
dev yang tadinya ingin menemui shanum, ia urungkan mengetuk pintu setelah mendengar suara tawa adel diruangan shanum.
bukan karena tak ingin bertemu adel, namun dev tidak mau mengganggu momen kebersamaan adel dengan kakanya.
setelah puas bercanda dengan shanum, adel berniat keluar dan menuju ruangannya sendiri.
"mas dev, mau ketemu ka shanum?" tanya adel ketika membuka pintu keluar, melihat dev sedang menggantukan tanggannya hendak mengetuk pintu, namun pintu sudah terbuka lebih dulu.
"i-iya" jawab dev gugup
"silahkan, adel sudah selesai"
adel menyingkir dari pintu, mempersilahkan dev untuk masuk,
"ka shanum terimakasih vouchernya, adel pamit" teriak adel dari depan pintu kemudian pergi begitu saja.
"sama-sama" shanum ikut berteriak mengimbangi suara adel, tetapi adel sudah tidak mendengarnya karena sudah berlalu keruangannya.
"dev silahkan duduk" kata shanum ketika melihat dev hanya berdiri memandang kearah pintu yang sudah tertutup kembali
"eh iya" jawab dev setelah mengembalikan kesadarannya.
"adel memang gadis yang luar biasa, kamu belum mengetahuinya karena memang tidak pernah berusaha mengenalnya" shanum berkata tentang adel tanpa menanyakan kedatangan dev
"aku tahu" jawab dev singkat.
"kamu akan tau bagaimana rasa memiliki setelah kehilangan" kata shanum lagi.
sedangkan dev hanya diam tak tau harus menjawab apa
sekarang saja dev seperti sudah merasakan kehilangan sosok adel meskipun adel masih berada didekatnya.
"kamu bisa memikirkan perkataanku nanti, sekarang ada apa kamu kesini?" tanya shanum yanh melihat dev hanya diam.
"hanya menyerahkan laporan dari devisi penjualan, tadi aku sudah memeriksanya" kata dev sambil menyerahkan map berisi laporan.
"oke terimalasih"
"baiklah, aku permisi"
"he,em"
setelah itu dev kembali keruangannya sendiri.
☆☆☆☆
"sifa, aku sudah memeriksa semuanya, semuanya sudah oke hanya ada beberapa yang perlu direvisi, tidak terlalu banyak" kata adel pada sekertaris pribadinya ketika ia berada didepan meja sifa
"baik bu, nanti saya perbaiki lagi"
"oke semua berkas ada dimeja saya, sekarang saya mau pergi dulu, dan mungkin tidak kembali kekantor"
"baik bu"
setelah itu adel pergi menuju tempat launching parfum incarannya.
adel sebagai kolektor parfum tidak mau ketinggalan jika ada parfum baru launching.
ia suka wewangian, dari segala jenis parfum ia punya, namun adel hanya memilih parfum yang wanginya lembut, ia tidak suka dengan bau yang menyengat.
__ADS_1
adel memesan taxi online tidak menggunakan supir pribadinya,
sesampainya ditempat tujuan adel turun kemudian berlalu mencari tempat duduk sesuai yang tertera divoucher yang ia bawa.
seseorang menghampiri lalu bertanya
"ada yang bisa saya bantu nona?"
"saya memiliki voucher ini, dimana saya harus duduk?" tanya adel
"mari saya antar nona"
kemudian adel berjalan mengikuti orang yang baru saja menyapanya.
orang tersebut memang ditugaskan untuk menyambut tamu undangan, mengarahkan tempat duduk sesuai dengan voucher yang mereka miliki.
acara masih satu jam lagi, ruangan masih sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang datang.
bahkan adel diarahkan dimeja yang hanya ada dua kursi.
itu artinya nanti akan ada teman satu meja dengannya.
"silahkan nona" kata orang tadi menyuruh adel duduk ditempat yang sudah disediakan.
"terimakasih" kata adel mengucapkan terimakasih karena sudah dibantu.
setekah mengucapkan sama-sama orang yang tadi berlalu pergi untuk menyambut tamu yang lain
tak lama kemudian datang seorang pemuda tampna menghampiri meja adel.
