
Pov Author
☆☆☆
Cuaca hari ini sedang tidak baik-baik saja, siang tadi matahari begitu terik membakar bumi, namun sore ini hujan turun cukup lebat.
Disebuah ruangan yang didominasi warna putih dan abu-abu dua orang tengah duduk bersitegang.
Sepulang dari taman menemani Adel, Evan pergi menemui seseorang yang masuk daftar nomor satu untuk dia musnahkan.
Janjinya untuk mengantar Adel pulang terpaksa ia ingkari, karena sudah ada Shanum disana. Adel pasti akan baik-baik saja bersama Shanum.
"Ada apa lagi?" Ucap Rafa tidak suka dengan kehadiran tamu tak diundang didepannya.
"Bukankah kemarin aku sudah janji akan mengunjungimu hari ini." Jawab Evan santai.
"Diluar hujan cukup deras, apa kamu tidak ingin menawarkan kopi sekedar untuk menghangatkan tubuh?" Lanjut Evan lagi.
"Aku punya Wine jika kamu butuh penghangat, atau jika kurang panas aku juga punya Brandy." Rafa memang selalu menyimpan minuman beralkohol tersebut diruangannya.
Ia selalu menikmatinya jika dalam keadaan frustasi. Wine yang kadar alkoholnya hanya berkisar 10-20 persen akan rafa nikmati hanya sekedar menghilangkan penat.
Berbeda dengan brandy yang kadar alkoholnya berkisar antara 35-60 persen, Rafa akan menikmatinya ketika keadaan sangat tidak bersahabat dengannya.
"Aku tidak bisa menjadikan sesuatu menjadi kawan padahal seharusnya menjadi lawan." Ada pandangan tidak biasa ketika Evan mengatakan itu. Meski hanya beberapa detik namun Rafa bisa menangkapnya.
Rafa yang biasa hidup dalam dunia bawah sangat paham arti tatapan Evan.
"Jangan banyak basa basi, katakan tujuanmu!" Rafa berlalu menuju ruang pribadinya, tidak lama kemudian ia kembali lagi dengan minuman haram tersebut. "Jika mau minumlah, jika tidak jangan meminta lebih." Rafa menyodorkan satu botol minuman beralkohol kearah Evan.
"Jauhkan minuman terkutuk itu, jangankan menyentuhnya, melihatpun aku tak sudi." Ucap Evan.
"Ckkkk." Rafa berdecak. "Munafik."
Pintu terbuka dari luar, terlihat Radit bersama seorang office girl membawa nampan berisi kopi dan sedikit cemilan.
"Silahkan Tuan diminum." Ucap Radit setelah OG tersebut meletakan cangkir kopi didepan Rafa Juga Evan sesuai perintah Radit.
"Terimakasih." Ucap Evan ramah.
"Bahkan bawahanmu lebih tau cara menjamu tamu." Lanjutnya lagi setelah Radit dan OG tersebut keluar.
"Van langsung saja pada intinya." Desak Rafa, tidak ingin terlalu lama berbasa basi dengan Evan.
"Bahkan aku saja belum menikmati kopi ini," jawab Evan santai, ia mengambil cangkir kopi lalu menyeruputnya sedikit, asap yang masih mengepul membuatnya tidak berani jika langsung menegukknya.
"Apa kamu tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?" Tanya Rafa sebal.
__ADS_1
Evan meletakkan kembali cangkirnya, "Pekerjaan utamaku saat ini adalah mengacaukan kehidupanmu." Evan berkata masih dengan nada santai. Ia mengambil potongan kue yang tersedia dimeja.
"Jaga ucapanmu, jangan menggertakku." Kesal Rafa.
"Apakah sekertaris sok cantikmu belum menceritakan kegagalannya." Ujar Evan mengejek.
"Kamu!" Rafa berteriak geram.
"Bukankah sudah aku katakan, apapun yang kamu lakukan akan berakhir sia-sia."
"Aku tidak butuh pendapatmu."
"Aku tidak sedang memberikan pendapat, hanya sedang mengingatkan saja."
Evan kembali menyeruput kopinya yang sudah menghangat.
"Jika kamu melakukan rencana selanjutnya jangan salahkan aku jika aku akan memenjarakanmu." Tegas Evan dengan serius.
"Kamu tidak akan pernah bisa melakukan itu."
"Lakukan saja jika kamu ingin merasakan menginap dihotel prodeo."
Evan masih memegang cangkir kopi yang isinya tinggal setengah, belum berniat meletakkan kembali.
"Bisnis harammu, penggelapan dana pembangunan jalan, penyelundupan senjata ilegal, semua bukti ada digenggamanku." Evan kembali santai. Seakan ucapannya bukan sebuah ancaman.
"Aku akan melindungi semua orang-orangku, Adel sudah masuk daftar orang yang aku lindungi sejak sebelum dia mengenalmu."
