
adel terpaku sejenak ketika mendengar masa lalu kakak angkatnya,
"adel tidak tahu jika masa lalu kakak semenyedihkan itu" setetes demi setetes air mata mengalir bagai rintik hujan tanpa bisa dicegah.
"tidak apa dek, hidup kakak lebih dari sekedar kata baik setelah bertemu dengan ayah" shanum berbicara sambil tersenyum, lebih tapatnya dipaksa senyum, meskipun dengan air mata yang tetap setia menemani setiap kata.
"ayo kita cari ibu" adel terlihat lebih semangat daripada shanum, ia mengusap kasar air matanya "pokoknya adel akan bantu kakak mencari meski sampai keujung dunia"
"terimakasih dek"
"ayo semangat, sudahi sedihnya"
adel beranjak sambil menarik tangan shanum,
"mau kemana?" tanya shanum heran.
"mancing diselokan" canda adel "cari ibu lah kemana lagi memangnya"
"sekarang?"
"bukan, taun depan. ya sekarang lah"
"dek kakak berangkat sudah telat, sampai sini diintrogasi seperti maling kedapatan mencuri, bahkan kakak sudah melewatkan satu jam kerja" shanum diam sebentar "lihatlah berkas dimeja kakak menumpuk" tunjuk shanum kearah meja.
"setidaknya selesaikan dulu pekerjaan kita" shanum berkata lagi sambil berjalan menuju kursi kebesarannya.
"itu tidak penting" adel menjawab dengan acuh,
sedetik kemudian adel menyusul shanum duduk didepan kakaknya berbatas meja kerja shanum.
"kakak berjanjilah satu hal padaku" adel berbicara sambil memelas menatap shanum, bahkan kedua tangannya diletakan diatas meja dengan telapak tangan saling bertumpuk untuk menopang dagu.
"apa?"
"janji dulu, kakak akan mengabulkan"
"iya kakak janji, memangnya adel minta apa?"
"ibu" jawab adel singkat
shanum melihat adel dengan sorot bingung meminta penjelasan.
"maksud adel, berjanjilah setelah kakak menemukan ibu kakak akan berbagi ibu dengan adel"
"haruskah kakak selalu berbagi semua yang kakak miliki denganmu?" tanya shanum dengan maksud bercanda.
"maaf kak, maafin adel jika selama ini selalu menginginkan semua yang kakak miliki, sekali lagi maafin adel" adel diam sebentar mengatur nafas "adel janji tidak akan meminta apa-apa lagi dari kakak" meskipun maksud shanum hanya bercanda, namun bagi adel dianggap serius.
adel beranjak dari duduknya, terlihat jelas raut sedih dan kecewa.
__ADS_1
"dek" terdengar suara shanum memanggil ketika adel sudah berada diambang pintu.
adel menoleh "adel tidak apa-apa kak" dengan senyum yang dipaksakan.
kemudian melanjutkan langkahnya hendak membuka pintu
"kita cari ibu kita sama-sama" adel menangkap suara shanum mengatakan ibu kita, tanpa pikir panjang adel segera berjalan kembali menuju meja shanum, memastikan pendengarannya baik-baik saja.
"apa tadi kakak bilang? ibu kita?" tanya adel antusias.
shanum hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.
"benarkah, adel tidak salah dengar" shanum menggelengkan kepala sebagai tanda membenarkan pertanyaan adel.
"kita akan mencari ibu kita bersama, ibuku akan jadi ibunya adel juga, sama seperti ayah, ayah adel juga ayahku kan" kata shanum dengan lembut.
"tapi tadi kakak bilang ......" adel tidak melanjutkan kata-katanya.
"kakak hanya bercanda, kakak tidak tau kalo kamu akan menanggapi dengan serius, maafin kakak"
"ahhh kakak, hampir saja adel mengadu pada dev"
"sekarang udah ganti tempat mengadu nih ceritanya, kakak udah tereliminasi, uhhh jahatnya" shanum berkata dengan muka sedih yang dibuat-buat.
"bukan begitu, tapi ....."
"sudahlah, katanya tadi sudahi sedihnya, sekarang kita kerja selepas makan siang kita beraksi"
kemudian adel meninggalkan ruangan shanum menujua ruang sendiri untuk memeriksa berkas.
