Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 62


__ADS_3

Bu Mira melihat kebelakang takut Dev masih mengikutinya, setelah memastikan Dev tidak ada, Bu Mira menceritakan kejadian tengah malam, tanpa ada yang dikurangi sedikitpun.


"Ini sudah hampir Shubuh, tapi Evan belum kembali Bu," ucap Shanum dengan gelisah.


"Kenapa kamu tidak mencoba menghubunginya?"


"Apa itu harus?"


"Hanya untuk memastikan suamimu baik-baik saja."


Shanum berjalan menuju kamarnya, tidak lama kemudian kembali lagi dengan benda pipih berada digenggamannya.


Panggilan pertama tidak dijawab meski terhubung, Shanum melakukan panggilan keduanya, tetap tidak dijawab. "Sepertinya Evan tidak membawa ponsel." Ujar Shanum.


Ada rasa sedikit kesal, tetapi Shanum juga tidak menyalahkan Adel, Shanum kesal pada dirinya sendiri karena tidur terlalu pulas sehingga tidak menyadari kepergian Evan.


"Tunggu saja, sebentar lagi mungkin pulang."


Shanum mengangguk, "Shanum shalat dulu Bu."


Bu Mira juga akan melakukan hal yang sama, sebelum pergi meninggalkan dapur, Bu Mira memastika kompor sudah dalam keadaan mati.


***


Evan kembali kerumah saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, dengan wajah lesu Evan mengucap salam tanpa menunggu jawaban ia membaringkan diri disofa, permen kapas yang dibawanya ia letakkan asal diatas meja.


Sebenarnya Evan tidak merasa lelah, hanya begadang semalam bukan masalah baginya, namun Evan sedikit merasa kesal meskipun tidak bisa menyalahkan siapapun.


Shanum menghampiri Evan, "kamu pasti lelah, maafkan Adel ya," ucap Shanum dengan raut bersalah.


Gadis itu merasa tidak enak atas kelakuan adiknya, dimalam pertama harusnya Evan bisa istirahat dengan tenang dalam tidur setelah seharian menghadapi tamu undangan.


"Tidak masalah," jawab Evan masih dengan mata terpejam.


Tersadar mendengar suara lembut milik istrinya seketika Evan membuka mata, "maafkan aku meninggalkanmu sendiri," sesal Evan.


Shanum tersenyum lembut, dalam keadaan apapun Shanum selalu tersenyum, "harusnya aku yang minta maaf, karena tidur terlalu nyenyak jadi tidak menyadari kepergianmu."


"Kamu pasti kelelahan ya semalam," goda Evan dengan kerlingan nakal.


Shanum yang diingatkan dengan kejadian semalam seketika wajahnya langsung memerah. bagaimanapun juga semalam adalah pengalaman pertamanya, rasa malu masih selalu menyelimuti perasaannya.


"Aku panggil Adel dulu ya," Shanum mencoba mengalihkan pembicaraan, ia ingin bangkit dari duduknya, namun Evan lebih cepat menarik pergelangan tangannya.


Shanum yang tidak siap seketika terjatuh dipangkuan Evan, dihadapakan dengan situasi secanggung ini pipi Shanum sudah benar-benar seperti udang rebus.

__ADS_1


"Ekhem mentang-mentang pengantin baru tidak pandang tempat." Goda Adel yang baru saja datang keruang tamu.


Shanum semakin canggung, tetapi berbeda dengan Evan yang terlihat cuek dengan keberadaan Adel, lelaki itu masih terus menatap Shanum.


Tangannya ia lingkarkan dipinggang Shanum yang berada dipangkuannya.


"Del sarapan dulu," ucap Bu Mira yang juga baru datang.


Mendengar suara Ibunya Shanum segera melepaskan diri dari pelukan Evan, bagaimanapun juga ia tidak enak kepada Ibunya jika bermesraan diruang terbuka meski sudah sah menjadi suami istri.


"Adel belum lapar Bu," jawab Adel, akhir-akhir ini nafsu makan Adel sedikit berantakan, kadang inginnya makan terus kadang juga tidak ingin makan sama sekali.


"Tapi kamu harus sarapan, adek bayi butuh nutrisi."


Mendengar kata bayi, Evan seketika teringat dengan pesanan Adel semalam, "ini permen kapas yang kamu mau," ucap Evan menyerahkan permen kapas kehadapan Adel.


