Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 43


__ADS_3

"Jaga ucapanmu Van! kamu kira aku punya waktu seharian untuk meladeni manusia tak berguna sepertimu!" Kesabaranku sudah diambang batas.


"Jika tidak ada hal penting, pintu keluar belum pindah dari tempatnya!"


Evan benar-benar sedang menguji kesabaranku, aku sedang pusing memikirkan cara menyingkirkan Dev, datang lagi makhluk aneh entah dari planet antah brantah mana.


Sebelumnya aku sama sekali tidak kenal dekat dengannya, hanya sesekali bertemu dalam urusan pekerjaan.


Namun akhir-akhir ini pria satu ini sering sekali merecoki hidupku, manusia yang bahkan aku tidak tahu asal usulnya.


"Apa begini cara seorang pengusaha menjamu tamu? Kenapa tidak ada sedikit kudapan atau sekedar secangkir kopi lengkap dengan susu." Ucapnya tanpa mengindahkan pengusiranku.


"Pantas saja cepat kaya, pelit begitu!" Lanjutnya lagi. Kaki kanan ia silangkan diatas kaki kiri, kedua jari tangannya yang saling bertautan ia letakan dibelakang kepala sebagai bantalan untuk bersandar disandaran sofa.


"Radit!" Panggilku pada Asisten pribadiku.


Radit yang sedari tadi hanya berdiri didepan pintu segera berlalu keluar, paham dengan apa yang aku perintahkan meski tidak mengatakan dengan jelas.


"Jangan mendominasi hidupku seperti itu!" Kataku pada pria tanpa urat malu yang kini tengah memejamkan mata, menikmati sejuknya ruangan berAC milikku.


"Katakan apa tujuanmu?" Tanyaku lagi setelah tidak ada respon darinya. Aku ikut duduk disofa single.


"Tidak ada tujuan apa-apa, sudah aku katakan tadi hanya ingin berkunjung, sekedar memastikan kamu tidak gila." Jawabnya santai tanpa melihat kearahku.


Sial! Lama-lama berhadapan dengannya bisa membuatku benar-benar gila.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, asalkan jangan mengganggu pekerjaanku!" Demi menjaga kewarasanku, aku lebih baik mengalah.


Aku beranjak dari dudukku berpindah kekursi kebesaranku, memeriksa tumpukkan berkas-berkas jauh lebih menyenangkan dari pada hanya sekedar mendengarkan ocehan tidak jelas dari tamu tak diundang.


"Kamu boleh kembali bekerja Dit!" Perintahku pada Radit yang telah meletakan kopi hitam didepanku, setelah sebelumnya ia juga melakukan hal yang sama kepada Evan.


Bedanya, jika didepanku hanya ada secangkir kopi hitam dengan sedikit gula, tapi didepan Evan tersedia kopi susu lengkap dengan kue kering yang entah dari mana Radit mendapatkannya, seingatku di pantry kantor tidak disediakan makanan ringan, hanya ada minuman saja.


"Baik Tuan," jawabnya sopan sambil membungkukan badan kemudian berlalu keluar tanpa menyapa Evan.


Seperti ini saja mungkin lebih baik, aku akan tetap fokus pada pekerjaanku dan Pria itu, biarkan saja menikmati kopinya, mungkin dirumahnya tidak memiliki gula jadi tidak bisa menikmati kopi paginya.


Ting!


Terdengar dering ponsel dari saku celana Evan, dari suaranya yang tak kunjung berhenti aku yakin itu suara panggilan.

__ADS_1


"Iya Abang lagi dikantornya."


"(…………………)"


"Tidak! Abang tidak melakukan apapun."


"(.........….........)"


"Abang tidak segila pria pujaanmu, sudahlah jangan pikirkan apapun, sekolah saja yang benar!"


"(…………………)"


"Sekolah dulu, jika sudah lulus kamu boleh cari pria manapun, asal jangan pria gila satu ini!"


Awalnya aku tidak peduli dengan siapa Evan melakukan panggilan.


Namun begitu dirinya menyebut sedang berada dikantorku, aku jadi penasaran siapa orang disebrang sana.


Dari bicaranya sepertinya mereka sedang membahas diriku, mungkin saja kehadirannya memang berhubhngan dengan orang yang baru saja melakukan panggilan kepadanya.


Lalu apa tadi, dia menyebut pria pujaanmu? apakah pria yang dimaksud adalah diriku, namun siapa yang memujaku, apalagi tadi katanya gadis itu masih sekolah.


