Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
bab 32


__ADS_3

"maaf" Shanum berjalan kedepan supaya lebih dekat dengan orang yang menyapa.


"Saya Shanum, ini adik saya adel dan dua pria dibelakang mereka sopir saya" kata Shanum dengan ramah, senyum mengembang dibibirnya.


"Maaf nduk cari siapa ya?"


"Saya cari bu Mira, apa benar ini rumahnya?"


"Benar, tapi Bu Mira tidak dirumah." Ada raut sedih saat perempuan setengah baya itu mengatakan bahwa pemilik rumah tidak ada.


"Kalau boleh tau, Bu Mira kemana ya bu?"


"Jika berkenan mari silahkan masuk rumah saya dulu," wanita itu mengajak Shanum dan lainnya untuk ikut kerumahnya.


Shanum hanya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kaki perempuan tersebut.


Hanya berjarak satu rumah dari tempar Bu Mira, kini mereka sudah sampai ditempat tujuan.


Rumah sederhana namun terlihat rapih, terdapat tanaman bunga disamping teras rumah, dan dihalaman ditumbuhi pohon mangga yang begitu rindang, dibawahnya terdapat kursi memanjang sekedar untuk duduk-duduk mengikuti semilir angin.


"Silahkan masuk!"


"Terimakasih,"


Tanpa banyak berbicara Shanum masuk kedalam rumah, meskipun terbilang sederhana namun tatanan dalam rumahnya sangat mengagumkan, tidak banyak perabotan tapi terkesan elegan.


Hanya ada sofa diruang tamu, saat masuk lebih dalam ada ruang keluarga yang membatasi ruang tamu dan ruang makan yang terdiri dari satu meja bulat dikelilingi empat kursi.


Bahkan area dapur juga terlihat jelas dari ruang tamu meski letaknya paling ujung, hanya kamar-kamar yang memiliki sekat.


"Silahkan duduk, maaf hanya begini adanya," perempuan yang tidak diketahui namanya menyuruh mereka untuk duduk.


Shanum dan yang lainnya patuh duduk disofa.


"Maaf bu," Shanum memulai berbicara saat perempuan itu ingin beranjak kedalam.


"Sebaiknya kalian minum dulu supaya lebih tenang, sebentar ya." Sepertinya memang wanita itu belum mau memberitahu apapun.


Tidak lama kemudian tetangga Bu Mira keluar lagi membawa nampan berisi empat cangkir teh manis hangat juga sedikit kudapan.


"Silahkan."


"Terimakasih."


Rasa dan aroma teh yang tidak biasa membuat perasaan mereka sedikit tenang.

__ADS_1


"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Santi, kalian bisa memanggil saya Bu Santi," Bu Santi mengenalkan diri, "Maaf karena telah menahan kalian disini." lanjutnya Lagi.


"Tujuan kami kesini hanya untuk mencari tahu keadaan Bu Mira," jawab Shanum tanpa basa basi, "Maaf jika bu Santi tau dimana keberadaan Bu Mira, tolong langsung pada intinya!" Shanum tidak bisa untuk lebih lama bersabar, dirinya memiliki firasat tidak baik dengan kebaikan wanita didepannya.


"Hmmmm, begini," Bu Santi berdehem untuk menormalkan degup jantungnya.


"Bu Mira sekarang berada dirumah sakit, ia mengidap penyakit kanker otak." Jelasnya hati-hati.


"Apa!" Reflek Shanum berteriak. Air mata seketika luruh tanpa bisa dicegah.


"Kak tenanglah," adel mengusap pundak kakaknya memberi ketenangan.


"Maaf kalau boleh tau anda ada hubungan apa ya dengan Bu Mira?" Bu Santi bertanya kembali, seperti ingin tahu lebih banyak tentang hubungan keduanya.


"Itu tidak penting, kalau berkenan bisa tunjukan Bu Mira ada dirumah sakit mana?" Tanya Adel.


Adel seperti menangkap gelagat tidak baik juga dari Bu Santi.


"Mira ada dirumah sakit kota, dan harus segera dioperasi, tapi karena kami hanya warga desa yang memiliki penghasilan tidak seberapa, jadi tidak bisa membantu biayanya."


"Lalu?" tanya Adel tak sabar.


"Lalu Mira belum bisa operasi karena tidak ada biaya."


"Berapa biayanya?"


