
Saat Dev kembali jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, ia menuangkan bakso yang sudah tidak begitu panas kedalam mangkok.
Sesampainya dikamar ternyata Adel sudah kembali terlelap, rasa kesal kembali menyelimuti hatinya.
"Del bangun, bakso pesananmu dimakan dulu." Dev menggoyangkan pelan lengan Adel.
"Del!" Panggilnya lagi.
"Hmmm."
"Ini baksonya."
"Adel sudah tidak ingin makan, Mas aja yang makan ya." Adel berkata masih dengan mata terpejam.
Dev merasa istrinya kali ini benar-benar keterlaluan, memintanya mencari bakso yang jaraknya ditempuh 2 jam bolak balik, dan sekarang setelah dapat, justru Adel tidak ingin memakannya.
Dev membiarkan semangkok bakso teronggok diatas meja.
Merasa ada pergerakan Adel membuka matanya, "Mas kenapa tidur?"
"Mas cape Del, ngantuk juga." Dev berganti posisi memunggungi Adel.
"Mas, baksonya dimakan dulu. Sayang itu mubadzir, udah beli jauh-jauh sampai rumah malah dianggurin." Gerutu Adel.
Dev semakin tidak mengerti dengan pola pikir istrinya, bukankah kalimat itu seharusnya Dev yang mengucapkan, kenapa justru dirinya yang mendapatkan ultimatum begitu.
"Kan tadi Adel yang minta." Dev masih mencoba sabar menghadapi kelakuan tidak biasa Adel.
"Tapi sekarang Adel minta Mas yang makan."
"Baiklah." Tidak ingin memperpanjang masalah Dev hanya bisa pasrah, membawa mangkok keluar kamar.
"Mau kemana?" Adel takut jika Dev akan membuang Baksonya.
"Makan didapur." Jawab Dev.
"Jangan dibuang, atau Adel gak mau lagi sama Mas." Ancam Adel.
Dev menghangatkan kembali baksonya, setelahnya ia duduk dimeja makan dengan mengaduk-aduk bakso, belum berniat untuk memasukkan kedalam mulut.
"Dev!" Panggilan Shanum mengagetkan Dev.
"Kakak ipar."
Shanum ikut duduk disalah satu kursi dedepan Dev, ia heran sepagi ini sudah ada semangkok bakso terhidang.
"Dapet bakso dimana pagi buta begini? Kamu kelaparan?"
"Ini kelakuan Adik kesayangan Kakak ipar."
Kemudian Dev menceritakan semuanya, dari Adel yang merengek minta dibelikan bakso sampai Adel meminta Dev memakannya.
"Kakak ipar, aku rasa Adel berubah, kenapa dia bisa jadi semanja dan semenyebalkan itu sih."
__ADS_1
"Turuti saja semua kemauannya," suara Bu Mira ikut memecahkan keheningan dipagi hari.
"Bu," ucap Dev dengan wajah memelas, bagaiman jika Adel meminta kembali hal-hal yang diluar nalar.
"Dev, apapun yang Adel minta kamu harus menurutinya." Bu Mira hanya memberikan perintah, namun tidak ingin menjelaskan alasannya, Meskipun Dev terus mendesak.
Adel kembali terjaga, ia terkejut karena tidak mendapati Dev disampingnya, Adel mencari dikamar mandi tapi Nihil, Dev tidak ada didalam.
Adel berjalan keluar, Menuruni tangga dengan tergesa dan terkesan sedikit berlari.
"Dek pelan-pelan jalannya, Adek gak boleh lari-lari ditangga begitu." Bu Mira memperingati Adel.
"Bu liat Mas Dev?"
"Ketiduran disofa."
Adel menghembuskan nafas lega. "Aku kira Mas Dev meninggalkanku." Ucapnya lirih.
"Itu tidak mungkin." Ujar Bu Mira. "Bersihkan badan dulu sana, lalu shalat, lihat tuh pipinya masih membentuk pulau." Goda Bu Mira.
"Ibu Mana ada," meski begitu tapi Adel tetap meraba pipinya yang memang tidak ada apa-apa. "Adel mau bangunkan Mas Dev dulu Bu."
Adel berjalan menuju sofa, melihat wajah Dev yang sedang terlelap, ada rasa kasihan ketika mengingat permintaannya tengah malam tadi.
Namun ketika keinginan itu terpenuhi Adel merasa ada kepuasan tersendiri dalam hatinya.
"Mas bangun."
Dev masih bergeming, ia baru tertidur setengah jam yang lalu, matanya masih enggan untuk dibuka, masih terasa sangat lengket.
Dev memaksakan matanya untuk terbuka, "jam berapa?"
