
"Rafa pulanglah, katakan pada Radit untuk hati-hati denganku." Kata Evan santai namun ada keseriusan dimatanya.
"Jangan mengancam!" Teriak Rafa yang tahu inti dari perkataan Evan.
"Ini bukan ancaman Tuan Rafa, tapi aku juga bisa melakukan apa yang Radit lakukan."
"Jangan bertele-tele katakan maksudnya!"
"Benar, kamu memang orang yang sangat ambisius, tidak bisa bersabar sedikit demi tercapainya sebuah tujuan."
"Van katakan! Jika tidak jangan salahkan aku jika namamu didunia modeling hilang begitu saja."
"Dan jika itu terjadi, maka ucapkan selamat tinggal dengan bisnis yang sudah kamu rintis dari nol."
"Kamu tidak bisa mengancamku!"
"Begitu juga sebaliknya."
Perdebatan Dua pemuda seumuran dengan tampang yang sangat bersaing masih terus berlanjut, sudah tidak ada nada santai diantara keduanya.
Sisi lain dari Evan sangat bisa membuat Rafa begitu penasaran.
Pasalnya ia tidak tahu apapun tentang lelaki seusianya selain karirnya yang menjadi seorang model.
Sedangkan Dev masih asyik menyimak, meskipun matanya ia pejamkan, namun kupingnya masih berfungsi dengan sangat baik.
Berharap rasa penasarannya terjawab dengan apa yang sedang keduanya debatkan.
"Radit batalkan rencana!" Perintah Rafa ketika panggilannya tersambung kepada Asisten pribadinya.
Tanpa menunggu jawaban dari Radit, Rafa langsung menutup panggilan sepihak.
"Bagus!" Kata Evan dengan seringai kemenangan diwajahnya.
Rafa memang tidak pernah main-main dengan kata-katanya, tadi setelah mengatakan akan menghancurkan karir Evan, ia langsung menghubungi Radit untuk mengeksekusi rencananya, sayangnya Evan tau semua yang Rafa lakukan.
"Lain kali berhati-hatilah!" Lanjut Evan lagi.
"Harusnya kamu sedikit lebih pintar Tuan." Ujar Dev meski dengan mata terpejam. Walaupun tidak tahu pokok permasalahannya, namun menilik dari apa yang terjadi, Dev bisa menyimpulkan bahwa ada penghianat dari pihak Rafa.
Namun Dev juga tidak akan mengatakan secara gamblang dari apa yang ada dipikirannya.
"Diam Dev! bahkan kamu saja tidak paham dengan masalahnya!" Rafa semakin merasa dipermainkan oleh dua pria calon periparan tersebut.
"Ya ya terserah anda saja Tuan, aku hanya mengingatkan, berhati-hatilah dengan pagar yang selalu anda anggap bisa melindungi rumahmu." Kata Dev santai, tanpa sesikitpu merubah posisi dari sandaran ternyamannya.
__ADS_1
"Berhentilah bersandiwara! Sebenarnya apa yang kalian ketahui dan sedang rencanakan?"
"Tidak ada yang kami ketahui selain obsesimu kepada calon adik iparku." Jawab Evan dengan senyum menghiasi bibir manisnya.
☆☆☆
Senja disore hari terasa menenangkan mengiringi mentari kembali keperaduannya.
Adel dan Shanum kini sedang berada didunianya wanita, Dapur. Menyiapkan makan malam untuk mereka yang hadir tanpa permisi.
"Kak kapan kita pulang?" Tanya Adel ditengah-tengah kegiatan mereka.
"Lusa mungkin nunggu Ibu sedikit lebih baik lagi, kenapa?" Tanya Shanum menelisik raut muka Adel yang terlihat tidak tenang. "Dev sudah ada disini apalagi yang kamu pikirkan Dek?" Lanjut Shanum lagi.
"Rindu rumah, rindu Mbok Sari juga." Kata Adel sendu, ujung matanya yang menganak sungai segera ia hapus sebelum Shanum menyadarinya.
"Baiklah besok kita pulang, malam ini kita istirahat dulu disini." Shanum yang paham dengan perasaan Adiknya memilih untuk tidak menunda kepulangannya.
"Benarkah?" Tanya Adel dengan binar bahagia, persis seperti anak-anak yang dijanjikan es krim.
"he,em." Jawab Shanum sambil tersenyum gemas melihat tingkah Adik kesayangannya.
"Dek panggil mereka, katakan makan malam sudah siap, Kakak mau melihat Ibu dulu."
