
"kita pulang dulu, masih ada hari esok" adel berkata ketika melihat kebimbangan shanum yang belum juga menjalankan mobilnya,
"apakah kita akan menemukannya" shanum tampak ragu,
"semoga" hanya itu yang adel bisa katakan.
"sebaiknya kita shalat dulu, sudah memasuki waktu asar"
"baiklah"
akhirnya mereka pergi meninggalkan desa yang pernah memberikan sejuta kenangan untuk shanum selama lima belas tahun.
"kakak antarkan kamu pulang dulu" kata shanum ketika mereka sudah berada didalam mobil, bahkan sudah dekat dengan tempat tinggal mereka,
"tidak usah ini sudah masuk waktu maghrib, sebaiknya kita cari masjid terdekat dulu"
menempuh perjalanan empat jam bolak balik meski sempat istirahat sebentar tetap saja membuat tubuh shanum merasa lelah, saat ini mereka ada didalam masjid, setelah menyelesaikan kewajiban tiga rakaatnya, mereka memilih istirahat dulu.
"kakak lapar?" tanya adel
"adel lapar?" bukannya menjawab justru shanum malah bertanya balik.
adel menyunggingkan senyum manisnya sebagai jawaban.
"baiklah kita cari makan" shanum bangkit mengajak adel mencari makanan.
"aku yang nyetir kak"
"tidak usah kakak masih kuat"
tidak mau berdebat akhirnya adel duduk dikursi samping kemudi.
"mau makan dimana?" tanya shanum
"ikut supir"
shanum menghentikan mobilnya dirumah makan bebek bakar,
mereka memesan dua porsi makanan yang sama, saat sedang menikmati makanan terdengar suara ponsel adel berdering.
"assalamu'alaikum" sapa adel setelah menggeser tombol hijau dilayar gawainya.
{wa'alaikumsalam sayang, kamu dimana} terdengar suara cemas dari sebrang.
"adel lagi makan dulu mas, sebentar lagi pulang, jemput dirumah kak shanum ya"
{iya sayang, tapi kamu baik-baik saja kan}
"baik mas"
setelah mengakhiri panggilannya adel kembali melanjutkan makan.
"adel" terdengar suara seseorang memanggil.
seketika adel menoleh kesumber suara "tuan rafa" sapa adel dengan senyum yang sedikit dipaksa,
__ADS_1
"jangan terlalu formal, kita tidak sedang bekerja"
"maaf tuan tapi kita tidak sedekat itu untuk saling memanggil nama"
muka rafa memerah menahan marah, 'bagaiman bisa adel begitu menjaga jarak' pikirnya,
"kita memang pernah sedekat itu kan?" rafa berkata dengn suara setenang mungkin berusaha meredam emosinya.
"hanya pernah bukan sedang" adel menjawab tanpa melihat kearah rafa.
"maaf tuan silahkan duduk" shanum yang mengerti suasana semakin menegang memilih mencairkan suasana.
"terimakasih" jawab singkat rafa, kemudian duduk di kursi kosong sebelah adel.
sedangkan radit sang asisten masih setia berdiri dibelakang rafa.
merasa tidak nyaman karena terus diperhatikan, adel lebih memilih menyudahi makannya.
"jangan menatapku seperti itu" adel berkata karena jengah terus dilihat.
"kamu masih secantik dulu"
"lebih cantik sekarang" jawab adel acuh.
"kamu benar, aku semakin jatuh cinta padamu"
"jangan pernah mengatasnamakan cinta untuk sebuah napsu" adel masih tidak ingin melihat wajah pria yang pernah menorehkan sejuta luka.
"jika hanya nafsu, aku tidak akan bertahan sendiri sampai saat ini" rafa diam sebentar "del kamu tau, aku pergi keluar negri untuk belajar bisnis, dan berharap saat kembali kesini masih mendapatimu yang sedang pusing memikirkan skripsi, tapi ternyata aku salah" rafa kembali menjeda ucapannya, sedangkan adel masih diam menunggu kelanjutan dongeng "kenapa kamu menikah muda del?"
"aku mencintaimu del"
"sejak kapan?"
"sejak dulu, sekarang dan selamanya"
"munafik, jika cinta tidak akan pernah mendua"
adel mengingatkan kembali tentang pengkhianatan rafa dulu. sebenarnya rafa tidak sepenuhnya salah, hanya saja rafa lelaki normal disuguhi seonggok daging dengan percuma sudah pasti akan tergoda menikmatinya, meski hatinya hanya milik cinta pertamanya bahkan bertahan hingga saat ini.
penyesalan terbesar dev hanyalah saat tidak bisa menghindari neraka dunia, terbujuk rayuan setan berwujud manusia.
