Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 54


__ADS_3

Evan mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat dengan Shanum duduk disamping kemudi.


Gadis berhijab itu sedikit ragu untuk meneruskan perjalanan. "Kita kembali saja."


Evan menghadap sekilas kearah Shanum, kemudian kembali menghadap jalanan didepannya. "Kita sudah hampir setengah perjalanan."


Shanum tidak lagi membalas, ia percaya semua akan baik-baik saja meski ada sedikit ketakutan dihatinya.


Bu Mira mengatakan jika Ayahnya sekarang berada dipenjara disuatu tempat terpencil jauh dari ibu kota. Bisa menghabiskan waktu 8 hingga 10 jam perjalanan menggunakan mobil.


Apalagi Evan mengendarainya sendiri, Shanum takut itu akan mempengaruhi kesehatannya.


"Kita istirahat dulu Van." Ucap Shanum ketika mereka memasuki kawasan rest area.


***


Sementara itu Adel dan Dev juga sedang mengunjungi suatu tempat.


Tempat dimana mereka memiliki janji temu dengan seorang gadis tapi bukan perawan.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai ditempat tujuan.


Adel menggerutu kesal karena tempat mereka bertemu sangat terkutuk. "Kenapa harus bertemu ditempat ini sih?" Kesalnya.


"Supaya setelahnya kita bisa bulan madu." Dev menjawab dengen kerlingan nakal dimatanya.


Tok tok tok!


Dev mengetuk pintu kamar dengan nomor yang tertera diponselnya.


Tidak lama keluar seorang gadis dengan pakaian kurang bahan, rambutnya masih begitu acak-acakan khas orang bangun tidur.


"Maaf aku ketiduran lagi." Amel buru-buru menutup pintunya.


Beberapa menit kemudian gadis itu membuka pintu dengan penampilan sedikit rapih. "Masuk!" Perintahnya dengan senyum yang dipaksakan.


Adel dan Dev dituntun menuju sofa yang ada dikamar tersebut.


"Kamu mengajaknya Dev?" Amel bertanya tanpa sungkan, tangannya meletakan minuman dingin dimeja dan sedikit cemilan. Sedangkan matanya melirik sinis sekilas kearah Adel, setelahnya ia mengubah kembali kemode biasa.


Dev tersenyum miring, ia paham arti pertanyaan itu. "Aku rasa sesama wanita akan lebih nyaman untuk bercerita, jadi aku sengaja mengajaknya."


Adel sebenarnya paham jika kehadirannya tidak diharapkan oleh gadis rasa janda tersebut, namun Adel tidak ambil pusing.


"Bukankah kamu butuh bantuan kita? Aku dan Dev akan membantumu, aku rasa itu lebih baik jika ada lebih banyak yang membantumu daripada hanya seorang." Senyum Adel penuh dengan ejekan.


Amel ikut tersenyum namun dengan seringai licik diwajahnya, sebelumnya ia sudah menyusun berbagai rencana, Amel akan pura-pura tidur kembali setelah berbalas pesan, agar di saat Dev datang ia masih berpenampilan menggoda dengan lingerine transparannya.


Amel mungkin lupa bahwa pertahanan Dev tidak mudah goyah, Amel yang telanjang saja tidak akan dilirik apalagi masih ada benang yang menempel ditubuhnya.

__ADS_1


"Amel apa yang kamu butuhkan dariku." Tanya Dev tanpa basa basi.


Amel membenarkan posisi duduknya, segala rencana yang tersusun rapih diotaknya seketika ambyar dengan kedatangan wanita yang ia anggap rival.


"Aku hanya ingin membicarakan masalah pekerjaan saja, bagaimanapun juga perusahaan kita sekarang bekerja sama, semua urusan Tuan Rafa tanggungkan kepadaku, jadi mohon bimbingannya, aku belum begitu paham tentang kerjasama ini."


Akhirnya Amel menemukan alasan yang tepat didepan Adel.


"Rafa melakukan perjanjian kerja sama dengan Adel selaku pemilik perusahaan, jadi jika ada masalah mengenai kerja sama kamu bisa langsung menghubunginya atau menghubungi Kak Shanum, Kakaknýa."


Dev tidak hilang akal untuk mengikuti permainan wanita itu.


"Bukankah semalam kamu memintaku menolongmu, apa yang terjadi denganmu?"


"Semalam aku hampir dirudapaksa oleh beberapa pemuda yang aku rasa mereka adalah preman jalanan, tapi aku berhasil bersembunyi dan kabur." Kilahnya.


Mendengar berita itu tidak ada rasa iba sama sekali dimata Dev maupun Amel, mereka sama-sama sependapat bahwa Amel sedang mengarang cerita. Mungkin Amel cocok jika menjadi guru bahasa indonesia. Hidupnya penuh Drama.


