamu cenayang?"


Adel tidak menjawab, ia memutar bola matanya dengan malas. "Bu kita mau kemana?" Adel mengabaikan Evan, ia mengalihkan pembicaraan dengan Bu Mira.


Mbok Wati datang dengan nampan berisi jus jeruk, dan juga kue buatan Bu Mira sisa pesanan tadi pagi. "Maaf simbok tidak tahu jika ada tamu, Silahkan diminum." Ucap Mbok Wati tidak enak.


"Tidak perlu sungkan begitu mbok, nanti kalau Evan haus, Evan bisa mengambilnya sendiri, tapi terimakasih untuk ini." Ucap Evan, ia mengambil segelas jus jeruk dan menegaknya hingga tandas.


Rasa kesalnya terhadap Dev membuatnya lupa dengan rasa haus, Evan yang niatnya hendak mengambil air minum, justru beralih menghampiri Dev dikamar.


"Mbok gelas bocor jangan dipakai." Sindir Adel, setelah melihat Evan meletakkan kembali gelasanya yang sudah kosong.


Mbok Wati hanya tersenyum kemudian berlalu kebelakang.


"Kalian habiskan minumnya Ibu akan pergi dengan Adel," Ucap Bu Mira yang sudah siap dengan pakaian keluarnya, hanya gamis sederhana motif bunga-bunga dipadukan kerudung polos dengan warna senada.


Adel mengikuti dengan malas, bahkan ia tidak berganti pakaian sama sekali.


"Dev jika nanti Evan sudah pulang, kamu boleh keluar dulu." Pesannya pada Dev.


Bagaiamanapun juga Dev dan Shanum hanya saudara ipar, tidak baik jika berada didalam rumah hanya berdua tanpa ada yang lain, takut menimbulkan fitnah.


Meskipun ada mbok Wati, tetap saja tidak baik, Bu Mira hanya menjaga keluarganya dari pandangan miring orang-orang.


Bu Mira pergi diantar supir pribadi yang sengaja dipekerjakan semenjak Bu Mira tinggal agar biasa mengantarkan kemana-mana.


20 Menit Mereka sampai ditempat tujuan, "Dokter kandungan?" Lirih Adel dengan heran, tapi masih tertangkap jelas diindra pendengaran Bu Mira.


"Ayo masuk." Ajak Bu Mira.


Meski Ragu Adel tetap mengikuti langkah Bu Mira masuk kedalam ruangan bernuansa putih.

__ADS_1


__ADS_2