
"Assalamu'alaikum." Terdengar ketukan dari pintu depan, dan suara salam dari seseorang yang sudah tidak asing.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Shanum dari dalam. "Biar Shanum aja Mbok." Shanum mencegah Mbok Sari yang ingin membukakan pintu.
"Dev sudah sampai?" Tanya Shanum sekedar basa basi.
Shanum tidak bisa serta merta langsung menyalahkan Dev atas kejadian ini. Dirinya masih cukup waras untuk berfikir logis.
Apalagi Shanum mengenal Dev bukan hanya satu atau dua tahun.
"Adel mana Kak?" Tanya Dev tanpa menghiraukan pertanyaan Shanum.
"Duduk dulu, kamu pasti lelah, aku buatkan minum." Shanum beranjak kedapur, Dev duduk dengan patuh.
"Dev sudah Pulang?" Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Bu Mira.
"Sudah Bu, Ibu sehat?"
"Alhamdulillah." Selebihnya hanya hening, tidak ada lagi obrolan yang terjadi, hingga Shanum datang membawa satu gelas es jeruk beserta kue brownies.
"Dev bukan tamu Kak, Dev bisa mengambil minum atau makan sendiri jika lapar." Ujar Dev tidak enak.
"Kamu masih lelah. Minum dulu, setelah itu istirahatlah. Cukup dikamar tamu." Ucapan Shanum membuat Dev terperanjat kaget.
"Bukan apa-apa Dev, Adel sedang tidak enak badan, baru saja terlelap, jika kamu masuk kamar sekarang takutnya istirahatnya terganggu." Shanum yang mengerti arti tatapan Dev menjelaskan keadaan Adel.
"Adel sakit? Apa yang terjadi dengannya, kenapa bisa sakit? sewaktu aku akan berangkat Adel baik-baik saja, bahkan semalaman Adel masih menghubungiku," ujar Dev beruntun.
"Hanya demam, tidak perlu khawatir, setelah istirahat pasti baikan."
Dev tidak lagi bertanya, ia menuju kamar tamu hanya sekedar mengistirahatkan badan juga pikiran.
'Aku harus menemukan siapa dalang dibalik kekacauan ini.' Batin Dev geram.
***
"Dek sudah bangun? Bagaimana keadaanmu, sudah baikan?" Tanya Shanum begitu Adel menghampiri dirinya didapur, Shanum sedang memasak bersama Ibunya untuk makan malam.
"Memangnya Adel kenapa Kak? Adel baik-baik saja." Terang Adel.
Shanum hanya tersenyum menanggapi jawaban Adel, ia kembali melanjutkan aktivitasnya memasukan sayuran kedalam panci yang sudah berisi air mendidih.
Satu jam berlalu semua makanan sudah siap diatas meja, Shanum hanya memasak sayur sop bakso, ayam goreng, telor balado dan juga mendoan yang digoreng oleh Bu Mira.
"Mbok tolong panggilkan Dev ya." Shanum meminta Mbok Sari memanggil Dev untuk makan malam bersama.
"Mas Dev sudah pulang Kak?" Tanya Adel penasaran.
__ADS_1
"Sudah sedari Siang, dari tadi istirahat dikamar tamu, jangan bahas apapun dulu sampai selesai makan. Menegerti."
Adel yang paham dengan cara berfikir Kakaknya yang sudah pasti memiliki cara terbaik dalam menyelesaikan masalah memilih mengiyakan perkataan Shanum.
Adel yakin Shanum pasti akan melakukan yang terbaik untuk semua.
"Sayang, kata Kakak ipar kamu demam? bagaimana sekarang? Apakah masih terasa sakit? Bagaimana jika kita ke Dokter saja? Mas tidak mau kamu kenapa-napa." Tanya Dev beruntun membuat Adel bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Untuk semalam, maaf…………"
"Makanlah Dev kamu pasti lapar." Shanum segera memotong ucapan Dev.
Dengan patuh Dev segera mengambil piring, Ibu mengisi piring anak-anaknya dengan nasi dan juga lauk yang diinginkan. Mereka makan dalam hening, tidak ada percakapan yang terjadi dimeja makan.
"Mbok, maaf merepotkan, tolong bereskan meja makan ya."
"Biar Adel bantu."
Adel berusaha untuk menghindari Dev, mengingat tentang foto dan rekaman suara yang sempat ia terima semalam membuat Adel tidak begitu respek dengan kehadiran Dev.
Namun dilarang oleh Mbok Sari juga Shanum.