"Syukurlah kalau begitu, jika sudah tidak ada yang dibicarakan lagi. Aku akan pulang sekarang." Ucap Dev, ia bangun dari duduknya bermaksud keluar ruangan yang tiba-tiba terasa sesak.


"Dev aku bisa memberi tahumu sesuatu, jika kamu bisa membayar informasi ini." Amel berkata ketika Dev hendak melangkahkan kaki keluar.


Mendengar pernyataan Amel, seketika Dev menghentikan langkahnya, ia berbalik arah menghadap Amel. "Apapun itu aku tidak membutuhkannya." Ucapnya tegas.


"Bagaimana jika aku memberitahumu rencana Tuan Rafa terhadap istri tercintamu?" Amel tersenyum miring, ia rasa kali ini Dev pasti tertarik dengan pembicaraan selanjutnya.


Setelah itu Dev menggandeng tangan Adel keluar kamar dan memasuki lift menuju lantai dasar.


Amel begitu frustasi, semua rencananya gagal total, ia ingin menjebak Dev untuk kedua kalinya namun harus berakhir gigit jari.


"Gagal lagi!" Ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada dikamarnya.


Bahkan Amel tidak menyadari kapan pria itu masuk, suara derit pintu terbuka pun tidak terdengar di telinganya.


"Ma-maaf Tuan." Ucap Amel dengan gugup.


Nasibnya tergantung kepada situasi hati Rafa,.


Rafa berjalan mendekat, duduk disofa dengan gaya mendominasi. "Aku bahkan tidak berharap banyak akan berhasil."


Rafa melihat kearah meja, minuman masih tertutup segel dan kue juga masih tersusun rapih dipiring. "Mereka tidak menyentuhnya?"


"Tidak Tuan, padahal aku sudah mencampur minuman itu dengan obat berbeda." Entah bagaimana caranya Amel memasukkan obat kedalam minuman yang tutupnya masih tersegel rapat.


Rafa menatap Amel dengan pandangan membunuhnya. "Kamu ingin mencelakai Adel?"


"Tidak Tuan, aku tidak berani. Hanya saja aku sengaja menyimpan dua minuman berbeda untuk berjaga-jaga, niatnya hanya satu yang akan aku berikan, tapi mereka datang berdua."


"Minuman apa yang akan kamu berikan kepada Adel?" Rafa tidak bisa menahan diri lagi jika menyangkut dengan wanita pujaannya.

__ADS_1


"Hanya obat tidur saja." Jawabnya Enteng.


"Kamu berani?" Tatapan Rafa seolah ingin memangsanya hidup-hidup.


"Maaf Tuan, tapi Adel tidak meminumnya." Takut-takut Amel menjawab.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tapi harus ingat satu hal, jangan sakiti Adel." Obsesinya membuat Rafa begitu posesif dengan istri orang.


***


"Kamu haus?" Tanya Dev begitu sampai mobil, Adel meneguk minuman dibotol air mineral hingga tersisa setengahnya.


"Hem."


"Bahkan tadi Amel menjamu kita dengan minuman dingin, kenapa kamu tidak meminumnya?"


"Adel hanya sedang antisipasi Mas."


"Mas tahu itu."


Dev melajukan mobilnya perlahan menikmati suasana kota disiang hari. Meski sebenarnya tidak ada yang bisa dinikmati selain bisingnya suara kendaraan dan juga polusi udara dibawah teriknya matahari yang hampir berada diatas kepala.


"Mau langsung pulang?" Dev bertanya tanpa mengalihkan perhatian dari jalan.


"Ngemall dan ngemil sepertinya enak."


"Siap ratuku, tapi sebelumnya kita mampir kantor sebentar, hanya sekedar melihat, Shanum tidak berangkat takutnya ada masalah disana."


"Aku mengikutimu Mas."


Sesampainya dihalaman parkir kantor Adel tidak segera keluar, ia juga menahan Dev yang hendak membuka pintu mobil.


"Kenapa?" Tanya Dev heran.


"Mas yakin akan masuk dengan penampilan seperti ini?"


"Ada yang salah?"


Adel menggelengkan kepala, "Tidak."


"Lalu?"


"Tidak ada yang salah dengan penampilanmu Mas, yang salah nanti pandangan para pekerja kepadamu."


Adel tidak ingin penampilan Dev menggunakan pakaian santai tapi menambah kadar ketampanannya dinikmati banyak pasang mata para wanita.


Dev yang paham dengan ucapan Adel justru tersenyum nakal, "Cemburu ya?" Godanya.


"Ti-tidak." Elak Adel, perempuan itu sedang menjaga gengsinya.

__ADS_1


__ADS_2