"permisi nona, apakah anda tidak salah meja?" tanya pemuda tadi pada adel setelah duduk berseberangan dengan adel.
"tentu saja tidak, pelayan tadi mengarahkanku ke meja ini setelah melihat voucher yang aku bawa" kata adel santai.
"kan belakangnya a jadi bisa kalau belakangnya u mungkin jadi ga bisa bicara" jawab adel asal
"jangan bercanda nona"
"saya juga tidak sedang bercanda, jika anda tidak suka duduk berseberangan dengan saya, anda bisa pindah dimeja lain" kata adel masih tetap pada mode santai.
"mana bisa" jawab pemuda itu mulai emosi.
"kenapa tidak?"
"anda tau nona, setiap meja sudah diatur dengan voucher dan undangan yang mereka bawa"
"tidak tau" jawab adel acuh.
"dasar menyebalkan" pemuda tersebut mendengus kesal dengan sikap adel "tunggu dulu, dari mana kamu mendapatkan voucher itu?"
pemuda tersebut bertanya ketika mengingat hanya dia dan seseorang yang ia kenal belum lama, yang memiliki voucher tersebut.
pemuda tersebut yang memang memberikan vouchernya pada shanum, ia ingin mengajak shanum untuk melihat acara launching parfum yang ia bintangi.
"itu tidak penting" jawab adel acuh
pemuda tersebut kemudian diam dan duduk dengan tenang, mengingat mungkin saja adel seorang wanita yang sangat cuek dan bukan tipe wanita yang mudah tergoda.
karena sedari tadi adel tak terpesona dengan ketampanan yang ia miliki.
__ADS_1
padahal biasanya tidak ada seorang wanita yang bisa menolak pesonanya.
dan menurutnya hanya adel dan perempuan berhijab waktu itu.
"sepertinya aku mengenalmu?" kata pemuda tersebut tiba-tiba, setelah menamati adel lebih dalam
"jangan sok kenak" kata adel
"benar, wajahmu tidak asing"
"banyak yang bilang begitu, katanya aku mirip artis yang sedang naik daun, padahal aku tak suka dengan artis yang sedang naik daun, ga keren"
"kenapa"
"itu hoax"
"maksudnya"
"mana bisa artis naik daun, kalo naik pesawat mungkin iya"
"naik daun maksudnya, sedang pada masa jayanya"
"aku tau tidak usah menjelaskan"
"kalo tau kenapa mengatakan seperti tadi"
"suka-suka aku"
pemuda tersebut semakin kesal dibuatnya, kini ia memilih diam tak lagi ingin berdebat.
meski wajahnya tak asing namun pemuda tersebut lupa dimana dia pernah mengenalnya.
untuk beberapa saat tidak ada yang bebicara lagi.
adel sibuk dengan dunia sosialitanya disosmed, sedangkan pemuda tersebut sibuk mengingat siapa wanita didepannya.
"hey aku inget sekarang, kamu adel kan delia agasta" kata pemuda tersebut setelah kembali ingat siapa wanita menyebalkan didepannya.
adel yang namanya disebut oleh orang asing merasa kaget.
ia menatap pemuda didepannya dengan bingung, berfikir dimana ia pernah bertemu dengan pemuda tampan itu.
kalo sekedar melihatnya mungkin pernah, seorang model yang banyak membintangi brand ternama.
siapa yang tidak mengenalnya, ya dia evan arlando, pemuda yang sukses di dunia modeling diusianya yang masih tergolong cukup muda.
"jangan sok kenal" lagi-lagi adel mengaktifkan mode cueknya.
"apa kamu tak mengenaliku?" tanya pemuda itu kecewa karena adel tak mengingatnya.
"hanya tau sedikit tentangmu tidak untuk mengenalmu" jawab adel
"hey del aku ini evan"
"iya tau evan arlando, model yang sedang banyak digandrungi perempuan"
"kamu benar-benar tak mengingatku?"
pertanyaan evan membuat adel menatapnya dengan inten,
__ADS_1
mengamati seluruh wajahnya dengan seksama, mencoba mengingat dimana dia pernah mengenalnya, namun nihil.
adel sama sekali tak ingat apapun tentang pria didepannya.