Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
presdir


__ADS_3

namun adel sadar mereka sudah berbeda alam, adel hanya bisa berdo'a untuk kebaikan kedua orang tuanya.


"sudah jangan menangis, nanti cantiknya ilang" shanum meminta adel berhenti menangis namun ia sendiri justru ikut menitikan air mata.


shanum mengingat kebaikan ayah angkatnya yang seketika tiba-tiba ia rindukan juga.


shanum juga ingat dengan ibu kandungnya, bertahun-tahun tak tau kabar keberadaan ibunya,


shanum pernah mencari ketempat terakhir mereka tinggal namun kata tetangga ibunya sudah pergi dari rumah pagi-pagi sekali setelah semalam terdengar pertengkaran.


shanum mengira ibunya kabur dari ayahnya, karena ketika marah ayahnya tak segan-segan main tangan.


"bagaimana adel bisa berhenti menangis ka, sedangkan kaka sendiri juga ikut menangis" kata adel sambil menghapus air matanya dengan tisu


"kaka ingat ayah juga kan?" tanya adel melanjutkan kata-katanya.


shanum hanya menganggukan kepala, belum saatnya ia bercerita tentang masa lalunya.


adel baru saja akan melakukan petualangan baru untuk melupakan masalah rumah tangganya, shanum tak mau adel ikut bersedih untuknya ketika tau masa lalunya.


"kaka sudah tidak menangis, lihatlah" shanum berkata sambil tersenyum yang sedikit dipaksakan.


"adel juga sudah tak menangis lag" kata adel ikut tersenyum "mari kita hidup bahagia bersama kedepannya" lanjut adel


"itu pasti" jawab shanum


"sudah siap petualangan barunya?" tanya shanum ketika melihat adel sudah kembali duduk dikursi dihadapannya.


"siap pake banget" jawab adel semangat.


kemudian shanum menantar adel menuju ruangan yang memang dikhususkan untuk dirinya,


sebenarnya jika shanum mau, shanum bisa menempati ruangan itu, namun shanum lebih memilih bekerja dibagian keuangan.


dulu ia berfikir suatu saat hari ini pasti akan terjadi, dan benar saja sekarang adel mulai tertarik untuk pergi kekantor.


"dulu ini ruangan ayah, sekarang ini menjadi tempat kekuasaanmu" kata shanum setelah mereka sampai diruangan paling luas di kantor tersebut.


"kenapa kaka tidak menempatinya, bukankah ayah juga sudah meminta kaka bertanggung jawab atas perusahaan ini?" tanya adel


"bertanggung jawab tidak harus berada disini kan?" shanum berkata sambil melangkahkan kakinya menuju sofa.


adel mengekor dari belakang melihat-lihat, semuanya masih sama persis seperti waktu ditempati oleh ayah mereka.

__ADS_1


tidak ada yang berubah sama sekali, dari penataan ruang hingga peletakan warna catnya, juga furnitutenya belum ada yang dirubah.


adel berdecak kagum, ruangan yang sudah lama tak ditempati, tapi teta tertata rapih dan terjaga kebersihannya.


shanum setiap hari selalu membersihkan ruangan ini sendiri, ia tak membiarkan OB yang membersihkannya.


bukannya shanum tak mempercayai OB tapi shanum ingin menjaga sendiri peinggalan orang yang berjasa pada hidupnya.


"tapi adel rasa kaka cocok jadi seorang pemimpin" kata adel


"bagaimana de, apa kamu suka dengan suasana seperti ini? atau mau didesain ulang?" shanum bertanya tak memghiraukan ucapan adel.


"sementara seperti ini aja dulu ka, besok kalo ada yang perlu dirubah adel hubungi kaka"


"baiklah, terserah kamu saja, oiya kita harus adakan meeting pagi ini, untuk menyambut kedatangan bos baru dikantor ini" kata Shanum kemudian bergegas mengambil gagang telepon lalu menghubungi setiap kepala bagian.


setelah selesai shanum kembali menghampiri adel yang masih duduk disofa.


sementara itu para staf yang tadi dihubungi ada yang merasa bingung, ada yang merasa takut, ada juga yang biasa saja karena tak melakukan kesalahan.


biasanya jika diadakan meeting dadakan pasti karena ada kejadian yang tidak diinginkan.


atau karena ada staf yang berbuat curang, berbuat tidak jujur, bahkan mungkin karena ketahuan meemakai uang perusahaan.


