Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 36


__ADS_3

"Hey jangan menyentuhanya sayang." Sepertinya Dev tidak terima karena Adel menyentuh tangan lelaki lain.


"Adel tidak menyentuh mas, tapi memukul." Jawab Adel.


"Sama saja tanganmu kan menyentuh tangannya." Keposesifannya membuat ia tidak terima jika Istrinya menyentuh lelaki lain selain dirinya.


"Ini memukul Mas, memukul bukan menyentuh," Kata Adel menjelaskan. "Menyentuh itu pelan, sedangkan memukul itu keras, seperti ini." Adel mempraktekan antara menyentuh dan memukul. Dan itu membuat Dev semakin tidak terima.


"Sayang tidak boleh seperti itu, jangan diulangi karena apapun itu tanganmu tidak boleh bersentuhan dengan lelaki lain."


"Bucin!"


Kata Shanum dan Evan berasamaan.


"Cie kompak yang sebentar lagi akan halal." Kata Adel meledek.


"Aamiin." Evan mengaminkan perkataan Adel.


"Kamu ko ga mengaminkan Sha, tidak ingin segera dihalalkan ya?" Tanya Evan pura-pura sedih.


"Sudah ko dalam hati," jawab Shanum malu-malu.


"Cie ternyata Kakak bisa juga malu-malu kambing."


"Eh kok kambing sih, jelek banget." Protes Evan.


"Suka-suka aku lah!"


"Iya iya, suka-suka kamu dek," Shanum yang memang tidak suka diperpanjang lebih memilih mengalah, mengiyakan kata-kata Adel.


"Gak bisa gitu dong Sha, kambing itu jelek, lihat saja giginya berantakan begitu, harusnya kan malu-malu kucing, kucing itu menggemaskan kaya kamu." Kata Evan sambil mencubit pelan pipi Shanum.


"Sudah lah itu tidak penting, yang lebih penting itu, kamu tahu darimana kita ada disini?" Tanya Adel penasaran, mewakili semua perasaan orang-orang yang ada diruangan itu, diangguki oleh Shanum yang juga menuntut penjelasan.


"Itu tidak penting!" Jawab Evan santai.


"Jawab saja, jangan buat kita mati penasaran," canda Adel menuntut penjelasan.


"Emang kalian sudah mau mati?" Evan bertanya dengan nada yang dibuat seserius mungkin, seolah dirinya kaget dengan pernyataan Adel.


"El!" Teriak Adel, "benar-benar meneyebalkan."


"Van, darimana kamu tahu kita ada disini?" Suara lembut Shanum terdengar meminta penjelasan.

__ADS_1


"I-itu, aku mengikuti calon adik ipar."


Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kini dirinya seperti maling yang tertangkap basah.


"Oh ya ampun kamu jadi penguntit?" Adel bertanya.


"Apa salahnya sih, ini salah satu usaha untuk membuktikan cintaku pada Shanum, kemanapun dia pergi aku pasti menemukannya, iya kan mama mertua?"


Evan mengalihkan pertanyaannya kepada Bu Mira yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.


Bu Mira hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan dari lelaki yang mengaku sebagai calon menantu.


"Permisi!" Kata seorang berjas putih dari ambang pintu.


"Ehmmmm maaf mengganggu saya mau memeriksa kondisi Bu Mira," Canggung itulah yang Dokter Rizal rasakan, apalagi ketika melihat tangan kekar melingkar erat dipinggang wanita yang telah mencuri hatinya.


Ada yang membara tapi bukan api, salah sendiri memang, tanpa mencari tahu dulu siapa sosok perempuan yang menganggu pikirannya sejak pandangan pertama.


"Silahkan Dok!" Kata Dev, ia menangkap gelagat tidak biasa dari Dokter Rizal yang sedari tadi mencuri-curi pandang kearah Istrinya.


Cemburu, itu pasti. Dev selalu tidak terima siapapun yang memandang dengan tatapan memuja kepada wanita yang ia halalkan satu tahun lalu.


"Kondisi Bu Mira sudah semakin membaik, hari ini juga sudah boleh pulang." Kata Dokter Rizal menjelaskan.


"Terimakasih Dok." Lanjut Shanum.


"Sama-sama Nona, jangan lupa rutin kontrol," Dokter Rizal mengingatkan.


"Baik Dok," jawab Shanum singkat.


"Baiklah saya permisi," pamit Dokter Rizal kemudian segera berlalu pergi meninggalkan ruangan yang tiba-tiba terasa begitu sesak, seperti tidak ada lagi oksigen untuk dihirup.


