
Ayah Shanum begitu terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu dari seorang gadis cantik didepannya.
Ia menatap dalam manik mata yang sedang berembun.
shanum masih setenang air menunggu jawaban dari sang Ayah.
Namun Ayah Shanum masih belum berniat membuka suara, meski sekedar menjawab sapaan.
"Ayah." Ucap Shanum lagi.
"Kamu siapa?" Terang saja Ayahnya tidak lagi mengenali, 12 Tahun sudah tidak melihat darah dagingnya sendiri.
"Ayah tidak mengenaliku?"
Ayah menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Shanum melihat kearah Evan bertanya tanpa kata lewat sorot mata.
Evan menganggukkan kepala, Shanum memegang tangan Ayahnya yang berada diatas meja, namun dengan pelan Ayah menarik tangannya.
Belasan tahun berada dibalik jeruji besi baru kali ini ada yang datang berkunjung.
Atas kasus kekerasan dan penganiayaan Ayahnya pernah dihukum selama 5 Tahun, namun hanya merasakan 2 bulan udara bebas ia kembali digelandang polisi atas kasus pencurian dan kembali menginap dihotel prodeo selama 3 Tahun.
Belum genap 5 bulan bebas lagi-lagi harus berurusan dengan hukum karena terbukti positif pengguna narkoba dan pengedar barang haram tersebut.
"Yah, aku Sani putri Ayah yang pergi 12 Tahun lalu." Shanum menghela napas panjang menahan sesak didada mengingat kejadian itu seakan kembali membuka luka lama.
Shanum menengadah keatas, menghalau air mata yang sedang berlomba menerobos keluar.
Ayah masih bergeming mendengarkan penuturan Shanum, ia sedang mencerna setiap baris huruf hingga membentuk sebuah kalimat.
"Yah kenalkan, dia Evan calon menantu Ayah, beberapa hari lagi aku akan menikah dengannya, mohon do'a dan restunya."
Hingga seorang penjaga sipir mengatakan waktu kunjungan tingal 5 menit lagi.
"Ayah baik-baik disini, Insya Allah aku akan kembali mengunjungi Ayah jika ada waktu libur sedikit lama." Shanum menghentikan sejenak ucapannya. "Setelah ini jadilah Ayah kebangaan buat Sani. Sani pamit."
Setelah mengatakan itu Shanum pergi tanpa menoleh lagi kearah lelaki yang seharusnya menjadi cinta pertamanya.
"Sani." Sayup-sayup terdengar suara memanggil namanya ketika Shanum hendak sampai dipintu keluar.
Shanum diam diambang pintu, belum ingin menghadap Ayahnya, ada rasa tidak yakin jika Ayahnya bisa menyebut namanya.
"Sani, bolehkan Ayah memelukmu?" Suara nan lirih kembali menyapa indra pendengaran Shanum.
Shanum segera berbalik dan menghambur dalam pelukan Ayahnya. Ia menangis tergugu meluapkan segala rasa yang sejak tadi ia pendam.
Ayah mendiamkan Shanum membasahi bajunya dengan air mata. Bagiamanpun juga darah lebih kental daripada air.
Waktu kunjungan telah benar-benar habis, Ayah Shanum dibawa kembali menuju sel, sedangkan Shanum berjalan keluar berdampingan dengan Evan.
Shanum menikmati keindahan pulau kecil ditengah laut sebelum kembali menyebrang.
"Aku bahkan lupa kapan terakhir melihat indahnya ciptaan Tuhan." Ucap Shanum dengan memejamkan mata, membiarkan semilir angin pantai menerpa wajahnya.
__ADS_1
Shanum tidak ingat kapan terakhir melihat air laut, hanya sesekali diajak oleh Ayah Riki. Saat masih tinggal bersama orang tuanya ia sama sekali tidak pernah diajak sekedar jalan-jalan. Masa kecilnya terlalu pahit untuk dikenang.
Suasana sangat lengang karena memang bukan hari libur. Shanum serasa sedang menikmati pantai pribadi.
"Maka kali ini kamu boleh menikmati sesukamu." Dev tiduran diatas pasir putih, Suasana yang tidak pernah ia temui di Ibu Kota.
Pantai berpasir putih yang terletak diujung timur pulau ini sangat bisa memanjakan mata.
Deburan ombak seakan membawa ketenangan sendiri untuk jiwa yang sedang resah.
Mentari tepat berada diatas kepala ketika mereka memutuskan untuk pulang menuju penginapan.
Berjalan kaki sekitar 30 menit dari pantai menuju dermaga. Rasa lelah terbayar dengan keindahan disepanjang jalan.
"Mau langsung pulang atau masih ingin bermalam disini?"
"Menginap semalam lagi, aku tidak mau kamu berkendara dimalam hari." Shanum memutuskan untuk bermalam sekali lagi.
***
"Radit menurutmu apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan Adel?" Rafa bertanya tanpa menoleh kearah asisten pribadinya.
