
Shanum telah selesai membersihkan diri, dilanjutkan dengan shalat sunnah bersama dengan suaminya.
Setelah selesai Evan membacakan do'a untuk keberkahan istri dan rumah tangganya.
"Jika belum siap, tidak usah dipaksakan." Ucap Evan begitu mereka sedang bersama ditepi ranjang.
Shanum tersenyum malu. "Tidak apa-apa."
Evan membuka kerudung Shanum, dan melepas ikat rambutnya terlihat rambut ikal Shanum sepanjang hampir mencapai pinggang.
"Kamu Cantik." Ucap Evan memuji keindahan Shanum, semenjak mengenalnya baru kali ini Evan melihat Shanum tanpa kerudung.
Pipi Shanum semakin memerah mendengarnya.
Evan menarik tengkuk leher Shanum, mendaratkan bibirnya kearah bibir Shanum.
Nampak sekali Shanum masih sangat kaku menerima perlakuan seperti itu dari Evan.
Evan bahkan merasakan jika ini adalah ciuman pertama untuk istrinya, dengan sabar Evan menuntun Shanum, "buka sedikit mulutmu." Ujar Evan ditengah-tengah ciuman mereka.
Shanum masih bergeming. "Sepertinya kamu butuh sedikit training." Lanjut Evan lagi.
Evan melanjutkan kembali acaranya, ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi semakin panas dan menuntut.
Evan merasakan Shanum sudah mulai merespon, ia menyusupkan tangannya kedalam piyama Shanum.
Shanum menggeliat tertahan. "Lepaskan saja," ujar Evan.
Shanum merasakan sensasi yang selama ini belum perna ia rasakan, rasa yang tidak bisa dijelaskan.
Evan membaringkan Shanum diranjang, pria itu terus menuntun Shanum menuju syurga dunia dalam ikatan halal. "E-Evan!" Shanum ingin mengeluarkas suara khas pengantin baru namun ada rasa sungkan.
"Tidak apa-apa, lepaskan saja, aku ingin mendengarnya."
Akhirnya Shanum mengeluarkan suara-suara yang semakin meningkatakan gairah Evan.
Shanum membungkus tubuh polosnya dengan selimut, setelah melakukan pelepasan bersama. Mengingat kejadian itu pipi Shanum memerah.
"Terimakasih sayang." Ucap Evan kemudian mengecup kening Shanum.
Shanum tidak merespon, wanita itu masih sangat malu mengingatnya.
Terdengar pintu diketuk ketika Evan hendak memejamkan mata, dengan malas Evan berjalan menuju pintu, Shanum masih lemas dipembaringan, bahkan mungkin sudah tertidur.
Evan tidak cukup melakukan hanya sekali, pria itu seperti singa yang tengah kelaparan. Memakan mangsanya hingga benar-benar merasa puas.
Ketika Evan membuka pintu terlihat Adel berdiri didepan pintu dengan tangan mengambang diudara, sepertinya akan kembali mengetuk pintu.
"Kakak ipar, apakah aku mengganggu ritualmu?" Tanya Adel tanpa rasa bersalah.
"Seharusnya kamu tidak perlu bertanya," jawab Evan dengan kesal.
__ADS_1
Adel hendak melihat kedalam tetapi dihalangi oleh Evan, "aku hanya ingin memastikan Kak Shanum baik-baik saja."
"Kamu kira aku penjahat." Evan menutup pintu kamar, "ada apa?"
"Kak Shanum sudah tidur?"
Evan mendengus kesal dengan pertanyaan Adel, "sudah, kamu kira ini jam berapa?"
Jarum jam sudah menunjukan hampir jam 12 malam, tetapi Adel masih berkeliaran.
"Kakak pasti kecapean, karena kamu hajar habis-habisan."
"Jika tidak ada yang penting, aku akan kembali tidur, mengganggu saja."
Adel sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Evan. Ia justru tersenyum dengan menunjukkan gigi putihnya.
"Van kamu tahu tidak impian terbesarku saat ini?"
"Mengganggu ketenanganku," Jawab Evan dengan malas.
Adel tertawa lirih karena takut membangunkan penghuni lainnya, "tepat sekali!"
Adel bangun dari duduknya berjalan menuju kulkas, mengambil jus jeruk kemasan, kemudian meminumnya. "van selarut ini masih ada jajanan buka gak ya?"
Perasaan Evan sudah tidak enak, ia menangkap alarm bahaya dari pertanyaan sederhana adik iparnya.
"Tidak ada, penjualnya sudah istirahat semua."
Evan membeliakan matanya seakan tidak percaya, selarut ini adel meminta permen kapas. "Del kamu gila ya, ini sudah lewat tengah malam!"
"Ya tidak apa-apa, carikan saja. Jangan pulang sebelum dapat permen kapas."