Dia tidak menyebut kata gadis sih, tapi tidak mungkin kan jika yang memujaku seorang jantan.


Apalagi melihat raut wajahnya saat mengatakan kalimat terakhir, lirikannya terhadapku seperti menyiratkan kebencian mendalam, meskipun sedetik kemudian ia bisa kembali menguasai keadaan.


Siapa sebenarnya lelaki itu, keluarganya, saudaranya, bahkan Radit saja tidak bisa mengetahui identitas aslinya.


"Terimakasih suguhannya, kapan-kapan aku kembali lagi," katanya santai.


Aku tidak menjawab, hanya memperhatikannya bangun dan berjalan kearah pintu keluar.


"Aku lupa!" Katanya dengan setengah berteriak saat tangan satunya sudah memegang handle pintu, namun belum memutarnya.


Aku yang sudah fokus pada berkas kembali mengangkat kepala melihat kearahnya, menunggu kata selanjutnya yang ingin ia katakan.


"Aku akan kembali lagi lusa, besok aku sibuk jadi maaf tidak bisa mengunjungimu," ujarnya dengan senyum menjengkelkan. "Dan pesanku kali ini jangan pernah memberikan harapan palsu!" Lanjutnya lagi namun dengan senyum yang sudah memudar. Setelahnya ia melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda, memutar handle pintu dan keluar dari ruanganku.


Mendengar kalimat terakhirnya membutku tidak fokus pada pekerjaan, aku penasaran dengan maksudnya, tapi tidak mungkin juga untuk bertanya.


Akan aku cari tahu nanti ada apa dengan dirinya, seingatku aku tidak pernah memberi harapan palsu kepada siapapun.

__ADS_1


"Keruanganku sekarang!" Perintahku pada Radit setelah panggilan terhubung padanya.


Tanpa menunggu jawaban dari Radit aku segera menutup kembali panggilanku.


Tidak lama terdengar pintu diketuk dan Radit masuk setelah aku memerintahkannya untuk masuk.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanyanya sopan, masih seperti biasa, tidak ada tanda-tanda Radit berkhianat, bertemu dengan Evan juga seperti biasa tidak terlihat hubungan yang dekat, namun apapun rencanaku jika Radit mengetahui Evan pasti juga tahu.


"Siapa Evan?" Tanyaku tanpa basa-basi, lebih tepatnya memerintah Radit untuk menjelaskan asal-usul pria itu.


"Seperti yang sudah Tuan ketahui, Tuan Evan hanya anak yatim piatu yang tinggal seorang diri, berkarir sebagai model dan juga calon suami dari Nona Shanum, Kakak dari Nona Adel." Penjelasan seperti biasa, yang sudah pernah aku dengar, tidak ada info terbaru tentangnya.


"Kenapa Evan selalu tau apa yang sedang aku rencanakan dan pernah aku lakukan?" Tanyaku mengintimidasi.


Berharap ada perubahan dari raut wajah Radit, Kaget misalnya, atau sekedar merubah ekspresi.


Tidak, ini tidak terlihat perubahan apapun, sama seperi biasa datar tanpa ekspresi apapun, mungkin Radit memang sudah terlatih untuk selalu bersikap tenang dalam keadaan apapun.


"Akan saya cari tau apa tujuan Tuan Evan melakukan itu." Jawabnya dengan datar.


Radit tidak terbiasa menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan, padahal tadi aku kira dia akan menjawab, untuk apa Evan melakukan itu? Agar aku bisa memerintahkannya untuk mencari tahu, ternyata jawabannya diluar dugaanku, tapi sesuai dengan keinginanku.


"Lakukan dengan cepat!"


"Baik Tuan."


"Termasuk Gadis yang menelponnya barusan!"


Perintahku tidak masuk akal memang, mengingat Radit tidak ada ditempat saat Evan melakukan panggilan.


Terlihat sekilas wajah bingung, meski hanya sepersekian detik tapi aku bisa melihatnya, namun Radit tetap bisa menguasai suasana.


"Akan saya lakukan semaksimal mungkin Tuan."


"Aku percaya padamu."


🦋🦋🦋


Maaf ya teman-teman upnya lama, bukan bermaksud menggantung cerita, tapi kemarin sempat bedrest, sekarang Alhamdulillah sudah membaik meski belum pulih sempurna.


Do'akan ya semoga Author selalu sehat biar bisa kejar daily up.

__ADS_1


Terimakasih buat yang masih setia stay di karya Author amatir.


🙏🙏🙏


__ADS_2