"mas" adel heran karena dev sedang duduk dikursinya sambil memeriksa berkas.
"sayang sudah selesai?"
"apanya?"
"urusannya"
"urusan apa?"
"bukankah tadi sedang mendiskusikan hal serius dengan kakak ipar"
"oh sudah"
sebenarnya tadi dev menyusul adel keruangan shanum tapi mendengar mereka berdua seperti sedang bersedih ria, ia memilih kembali keruangannya, namun ketika mencari adel diruangan adel dirinya melihat setumpuk berkas yang belum diperiksa.
dev lebih memilih mengabaikan pekerjaannya sendiri dan membantu adel memeriksa berkas-berkas supaya nanti adel tinggal membubuhkan tanda tangan.
"mas sudah memeriksa semuanya, sepertinya semua sudah baik, kamu hanya perlu tanda tangan"
__ADS_1
"benarkah, terimakasih suamiku, kamu memang yang terbaik" jawab adel sambil memeluk dev.
"sama-sama sayang, ayo tanda tangani semuanya"
"baiklah" adel duduk dikursinya sedangkan dev berlalu keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
☆☆☆
"siska tidak mau lumpuh" teriak seorang gadis yang sudah tidak lagi perawan, gadis rasa janda tepatnya.
"sabar nduk" ucap wanita paruh baya, dia lina ibunya siska, dia tidak pernah marah sama sekali, meski kelakuan anaknya sudah diluar batas namun ia tetap sabar menghadapi semuanya.
"itu semua azab atas perbuatanmu" kata pria yang berusia dua puluh lima tahun lebih tua dari siska.
"azab itu seharusnya untuk kalian yang tidak bisa membahagiakan anaknya" teriak siska
siska memang anak yang keras kepala juga pembangkang, meski duduk dikursi roda namun tidak menjadikannya pelajaran.
plakkkkkk
satu tamparan mendarat dipipi yang tidak lagi mulus karena terdepat luka bekas goresan kaca mobil.
"ayah, ayah berani menamparku?" tanya siska sendu
"kenapa tidak, jika seorang anak yang hidupnya bergantung kepada orang tua saja berani membantah, apalagi ayah yang hidupnya sama sekali tidak pernah bergantung padamu" jawab ayahnya tegas.
sedangkan lina hanya menyaksikan tidak berani menegur suaminya.
"aku menyesal punya ayah miskin sepertimu yang hanya karyawan biasa bukan manager atau direktur apalagi pengusaha"
"ayah lebih menyesal memiliki anak durhaka yang hobinya menghancurkan rumah tangga orang"
"kenapa ayah tidak membunuhku saja, kenapa membawaku kerumah sakit, jika ayah sudah tidak lagi menginginkanku"
"itulah yang ayah sesalkan, kenapa kamu tidak meninggal saja saat kecelakaan, kasihan istriku harus merawat anak durhaka yang lumpuh, tidak tau diri" Roni yang biasanya tidak pernah berkata kasar, saat ini seolah setan sedang membatunya mengatasi siska.
"ayah, jangan berkata seperti itu" ucap lina lembut, perempuan itu memang selalu menenangkan. "bagaimanapun juga saya sudah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkannya, memberi kesempatan kepadanya melihat indahnya dunia" lina melanjutkan kata-katanya lagi.
"maafin ayah bu" roni kembali berkata lembut, ia juga tidak pernah berkata kasar kepada istrinya, roni sangat menyayangi wanita yang dinikahinya dua pulun tiga tahun yang lalu.
"apakah ibu tidak pernah ingin marah mendengar kata-kata kasarnya, apalagi setelah mengetahui kelakuannya?" roni bertanya kepada istrinya.
lina tersenyum "sebenarnya rasa marah itu ada, tetapi ketika ingin meluapkan ibu kembali mengingat perjuangan untuk melihat tangis pertamanya"
"ibu memang luar biasa" roni memeluk pundak lina mengajaknya masuk kedalam membiarkan siska sendiri diruang tamu.
hari ini roni ijin tidak masuk kerja karena mengantarkan siska kontrol.
🦋🦋🦋
__ADS_1
terimakasih untuk yang masih setia, jangan lupa tinggalkan jejak.
🤗🤗🤗