
Padahal jika mau dia bisa mendahului dan mencegat perjalanan mereka.
Setelah Evan memarkirkan mobilnya ditempat yang sekiranya tidak mengganggu pengendara lain, Evan bergegas keluar mobil, bersandar dipintu mobil.
Namun Adel masih tetap stay didalam mobil.
Wvan menunggu mobil Dev yang semakin mendekat kearahnya.
Dev memarkirkan mobilnya sedikit jauh dibelakang mobil Evan.
Beberapa menit Evan menunggu namun belum ada tanda-tanda Dev akan keluar.
"Ada apa dengan lelakimu?" Tanya Evan dari luar kaca mobil.
"Kenapa?" Tanya Adel sambil menurunkan sedikit kaca mobilnya.
"Harusnya dia keluar menghampiri kita, ralat, menghampiri kamu maksdunya," kata Evan.
"Biarkan saja," jawab Adel cuek.
Evan yang memang tak suka basa basi ingin segera menghampiri Dev.
Menanyakan tujuannya kenapa terus mengikuti namun tidak berusaha mendekati.
"Tunggu disini, jangan kemana-mana," kata Evan pada Adel, kemudian dia berlalu menuju mobil Dev tanpa menunggu jawaban dan persetujuan dari Adel.
Evan berjalan sambil memasukan tangannya disaku celana.
Berjalan santai namun terlihat sangan elegan.
Wajar saja Evan adalah seorang model yang sudah tidak bisa diragukan lagi kiprahnya.
Sehingga jalan biasa saja terlihat sangat menawan.
Tak heran jika para gadis berlomba-lomba mencari perhatiannya.
Tok tok tok!
Evan mengetuk kaca mobil Dev.
Dev yang mendengar kaca mobilnya diketuk, segera menurunkan kaca mobilnya.
"Ada yang bisa dibantu Tuan?" Tanya Dev basa-basi.
"Kenapa anda mengikuti mobil saya?" Tanya Evan to the point.
Evan yang memang tak suka basa-basi menanyakan langsung
"Apa maksudnya?" Tanya Dev pura-pura.
"Jangan pura-pura bodoh, saya ulangi lagi, kenapa anda mengikuti mobil saya?"
"Saya hanya sedang beristirahat karena menempuh perjalanan jauh." Dev masih saja berkilah.
Hehhh!
Terdengar suara Evan mendengus sebal.
"Anda mencari istri anda?" Tanya Evan langsung pada intinya.
"Ti-tidak!" Dev menjawab gugup.
"Baiklah jangan mengikutiku lagi, atau silahkan jalan lebih dulu," setelah mengatakan itu Evan berlalu pergi meninggalkan Dev.
Seperginya Evan,
__ADS_1
'Kenapa susah sekali mengakui kalau aku memang mengikuti istriku,' sesal Dev dalam hati.
Dev terlalu gengsi untuk mengakui bahwa dia merindukan Adel.
Entah mengapa ada rasa tak senang ketika melihat Adel jalan dengan laki-laki lain.
Cemburu, mungkinkah seorang Devan Aditya cemburu dengan istri yang tak pernah dicintainya, meski sudah dinikahi selama lebih dari satu tahun.
Aementara itu Evan berjalan kembali menuju mobilnya.
Membuka pintu mobil lalu duduk dibelakang kemudi.
"Kenapa?" Tanya Adel ketika melihat raut wajah Evan yang jadi tak bersahabat.
"Aku heran dengan lelakimu," kata Evan.
"Ada apa?"
"Apa sih maunya, dia bahkan sama sekali tak mau mengakui kalau dia mengikuti mobil kita."
Kata Evan menjeda ucapannya, sementara Adel masih setia mendengarkan kekesalan Evan.
"Bahkan dia juga menjawab tidak ketika aku bertanya apakah dia mencari istrinya, apa coba maunya?" Evan melanjutkan kata-katanya dengan kesal.
"Sudah aku duga."
Evan menatap Adel, tak percaya dengan jawaban Adel, seperti meminta penjelasan lebih lewat sorot matanya.
"Aku tak ingin menjelaskan apapun."
Evan yang paham mungkin itu masalah pribadi tak ingin lagi menyakan.
"Tunggu lah disini aku ingin berbicara dengannya," kata Adel meminta Evan untuk menunggunya.
Kali ini Adel yang ingin berbicara langsung dengan suaminya.
