Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 65


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" Tanya Elis panik, "Om kapalnya sepertinya meledak, bagaiama kita menyebrang?" Lanjutnya lagi.


"Kenapa bisa begitu, padahal aku ingin mendapat tumpangan gratis untuk menuju pulau sebrang." Roy juga ikut panik, lebih tepatnya pura-pura panik.


Naren tidak menggubris ucapan Elis maupun Roy, ia masih terpekur dengan pemikirannya sendiri, bagaimana kapal yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari bisa meledak, padahal sebelum beroperasi hari ini jelas-jelas ia sudah meminta anak buahnya untuk memeriksa, bahkan tidak ada apapun yang mencurigakan, tetapi mengapa sekarang tiba-tiba saja kapalnya bermasalah.


"Sepertinya ada penyu----sup," Naren semakin terkejut begitu berbalik arah suasana sudah tidak lagi kondusif, bahkan Radit kini sudah seperti tawanan.


Ini adalah kesalahannya yang tidak menyiapkan kemanan, awalnya ia pikir bisa dengan mudah membawa Elis pergi setelah tertipu dengan bujuk rayunya, membawa banyak pengawal justru akan membuat ia semakin dicurigai.


"Aku tahu ini perbuatanmu!" Geramnya begitu melihat Evan mendekat.


Elis bahkan sudah berada dibelakang Evan, "kamu fikir siapa lagi yang bisa melakukan ini?"


"Kamu benar-benar brengsek!" Naren mengarahkan senjata kearah Evan, "tapi aku tidak akan membiarkanmu lepas kali ini."


Hans membawa Elis menjauh, keadaan yang tidak memungkinkan untuk Elis tetap berada ditempat.


Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menanyakan mengapa Elis bisa bersama Naren, saat ini yang terpenting adalah bagaimana bisa membawa Elis pergi dari sini.


Sesaat kemudian Naren merubah posisi arah senjatanya menjadi menghadap Elis, peluru sudah diluncurkan ketika Evan menyadari hal itu.


Dengan cepat ia segera memeluk Elis dari belakang sehinga Evan yang terkena tembakan.


"Sial!!!" Umpatnya, karena bidikannya tidak tepat sasaran.


Roy segera mengarahkan tembakan tepat dilengan Naren yang memegang senjata, sehingga senjata itu lepas dari tangannya.


Radit sudah ia serahkan kepada anak buah lainnya untuk dibawa kemarkas. "Ikat juga dia," ucap Roy, ketika telah menembak tangan satunya lagi yang hendak mengambil senjata.


Naren tidak lagi bisa melawan, "Brengsek kalian!" Umpatnya sepanjang jalan.

__ADS_1


Sedangkan Hans membawa Evan menuju rumah sakit terdekat, tidak ada yang berbicara disepanjang perjalanan, hanya terdengar suara isak tangis Elis yang menyesali perbuatannya dan juga takut kehilangan Kakak satu-satunya.


"Tuan Evan pasti baik-baik saja," ucap Hans berusaha menenangkan Elis, ia tidak tahu kaliamat apa yang bisa menenangkan tangis seorang perempuan.


Dunianya hanya berisi kaum adam, tidak pernah sedikitpun mengenal perempuan, Elis adalah satu-satunya wanita yang ia kenal paling dekat karena merupakan adik dari Evan.


"Ini semua salahku," Elis kembali terisak.


"Simpan saja penjelasanmu untuk nanti."


Suasana kembali hening, mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, Hans tidak peduli dengan umpatan pengendara lain ketika jalanan sedikit ramai, dalam pikiran pria itu bagaimana secepatnya ia bisa sampai dirumah sakit.


Tidak jarang lampu merah juga ia terabas, masalah polisi lalu lintas adalah urusan belakangan, baginya nyawa Evan jauh lebih penting diatas segalanya.


Benar saja suara sirine polisi berkejaran dibelakangnya, "Kak, kita melanggar lalu lintas," ucap Elis dengan panik.


"Jangan pikirkan apapun kecuali keselamatan Tuan Evan." Setelah berkata seperti itu, Hans menambah laju kecepatan mobilnya.


Dari kaca spion Hans melihat polisi mengarahkan tembakan kepada roda mobilnya, jika sampai itu terjadi dengan kecepatan saat ini maka sudah bisa dipastikan jika mobil pasti lajunya tidak terkendali.


Jika hanya ada dirinya mungkin tidak akan terlalu sulit bertahan, tetapi ada dua nyawa yang harus ia selamatkan juga didalam mobil.


