
Evan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, menuju tempat yang masih dirahasiakan dari orang luar.
kurang dari satu jam yang lalu Evan menerima panggilan dari anak buahnya, ia harus sampai ketempat tujuan sebelum semuanya terlambat.
Hanya butuh waktu 15 menit Evan sudah sampai dimarkas rahasianya, "kenapa bisa kecolongan?" Teriak Evan setengah frustasi. "Apa pengaman kita sudah tidak berfungsi dengan baik!"
Identitasnya sebagai ketua hacker yang selama ini disembunyikan akhirnya ada yang mengetahui.
Ya, Evan semenjak kematian tak wajar orang tuanya ia menggeluti dunia IT dengan baik, profesi sebagai model adalah pekerjaan sampingan untuk menutupi usaha bawah tanah yang ia geluti selama beberapa tahun terakhir.
Meskipun usahanya tersembunyi namun sudah legal dengan ijin pemerintahan, Evan dikenal dengan nama mister X, meski tidak tahu sosok Mister X, tapi pemerintah kota sangat menghormatinya, karena sosok itulah yang selalu membantu pemerintah menemukan kecurangan-kecurangan dalam lembaganya.
Evan bergerak dibelakang layar, tanpa turun tangan langsung untuk menangkap para tikus berdasi.
"Sepertinya ada penghianat diantara kita!" Ucap Sam, salah satu anak buah Evan.
"Kenapa kamu begitu yakin?" Evan memicingkan mata sedikit tidak percaya.
Evan dan ketiga sahabatnya pernah mengalami hidup dan mati bersama saat melakukan pelatihan penempaan fisik diluar negri.
Jadi Evan tidak begitu yakin jika diantara mereka ada yang berani menghianati satu sama lainnya.
"Bukan diantara kita," ucap Sam lagi.
"Maksudmu?"
"Bukankah selain kita ada satu orang lagi yang tau tentang ini."
Evan berfikir sejenak, kemudian ia teringat seseorang, "apa kamu yakin?"
Evan mulai paham dengan siapa orang yang dimaksud.
Evan tidak berharap jika pemikirannya benar, jika itu terjadi Evan akan sangat menyesalinya karena telah percaya kepada orang yang salah.
Sam mengangguk yakin dengan pertanyaan Evan, "99,9%" Ucap Sam.
Evan ingin berteriak, "tapi kita tidak memiliki bukti," Evan harus tetap berfikir rasional untuk menghadapi masalah ini,
Ia tidak ingin gegabah dan mengedepankan emosi, masalah ini sangat rawan, salah sedikit melangkah maka kehancuran didepan mata.
"Sekarang dimana Elisku?" Evan mengingat tujuan utamanya, Elis adiknya menjadi korban penculikkan oleh seseorang yang belum terlacak identitasnya.
__ADS_1
"Roy dan Hans sedang mengikuti mobil yang terlihat mencurigakkan."
"Dimana? Aku harus segera menyusulnya."
"Ini belum pasti, tapi mereka akan segera mengabari kita."
Evan tidak bisa tinggal diam, ini menyangkut seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Elis adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sebelum kehadiran Shanum, Adiknya adalah alasan untuk tetap menjadi kuat saat keadaan memaksanya tumbang.
Jika identitasnya sudah diketahui sudah pasti orang-orang yang mengejarnya akan memburu keluarganya, mereka tahu keluarga adalah kelemahan Evan.
Jika saat ini Elis yang diburu, tidak menutup kemungkinan besok Shanum juga akan menjadi target selanjutnya.
Evan tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Bagaimanapun caranya Evan harus bisa melindungi Shanum.
Evan mencari nama seseorang dalam ponselnya, "halo." ucap Evan begitu panggilan tersambung.
(Ada apa?)
"Dimana?"
(Dikantor)
(Dia ijin tidak berangkat, katanya ada urusan, tapi aku tidak bisa menghubungi nomornya.)
Penjelasan itu membuat Evan hati Evan mempertanyakan sesuatu, apakah Radit terlibat?
