Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
kembali ceria


__ADS_3

malam ini tidak lagi menginap karena shanum ingin mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda dan sudah diantar kerumah oles staf kantor.


sementara itu, Dev yang tau adel sudah pulang bergegas keluar kamar menuju ruang depan.


adel masih duduk disofa ruang tamu, terlihat seperti sangat kelelahan.


Adel memejamkan matanya seakan mengusir lelah bahkan tidak menyadari jika dev sedari tadi sedang memperhatikannya.


dev yang melihat adel pulang dengan barang belanjaan merasa sedikit lega, bahkan adel juga terlihat seperti habis melakukan perawatan.


itu artinya adel sudah kembali baik-baik saja, pikir dev.


namun ia heran karena begitu banyak paper bag yang adel bawa, dev tak yakin jika itu berisi baju adel semua.


tapi jika bukan milik adel itu milik siapa, dev semakin bingung dibuatnya, hanya karena melihat paper bag yang tak wajar banyaknya.


ketika hendak melihat isinya tiba-tiba adel membuka mata.


dev yang menyadari itu mengurungkan niatnya untuk mengintip isi dari paper bag.


"del sepertinya kamu kecapean?" tanya dev pura-pura perhatian.


"hmmm" jawab adel cuek sambil kembali memejamkan matanya.


"mau dibantuin membawa belanjaan"


"tidak usah"


kali ini adel tidak mau Dev ikut campur dengan urusannya, dev sudah bertekad ingin hidup sendiri.


dalam arti ingin mandiri sekaligus memberi pelajaran kepada dev. dan juga ingin tau seberapa penting arti kehadirannya bagi dev.


"mbok" panggil adel sedikit keras namun dengan mata masih terpejam.


"iya non" jawab mbok sari berjalan cepat dari arah belakang.


"ada yang bisa dibantu non, maaf tadi si mbok ga tau kalo non adel sudah pulang"


"tolong bawain semua belanjaan ini kekamar tamu di lantai bawah mbok"


"baik non"


"maaf mbok merepotkan, adel lelah"


"tidak non, si mbok ga pernah merasa direpotkan, non adel mau dibuatkan minum dulu?" mbok sari merasa kasihan melihat nonanya sangat kelelahan.


"tidak usah mbok, adel mau mau mandi terus lanjut tidur" kata adel yang tak ingin terlalu merepotkan asisten rumah tangganya yang sudah seperti ibunya sendiri.


"mbok tidak usah dikeluarin isinya ya, biarkan saja seperti itu"


"baik non"


kemudian mbok sari bergegas memindahkan barang belanjaan adel ke kamar tamu seperti yang adel perintahkan.

__ADS_1


sedangkan adel berlalu begitu saja melewati dev menuju kamarnya.


dev tentu saja heran dengan sikap adel, adel seperti tak menganggapnya ada.


namun dev tetap mengekor adel dari belakang.


setelah sampai dikamar adel menuju kamar mandi sebagai tujuan awalnya.


ia hanya ingin berendam menghilangkan penat, setelahnya ingin langsung tidur.


"del" panggil dev ketika adel baru saja membaringkan tubuhnya membelakangi dev.


"hmmm" jawab adel singkat.


"sebenarnya ada apa?"


"ga ada apa-apa"


"kenapa kamu terus berusaha menghindariku"


"kamu lebih tau alasannya"


"aku menginginkanmu"


"aku tidak" jawaban adel tentu saja membuat dev terkejut, biasanya adel yang selalu menginginkannya.


menggodanya dengan lingerie **** yang bahkan tubuhnya terekspos sepenuhnya..


tapi kali ini bahkan dengan mudahnya mengatakan tidak menginginkannya.