"Dev ikut aku." Shanum mengajak Dev menuju ruang tengah, dimana mereka bisa leluasa berbicara.
Tanpa dikomando, Adel dan Bu Mira mengekor dibelakang, Dev dan Shanum duduk dilantai beralasan karbet bulu tebal, sedangkan Adel memilih tiduran disofa berbantalkan paha Bu Mira.
Yang entah sedang menayangkan acara apa, Shanum menghidupkan televisi hanya sekedar untuk menemani obrolan agar lebih santai.
Dev menatap Shanum sekilas kemudian kembali mengikuti arah mata Shanum melihat kedepan.
"Aku masih menyelidikinya." Ucap Dev yang tau kemana arah pembicaraan Shanum.
Meski Shanum tidak menanyakan secara detail tapi Dev tau pasti sedang ada yang tidak beres dirumahnya, terutama melihat perubahan Adel.
Mendengar jawaban Dev membuat Shanum spontan melihat kearahnya.
"Kenapa Kak?" Tanya Dev bingung.
"Maksudmu? Kamu dijebak?"
"Sepertinya begitu."
Adel sedikit lega mendengar pengakuan Dev, namun ia juga ingin menunggu bukti bukan sekedar pembelaan.
"Jelaskan." Shanum masih tetap menuntut penjelasan lebih detail.
Akhirnya Dev menceritakan semuanya, tentang kejanggalan yang terjadi setelah meeting selesai, tanpa ada yang ditutupi sedikitpun.
__ADS_1
Shanum sesekali mengangguk, kadang juga mengerutkan keningnya mendengar pengakuan Dev.
"Bagaimana caranya kamu membuktikan jika kamu dijebak?" Ujar Shanum setelah Dev menyelesaikan kalimatnya.
"Seharusnya aku memang masih tinggal disana, tapi perasaanku tidak baik-baik saja setelah melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Adel, apalagi setelah aku hubungi kembali, nomornya sudah tidak aktif." Jawab Dev lesu, sesekali ia melirik kearah Adel, namun Adel masih acuh dengannya.
Seketika suasana menjadi hening, sebelum Shanum kembali berbicara.
"Del, ponselmu!" Shanum menengadahkan tangannya kearah Adel bermaksud meminta ponsel Adel.
"Ada dikamar."
"Baiklah." Shanum beranjak dari duduknya. "Tetaplah disini." Pesannya.
Adel juga tidak ingin menanyakan apapun tentang maksud kakaknya. Adel sepenuhnya percaya kepada Shanum.
Tidak membutuhkan waktu lama Shanum sudah kembali bergabung bersama mereka.
"Sandi." Shanum memberikan ponsel Adel kepada pemiliknya, ia jelas kesulitan membuka kunci ponsel yang memang bukan kepunyaannya.
"Kamu mengenal nomor ini?" Tanya Shanum sambil menyodorkan ponsel kehadapan Dev.
"Tidak!" Jelasnya. "Sepertinya tidak ada nomor itu diponselku." Lanjutnya lagi.
Dev mengernyitkan dahinya seperti mengingat sesuatu. "Sepertinya tidak asing."
Shanum semakin antusias melihat perubahan ekspresi Dev. Dev terlihat menahan emosi terlihat dari jari jemarinya yang mengepal erat. "Apa yang kamu ingat?"
"Wanita ini ……………" Dev memandang kearah Adel dan Shanum secara bergantian, ada keraguan saat ingin mengatakan yang sebenarnya.
"Katakan saja."
Dev menghela nafasnya perlahan. Ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, takut menyakiti hati Adel dan juga mengecewakan Shanum.
Dev kembali melihat kearah Adel yang masih melihatnya dengan datar, tidak ada ekspresi apapun yang Adel tunjukkan.
"Dia adalah wanita yang aku temui saat bangun tidur tadi pagi." Ucap Dev lirih. "Tapi aku tidak mengenalnya." Dev menyambung ucapannya sebelum mereka salah paham.
"Lalu bagaimana dengan foto ini?" Shanum kembali memperlihatkan sebuah foto yang diterima Adel tadi malam.
Dev terkejut melihat foto dirinya tanpa baju hanya memakai selimut sebatas perut dan dengan wanita itu tentunya.
Namun sedetik kemudian Dev bisa menguasai perasaannya. "Kakak ipar kirim nomernya keponselku."
"Untuk Apa?"
"Dia adalah kuncinya."
__ADS_1
Shanum melihat kearah Adel meminta persetujuan, Adel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.