
"nikmatilah tuan, saya akan menemani anda sampai selesai" adel berkata lagi mengalihkan pembicaraan. mengurungkan niatnya untuk kembali bekerja.
namun reaksinya begitu mengejutkan.
"sudah tidak lagi berselera" pria tersebut berdiri sambil membanting sendok.
beruntung ini masih jam kerja, jadi tidak ada karyawan yang berada dikantin, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan.
adel yang sedang duduk didepan si pria terlonjak kaget,
'masih saja tidak berubah' batin adel sambil memandang kepergian pria tersebut.
dev menatap adel seperti bertanya 'siapa dia sebenarnya'
adel yang paham dengan sorot penasaran dev segera menjelaskan.
adel mengatakan bahwa pria tersebut adalah temannya waktu sekolah menengah atas, lebih tepatnya mantan kekasihnya.
namanya rafael, atau biasa dipanggil rafa.
adel juga menjelaskan mereka berpisah karena orang ketiga, rafa kedapatan sedang bercumbu dengan sahabat baik adel.
sejak saat itu adel memilih untuk memutuskan hubungan apapun dengan rafa.
"aku tak menyangka sekarang justru menjalin kerja sama dengannya" adel berkata ketika telah selesai bercerita.
"apa kamu masih menyukainya" tanya dev tak suka.
"jika iya, aku tak mungkin meninggalkan kuliahku demi menikah denganmu mas" jawab adel.
"apa kamu cemburu?" adel meledek
"cemburu? tantu saja"
"aku hanya mencintaimu mas"
"aku percaya itu"
"ayo kembali bekerja"
☆☆☆☆☆
tok tok tok
terdengar suara pintu diketuk.
"assalamu'alaikum" sapa seseorang dari luar pintu.
"wa'alaikumsalam, masuk de" jawab dari dalam ruangan.
ceklek
seseorang membuka pintu, kemudian masuk lalu duduk dihadapan perempuan yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya.
"ada apa de?" tanya shanum sekilas menatap adel lalu kembali kepada laptop.
sepertinya shanum memang tengah sibuk, maklum ini akhir bulan,
"kenapa kaka mau bekerja sama dengan perusahaan xxx?" tanya adel to the point.
"memangnya kenapa? ada masalah?" bukannya mejawab shanum malah balik bertanya.
__ADS_1
"belum, mungkin sebentar lagi"
shanum mengernyitkan alisnya bingung "maksudnya?"
"feelingku mengatakan tidak baik ka" adel ingin mengeluhkan kegelisahannya.
"pimpinannya memiliki maksud tersembunyi" kata adel lagi.
"maksudnya tuan rafa"
adel menganggukan kepala lalu berkata "aku tidak menyukainya, jika tau perusahaan xxx miliknya, aku tidak akan setuju untuk bekerja sama"
kemudian adel menceritakan sama persis dengan apa yang ia ceritakan pada dev.
adel juga menceritakan kejadian dikantin tadi.
"mungkin sebaiknya kita batalkan saja kerjasamanya ka" adel berniat membatalkan kerjasama dengan perusahaan rafa,
ia tak mau rafa mengganggu kehidupannya yang sudah membaik.
"perusahaan kita akan mengalami kerugian besar" shanum
"aku tau itu, tapi mungkin tabunganku sudah cukup untuk membuka usaha lagi meski kecil" adel
"bukan masalah hidup kita de, yang kaka pikirkan, tapi bagaimana nasib karyawan, mereka mungkin satu-satunya harapan keluarga, jika mereka tak lagi bekerja, bagaimana nasib keluarganya" shanum bukan hanya memikirkan kehidupan pribadinya, namun sifat sosialnya berfikir sangat jauh, memikirkan keluarga dari para karyawannya.
karena bagi shanum semua karyawan adalah keluarga.
"sekarang susah untuk mencari pekerjaan lagi, apalagi mereka yang sudah berumur" shanum melanjutkan kata-katanya lgi.
"adel pikirkan lagi ka, semoga rafa tidak memiliki niat tersembunyi" sebenarnya adel juga berfikir sama seperti kakanya, ia memikirkan nasib karyawannya, selain itu juga ia tak ingin mengecewakan ayahnya jika sampai perusahaan hancur karenannya.
"baiklah apapun yang terjadi kita harus pertahankan perusahaan ini" kata adel lagi
"baiklah, adel balik keruangan dulu"
"oke"
☆☆☆☆☆
(shanum ada yang ingin bertemu denganmu)
hp shanum bergetar tanda ada pesan masuk.