"aku sudah mengharamkan tubuhku untuk suami durhaka"


"maksudmu apa"


"aku tidak ingin disentuh oleh suami yang masih mempertahankan wanita lain dihatinya" dengan tenang adel mengatakannya, berusaha mentralkan suaranya menahan air mata yang hendak membanjiri pipinya.


dev tidak lagi bisa menjawab kata-kata adel, semuanya benar, memang dev masih mempertahankan cinta pertamanya dihatinya.


memupuknya agar terus tumbuh subur, menyiramnya setiap hari agar tak layu.


dev tak pernah berusaha melupakan shanum, tak pernah menginginkan adel menggantikan shanum.


satu tahun tinggal bersama adel membuat kehidupan dev seperti tak memiliki tujuan.


harinya hanya berputar antara pagi kerja, malam tidur, pagi bangun lagi bekerja lagi.


ya, hanya itu yang dev rasakan, entah apa yang dia inginkan dari kehidupan pura-puranya.


dev belum bisa memejamkan matanya, masih saja memikirkan perkataan adel tentang suami durhaka.


tengah malam sudah terlewat namun dev masih setia dengan pikirannya sendiri.


ia baru menyadari ternyata sikap adel akhir-akhir ini karena tau dirinya masih mencintai shanum yang tak lain adalah kaka iparnya.

__ADS_1


namun dev juga penasaran darimana adel tau semua itu, padahal semua itu ia sudah menyimpannya rapat-rapat.


sempat terlintas dipikiran dev bahwa shanum yang menceritakan semuanya.


namun akal sehatnya menolak, shanum tak mungkin tega menyakiti hati adel, mengingat shanum begitu menyayangi adel.


bahkan shanum yang memintanya untk tidak menceritakan apapun tentang hubungan masa lalunya.


semua demi menjaga perasaan adel.


pagi kembali menyapa, dev sudah siap dengan pakaian kerjanya. matanya jelas terlihat semalam kurang tidur.


namun adel tak peduli akan hal itu, adel juga sudah membersihkan diri, masih dengan pakaian rumahnya.


belum ingin dev tau jika hari ini ia akan pergi kekantor.


"jika mengingikannya, sarapanmu sudah siap, mbok sari sudah memasak" adel berkata sambil terus memoles diri didepan cermin.


ia sudah tak ingin terlihat menyedihkan, ia ingin kembali ceria,


namun kali ini ia tak lagi berniat dengan make up tebal, hanya make up sederhana namun menambah kecantikannya,


membuatnya terlihat lebih cantik alami.


dev menjawab perkataan adel hanya dengan anggukan kepala, entah adel melihatnya atau tidak.


"kalau tak ingin sarapan dirumah, aku tak memaksanya, kamu bisa sarapan dikantor" adel berkata masih dengan menghadap kecermin, memastikan diri terlihat cantik.


"aku bisa menghabiskan sendiri masakan mbok sari" lanjut adel lagi, kali ini ia sudah membalikan badannya menghadap dev


"biasanya kami takut berat badanmu bertambah" tanya dev menatap adel.


"sekarang tidak lagi"


"kenapa"


"suamiku saja tidak peduli akan hal itu, langsing atau gendut suamiku tetap tak pernah bisa mencintaiku" adel menjawab dengan senyum yang dipaksakan.


ia tak ingin terlihat menyedihkan,


lagi-lagi dev tak bisa berkata apa-apa, semua memang benar adanya, apapun yang adel lakukan tak serta merta membuat hatinya tersentuh.


tanpa menunggu jawaban dev, yang mungkin saja dev juga tak lagi menjawab kata-katanya.


adel berlalu keluar kamar menuju meja makan,


"morning mbok sari" sapa adel ketika melihat mbok sari sedang menta sarapan dimeja.


"morning juga non" jawab mbok sari dengan logat jawanya.


"eh non ko sendirian?" mbok sari kembali bersuara ketika melihat adel hanya dudu sendiri.


"adel sudah mengatakannya kalau sarapan sudah siap, jika mengingingkannya sebentar lagi mungkin turun, jika tidak mungkin akan sarapan dikantor" kata adel menjawab pertanyaan mbok sari.

__ADS_1


"loh ya ndak bisa begitu non, den dev kan suami non adel, sebagai seorang istri non adel harusnya mengurus semua keperluan suami, memastikan mau sarapan dirumah atau tidak" mbok sari menasehati adel sambil meletakan piring didepan adel.


"biarkan saja mbok, dia sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri, sudah tau mana yang terbaik untuk hidupnya, dia sudah tak membutuhkan adel untuk segala hal"


__ADS_2