"de satu jam dari sekarang kita meeting, kamu siap?" tanya shanum


"siap apa, apa yang harus adel siapkan?" bukannya menjawab, adel justru ikut bertanya karena merasa bingung.


"cukup siapkan mental, jaga wibawa kamu, diluar boleh bersikap bar-bar, manja atau apapun tapi saat dikantor posisikan diri sebagai seorang direktur" shanum menasehati adel supaya bisa menempatkan diri.


"iya kakaku yang paling cantik" canda adel


"kamu ya paling bisa banget ngegombal, lagian kan kakanya cuma satu, coba kalo ada saingan belum tentu kaka paling cantik" kata shanum sambil menoel hidung adel.


"bener ko kaka emang perempuan paling cantik yang pernah adel liat, setelah adel tentunya"


mereka tertawa bersama, seakan lupa bahwa sekarang mereka ada dikantor.


satu jam berlalu meeting segera dimuali, staf yang tadi dihubungi shanum juga sudah bersiap di mejanya masing-masing, termasuk Artur.


kursi paling depan selalu kosong ketika meeting, karena kursi itu khusus untuk presdir,


shanum ataupun Artur bisa saja duduk dikursi itu saat memimpin meeting.

__ADS_1


namun keduanya tak ada yang berminat sama sekali, mereka lebih nyaman duduk dikursi staf biasa namun dibagian paling dekat dengan kursi presdir.


ketika pintu dibuka semua mata memandang kearah pintu.


terlihat dua bidadari masuk dengan anggun juga elegan,


shanum meskipun berhijab namun ia sangat fashionable dalam memilih pakaian, namun tetap tak memperlihatkan bentuk tubuhnya.


sedangkan Adel yang baru pertama kali menggunakan pakaian resmi terlihat begitu cantik dan lebih dewasa.


"pagi semuanya" sapa shanum setelah sampai kursinya namun belum mendudukinya.


"pagi juga bu shanum" jawab mereka kompak namun tidak dengan dev.


dev terus saja mendang adel yang terlihat berbeda, namun adel sama sekali tak melirik dev.


"semuanya sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengadakan meeting dadakan, dan sudah mengganggu waktu kerja kalian" shanum menjeda ucapannya sejenak.


"hari ini saya akan memberikan informasi penting"


kata shanum lagi, lalu shanum menjelaskan bahwa mulai hari ini presdir perusahaan ini sudah kembali.


ia adalah delia agasta, anak dari riki agasta, kedepan delia atau bisa dipanggil bu adel yang akan memimpin perusahaan


semuanya harus atas persetujuana adel.


adel juga butuh seorang sekertaris untuk membantunya.


dan shanum menunjuk sifa yang akan menjadi sekertaris adel, selain sifa yang sudah bekerja lama diperusahaan, kejujurannya dan kemampuannya juga sudah tidak bisa diragukan.


sifa juga selama ini menjabat sebagai sekertaris dari dev, selaku manager perusahaan.


sedikit banyak sifa tau tentang perusahaan.


"baiklah, ada yang ditanyakan atau keberatan?" tanya shanum setelah selesai mengatakan tujuan meeting dadakan pagi ini.


"maaf bu shanum, saya rasa saya belum pantas menjadi sekertaris presdir" kata sifa yang merasa diri belum mampu mengemban tugas itu.


"jika kamu saja tidak pantas lalu bagaimana dengan yang lain?" tanya shanum pada sifa


"atau kamu punya rekomendasi yang kemampuan dan pengalamannya melebihi kamu, yang lebih tau jadwal bertemu klien atau lebih tau dengan perusahaan mana kita bekerja sama?"


sifa hanya menggelengkan kepala lalu berkata "tidak bu shanum" sambil menundukan kepala

__ADS_1


__ADS_2