"Setengah 5."
***
"Dev gak ikut turun Dek?" Tanya Shanum begitu Adel sampai didapur, ia duduk melihat Ibu dan Kakaknya yang sedang menyiapkan sarapan.
Sedangkan Mbok Wati hanya sedikit membantu, semenjak Bu Mira datang, urusan masak memasak ditangani sendiri. Asisten rumah tangganya hanya bantu bersih-bersih.
"Mas Dev tidur lagi Kak." Jawab Adel, sambil memakan Buah Anggur.
Setengah jam berlalu, sarapan sudah terhidang semua diatas meja. "Adel panggil Mas Dev dulu ya."
Adel hendak beranjak namun Ibu mencegahnya, "biarkan Dev tidur sebentar lagi Dek, kasihan pagi tadi baru tertidur jam 4."
Adel kembali duduk, ia semakin merasa bersalah, tapi tidak ingin mengakui kesalahannya.
"Wah enak ini, cumi lada hitam, udang tepung dan cah kangkung, semua kesukaan Adel." Teriak Adel sambil tepuk tangan.
Tapi meskipun begitu Adel hanya mengambil cah kangkung, dan mengabaikan cumi lada hitam juga udang tepung.
Shanum merasa bingung karena Adel tidak menyentuh sama sekali seafood kesukaannya, lain halnya dengan Bu Mira yang semakin tersenyum melihat tingkah Adel yang lain dari biasanya.
__ADS_1
"Dek, kamu gak makan cumi atau udangnya, ini makanan kesukaan kamu loh, biasanya kamu paling gak bisa ninggalin mereka, udah mulai berpaling sekarang?" Tanya Shanum heran.
"Seafood masih jadi favorit Adel Kak, tapi sekarang lagi gak pengin." Jawab Adel santai. Ia terus melahap cah kangkung dan nasinya tanpa peduli dengan tatapan heran Shanum.
"Biarkan saja Kak." Ucap Bu Mira. "Kamu mau makan apalagi Dek?"
"Siang nanti masak sop ya Bu, yang banyak wortel sama sayurnya, jangan dikasih bakso, ayam apalagi daging. pokonya cukup sayuran aja."
"Siap putri kecil Ibu."
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Gumam Shanum pelan.
Selesai sarapan Adel kembali kekamar melihat Dev yang masih tertidur pulas.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9, namun belum ada tanda-tanda Dev akan bangun.
"Cilok kuah enak kali ya?" Gumam Adel, tetiba saja ia ingin makan jajanan pinggir jalan.
Adel mengambil benda pipih yang berada diatas nakas, kemudian menggeser layar ponselnya mencari aplikasi berwarna hijau berlambang gagang telepon.
(Pagi calon kakak ipar) Send.
Terlihat centang dua tapi masih berwarna abu-abu. Adel masih terus melihat riwayat chatnya pada evan.
10 menit menunggu akhirnya terdengar notif dari aplikasi hijaunya.
(Pagi juga calon adik ipar)
(Tumben, pasti ada sesuatu)
Dua pesan terkirim beruntun, Adel tersenyum melihat pesan kedua Evan.
Lelaki itu selalu tepat ketika menebak sesuatu.
(Van mau ngapel gak?)
Evan mengernyit heran melihat balasan Adel. Padahal tinggal ngomong maunya, kenapa harus berbelit-belit. Pikir Evan.
(Kamu mau apa?)
Tepat seperti dugaan Adel, Evan pasti akan menanyakan maunya, Adel tahu pasti Evan tidak suka basa basi.
"Bawain cilok kuah, dalam 30 menit harus sampai." Adel berkata lebih tepatnya memerintah ketika panggilannya tersambung pada Evan.
"Del kamu gil……………" Tutttt.
Belum sempat Evan menyelesaikan kalimatnya Adel segera mengakhiri sambungan secara sepihak.
Membuat Evan kesal dibuatnya.
(Harus kamu yang beli.) Pesan Adel terkirim langsung centang biru dua, setelah itu ia mengaktifkan mode pesawat agar tidak bisa dihubungi oleh Evan.
Evan sedang menerima laporan dari bawahannya, ini adalah informasi yang penting, tetapi Evan harus menundanya karena keinginan Adel yang seperti tidak ingin dibantah.
__ADS_1
Esok adalah hari pernikahannya, tapi Evan masih disibukkan dengan penelitiannya pada seseorang. "Lanjutkan nanti malam, aku ada urusan mendesak."
'Apa yang terjadi dengan gadis manja itu sih? Menyusahkan sekali.' Gerutu Evan, tapi ia tetap meneruskan langkahnya menuju parkiran.