Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
kekantor


__ADS_3

"biarkan saja mbok, dia sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri, sudah tau mana yang terbaik untuk hidupnya, dia sudah tak membutuhkan adel untuk segala hal"


ada nyeri dihatinya saat adel mengatakan itu.


mbok sari yang tau hubungan majikannya sedang tidak baik-baik saja memilih mengakhiri kata-katanya, ia tak lagi menyahut ucapan adel.


tepat setelah adel mengatakan itu, dev sampai di ruang makan,


menarik kursi lalu duduk dihadapan adel, belum menyentuh piring, berharap adel masih mau melayaninya


namun adel tak peduli akan hal itu meski ia tau dev sedang menunggunya melayani seperti biasa, tapi adel lebih memilih melanjutkan makan.


mbok sari yang paham akan hal itu berinisiatif mengambilkan makanan untuk dev.


"si mbok ambilin ya den" kata mbok sari sambil meraih piring didepan dev


dev hanya mengangguk sambil terus melihat adel makan, seperti tanpa beban.


"ada apa?" tanya adel yang sadar dev sedari tadi melihatnya.


dev hanya menggelengkan kepala, sedangkan adel bergumam "aneh" pelan berbicara hampir tak terdengar.


adel ingin membiasakan diri untuk tidak terlalu peduli dengan dev, meski awalnya berat tapi ia harus berusaha.


demi membuktikan pada dev, bahwa dia tidak lemah hanya karena tak mendapat cinta dari suaminya.


"aku sudah selesai, jika mau berangkat hati-hati" kata adel sambil berlalu pergi.


"kamu mau kemana?" tanya dev


adel tak menyahut, dev dibuat kesal karenannya.


adel yang sekarang benar-benar susah ditebak.


dev menghabiskan sarapannya dengan cepat, lalu bergegas berangkat kekantor, tanpa pamit siapapun.


sesampainya dikantor dev menemui Shanum.


tok tok tok


terdengar suara pintu diketuk dari luar,


"masuk" kata shanum,


dev melangkahkan kakinya medekat ke arah shanum yang belum menyadari kehadirannya.


shanum tengah sibuk dengan laporan keuangan yang terlihat janggal, sehingga ia tak memperhatikan siapa yang masuk keruangannya.

__ADS_1


"sha sibuk banget ya" dev bertanya sambil menatap shanum yang belum menyadari kedatangannya karena masih fokus pada berkas ditangannya.


shanum yang sadar itu suara dev, segera mengalihkan pandangannya, menatap dev sekilas kemudian beralih pada berkas lagi.


"dev, ada apa?" tanya shanum tanpa melihat dev


"kamu sibuk?"


"seperti yang kamu lihat dev, sepertinya aku tidak bisa pulang awal hari ini, ada yang janggal dengan laporan keuangan kita" kata shanum menjelaskan.


"aku bisa membantumu"


"belum untuk sekarang, oiya ada apa kamu kesini?" Shanum bertanya tujuan dev, ia baru ingat sedari tadi dev belum mengatakan tujuannya.


"sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan, tapi ternyata kamu sedang sibuk, hmm mungkin lain kali" kata dev


"mmmm baiklah"


dev berjalan menuju pintu, ketika ia baru saja melangkahkan kaki keluar pintu, dev terkejut melihat adel sudah ada dihadapannya dengan tampilan berbeda.


adel menggunakan pakaian kantor yang begitu stylish.


meskipu pergi bekerja adel tetap memperhatikan penampilannya.


"hay mas, sudah selesai dengan ka shanum?" tanya adel begitu melihat dev keluar dari ruangan shanum.


akhirnya adel lebih memilih menunggu dev keluar.


"su-sudah del" jawab dev gugup


"baiklah aku mau masuk, bisa menyingkir dari pintu?" tanya adel saat dev masih berdiri mematung ditenga-tengah pintu.


"silahkan" dev seperti merasa bukan berhadapan dengan istrinya, melainkan justru merasa menghadapi bos besar yang sedang mengadakan sidak.


adel berlalu begitu saja dari hadapan dev tanpa menghiraukannya yang masib setia menatapnya.