"siapa" balas shanum.
(bisa kita bertemu saat makan siang?) bukannya menjawab malah balik bertanya.
"baiklah nanti aku kirim alamat tempat bertemu"
(tidak perlu, aku akan menjemputmu dikantor jam 12 tepat, temui ditempat parkir)
shanum melirik jam ditangannya, ternyata sudah jam 11.55, itu artinya 5 menit lagi ia harus sudah keluar.
shanum tak lagi membalas pesannya, ia langsung bersiap kemudian keluar ruangan berjalan menuju tempat parkir.
"kaka mau kemana?" tanya adel yang kebetulan melihat shanum membawa tas hendak keluar kantor.
"kaka ada janji sama teman, kaka pergi dulu ya" tanpa menunggu jawaban adel shanum langsung pergi.
"ada apa dengan ka shanum, tidak biasanya seperti itu" adel berkata sendiri entah pertanyaan itu ditunjukan untuk siapa,
__ADS_1
"biarkan saja, kaka ipar sudah dewasa" dev menjawab, meski kata-kata adel tak ditunjukan untuknya.
"ayo kekantin" dev kembali bicara mengalihkan rasa penasaran adel.
"aku kepo" kata adel lagi
"bisa tanyakan nanti, sekarang makan dulu"
"ayo"
kemudian mereka berjalan menuju kantin, meski seorang presdir namun adel dan dev lebih suka makan dikantin kantor berbaur bersama para karyawannya daripada harus keluar mencari makan.
dikantin kantor tersedia berbagai menu makanan yang sudah terjamin kehigienisan dan gizinya.
selain kualitasnya yang sangat terjamin, makan dikantin kantor juga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar.
semuanya difasilitasi dari perusahaan.
disisi lain diparkiran kantor.
begitu melihat shanum seseorang membukakan pintu mobil, mempersilahkan shanum untuk duduk dibangku samping kemudi.
setelah memastikan shanum duduk, ia kemudian menutup pintu mobil, berjalan kearah pintu sebelahny, kemudian masuk dan duduk didepan kemudi.
"sudah nunggu lama van?" tanya shanum pada evan, pemuda yang mengirin shanum pesan.
"sejak satu menit yang lalu sha" kata evan melihat jam yang sudah menunjukan pukul 12.01.
evan tak lagi memanggil shanum dengan sebutan kaka, karena menurutnya ia terlihat seperti anak kecil jika memanggil shanum kaka.
padahal evan inginnya ia yang melindungi shanum, dan dianggal lebih dewasa dari shanum, meskipun umurnya lebih muda.
flash back.
"aku tak ingin memanggilmu kaka" kata evan sewaktu menjemput shanum pulang kerja.
"kenapa?" tanya shanum penasaran.
"aku akan terlihat seperti anak kecil yang butuh perlindunganmu, padahal aku yang ingin melindungimu" jawab evan menjelaskan.
"tapi aku lebih tua darimu"
"tidak ada yang tau, semua orang pasti mengira kita seumuran, atau malah kamu lebih muda dariku" muka shanum yang memang masih terlihat imut, membuat orang-orang tak menyangka jika dia sudah berusia 26 tahun.
"baiklah senyamanmu saja" akhirnya shanum membiarkan evan memanggil sesukanya.
flash back off
"mana mungkin" kata shanum, tak percaya jika evan datang keparkiran tepat pukul 12.00
evan hanya tersenyum kemudian menjalankan mobilnya keluar parkiran.
"kita mau kemana?" tanya shanum.
"makan siang, laper, kamu juga belum makan kan?" evan menjawab sekaligus bertanya.
shanum menggelengkan kepalanya pelan kemudian bertanya lagi "makan dimana? oh iya katanya ada yang mau bertemu denganku, siap?"
"nanti kamu juga tau" evan tak ada niatan untuk menjawab.
mobil melaju melewati jalanan kota, kadang-kadang juga terjebak macet, karena memang ini jam makan siang, banyak karyawan yang keluar kantor sekedar mencari makan.
__ADS_1
karena ada beberapa kantor yang memang tidak memfasilitasi dengan kantin.
shanum semakin penasaran ketika mobil melaju melewati jalan asing dan masuk kesebuah perumahan elit yang belum pernah ia kunjungi.