"Buat Kak Shanum aja," Adel berkata dengan santainya.


"Tapi kamu yang minta," kesal Evan.


"Aku hanya minta dicarikan tapi tidak ingin makan," Adel berkata dengan santainya tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Gila kamu ya del!" Evan setengah berteriak dengan sedikit frustasi.


Mendengar nada emosi Evan, Adel tidak bergeming sama sekali, terlihat cuek dengan memainkan ponselnya.


"Kakak ipar jangan teriak-teriak, brisik tau! Aku jadi lupa kan tadi mau ngetik apa."


Mendengar kalimat Adel, seketika Evan ingin sekali menguras air laut, dia yang sedang kesal justru dia yang diperingatkan untuk tidak membuat orang lain kesal.


Shanum mengelus lengan Evan untuk meredakan emosinya, berharap Evan juga bisa maklum dengan keadaan Adel.


"Evan sebaiknya kamu membersihkan diri dulu sekarang, kemudian istirahat." Bu Mira berkata dengan bijak, agar tidak semakin memancing keributan, meski bukan ribut yang sebenarnya.


"Baik Bu," Evan beranjak kemudian berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Adel masih sibuk dengan ponsel pintarnya, "Kak Shanum, Adel mau keluar dulu." Tiba-tiba Adel ikut beranjak.


"Mau kemana?" Tanya Shanum penasaran.


"Adel mau bertemu teman Adel Kak, cuma sebentar."


"Dev sudah ijinin?" Tanya Bu Mira.


Adel duduk kembali "belum," menjawab dengan lesu.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan pergi!" Tegas Bu Mira.


Adel tidak memiliki pilihan lain selain menurut, padahal wanita itu sudah ingin sekali hangout bareng teman-temannya.


Tapi mau bagaimana lagi, semenjak hamil Dev semakin posesif.


"Permen kapas ini mau kamu apain?" Tanya Shanum begitu mengingat semalaman suaminya begadang hanya demi mencari permen kapas.


Adel mengedikkan bahu tanda tak peduli, "entahlah!" Jawabnya enteng.


Shanum tidak lagi menyahut, membawa beberapa kantong permen kapas warna warni menuju dapur memberikan pada asisten rumah tangganya untuk dibagikan kepada anak-anak belakang komplek.


Perumahan tempat tinggal Shanum merupakan kawasan perumahan elit, Shanum tidak yakin jika anak-anak yang tinggal disekitar rumahnya akan diizinkan memakan permen kapas oleh orang tuanya.


Oleh sebab itu Shanum meminta ARTnya untuk memberikan kepada anak-anak yang tinggal dibelakang komplek perumahan.


Tidak lama kemudian Evan kembali turun dengan baju santai namun pergerakkannya terkesan terburu-buru.


"Kakak ipar mau kemana?" Tanya Adel yang lebih dulu menyadari.


"Ada urusan sebentar," jawab Evan, kemudian menghampiri Shanum. "Aku keluar sebentar, kami hati-hati ya dirumah." Ucap Evan kemudian mengecup kening Shanum.


"Mau kemana?" Shanum merasakan tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang akan terjadi dengan lelaki yang baru saja mengucap janji suci kemarin.


"Ada urusan sebentar," jawabnya masih sama, belum ingin jujur tentang tujuan yang sebenarnya.


"Apakah bisa untuk tidak pergi sekarang," Shanum berkata dengan mata berkaca-kaca, seakan tidak rela jika suaminya pergi saat ini.


Entahlah, Shanum memiliki firasat tidak baik. Evan tersenyum lembut, membawa Shanum kedalam pelukkannya, sedikit banyak Evan bisa menangkap kekhawatiran yang tersorot dari manik Shanum.


"Kenapa, hmm masih rindu?" Goda Evan ingin mengalihkan kekhawatiran istrinya.


"Apa masih perlu ditanya, kita masih dalam suasana pengantin baru," ucap Shanum dengan malu-malu.


"Aku hanya pergi sebentar, tidak sampai malam sudah kembali."


"Apa sangat penting dan mendesak?"


Evan mengangguk, "hm."


"Lebih penting dariku?"


Pertanyaan Shanum membuat Evan terdiam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa.


"Tidak usah dijawab, pergilah dan tetap hati-hati," Shanum melepaskan pelukkan Evan, gadis itu tidak ingin membebani Evan dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Terimakasih, hati-hati dirumah."


__ADS_2