
Disisi lain disudut kota yang berbeda seorang pria tengah menahan gejolak amarah.
"Siapa kamu? apa yang kamu lakukan disini!" Bentak Dev pada wanita yang hanya menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
Tidak ada jawaban dari wanita tersebut, air mata terus mengalir dari sudut matanya.
"Brengsek! Jangan terus menangis bodoh! Kamu kira aku akan mengasihimu! Sial!" Umpatan demi umpatan terus keluar dari mulut lelaki yang tengah frustasi.
Dev memungut kembali pakaiannya dan memakai asal, ia mencari benda pipih yang dari semalam tidak tersentuh, harusnya pagi ini dirinya akan kembali ke Ibu Kota, tapi insiden tak terduga membuatnya menunda penerbangan.
Ia akan berusaha mencari tahu ada apa dibalik semua ini, ia merasa dirinya sedang dijebak, kejadian ini terasa sangat janggal.
Dev tidak bisa mengingat apapun yang terjadi semalam, ingatannya hanya sampai pada saat makan malam bersama klien, setelah itu sudah tidak mengingat apa-apa lagi.
"Kenapa mode pesawat?" Tanyanya pelan. "Ini aneh," pikirnya lagi.
Pasalnya Dev tidak pernah mematikan data seluler apalagi sampai mengubah pengaturan menjadi mode pesawat.
Baginya itu bukan hal yang baik karena akan menyusahkan orang yang berusaha menghubunginya.
Dengan segera Dev menonaktfikan mode pesawat. Begitu data aktif puluhan panggilan tak terjawab dan juga pesan terus beruntun masuk memenuhi salah satu akun berwarna hijau.
Beberapa kali dari Asisten rumah tangganya, ada juga dari Kakak iparnya, Shanum. Dan paling banyak dari nama kontak My Sweety Wife.
(Mas sedang apa?)
(Mas baik-baik saja kan?)
(Mas kenapa tidak aktif?)
(Mas jawab dong!)
(Mas pulang sekarang ya, aku menunggumu.)
Dan masih banyak pesan lainnya yang Adel kirim kepada Dev.
Mulai dari jam 9 malam dan pesan terakhir pada jam 4 pagi.
'Semalaman Adel menghubungiku? Ya Allah apa yang harus aku jelaskan padanya?' Dev bermonolog dalam hati.
Tuuuutttt tuuutttt tuuuutttt.
Dev berusaha menghubungi nomor istrinya namun tulisan dilayar hanya memanggil tidak berganti dengan berdering.
Dev menghampiri wanita itu lagi yang kini sudah berpakaian lengkap.
"Siapa namamu?" Tanya Dev setengah berteriak.
__ADS_1
"Jawab!" Bentaknya lagi ketika tidak ada jawaban dari wanita yang sudah menemaninya semalam.
"Sa-saya A-Amel Tuan," Dengan terbata wanita bernama Amel menjawab pertanyaan Dev, nyalinya mulai menciut.
Ia pikir Dev akan luluh setelah melihat tubuh polosnya yang nyaris tanpa cacat.
Namun pikirannya salah, Dev sama sekali tidak tergoda, bahkan air matanya pun tidak bisa menyentuh perasaan lelaki berparas rupawan didepannya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Dev tanpa basa-basi.
"Ma-maksud Tuan apa?"
"Siapa yang menyuruhmu menjebakku?"
"Menjebak? Jadi anda pikir saya menjebak Tuan demi bisa tidur bersama?" Air matanya semakin deras, seolah-olah dia sedang teraniaya.
"Tepat! Katakan siapa yang memintamu melakukan ini?" Tanya Dev lagi, ia belum puas sebelum mendapatkan jawaban yang diinginkan.
"Tidak ada."
"Maksudmu apa?"
"Tuan yang memaksa saya menemani Tuan satu malam selama berada dikota ini, bahkan Tuan sudah merenggut kegadisan saya," Disela isak tangisnya Amel berusaha memainkan perannya sebaik mungkin.
"Kamu kira aku percaya! Kamu salah mencari musuh." Dev masih saja menolak percaya dengan apa yang diceritakan oleh wanita yang kira-kira seumuran dengannya.
"Aku tidak menyangka akan bertemu lelaki sebejat anda, semalam saat merayu anda bilang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan saya, tapi sekarang justru anda berfikir seolah-olah anda dijebak, benar-benar lelaki munafik." Amel berkata masih dengan air mata yang sama, air mata buaya.