"Tentu saja tidak!" Jawab Adel tak menjelaskan lebih, 'aku sedang menjaga harga diri,' lanjut Adel tentunya hanya didalam hati.
Bamun ia turun dari mobil Evan.
Adel terlihat berjalan namun tidak kearah mobik Dev, ia berjalan menyebrang jalan.
(Aku tunggu diwarung es kelapa muda sebrang jalan) Adel mengirim pesan singkat pada Dev.
Ponsel Dev bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Setelah membaca ia bergegas keluar menyusul Adel diwarung es kelapa.
"Katakan!" Adel langsung meminta penjelasan pada Dev begitu Dev sampai dan sudah duduk didepannya.
Dev yang ingin memesan es kelapa muda ia urungkan ketika melihat dimeja sudah ada dua buah kelapa muda.
Itu artinya Adel sudah memesankan sekalian untuk dirinya.
"Katakan!" Adel mengulangi lagi ucapannya, karena Dev hanya diam belum bermaksud menjelaskan apapun.
"Kenapa kamu jalan dengan lelaki itu?" Tanya Dev langsung pada intinya.
Karena Dev juga tau Adel tak ingin basa basi.
"Kenapa?" Adel balik bertanya.
"Karena kamu seorang istri."
"Lalu?"
__ADS_1
"Tidak sebaiknya jalan dengan lelaki lain!"
"Apa salahnya?"
"Kamu memiliki suami Del, seharusnya kamu jalan dengan suamimu," kata Dev.
"Bukankah dulu kemanapun kamu pergi, aku selalu siap mengantarmu." Dev melanjutkan kata-katanya lagi.
"Bukankah lebih baik tidak usah mempedulikanku, dari pada pura-pura peduli namun hanya terpaksa." Adel berkata sambil menahan sesak didadanya.
Menahan sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air matanya.
Dev yang tak siap dengan kata-kata Adel, tak bisa lagi menjawab.
Ia bingung harus bebicara apa lagi.
"Pulanglah jangan mengikutiku lagi!" Perintah Adel sambil meminum es kelapa mudanya.
Seketika Adel merasa lebih segar ketika air es kelapa mengalir melewati tenggorokannya .
"Kamu pulang denganku!" Kata Dev.
"Kenapa?"
"Karena kamu istriku."
"Apa pedulimu?"
'Aku tak suka melihatmu jalan dengan lelaki lain' ingin rasanya Dev menjawab seperti itu, namun ia belum bisa mengungkapkannya.
Terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Kamu tanggung jawabku."
"Aku bisa bertanggung jawab pada diriku sendiri, tidak usah merasa BERSALAH PADA KA SHANUM jika terjadi sesuatu denganku!" adel menjawab santai namun menekankan kata BERSALAH PADA KA SHANUM, bermaksud jika Dev tidak perlu bertanggung jawab pada dirinya hanya karena Shanum..
"Tidak ada hubungannya dengan Shanum." kata Dev.
"Lalu?"
"Intinya jangan jalan lagi dengan lelaki itu atau lelaki manapun lagi!"
"Kenapa?"
"Aku tidak suka!"
Akhirnya kalimat itu kekuar juga dari mulut Dev, ia sudah tak bisa menahan gejolak hatinya.
Dev semakin takut Adel semakin menjauhinya karena lelaki lain.
Dev sendiri bingung dengan perasaannya, ia tak tau apa yang terjadi dengan hatinya.
Semakin Adel menjauhinya, semakin Adel acuh dan tak peduli, justru semakin membuat Dev seperti kehilangan separuh hidupnya.
Seharusnya Dev senang Adel menjauh, ia jadi memiliki alasan untu melepas Adel. Seharusnya ya.
Namun sekarang yang ia rasakan sebaliknya, jika dulu dengan kehidupan yang monoton tanpa tujuan karena hidup dengan wanita yang tak dicintainya.
Wanita yang selalu merengek manja padanya, membuatnya selalu merasa jengah.
Tapi sekarang ketika tak ada rengekan, tak ada yang bergelayut manja dilengannya, tak ada yang meminta ini itu, minta diantar kesana kemari.
Justru Dev merasa kehidupannya semakin tak memiliki tujuan.
Ia merasa kesepian, merasa hidupnya lebih membosankan.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Adel ketika mendengar kalimat tak suka dari mulut Dev.
Adel berfikir apakah Dev mulai cemburu, namun ia buru-buru menepis pikiran itu. Ia tak ingin melayang tinggi namun pada akhirnya terhempas lagi kedalam jurang.