Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 42


__ADS_3

Lelah, itulah yang kurasa setelah menempuh perjalanan jauh, butuh waktu berjam-jam untuk sampai di Ibu Kota.


Seperti niat awal setelah sarapan kami langsung berangakat menuju Ibu Kota.


"Istirahat dulu Bu, pasti cape kan menempuh perjalanan jauh." Kata Kak Shanum pada Ibu setelah kami semua sampai dirumah peninggalan Ayahku.


"Disini kamu tinggal selama ini?" Tanya Ibu tanpa mengindahkan perkataan Kak Shanum.


Air mata menetes dari ujung indra penglihatannya tanpa bisa dicegah.


"Maafkan Kakak Bu, bukan bermaksud ingin hidup enak sendiri tanpa peduli dengan kehidupan Ibu." Kak Shanum ikut hanyut dalam tangisan yang sama.


Ah kenap jadi melow begini?


"Kak, tidak apa-apa, Ibu tidak sedang bersedih, Ibu hanya sedang bersyukur karena selama ini kamu hidup dengan baik, Do'a Ibu sepanjang waktu untuk kebahagiaanmu."


"Terimakasih Bu."


Ujar Kak Shanum memeluk wanita yang telah melahirkannya 26 Tahun lalu.


"Sudah tidak ada acara tangis-tangisan lagi, kedepan kita harus bahagia, dan sekarang mari kita istirahat, malam ini Adel menginap, lelah rasanya." Aku ingin segera mengistirahatkan badanku yang rasanya sudah entahlah. Semoga tidak ada insiden yang diinginkan, agar aku bisa istirahat dengan nyaman.


"Dan kalian berdua pulanglah dulu, ini bukan hotel tidak menerima boking kamar." Kataku mengusir dua lelaki yang urat malunya sudah putus.


Lagian kenapa mereka berdua harus ikut pulang kesini sih? Pikiran lelaki memang susah ditebak.


"Aku lelah sudah tidak sanggup membawa mobil sendiri, aku menginap juga disini," kata Rafa sambil berjalan menuju sofa depan televisi yang terletak diruang tengah.


Apa karena dia punya kuasa sehingga bisa berbuat seenaknya dirumah orang.


"Jangan hiaraukan makhluk satu itu Bu, dia memang spesies langka," Aku berkata kepada Ibu yang sedari masih berada dijawa selalu memperhatikan tingkah Rafa.


"Sebenarnya dari kemarin Ibu itu penasaran, siapa lelaki itu? apakah saudaramu juga Dek?" Tanya Ibu penasaran, masih dengan terus menatap kearah Rafa yang kini sudah telentang disofa bahkan tanpa melepas sepatu juga tanpa ganti baju.


"Bukan, dia orang yang gagal jadi calon pebinor." Sahut Mas Dev dengan wajah datarnya.


Ibu mengerutkan keningnya bingung, seolah bertanya 'maksudnya?'


"Mas!" Aku menepuk kaki Mas Dev.

__ADS_1


"Bu, namanya Rafa, patner bisnis perusahaan Kami, sekaligus mantan Adek, dan sekarang sedang berusaha mendapatkan hati Adek lagi." Jelas Kak Shanum.


"Tapi Adek kan sudah bersuami, harusnya ndak boleh begitu." Ujar Ibu tidak membenarkan perbuatan Rafa.


"Seharusnya memang tidak boleh, tapi terkadang kita tidak tahu tentang pemikiran orang kaya, apa-apa hanya semaunya sendiri." Kata Kak shanum lagi.


"Aku tahu kalian sedang membicarakanku!" Seru Rafa dari ruang tengah, jarak yang tidak terlalu jauh dan tanpa sekat membuat apapun yang kami bicarakan diruang depan bisa terdengar jelas sampai ruang tengah, "tapi apapun itu aku tidak peduli, tidurlah kalian pasti lelah, dan jangan terus buat keributan disini!" Lanjutnya lagi dengan nada mendominasi, sebenarnya siapa sih pemilik rumah ini? Kenapa dia yang sok berkuasa.


Awas saja aku akan kasih pelajaran, enak sekali ingin membuat semua orang berada dibawah kuasanya, tidak bisa.


"Mau kemana sayang?" Tanya Mas Dev ketika aku bangun dari duduk membawa sebotol air mineral.