"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan aparat sepertimu!" Teriak Hans dari dalam mobil begitu mobil sudah sejajar, tetapi Hans tidak memberi kesemapatan untuk aparat berseragam coklat itu untuk mendahuluinya.


"Berhenti atau aku akan menembak ban mobilmu!"


"Tembak saja aku jika nanti sudah sampai tempat tujuan, untuk itu ikutilah jangan sampai kehilangan jejak." Setelah mengatakan itu Hans kembali melajukan mobilnya, sambil sesekali mengahadap kebelakang, mengantisipasi jika polisi kembali mengarahkan senjata diroda mobilnya.


Lima belas menit kemudian mobil sampai dirumah sakit terdekat, mobil polisi juga terparkir dibelakangnya.


Evan segera dilarikan ke ruang operasi, "lakukan yang terbaik, jika terjadi sesuatu dengannya maka kalian harus bertanggung jawab!" Hans sudah seperti orang gila yang berteriak memarahi Dokter, bahkan sebelum Dokter itu bertindak.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu Kak Hans," ucap Elis, meski hatinya juga sangat mengkhawatirkan Evan, "Dokter tolong lakukan yang terbaik buat Bang Evan," Elis berkata dengan nada penuh permohonan.


"Aku akan mengusahakannya." Dokter itu kemudian masuk menuju ruang operasi untuk melakukan tindakan.


"Jika terjadi apa-apa denga Evan, maka kalian yang harus bertanggung jawab karena sudah menghalangi jalanku!" Teriak Hans lagi, kali ini ia tunjukkan kepada dua orang polisi.


"Kami hanya sedang menjalankan tugas," jawab salah seorang polisi.


"Tugas! Tugas apa? Tugas untuk membunuh orang?" Hans masih saja belum bisa mengontrol nada bicaranya, "sekarang lakukan tugasmu, bukankah tadi aku mengatakan tembak saja aku setelah sampai tempat tujuan, maka sekarang lakukan tugasmu!"


"Kak, sudah ini rumah sakit jangan teriak-teriak tidak enak dilihat banyak orang."


Elis merasa tidak enak karena dari tadi Hans hanya marah-marah, meski sepanjang perjalanan Hans terlihat lebih tenang namun ia menyimpan emosi yang luar biasa, ditambah dengan kehadiran mobil polisi.


Sudah seperti menemukan tempat untuk melampiaskan amarahnya.


"Do'akan saja semoga operasinya berjalan dengan lancar," lanjut Elis.


Hans kemudian duduk dikursi tunggu, ia menyugar rambutnya dengan kasar, "pergilah aku tidak ingin memberikan keterangan apapun, kalian bisa menghubungi mister X jika ingin menangkapku dua hari lagi, jika sekarang kalian masih disini bukan hanya kantor kalian yang akan terbakar, juga keluarga kalian akan terasingkan!" Ucap Hans dengan pelan namun tegas tanpa melihat kearah dua orang polisi.


"Pak polisi mohon maaf, biar nanti saya yang akan mengantar Kak Hans kekantor Bapak, kalau boleh tahu, Anda bertugas dimana supaya saya lebih mudah mencari alamat kantor Bapak?" Tanya Elis dengan sopan, ia tidak ingin punya masalah dengan seorang penegak hukum.


"Nona Elis, kamu tidak perlu jawaban dari mereka, aku yang akan mendatangi kantor polisi dijalan xxx, bahkan aku juga tahu jika Aipda Rian memiliki seorang gadis kecil berusia 2 tahun dan tinggal diperumahan griya indah, dan untuk Bripka Kusuma anak gadismu sekarang sedang kuliah jurusan modeling, sedangkan anak bungsumu masih berseragam putih biru."


Diam-diam Hans dengan cepat mencari tahu dua polisi yang ingin membuat masalah dengannya, "sudah lah Kak, tidak perlu mencari tahu kehidupan mereka, meraka juga sedang menjalankan tugas, sama seperti Kakak." Elis tidak ingin Hans semakin membuat polisi itu ketakutan.


Mendengar penjelasan Hans wajah polisi itu sudah terlihat pucat, kali ini mereka sadar sudah salah memilih lawan.


"Lalu bagaimana jika pimpinan kalian tahu prestasi kalian dijalan raya yang memang bukan tugas kalian."


Pernyataan Hans semakin menjelaskan bahwa targetnya kali ini bukan orang yang bisa disinggung.

__ADS_1


"Maafkan kami karena sudah mengganggu perjalanan anda, kami akan pergi sekarang," ucap salah satu polisi yang memiliki pangkat lebih tinggi.


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran."


__ADS_2