"del maafkan aku"
"aku sudah memaafkan, tapi aku juga sudah bersuami, jadi maaf tidak bisa membalas cintamu lagi" adel berkata dengan lembut berharap semoga rafa mau mengerti.
"aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan" rafa tidak terbiasa menerima penolakan, segala cara akan ia lakukan untuk mendapatkan sesuatu yang sudah dirinya targetkan.
"apakah kamu sudah mendengar kabar terbaru tentang siska" adel mencoba mengalihkan perhatian rafa untuk tidak lagi membahas perasaannya.
"ja***g itu bukan orang penting, tidak harus semua orang tau tentang kehidupannya" rahangnya mengeras mengingat perempuan itulah penyebab kehancuran hubungannya dengan adel.
"dia kecelakaan dan sekarang lumpuh"
"kenapa tidak sekalian mati" sontak semua orang menoleh kearahnya, bisa-bisanya rafa berbicara selugas itu mendengar musibah yang menimpa orang lain.
__ADS_1
"kenapa?" tanya rafa acuh "tapi setidaknya itu lebih baik, perempuan liar itu jadi bisa merasakan apa itu azab" rafa melanjutkan kembali kata-katanya.
"kenapa siska harus menerima azab?" tanya adel memancing sesuatu.
"harus, ja***g penggoda yang sudah menghancurkan hubungan orang harus menerima azab" jawab rafa mantap.
"jadi, anda juga ingin menerima azab?"
"kenapa?" tanya rafa bingung.
"pikir sendiri"
rafa yang tidak mengerti beralih menatap asistennya, berharap mendapat penjelasan.
"begini tuan" radit bersiap untuk menjelaskan ia berdehem untuk menormalkan suaranya. "maksud nona adel, tuan kan ingin menghancurkan hubungan nona adel dengan suaminya, bukankah itu artinya tuan juga menginginkan azab?" radit menjelaskan dengan ketar ketir.
"kamu menyumpahiku mendapat azab?"
"bu-bukan tuan, saya hanya menjelaskan maksud dari non adel"
berbeda dengan radit yang merasakan panas dingin disekujur tubuhnya, adel dan shanum justru menahan tawa.
"del i-itu ......." rafa yang terkenal dingin dan tegas seketika wibawanya hancur hanya karena terpancing omongan adel, lidahnya seakan tidak bisa digerakan.
"permisi tuan rafa yang terhormat saya pamit pulang dulu, suami saya pasti sudah menunggu" adel bangkit dari duduk diikuti shanum.
"kita pulang" rafa tidak berselera makan, ia memilih ikut pulang. radit hanya mengekor dibelakang.
☆☆☆
"sayang baru sampai rumah?" tanya dev saat mendapati adel baru sampai rumah shanum, padahal dirinya langsung menuju rumah shanum saat adel memberi kabar untuk menjemput dirumah kakaknya.
"kan tadi makan dulu mas"
"kakak ipar bagaimana pencariannya" dev mengalihkan pertanyaan kepada shanum ketika melihat shanum duduk disofa dengan wajah yang seperti tidak memiliki semangat hidup.
"belum ketemu" jawab shanum lesu.
"besok kita akan kejawa tengah, menurut informasi, ibunya pulang kampung" kali ini adel yang menjawab ikut duduk disofa
"kalian, berdua?" tanya dev tak habis pikir
adel dan shanum mengangguk bersamaan.
"tidak boleh" tegas dev.
adel dan shanum saling berpandangan, seakan bingung dengan jalan pikiran dev.
"maaf, maksudku tidak boleh hanya berdua, harus ada yang menemani" dev yang paham arti dari kebingungan dua wanita dihadapannya berusaha menjelaskan. "tapi sayangnya aku tidak bisa ikut" dev melanjutkan kalimatnya lagi.
kemudian dev juga menjelaska jika dirinya ikut lalu bagaimana dengan kantor.
"adel mengerti mas, tidak masalah nanti kita minta ditemani dua orang supir, supaya bisa bergantian"
shanum tidak memiliki rencana apapun untuk persiapan esok pagi, bukan tidak bersemangat, hanya saja pikirannya sedang kalut.
__ADS_1