"Dev kemana? Dia kan ayahnya kenapa merepotkan orang lain."
"Mas Dev sedang tidur, jangan mengganggunya, kasihan. Besok pagi harus bekerja."
"Kamu tidak kasihan denganku?"
"Besok kamu masih cuti. Cepat carikan!"
'Siapa suaminya, siapa yang direpotkan oleh ngidamnya,' Evan menggerutu dengan sebal, tetapi tetap beranjak.
Adel tiduran diatas sofa diruang tengah, ia ingin menunggu Evan, tidak tahu kenapa tiba-tiba Adel menginginkan permen kapas yang dibawa oleh Evan.
Satu jam sudah berlalu, tetapi Evan belum juga kembali, bahkan Adel sudah tertidur disofa.
Shanum terbangun ketika fajar hampir menyapa, gadis itu merasa kaget ketika mendapati dirinya hanya berbungkus selimut tanpa ada kain yang menempel ditubuhnya.
Shanum tersenyum malu mengingat kembali kejadian semalam, tetapi senyumnya seketika memudar mendapati tempat sebelahnya telah kosong, bahkan sudah dingin. Artinya Evan sudah meninggalkannya cukup lama.
Shanum melihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah empat dini hari. Ia ingin bangun untuk membersihkan diri, namun ada rasa sedikit nyeri diarea sensitifnya.
__ADS_1
Dengan perlahan ia menurunkan kakinya, kamudian berjalan kekamar mandi dengan masih mengenakan selimut.
Meski dikamar pribadi tetapi Shanum tidak bisa jika berjalan dengan berte****ang.
Tepat jam 4 Shanum sudah selesai dengan ritualnya, ia berusaha untuk menormalkan jalannya sebelum keluar kamar, meskipun ada rasa sedikit tidak nyaman.
Shanum keluar kamar, bertepatan dengan Dev yang berjalan dengan panik kearahnya.
"Ada apa Dev?" Tanya Shanum setelah Dev berada dihadapannya.
"Kakak ipar, Adel hilang."
"Hilang?"
Dev mengangguk, "Adel tidak ada dikamar, bahkan tempatnya sudah dingin, mungkin Adel sudah pergi cukup lama."
"Evan juga tidak ada."
"Jangan-jangan mereka berkencan."
"Jangan sembarangan berbicara."
"Kak, mereka tidak ada dalam waktu bersamaan."
Shanum tidak lagi menanggapi ucapan Dev, lebih baik mencari dulu sebelum berasumsi lebih jauh.
Evan mengikuti Shanum menuruni tangga, samar-samar tercium aroma masakan dari dapur.
Shanum menghampiri ibunya yang tengah berkutat dengan persayuran. "Bu, ini masih terlalu pagi."
"Ini sudah hampir Shubuh Kak."
"Bu, lihat Adel tidak?" Tanya Dev yang ikut menyusul Bu Mira didapur.
"Jangan teriak-teriak!" Ucap Bu Mira, "Dev sini duduk."
Dev menurut, pria itu duduk dikursi yang berada didapur, "Bu, lihat Adel tidak?" Dev kembali bertanya, namun sekarang dengan suara yang lebih pelan.
"Kak tolong teruskan," Shanum menurut, Bu Mira berjalan kearah Dev dan duduk dihadapannya dengan berbatas meja. "Kamu kalau marah jangan keterlaluan Dev," ujar Bu Mira.
Dev merasa bingung dengan perkataan Ibu mertuanya, "marah? Marah sama siapa Bu?"
"Kalau bertengkar cukup didalam kamar, jangan sampai orang luar tahu, apalagi menyuruh Adel tidur disofa."
Mendengar kata sofa, Dev segera berlari menuju ruang tengah dan menghidupkan lampunya, benar ternyata Adel sedang tidur disana bahkan dengan selimut yang menutupi, terlihat seperti seoang istri yang sedang marah dan tidak ingin tidur bersama dengan suaminya.
Dev berjalan mendekat, "jangan bangunkan Adel, biarkan tidur 30 menit lagi." Ucap Bu Mira, begitu melihat Dev ingin menyentuh Adel.
Dev mengurungkan niatnya, pria itu berjalan kembali kearah Bu Mira, "bagaimana Adel bisa tidur disofa?"
"Kamu kan suaminya, kenapa bertanya pada Ibu," Sebenarnya Bu Mira tahu kejadian yang sebenarnya, bahkan wanita itu juga yang menutupi Adel dengan selimut, tetapi sesekali ingin mengerjai menantunya.
__ADS_1
"Bu, sebenarnya Evan juga tidak ada," ucap Shanum begitu Bu Mira kembali lagi kedapur, sedangkan Dev kembali kekamar untuk membersihkan diri.