Rafa kembali dibuat terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui. Karena itu artinya Evan sudah lebih dulu mengenal Adel sebelum dirinya.
"Gadis berseragam putih abu-abu yang mengejarmu, masuk dalam daftar perlinduanganku diurutan pertama, jika kamu berani menyentuhnya, ucapkan selamat tinggal pada dunia." Ancamnya kali ini dengan nada serius. "Jangan pernah memanfaatkan kepolosannya." Lanjutnya lagi sebelum Rafa bisa mencerna semua ucapan Evan.
Tentang kecurangannya, bisnis ilegalnya, tentang Adel tentang gadis SMA yang akhir-akhir ini mengganggu hari tenangnya. Semua itu Evan ketahui, Rafa semakin penasaran siapa Evan sebenarnya.
Padahal Rafa sempat berfikir ingin memanfaatkan gadis kecil itu untuk melampiaskan rasa sakit hatinya pada Adel, namun niatnya sudah diketahui lebih dulu oleh orang yang mungkin akan selalu menjadi ancaman baginya.
"Siapa kamu sebenarnya!" Tanya Rafa dengan sedikit rasa khawatir, ia mulai paham jika saat ini sedang berhadapan dengan orang yang mungkin tidak bisa disinggung dengan sembarangan.
"Aku Evan seorang model, cukupkan itu saja yang kamu tahu, karena lebih banyak tahu semakin memperpendek umurmu."
Evan meninggalkan kopi yang sudah tidak lagi hangat, ia berlalu meninggalka Rafa dengan sejuta kebingungannya.
"Aku tidak akan kembali jika kamu tidak berulah." Pesannya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan Rafa.
"Aaaaa!!!! Sial!" Teriak Rafa begitu Evan keluar dari ruangannya, ia membanting apapun yang ada dimeja, memberikan pekerjaan tambahan untuk pekerjanya.
Radit yang mendengar kekacauan diruangan atasannya segera masuk kedalam.
__ADS_1
"Tuan apa yang terjadi?" Tanya Radit begitu melihat ruangan Rafa yang sudah tidak lagi nyaman untuk dilihat.
Minuman haram yang belum sempat tersentuh juga ikut menjadi korban, berceceran dilantai.
Radit mendudukkan Rafa disofa yang tidak terkena serpihan beling.
Kemudian ia memanggil beberapa OB untuk membereskan kekacauan yang terjadi diruangan Rafa.
Radit masih setia menunggu Rafa yang sedang memejamkan matanya, meski Radit tahu jika Tuannya tidak benar-benar tertidur, namun ia juga tidak berani bertanya lagi.
OB selesai membersihkan kini tinggal Rafa dan juga Radit berada diruangan itu.
"Radit!" Panggilnya masih dengan mata terpejam.
"Iya Tuan." Jawab Radit.
"Katakan siapa Evan sebenarnya!" Kini Rafa sudah membuka matanya dengan sempurna.
"Jawaban saya masih sama seperti sebelumnya Tuan."
"Ahhhh Bodoh!" Teriakknya, "apa yang kamu lakukan selama ini?" Lanjutnya lagi.
"Maaf tuan, informasi tentang Tuan Evan sangat terbatas."
"Bagaiman orang-orangmu bekerja!" Radit tidak lagi membalas ucapan Rafa, ia tahu jika Tuannya sedang tidak baik-baik saja, membalas ucapannya sama dengan menggali kuburannya sendiri.
"Evan tahu semua tentangku, apakah ada dari pihak kita yang berkhianat!" Sentaknya lagi, Radit masih diam, belum menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas kalimat Rafa.
"Radit! Apakah kamu berpihak padanya?" Rafa memicingkan matanya, menunggu ekspresi dari orang kepercayaannya, jika benar Radit berpihak pada Evan maka tidak ada tempat lagi untuk Radit didunia ini, pikir Rafa.
"Apakah saya terlihat berpihak padanya Tuan?" Radit membalas pertanyaan dengan sebuah pertanyaan.
"Satu-satunya orang yang tahu tentangku hanya Kamu, tapi kenapa Evan bisa mengetahuinya?"
"Evan memiliki keaman yang tidak bisa ditembus oleh sistem kita." Jawab Radit jujur meski tidak sepenuhnya benar.
"Sial!" Teriak Rafa lagi.
"Pergilah, aku tidak membutuhkanmu."
Dengan patuh Radit keluar dari ruangan Bosnya, hari sudah beranjak senja tapi pekerjaan masih begitu menumpuk dimeja.
☆☆☆
Teman-teman setia DTC (Dimanja Tanpa Cinta) Terimakasih ya masih setia.
Jangan lupa tinggalkan jejak, terimakasih banyak².
__ADS_1