Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
mencari ibu.


__ADS_3

"pak roni katanya ijin tidak masuk kantor" adel menyapa ayah dari mantan sahabatnya ketika bertemu dilobi kantor.


"iya bu adel, tadinya mau ijin sehari, tapi jadwal kontrol siska pagi jadi masih bisa berangkat setengah hari" jawab roni dengan sopan.


"sebenarnya tidak apa-apa pak jika mau ijin sehari juga"


"tapi nanti pekerjaan saya menumpuk bu" padahal alasan sebenarnya adalah roni tidak ingin bertemu siska didalam rumah, hari ini suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja,


"y sudah terserah bapak saja"


roni hanya tersenyum, terbesit rasa iri kepada almarhum atasannya, Riki Agasta. bukan iri karena Riki seorang pengusaha, tapi iri meskipun hidup bergelimang harta namun tidak menjadikannya sombong dan memiliki anak yang luar biasa. tidak pernah semena-mena terhadap orang lain. meskipun tanpa didikan seorang ibu.


"bagaimana keadaan siska?"


"sudah lebih baik, tapi masih belum bisa berjalan"


"sabar ya pak, semoga semuanya lekas membaik"


"Aamiin, terimakasih bu adel"


"ya sudah saya permisi dulu pak"


☆☆☆


"kenapa lama dek?" tanya shanum begitu adel sampai diparkiran.


"tadi bertemu pak roni"


"katanya ijin"


"iya, tapi akhirnya berangkat setengah hari, takut besok keteter kerjaan katanya"


shanum hanya ber oh ria.


"kemana dulu kita ka?" adel bertanya begitu masuk mobil shanum.


"kealamat kakak yang dulu"


"kakak masih ingat"


"entahlah, hanya samar-samar, semoga saja ketemu"


shanum menjalankan mobilnya kealamat rumah lamanya, hanya berbekal ingatan yang sudah tidak lagi sempurna.


"kamu sudah ijin dev dek?" tanya shanum


"sudah kak tenang aja, aku istri sholehah kemanapun harus ijin suami meski perginya tanpa suami"


"itu harus" jawab shanum singkat.


setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, hampir memakan waktu dua jam akhirnya mereka sampai ditujuan utamanya.


"ini rumahnya kak?" tanya adel penasaran.

__ADS_1


"seingat kakak sih iya dek"


"hanya seingat kakak, itu artinya kak shanum tidak yakin"


"harusnya sih yakin memang ini rumahnya"


"tapi seperti tidak berpenghuni"


adel mengamati bangunan yang seperti sudah lama ditinggalkan penghuninya.


terlihat dari cat yang sudah mengelupas, rumput tumbuh dimana-mana, dan juga sampah daun kering yang berserakan seperti tidak pernah dibersihkan.


"permisi bu, boleh nanya?" shanum ingin mencoba bertanya kepada salah satu warga yang lewat.


"iya silahkan, ada apa ya?"


"ibu kenal dengan pemilik rumah ini?"


"tidak, tapi saya tau sedikit ceritanya"


"bisa ibu ceritakan sesuatu yang ibu tau tentang pemilik rumah ini?"


kemudian perempuan itu menceritakan kejadian sebelas tahun yang lalu, dimana anak dari pemilik rumah ini pergi meninggalkan rumah karena takut jadi korban ayahnya, sedangkan sang suami dipenjara atas tuduhan KDRT, istrinya sendiri tidak diketahui keberadaannya, karena saat ditemukan pingsan warga langsung membawa keklinik terdekat,


"mungkin lebih jelasnya bisa tanya pak RW, Karena beliau yang mengurus semuanya" wanita itu mengakhiri ceritanya dan menyarankan untuk bertemu pak RW.


"bisa antar kami kesana?"


"maaf kalau boleh tau anda siapanya ya, maksudnya ada hubungan apa?"


"tidak apa-apa jika tidak ingin bercerita, nanti bisa ceritakan sama pak RW saja" wanita tersebut kembali berujar ketika melihat raut ragu diwajah shanum.


shanum yang merasa tidak enak hanya mengangguk dan tersenyum.


"assalamu'alaikum" wanita tersebut mengucap salam setelah sampai kerumah pak RW.


hening, tidak ada jawaban dari dalam.


wanita tersebut yang diketahui namanya alma mengulang kembali mengucapkan salam.


setelah tiga kali baru terdengar jawaban salam dari dalam.


