
"Assalamu'alaikum!" Sapa seseorang dari depan pintu dengan senyum khas yang begitu menawan.
Senyuman yang bisa membuat wanita pengejar cinta lupa bernapas.
Senyuman yang ingin disaksikan banyak pasang mata liar diluar sana.
Mendengar salam seorang yang tidak asing, seketika semua yang ada didalam ruangan menoleh kearah pintu.
Bahkan Adel sampai menjatuhkan kripik yang sudah hampir sampai mulut.
'Sial!' Umpat Dev. Ia merasa terlalu banyak saingan untuk bertahan dengan cinta istri kecilnya.
Adel sudah sah menjadi Istrinya, namun tetap saja perasaannya tidak bisa tenang.
Begitu banyak pasang mata yang memandang Adel dengan tatapan memuja, dan itu sukses membuat Dev uring-uringan sendiri.
"Tuan Rafa," Sapa Shanum ramah, "Suatu kehormatan bagi saya, Tuan Rafa yang terhormat sudi singgah dirumah sederhana milik Ibu Saya," Lanjut Shanum lagi yang mulai bisa menguasai keadaan, sedangkan yang lain masih sibuk dengan prasangka masing-masing tentang kehadiran pengusaha muda tersebut.
"Kalau boleh tahu ada keperluan apa sampai Tuan jauh-jauh datang kedesa terpencil ini." Tanya Shanum.
"Ah maafkan saya Nona Shanum, bisakah saya ikut bergabung?" Tanpa menjawab pertanyaan Shanun dan tanpa menunggu jawaban Shanum, Rafa segera masuk duduk didepan Adel yang memang sedang duduk lesehan hanya beralasan tikar.
"Aku tamu disini, berbagi sedikit tidak akan membuatmu miskin." Tanpa basa basi Rafa merebut jajanan yang ada ditangan Adel.
Adel yang belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi memilih melepas dengan diam snack yang ada digenggaman.
"Ini curang namanya, denganku tadi berebut, dengan mantan langsung diberikan." Cibir Evan dengan tujuan memancing kecemburuan Dev.
"Mantan?" Tanya Adel linglung.
"Apa! Mantan!" Teriak Adel begitu sadar membuat orang yang berada disitu seketika terlonjak kaget.
"Bagaimana bisa makhluk bernama mantan tiba-tiba ada disini?" Entah pertanyaan untuk ditujukan untuk siapa.
Adel bangun dari duduknya memilih pindah bersampingan dengan Bu Mira.
Rasa tidak nyaman seketika menjalar keseluruh tubuhnya saat berhadapan dengan Rafa.
Rafa yang ingin ikut bangkit tiba-tiba terduduk kembali saat kedua lengannya ditarik oleh Dev juga Evan.
"Jangan macam-macam dengan istriku." Dev berkata dengan menahan gemuruh didalam dada.
__ADS_1
"Kalau hanya semacam boleh kan?" Ledek Rafa sambil memainkan alisnya naik turun.
"Maksudmu apa?" Dev merasa Rafa sedang mengejek dirinya saat ini.
"Ini urusan anak muda, orang tua minggir dulu." Rafa ingin bangkit lagi namun lagi-lagi tangannya ditarik hingga membuatnya kembali duduk.
"Tuan Rafa yang terhormat tolong jaga harga diri anda, Adel sudah bersuami, jadi jangan ganggu dia!"
Dev tahu tujuan rafa sampai datang jauh-jauh ke Desa tempat Bu Mira tinggal tidak lain hanyalah demi Adel.
"Demi Cinta, harga diri seakan tiada." Jawab Rafa santai, ia tidak jadi bangkit lebih memilih duduk manis menyilangkan kakinya dan menikmati kripik sisa Adel.
Dev mendengus kesal menahan geram mendengar jawaban Rafa.
"Santai saja tidak usah kesal begitu, kita kan bisa bersaing secara sehat?" Dengan rasa tanpa dosa Rafa berkata.
Sedangkan Adel semakin tercengang dibuatnya, 'bagaimana bisa bersaing, padahal sedang tidak mengadakan lomba' batin Adel.
"Bersaing bagaimana maksudnya? Sudah jelas aku yang mendapatkan Adel, sudah pasti aku pemenangnya, dan Anda tolong dengan segala hormat, jangan ganggu hubungan kami!" Kata Dev tegas.