"Tidak ada yang bisa anda lakukan Tuan. Nona Adel memang ditakdirkan untuk Tuan Devan." Rafa menjawab dengan santainya, namun masih dengan ekspresi datar.
Seketika berkas melayang kearah Radit, Rafa begitu murka mendengar jawaban dari asistennya.
"Katakan sekali lagi!" Bentak Rafa tidak terima.
"Maaf Tuan." Radit menundukkan kepala tidak berani menatap Tuannya.
Rafa adalah salah satu dari dua orang yang berjasa dalam hidupnya, beberapa tahun lalu sewaktu hidupnya masih dijalanan kerja serabutan demi bisa menghidupi Ibu dan Adiknya Rafa datang sebagai malaikat.
Kehidupan Radit semakin membaik setelah mengenal Rafa, sejak saat itu Radit berjanji akan mengabdikan hidupnya pada Rafa, meski sekarang janji itu sedikit ia ingkari.
"Keluar!" Teriak Rafa.
Tanpa kata-kata lagi, Radit keluar dari ruangan milik Rafa.
***
"Kak bagaimana?" Tanya Adel begitu Shanum sudah kembali di Ibu Kota.
"Apanya?" Ucap Shanum malas, ia bahkan masih merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
"Kakak cape ya?" Melihat respon Shanum, Adel merasa bersalah.
"Maaf Dek."
"Tidak apa-apa, istirahat saja dulu Kak, lagian ini sudah malam."
Lusa adalah pernikahan Shanum, gadis itu harus menyiapkan tenaga ekstra.
Rencananya Shanum ingin melaksanakan Ijab kabul dirumah, setelahnya acara resepsi akan diadakan di hotel.
Sebenarnya Shanum ingin acara yang sederhana saja yang penting sakral, tapi Evan bersikeras untuk membuat pesta mewah yang akan ia gelar sekali seumur hidupnya.
__ADS_1
Shanum hanya bisa pasrah dengan keinginan calon imamnya, toh dia tidak menyiapkan apapun.
Malam ini Adel menginap dirumah Shanum, rumah masa kecilnya yang penuh kebahagiaan.
Bahkan Adel akan terus menginap sampe hari H.
"Mas!" Adel menggoyangkan pelan bahu Dev yang sedang tertidur pulas.
"Mas!" Sekali lagi Adel mencoba untuk membangunkan suaminya.
"Hmmm." Dev masih enggan membuka matanya.
"Bangun dulu."
Mau tidak mau akhirnya Dev memaksa matanya untuk terbuka, "Ada apa sayang?" Meski kesal tapi Dev tidak ingin menunjukkannya.
"Mau bakso."
Mendengar kata bakso, mata Dev membulat sempurna, ia melihat jam yang menempel didinding, jarum jam menunjukkan pukul 1 dini hari.
Dev berfikir dimana ada kedai bakso yang masih buka tengah malam begini.
"Besok kita beli bakso, sekarang tidur dulu." Dev hendak menutup diri dengan selimut tapi Adel menariknya kembali.
"Aku mau sekarang." Rengek Adel manja. Entahlah Adel juga bingung tiba-tiba saja ia ingin makan bakso. "Tidak mau beli ya?" Tanya Adel dengan mata yang berkaca-kaca.
Dev berfikir ada yang lain dari diri Adel, ada rasa kesal namun Dev tetap bangun, ia mencuci muka. "Mas carikan ya." Ucapnya menenangkan Adel.
Adel hanya mengangguk.
"Dev mau kemana?" Pertanyaan Bu Mira mengagetkan Dev.
"Ibu terbangun tengah malam begini ada apa?" Tanya Dev balik.
"Ibu haus hendak mengambil minum. Kamu mau kemana?"
"Adel minta dicarikan bakso Bu, tengah malam begini mana ada kedai bakso yang masih buka," Dev mencoba mengadu pada ibu mertuanya, berharap mendapat pembelaan dan membujuk Adel untuk besok saja membeli baksonya.
"Apa tidak bisa besok saja?" Mendengar pertanyaan Bu Mira, Dev merasa menang.
"Tidak bisa Bu, Adel mintanya sekarang." Dev menjawab masih dengan muka memelas.
"Sekarang?"
Dev mengangguk, "Iya Bu."
"Cepat carikan!"
Dev terkejut dengan perintah Bu Mira, ia yang sudah merasa diatas awan kembali dijatuhkan, bukan mendapat dukungan justru ibu mertuanya ada dipihak Adel.
Dengan rasa malas Dev keluar rumah, ia mencari kedai bakso yang buka 24 jam lewat internet. Jaraknya lumayan jauh.
"Pak! Temani saya keluar." Dev meminta security yang berjaga malam dirumah Shanum untuk menemaninya mencari bakso.
Sedangkan Bu Mira tersenyum sendiri mengingat permintaan Adel yang tidak masuk akal.
__ADS_1