"Ada apa dengannya?" Tanya Adel polos, "biasanya dia betah berlama-lama diruangan ini." Lanjutnya lagi.


"Kenapa?" Tanya Dev tidak terima Adel menanyakan tentang laki-laki lain didepan matanya.


"Apanya?" Tanya Adel bingung.


"Kenapa kamu menginginkan Dokter itu berlama-lama disini?"


"Adel tidak menginginkan begitu Mas, hanya bertanya."


"Karena ada tangan dipinggangmu makanya dia tidak nyaman," Shanum menjelaskan.

__ADS_1


"Apa yang salah, Mas Dev suamiku, wajar jika terus memelukku, apalagi sudah lebih dari sepekan tidak bertemu, pasti rindu." Adel masih belum tahu situasinya, sejak menikah dengan Dev, Adel benar-benar menutup mata dari lelaki lain, tidak pernah peduli dengan tatapan penuh harap dari orang lain, dirinya hanya melihat cinta Dev.


"Iya kan Mas?" Adel bertanya kepada suaminya.


"Iya sayang, Mas sangat merindukanmu, rasanya sudah tidak sabar untuk segera pulang dan menguncimu dikamar." Jawab Dev apa adanya.


"Sensor, ada anak dibawah umur," seloroh Evan.


"Mana ada anak dibawah umur ngebet nikah," cibir Dev.


"Sudah lah ayo berkemas, nanti Dokter sok kecakepan itu masuk lagi." Dev tidak ingin bertemu Dokter Rizal lagi.


Meskipun Dev tahu jika Adel tidak menyadari hal itu. Tapi tetap saja rasanya tidak nyaman melihat tatapan penuh harap dari Dokter yang memang ketampanannya bisa dipertimbangkan.


"Kamu kenapa sih Mas, Dokter Rizal itu baik, dia yang sudah merawat Ibu disini." Adel bingung dengan sikap tiba-tiba Dev yang tidak menyukai Dokter Rizal.


"Itu kan memang tugasnya, bukan Dokter namanya kalau tidak merawat pasien." Jawab Dev ketus. Ia merasa Adel sedang memuji Dokter Rizal setinggi langit, padahal Adel hanya mengatakan hal yang wajar.


"Iya, iya itu memang kewajiban seorang Dokter," melihat Dev yang sepertinya sedang dalam keadaan kurang baik, Adel lebih memilih mengalah tidak ingin melanjutkan adu argumen.


Sedangakn Shanum ia lebih dulu membereskan barang bawaan dibantu Evan, tanpa memperdulikan sepasang suami istri yang entahlah.


Satunya terlalu polos tanpa bisa meraba perasaan orang lain, satunya terlalu posesif, hal apapun selalu bisa menjadi ajang untuk membuatnya cemburu.


"Bu, Kakak bantu duduk dikursi roda ya," Kata Shanum lembut.


"Tidak usah Kak, Ibu jalan saja, ibu bisa." Bu Mira menolak untu duduk dikursi roda, ia merasa kondisinya sudah sangat baik.


"Tidak bisa Bu, Ibu harus didorong dengan kursi roda sampai kemobil, Jangan terlalu cape dulu." Shanum masih berusaha membujuk Ibunya untuk menggunakan kursi roda.


"Iya bu, Adel setuju dengan Kakak, Ibu harus menggunakan kursi roda biar cepat pulih, biar bisa bermain dengan calon cucu Ibu." Adel juga ikut membujuk Bu Mira.


"Cucu!" Kompak Dev dan Evan.


"Bisa aja kali, tidak usah kompakan begitu, kayak sepasang kekasih saja." Adel berkata sambil membantu Bu Mira duduk.


"Lagian aku ngomongnya calon cucu, bukan cucu." lanjut Adel lagi.


"Cucu apa? siapa yang mau punya anak, atau kamu hamil sayang?" Tanya Dev girang, dan berharap itu benar.


"Hamil apaan, belum." Jawab Adel santai.


"Terus tadi apa maksudnya calon cucu?"

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Mas, kayak heran begitu, kita kan sudah lama menikah, wajar kan kalau nantinya punya anak dan menjadi cucu Ibu, yang untuk saat ini masih menjadi calon, karena belum diproses." Jelas Adel tanpa rasa bersalah dengan pemikirannya, yang memang baginya tidak ada yang salah.


__ADS_2