Dev bangkit dari duduknya, beralih duduk di kursi "Sayang duduk sini," Dev meminta Adel duduk disampingnya, Adel menurut saja.
Tadinya Dev ingin duduk disamping Adel tapi kursi kayu milik Bu Mira hanya muat untuk 3 orang, akhirnya Dev duduk dikursi lainnya.
"Rafa ngapain kamu kesini?" Tanya Evan tanpa basa basi.
Usia mereka yang seumuran dan tidak memiliki hubungan kerja membut Evan bebas memanggil Rafa hanya dengan nama, tanpa embel-embel tambahan Tuan didepannya.
"Bukan urusanmu!" Jawab rafa ketus.
"Jelas ini jadi urusanku, apapun yang berhubungan dengan Adel akan menjadi urusanku!" Evan berkata tidak kalah tegas.
"Kamu bukan Ayahnya?"
"Aku calon kakak iparnya?"
"Oh ya, benarkah? Bagus! aku kira kamu tadi ingin ikut bersaing mendapatkan Adel."
"Gadis manja dan bar-bar sepertinya bukan tipeku." Jawab Evan santai dan membuat bantal sukses melayang mengenai wajahnya.
"Kalian berdua diamlah!" Bentak Adel.
__ADS_1
"Kak bawa Ibu kekamar untuk istirahat, Adel mau mengurus mereka dulu." Kata Adel lagi.
Bu Mira menurut saja ketika dituntun oleh putri sulungnya menuju kamar, ia juga merasa butuh istirahat, otaknya belum bisa diajak berfikir, kepalanya mendadak terasa pusing memikirkan kisah yang terjadi kepada anak-anaknya.
"Rafa kenapa kamu bisa sampai terdampar disini?" Tanya Adel meyelidik.
"Merindukanmu." Rafa menjawab dengan mengerling nakal kearah Adel. Sedangkan Adel memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari mantan kekasih yang menorehkan sejuta luka beberapa tahun lalu.
"Begini ternyata kelakuan yang sesungguhnya dari Tuan pengusaha muda yang terkenal angkuh dan arogan!" Dev mencibir masih terus memeluk posesif Adel, seakan tidak ingin Adel pergi dari sisinya meski hanya berjarak sejengkal.
"Aku bahkan tidak peduli dengan penilaian orang." Jawab Rafa.
Rafa akan selalu melakukan apapun yang ingin ia lakukan sekalipun harus menurunkan harga diri, asalkan apa yang dirinya inginkan dapat tercapai.
Seperti saat ini, demi bisa melihat Adel ia rela datang jauh-jauh dari Ibu Kota menuju Desa kecil yang bahkan mobil saja tidak bisa masuk.
Dirinya bahkan menyuruh seseorang untuk membuntuti Dev kemanapun Dev pergi.
Selama hampir dua pekan setiap kali Rafa datang kekantor Adel, Adel selalu tidak ada. Merasa frustasi dan hilang semangat akhirnya Rafa beinisiatif menyewa detektif demi bisa tau dimana Dev menyembunyikan Adel.
Rafa seakan tidak peduli jika Adel sudah bersuami, cinta yang masih tumbuh dengan sempurna memaksa dirinya untuk mengesampingkan logika.
"Rafa pulanglah, kedatanganmu tidak diharapkan disini!" Ketus Adel. Ia bahkan sudah tidak lagi memanggil Rafa dengan sebutan Tuan.
"Aku bahkan tidak butuh undangan untuk datang kesuatu tempat." Jawab Rafa acuh. Seakan pengusiran Adel tidak berarti apa-apa.
"Harusnya kamu sedang duduk manis dikursi kebesaranmu dengan setumpuk berkas yang harus kamu tanda tangani Tuan Muda Rafa!" Ejek Evan masih dengan terus mengunyah jajanan.
"Sudah ada Radit disana."
"Dan kamu percaya dengannya?"
"Tentu saja, Radit sangat setia."
"Bahkan Adel saja dikhianati sahabatnya dulu, Radit juga mungkin bisa begitu."
"Jangan samakan Radit dengan j**a** murahan itu!" Seru Rafa. Luka lama seakan terbuka kembali, luka saat dirinya dengan penuh penyesalan menyaksikan kepergian wanita cinta pertama dan mungkin selamanya.
🦋🦋🦋
Terimakasih buat readers yang masih setia dikarya amatir author, terimakasih atas dukungannya.
__ADS_1
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak. Thank you banyak-banyak.
😊😊😊