"wa'alaikumsalam" ucap seorang wanita sambil membuka pintu.


"bu alma, ada apa ya?" tanya istri dari pak RW


"maaf bu Desi saya mengantar dua anak ini bertemu pak RW, apakah bapak ada dirumah?"


bu Desi mengalihkan pandangannya kepada kedua tamunya seperti bertanya, siapa?


"maaf bu kenalkan saya shanum dan ini adik saya Adel" shanum yang paham arti tatapan bu desi segera mengenalkan diri.


"baiklah nak shanum nak adel, silahkan masuk dulu, tidak baik bicara didepan pintu" akhirnya shanum dan adel mengikuti bu desy masuk kedalam rumah, dan duduk disofa setelah dipersilahkan.

__ADS_1


"maaf bu saya permisi dulu" pamit bu alma


"iya bu, silahkan" kata bu desi


"terimakasih bu sudah mengantar kami" shanum mengucapkan terimakasih. bu Alma hanya mengangguk dan tersenyum.


sebenarnya shanum masih sedikit ingat tentang bu desy karena waktu itu dirinya sudah berusia lima belas tahun, umur yang cukup untuk mengingat wajah seseorang, namun Shanum belum mau mengatakan apapun.


"maaf nak shanum ada perlu apa ya?" tanya bu desi setelah bu alma pergi.


"apakah bu desi tidak mengenalku?" bukannya menjawab shanum justru malah balik bertanya.


bu desy diam sebentar memperhatikan wajah shanum yang memang tidak asing.


"sepertinya tidak asing, tapi ibu lupa"


"apakah bu desi tau dimana bu mira sekarang?" tanya shanum tanpa basa-basi.


'mira' batin bu desi, mendengar kata mira disebut bu desi seperti mengingat sesuatu.


"mungkinkah kamu ....... " bu desi tidak melanjutkan kata-katanya.


"iya, ibu benar saya sani putri bu mira" seperti paham apa yang akan ditanyakan oleh bu desi shanum segera menjawab.


"Masya Allah, Sani kamu, ini beneran kamu" bu desi seperti tidak percaya bahwa perempuan yang duduk didepannya adalah gadis kecil yang dulu ingin dijadikan penebus hutang oleh ayahnya sendiri.


sani tersenyum dan mengangguk.


"cantik sekali" ibu kamu pasti bangga memiliki anak gadis secantik kamu.


mendengar kata ibu disebut, shanum kembali murung.


"bu desi tau dimana ibu saya?"


"ibu tidak tau tepatnya dimana, tapi terakhir ibu bertemu ibumu katanya dia ingin pulang kampung"


"pulang kampung?" tanya shanum bingung, dirinya sama sekali tidak pernah mendengar ibunya menyebut tentang kampung halamannya.


'apakah ibu tidak pernah mencariku' batin shanum pilu.


"sebenarnya ibumu pernah mencarimu, tapi tidak bertemu, makanya ibumu memilih pulang kampung, karena takut ayahmu keluar dari penjara kemudian mencelakainya lagi" seperti paham raut kecewa shanum, bu desi menceritakan sedikit tentang ibunya yang memang pernah mencari shanum.


"apakah bu desi tau dimana kampung ibuku?"


"katanya dia tinggal dijawa tengah" kemudian bu desi memberikan alamat lengkapnya dalam bentuk tulisan.


shanum yang sama sekali tidak pernah mendengar daerah itu menatap dengan bingung, ada keraguan akankah dia mencari kesana, lalu bagaimana jika sudah jauh-jauh pergi kejawa tengah namun tidak bertemu.


"kita cari kak" adel menggenggam tangan shanum menguatkan "kita pasti menemukannya" sambung adel kembali.


"baiklah" jawab shanum singkat.


"terimakasih bu sudah membantu, dan maaf mengganggu waktu istirahat bu desi" shanum mengucapkan terimakasih sekaligus minta maaf.

__ADS_1


"sama-sama nak sani, ibu senang bisa membantu, semoga dipermudah segalanya"


"Aamiin, terimakasih sekali lagi, kami permisi" shanum dan adel berpamitan dan menyalami bu desi.


__ADS_2