"Tidak usah lah Kak, nanti kalau mereka lapar juga nyari makan sendiri." Jawab Adel malas.
"Baiklah," dengan malas Adel menuju ruang depan dimana para pria sedang beristirahat.
Prang!
Adel menjatuhkan panci yang ia bawa tepat didekat mereka yang tengah ketiduran.
"Sayang ada apa?" Tanya Dev panik begitu mendapati Adel sedang mengambil kembali panci yang tadi ia jatuhkan.
Dev kira Adel terjatuh saat membawa sesuatu.
"Jangan terlalu naif dalam berfikir, jika ada sop panas dalam panci tidak akan berbunyi senyaring itu." Ejek Rafa yang tahu kepanikan rivalnya.
"Apakah kamu terluka sayang?" Tanpa menghiraukan ucapan Rafa, Dev segera menghampiri Adel.
"Tidak Mas, Adel tidak apa-apa." Kata Adel merasa geli dengan perlakuan posesif suaminya.
"Syukurlah kalau begitu, tapi kenapa panci kosong bisa jatuh?" Tanya Dev dengan wajah bodohnya..
"Bucin boleh, bodoh jangan." Ejek Evan.
__ADS_1
"Kalian berdua kenapa sirik aja sih, makanya menikah biar punya tempat untuk dikhawatirkan." Ujar Dev.
"Dev Adel tidak kenapa-kenapa, tidak jatuh juga, dia sengaja membuang panci itu untuk membangunkan kita." Jelas Evan yang sebenarnya juga menahan gemas kepada Adel, ingin sekali ia menjitak kepala Adel jika tidak ingat disitu ada bodyguard posesifnya.
Dev beralih menatap kearah Adel seraya bertanya 'benarkah?' meski tak sempat terucap.
Sedangkan Adel yang mendapat tatapan itu hanya nyengir kuda tanpa rasa berdosa.
"Lain kali jangan seperti itu, kamu bisa bangunkan Mas pelan-pelan," kata Dev dengan senyuman yang selalu bikin rindu, "setelahnya kamu boleh banting panci bahkan kompornya sekalian juga boleh tepat diatas kepala mereka." Lanjutnya lagi.
"Dev!" Teriak Evan juga Rafa bersama-sama seperti sedang paduan suara.
"Cie kompakan, jangan-jangan jodoh." Seloroh Adel sambil tertawa.
"Amit-amit!" Evan berkata dengan pandangan jijik kearah Rafa.
"Aku normal, jangan menatapku seperti itu." Kata Rafa, "Ada apa sayang kamu membangunkan ku dengan lembut?" Lanjutnya lagi dengan mengalihkan pandangan kearah pujaan hatinya.
Cihhh.
Evan dan Dev mendecih bersamaan.
"Padahal belum makan tapi rasanya ada yang mendesak ingin keluar dari dalam perut." Kata Evan dengan gaya ingin muntah.
Plakkk
Satu sentuhan sayang mendarat dipundak Evan dari telapak tangan milik Rafa.
"Berhentilah bercanda!" Ujar Rafa.
"Aku tidak punya waktu lebih lama dari ini hanya sekedar untuk mendengarkan celotehan anak-anak yang masa kecilnya kurang uang." Ketus Adel.
"Kurang bahagia sayang." Kata Dev menimpali.
"Ya seperti itu juga bisa." Jawab Adel, "Lanjutkan jika masih ingin berdebat, Mas ayok makan malam dulu, Kakak Sha sudah masak untuk kita." Lanjut Adel.
Adel menggandeng tangan Dev menuju ruang makan, dan itu sukses membuat Rafa mengepalkan tangannya.
"Tidak ada yang memintamu untuk menyaksikan drama keluarga bahagia." Bisik Evan tepat ditelinga Rafa.
Rafa hanya menengok sekilas kearah Evan tanpa mengatakan sepatah katapun, namun hatinya hanya Rafa sendiri yang tahu.
"Sudahlah, puaskan dulu penghuni perutmu, karena untuk cemburu juga perlu tenaga ekstra," katanya lagi masih dengan suara berbisik.
Rafa tidak menyahut ia berjalan lebih cepat menyusul Dev dan Adel yang sudah duduk dimeja makan, disana juga sudah ada Shanum dan Bu Mira yang sudah duduk memenuhi kursi yang hanya ada empat mengelilingi meja.
__ADS_1
"Kita tidak kebagian tempat?" Tanya Evan, "Sha?" Panggilnya pada wanita yang telah menggoyahkan pertahanannya.