"Jaga ucapanmu Tuan, Jika hanya ingin madunya saja tidak perlu menghinaku seperti itu!" Amel marah seakan tidak terima dengan ucapan Dev.
Seburuk apapun seorang wanita pasti mereka tidak mau direndahkan, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui sebuah penghinaan.
Amel bergegas menyambar tasnya yang tersimpan diatas nakas, kemudian berlalu keluar kamar.
'Aku pasti akan mendapatkanmu seutuhnya Dev.' Bisiknya dalam hati begitu sudah berada diluar kamar tempat mereka bermalam.
Sepertinya Amel sudah jatuh cinta sungguhan pada pandangan pertama. Selain mendapat kompensasi yang fantastis dari seseorang yang meminta bantuannya, Amel juga berharap bisa mendapatkan cinta dari korban.
"Ah Shittt!" Umpat Dev dalam kamar begitu Amel sudah menutup pintu. Dev menyugar rambutnya dengan kasar. Duduk ditepi ranjang dengan segala pikiran yang berkecamuk ria.
Dev mengambil kembali ponselnya yang sempat ia lempar kekasur saat tidak bisa menghubungi nomor Adel.
Ia menggeser layar sampai menemukan nomor yang menjadi tujuan selanjutnya.
"Hallo Kakak Ipar, sedang ada dimana sekarang?" Tanya Dev begitu panggilan terhubung ke nomor Shanum.
[Salam dulu Dev.] Balas Shanum dari sebrang telepon.
__ADS_1
"Ah maaf, Assalamu'alaikum Kakak ipar, apa kabar, sedang ada dimana sekarang?" Tanyanya mengulangi.
[Wa'alaikumsalam Dev, Alhamdulillah baik, bagaimana denganmu, kenapa semalam nomormu tidak bisa dihubungi?] Atas permintaan Adel, Shanum tidak mengatakan jika dirinya sedang berada dirumah Adel.
Keadaan Adel sudah membaik setelah mengonsumsi obat penurun demam dan vitamin yang telah diresepkan Dokter Anna.
Bukan dengan sengaja Adel membiarkan Ponselnya mati, namun karena semalam digunakan untuk melakukan panggilan yang tiada hasil mengakibatkan ponselnya kehabisan daya.
Namun Adel sengaja tidak ingin mengatakan kondisinya kepada Dev.
"Itu karena semalam ada insiden tak terduga." Jawab Dev tidak mau mengatakan dengan jujur.
[Kapan kamu kembali?] Tanya Shanum tidak ingin mendesak Dev menceritakan kejadian sebenarnya.
"Secepatnya Kak, bagaimana keadaan Adel, Nomornya tidak bisa dihubungi, apakah Adel baik-baik saja?" Tanya Dev khawatir.
[Adel baik-baik saja, mungkin ponselnya kehabisan daya, pulanglah jika urusanmu sudah selesai.]
"Baik Kak."
Dev mengakhiri panggilan, ia segera berkemas dan akan kembali ke Ibu Kota.
'Aku tahu ini jebakan, aku harus menemukan orangnya!' Geram Dev dalam hati.
Dev membuka ponselnya kembali mencari aplikasi pemesanan pesawat, urusan pekerjaan sudah selesai, namun masalah lain baru saja dimulai.
☆☆☆
Sementara itu dikediaman Adel.
"Dev akan segera kembali, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Shanum pada Adel yang masih tiduran dengan menutup dirinya menggunakan selimut hingga sebatas dada.
"Entahlah Kak, mungkin aku akan menunggu penjelasan darinya dulu." Adel sudah menceritakan tentang pesan dari nomor misterius kepada Shanum.
"Apa kamu percaya Dev melakukan itu?" Tanya Shanum kembali.
"Hatiku menolak percaya, tapi tentang foto itu, ahh entahlah Kak."
"Istirahat saja dulu, jangan terlalu banyak pikiran, semua pasti akan kembali baik-baik saja."
Adel hanya menganggukan kepala kemudian mencoba untuk memejamkan mata, melupakan sejenak tentang lara yang kian mendera.
Shanum keluar kamar setelah memastikan Adel bernafas secara teratur.
☆☆☆
Terimakasih buat yang masih setia, jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
Terimakasih banyak-banyak.
🤗🤗🤗