"Terimakasih, tolong kerumah Shanum sekarang, bawa orang-orang kepercayaanmu, awasi rumah itu dari jauh." Evan tidak ingin mendengar pertanyaan lebih lanjut, ia segera mematikan panggilan.
Evan tidak terlalu yakin jika Rafa bisa dipercaya, tetapi juga tidak memiliki pilihan lain. Anak buahnya yang lain sedang mengikuti Roy dan Hans.
Evan tidak memiliki banyak anak buah, karena akan rentan kepada penghianatan.
Bahkan yang mengetahui Evan adalah Mister X hanya Sam, Roy dan Hans. Selebihnya tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa sosok Mister X. Mereka bertiga adalah teman seperjuangan Evan. Meski Evan tetap menganggap mereka teman, tetapi ketiganya menganggap Evan sebagai pimpinan yang layak disegani.
Ada satu orang lagi yang terlanjur tahu, tapi Evan belum yakin jika orang itu berani menghianatinya sebelum melihat secara langsung buktinya, karena nyawanya telah diselamatkan oleh Evan.
Ponsel Evan kembali berdering tepat setelah Evan mematikan panggilan kepada Rafa.
"Ada kabar apa Hans?" Tanya Evan.
__ADS_1
(Aku menemukan mobil yang membawa Nona Elis telah kosong. Aku rasa ini jebakan.)
"Tetap ditempat, dan awasi sekitar!" Perintah Evan.
Evan mematikan sambungan telepon, kemudian mencari satu aplikasi diponselnya, pria itu teringat bahwa telah memasang GPS disetiap sepatu milik Elis, semoga saja masih bisa dilacak.
Selain kepada Elis, Evan juga memasang dicincin pernikahan milik Shanum, mengingat dunianya yang sedikit berbahaya, Evan berusaha untuk melindungi orang-orang yang dicintainya semaksimal mungkin.
Tutttt!
Evan kembali menghubungi Hans, "tinggalkan tempat itu, benar itu hanya sebuah jebakkan, Elis berada dijalan menuju pelabuahan, kurang dari setengah jam kapal bisa saja berlayar."
Evan mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban Hans, Pria itu segera mengeluarkan mobil terbaikknya dari garasi, sebelumnya ia juga sudah mengganti pakainannya dengan pakaian serba hitam yang dilengkapi dengan pengaman.
Sam tetap disuruh mengawasi pergerakan mereka dari markas. Dan melaporkan apapun yang dilihat.
Mobil mereka juga sudah dilengkapi dengan GPS, jadi dimanapun keberadaannya, lokasinya akan selalu nampak dimonitor.
Evan melajukan mobil dengan kecepatan tidak biasa, Evan sampai di Pelabuhan tepat setelah yang lain juga baru saja memarkirkan mobil.
Mereka mengambil jarak aman agar tidak terlalu diwaspadai musuh.
Evan, Hans, Roy dan juga Sam, mereka selalu terhubung, tidak ada yang melepaskan earpiece, sambungan grup itu menjadi sarana komunikasi diantara mereka yang berada ditempat berbeda.
Lima menit berlalu mereka masih mengawasi mobil yang berhenti belum ada pergerakan sama sekali, begitu juga dengan titik lokasi Elis yang berhenti ditempat tidak lagi bergerak.
Namun dimenit ke lima belas terlihat ada sedikit pergerakan, mereka semakin waspada mengintai.
Elis turun lebih dulu, namun dalam keadaan baik-baik saja tidak seperti korban penculikkan.
"Apakah Nona Elis benar-benar diculik?" Tanya Roy tidak paham.
Hans yang disampingnya menjitak kepala Roy yang kadang-kadang suka tidak berfungsi dengan semestinya.
"Apa kita harus bertindak sekarang?" Tanya Hans yang tidak memperdulikkan pertanyaan Roy.
"Tunggu sebentar, seharusnya masih ada orang lain yang ikut keluar bersamanya."
Evan tidak ingin ceroboh, ia memastikkan tangkapannya harus besar.
Benar saja, tidak lama kemudian keluar lagi seseorang yang tidak asing.
__ADS_1
"........"