"Hussss diam dan lihatlah." Aku meletakan telunjuk jariku dibibir Mas Dev sebagai isyarat untuk diam dan tidak banyak tanya.


"Banjir! Banjir!" Teriakku setelah mencipratkan air kemuka Rafa.


"Hah, hah, banjir, banjir!" Rafa juga ikut berteriak.


Aku dan Evan tertawa bersamaan, Mas Dev jangan ditanya, dia tidak mungkin bisa tertawa lepas seperti kami, sedangkan Kak Shanum hanya tersenyum dan Ibu hanya menggelengkan kepala.


"Del tega sekali kamu!" Serunya namun tidak marah, memang seperti itu dari dulu, tidak pernah bisa berkata kasar kepadaku, meski dengan yang lain kata-katanya selalu menusuk hingga jantung dan paru-paru. "Untung sayang," lanjutnya lagi.


"Sayang," sapanya lembut saat aku sedang mengoleskan krim malam setelah membersihkan badan, tangannya membelai lembut tanganku yang hanya menggunakan piyama satin tanpa lengan.


Aku sudah paham maksudunya meski hanya dengan satu kata.


"Bisakah kita istirahat dulu?" Sebenarnya tidak tega, setengah purnama Mas Dev puasa, tapi malam ini aku benar-benar lelah.


Tanpa menjawab pertanyaanku tangan Mas Dev justru berkeliyaran kemana-mana.


Dan episode selanjutnya terjadilah adegan yang iya-iya.


🦋🦋🦋


POV RAFA


🦋🦋🦋


Dua hari sudah berlalu semenjak aku menyusul Adel di Kampung tempat Ibunya tinggal, bukan Ibu kandungnya sih, lebih tepatnya Ibu kandung dari Kakak angkatnya, Shanum.

__ADS_1


Pesona Adel semakin membuatku tak bisa berpaling, bagaimanapun caranya aku harus dapatkan wanita itu kembali.


"Katakan berapa yang kamu minta?" Aku menelpon seseorang untuk membantuku melancarkan rencana.


Setelah seseorang disebrang mengatakan jumlah nominalnya, aku segera mengakhiri panggilan.


Kita lihat saja Dev siapa yang jadi pemenangnya.


Ini perbuatan curang dan Adel sangat tidak menyukainya, aku yakin jika Adel mengetahui ia pasti akan semakin membenciku.


Tok tok tok.


"Masuk!" Ucapku.


"Maaf Tuan, ada tuan Evan diluar." Radit memberitahuku jika aku kedatangan tamu tak diundang.


Mau apa lagi sih lelaki itu datang kesini, dia memang sangat susah ditebak.


"Pagi Bro!" Lihat saja gayanya, sok akrab, menyebalkan sekali.


Belum juga aku menyuruhnya masuk dia sudah nyelonong saja.


"Jangan banyak basa-basi, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa hanya ingin berkunjung." Jawabnya Santai, tanpa dipersilahkan duduk, dirinya sudah lebih dulu duduk disofa yang ada diruang kerjaku. "Apa tidak ingin menawariku minun?" Tanyanya tanpa rasa malu.


Ah kan memang pria satu ini sudah tidak punya malu.


"Sama sepertimu yang juga tidak punya malu," apakah dia cenayang kenapa bisa tahu apa yang aku pikirkan. "Jangan berfikir aneh-aneh, dari mukamu saja sudah kelihatan apa yang sedang kamu pikirkan." Lanjutnya lagi.


Aku sampai bergidig ngeri membayangkan Evan bisa membaca pikiran orang, bagaimana jika dia tahu aku merencanakan kehancuran rumah tangga sahabatnya.


"Apapun rencanamu sebaiknya lupakan, tidak akan berhasil." Kan benar saja, belum juga aku menjalankan rencana, pria itu sudah memintaku untuk melupakan.


Tidak! Itu tidak akan pernah aku lakukan, demi mendapatkan Adel kembali aku akan menerima apapun konsekuensinya.


"Rencana apa?" Tanyaku dengan wajah sok polos dan pura-pura tidak tahu maksud ucapannya.


"Jangan pura-pura bodoh, tanpa pura-pura kamupun sudah terlihat bodoh." Kurang ajar memang Evan, kalau bicara tanpa filter sedikitpun.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu Van! kamu kira aku punya waktu seharian untuk meladeni manusia tak berguna sepertimu!" Kesabaranku sudah diambang batas.


__ADS_2