"Baiklah antar kami kesana, aku akan melunasi segera supaya Bu Mira secepatnya bisa mendapatkan penanganan."


Adel ingin bangkit dari duduknya.


"Sebebernya kalian bisa menitipkan uang itu kepada saya, saya akan kesana, dan kalian bisa istirahat dulu dirumah ini." Bu Santi menghentikan langkan Adel yang sudah setengah berdiri, dan membuat Adel kembali duduk.


"Maaf, kami tidak memiliki uang cash." kata Adel acuh.


Benar dugaan adel wanita setengah baya didepannya hanya ingin memanfaatkan kehadirannya.


Terlihat jelas mereka sangat peduli dengan Bu Mira, mungkin karena itulah Bu Santi ingin mengambil keuntungan.


"Kalian bisa mentransfernya ke nomor rekening saya, orang kaya seperti kalian pasti punya M-Banking kan?" kata Bu Lisa lagi.


"Maaf tunjukan dimana Bu Mira, atau kami akan mencari tahu lewat warga lain, uang bisa melakukan segalanya" kata Shanum tegas sudah tidak ingin basa-basi.


"Ba-baik saya akan tunjukkan, tapi…………" Bu Santi tidak meneruskan ucapannya ada rasa sangsi takut salah lagi.


"Tenang saja, kami bukan orang yang tidak tahu terimakasih."

__ADS_1


Akhirnya mereka kembali kejalan raya menaiki motor tetangga yang memang sering mengantar jemput warga desa tersebut ketika tidak ingin berjalan kaki melewati pematang sawah.


Butuh perjalanan satu jam untuk sampai di Rumah sakit kota menggunakan mobil.


"Diruang mana Bu Mira dirawat?" Tanya Shanum tidak sabar.


"Mari ikut saya." Bu Santi memimpin jalan didepan, diikuti Shanum dan Adel dibelakangnya, sedangkan dua supirnya berada dibelakang sendiri.


Tanpa mengetuk pintu Bu Santi langsung membuka pintu ruang perawatan Bu Mira.


Terlihat disitu ada tiga pasien, hanya disekat dengan sebuh hordeng.


Shanum tidak bisa berkata apa-apa begitu melihat keadaan ibunya terbaring lemah diatas brankar rumah sakit.


Wanita yang enambelas tahun lalu ia tinggalkan kini terlihat sangat menyedihkan.


Tidak lagi terlihat senyum menenangkan, tidak ada tawa yang menutupi luka.


Adel tidak kuasa melihat air mata Kakaknya, ia lebih memilih keluar menuju resepsionis untuk menanyakan sesuatu.


"Maaf sus, apakah saya bisa bertemu dokter yang menangani pasien atas nama Bu Mira?" Tanya Adel begitu sampai ditempat tujuannya.


"Dokter Rizal belum datang, setengah jam lagi jadwal prakteknya, biasanya limabelas menit sebelum praktek beliau baru sampai." Kata Suster yang berjaga dimeja resepsionis.


"Terimakasih, Jika sudah datang tolong suruh langsung menemui saya diruangan Bu Mira."


Adel tidak bisa menunggu lebih lama lagi, tiga puluh menit, adel rasa terlalu lama.


"Itu dia dokternya sudah datang." Suster itu menunjuk dokter yang baru masuk "Beruntung dia datang lebih awal." Kata suster itu lgi.


"Oke, terimakasih"


Tanpa menunggu jawaban dari suster, Adel langsung bergegas menuju sang Dokter.


"Siang dok." Sapa Adel mensejajari langkah Dokter Rizal.


"Siang juga, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Rizal ramah.


"Banyak!" kata Adel to the poin. "Bisakah saya memindahkan pasien atas nama Bu Mira ke Rumah sakit kota."


Dokter Rizal berhenti sebentar kemudian memandang kearah adel mengamati sorot matanya, apakah wanita ini sedang bercanda atau tidak.


"Dokter, bagaimana?" tanya Adel lagi karena tidak ada jawaban dari Dokter, justru malah ia mendapatkan tatapan yang entah.


"Mari ikut keruangan saya."

__ADS_1


Dokter itu menuntun adel menuju ruangannya. Akan lebih leluasa jika berbicara diruangannya sambil duduk daripada dikoridor rumah sakit sambil berjalan.


"Jadi bisa jelaskan alasannya?"


__ADS_2