"ka shanum i'm coming" teriak adel begitu berhasil melewati pintu.


"hay de sudah datang? kenapa ga mengucap salam?" tanya shanum yang heran dengan adik satu-satunya ini.


setiap kali selalu diajari mengucap salam ketika hendak memasuki ruangan orang lain, namun jarang adel lakukan.


"heeee" adel hanya nyengir kuda merasa bersalah.


"kaka kira kamu datangnya agak siangan de"


"bosen ka dirumah, oiya gimana penampilan adel?" adel bertanya sambil memutar tubuhnya,

__ADS_1


"beautiful and perfect" jawab shanum sambil mengacungkan kedua jempolnya.


dev yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya merasa heran.


dev begitu keluar tidak langsung menuju keruangannya, melainkan menunggu apa yang akan dilakukan istrinya tiba-tiba menemui shanum dikantor.


biasanya jika ingin bertemu shanum ia hanya menelpon tanpa mau tau keadaan kantor memaksa shanum menemuinya.


tak tanggung-tanggung, kadang ia membatalkan meeting yang sedang berlangsung.


tak ada yang berani melarangnya, mengingat dia pemilik perusahaan tempat mereka mengadu nasib.


meski jarang kekantor, tapi semua karyawan diperusahaan itu tau bahwa adel adalah bos mereka yang sebenarnya.


dev mengira adel akan mengadukan dirinya kepada shanum, namun dugaannya salah.


"kaka memang kaka terbaikku, selalu punya seribu cara untuk menyenangkanku" adel berkata sambil duduk dikursi bersebrangan dengan shanum.


"kaka akan selalu menjadi yang terbaik untukmu, apapun keadaanmu, baik atau buruk, benar atau salah kaka akan selalu ada dipihakmu, tapi berusahalah untuk selalu berbuat baik" shanum berkata sambil menatap adik kesayangannya.


adel yang terharu menghambur memeluk shanum,,


sedangkan dev yang mendengarkan merasa bersalah dengan sikapnya selama ini kepada adel.


dev mengira ketika ia tak bisa mencintai adel, adel akan melepaskannya dan dia bisa kembali kepada shanum.


namun dev salah, semua itu tak akan pernah terjadi, sekalipun ia berpisah dengan dev, shanum tidak akan pernah kembali kepadanya.


sekarang ia baru yakin akan hal itu, kebahagiaan adel adalah prioritas utamanya, shanum akan selalu dipihak adel apapun yang terjadi.


dev yang tak ingin lagi mendengar apapun percakapan mereka yang justru akan membuat dirinya semakin terpojok memilih kembali keruangannya.


sedangkan diruangan shanum adek masih menangis haru sambil terus memeluk shanum.


"hey de kenapa menangis hmm?" tanya shanum melihat adel terus mengeluarkan air mata.


"adel memang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, namun Allah menggantinya dengan malaikat tak bersayap berwujud gadis cantik"


kata adel masih dengan air mata membanjiri pipinya, meski shanum berulang kali menghapus air matanya.


"bundamu sudah berjuang keras melahirkanmu kedunia, mengorbankan dirinya demi menyelamatkanmu, yang kaka lakukan tak pernah sebanding dengan apa yang sudah bundamu lakukan, dan ayahmu setelah kepergian ibumu, beliau sudah melimpahkan kasih sayangnya untukmu ayahmu berperan sebagai ayah sekaligus ibu untukmu, beliau tak pernah menginginkan menikah lagi hanya karena ingin memberikan kasih sayangnya untukmu seorang, sedangkan kaka hanya meneruskan perjuangan mereka yang selalu ingin membuatmu bahagia"


shanum berbicara panjang lebar, mengingatkan adel bahwa yang ia lakukan tak kan bisa menggantikan kasih sayang orang tuanya.


adel justru semakin keras menangia setelah mendengar kalimat panjang shanum,


ia jadi merindukan ayahnya, dan menginginkan melihat sosok ibunya meski hanya sebentar.

__ADS_1


namun adel sadar mereka sudah berbeda alam, adel hanya bisa berdo'a untuk kebaikan kedua orang tuanya.


__ADS_2