Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Curahan Hati Juan


__ADS_3

"Kenapa Juan?" Tanyaku, setelah kami berada di teras kosan. Tempat biasanya menerima tamu. Disini memang disediakan beberapa tempat duduk dan meja.


"Kakak nggak apa-apa?" Juan balik bertanya, wjahanya menyiratkan kesedihan.


"Nggak apa-apa. Memangnya kenapa?"


"Kak, maafin mas Fian ya!"


"Iya, nggak apa-apa. Namanya juga belum jodoh."


"Kak,"


"Kenapa Juan?".


"Kak Rissa mau bersabar nggak? Empat bulan lagi aja."


"Kenapa?"


"Tunggu aku lulus SMA kak, aku akan bekerja keras dan bertanggung jawab pada kakak. Aku janji bisa lebih baik dari mas Fian. Aku nggak akan malas-malasan belajar, apalagi kerja. Apa saja yang penting halal."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Kak ... aku siap jadi suami kakak. Menjaga kakak sebaik mungkin. Aku akan menafkahi kakak, memenuhi segala kebutuhan kakak. Aku nggak akan biarkan kakak kerja capek-capek lagi, aku ...."


"Juan, kamu bicara apa sih?" aku tak mengerti arah pembicaraan Juan, aku mengira Juan menyesali keputusan abangnya memutuskanku secara sepihak. Mungkin ia merasa bersalah, makanya mendatangiku. Juan memang anak yang baik. Satu-satunya keluarga mas Fian yang sangat dekat denganku. Mau menerima aku apa adanya. Makanya akupun menganggap Juan seperti adikku sendiri.


"Kak, aku serius. Aku suka sama kak Rissa."


"Hah?" aku melongo. "Kamu itu, nggak usah seperti ini. Aku sudah enggak apa-apa kok. Awalnya memang sedih sih, tapi ya namanya jodoh memang begitu, kan? Nggak bisa juga dipaksakan. Jadi sudah, nggak usah seperti itu, apalagi sampai membuat pengakuan seperti itu." aku tersenyum agar Juan tahu bahwa aku sudah bisa menerima keputusan mas Fian meski di awal ada perasaan sedih dan kecewa, namun lambat laun perasaan itu akhirnya berkurang juga. Hanya butuh sedikit waktu lagi untuk menghilangkan semuanya.


"Kak, aku suka sama kakak bukan karena kakak diputuskan sama mas Fian. Justru aku bersyukur sebab sekarang aku punya kesempatan untuk mendekati kakak."


"Duh Fian, jangan bicara seperti itu. Aku itu udah nganggap kamu seperti adikku sendiri, jadi jangan kayak gitu lagi ya. Sudahlah, kita biasa saja seperti dahulu."


"Tapi kak ...."


"Kak ... nggak apa-apa kak Rissa nolak aku sekarang. Tapi empat bulan lagi aku akan kembali datang untuk menyatakan cinta aku. Sungguh kak, aku benar-benar tulus. Aku benar-benar ingin jadi suami kak Rissa."


"Kamu kenapa sih? Mas Fian nggak ngapa-ngapain kamu, kan? Juan, kalau sampai ibu dan kakak kamu tahu, aku sangat yakin mereka akan marah besar pada kamu dan ini akan jadi masalah baru untuk aku. Sekarang aku hanya ingin konsentrasi dengan pengobatan saja. Aku ingin fokus agar cepat sembuh, jadi tolong jangan ditambah lagi beban pikiran ini. Kamu tahu kan bagaimana ibu dan kakak kamu. Mereka berdua enggak suka aku. Sama mas Fian saja aku ditolak apalagi sama anaknya yang lebih muda. Bisa-bisa aku habis nantinya. Jadi lupakan saja, aku berdoa supaya kamu bisa mendapatkan jodoh yang terbaik yang juga diterima oleh keluarga kamu."


"Enggak apa-apa kakak nolak aku. Tapi aku akan tetap memperjuangkan kakak!" Juan kembali meyakinkan kalau ini bukan karena abangnya melainkan karena ia memang suka beneran.


Remaja delapan belas tahun itu pamit usai menyampaikan isi hatinya.

__ADS_1


Melihat sikap Juan yang kekeh, kepalaku rasanya benar-benar pusing. Tidak pernah terbayangkan olehku sebelum ini akan ditembak oleh adik mantanku sendiri. Inilah parahnya pacaran. Harusnya sejak awal aku tak melakoninya.


"Kenapa anak itu?" mas Abas kembali muncul.


"Oh Juan ... nggak kenapa-napa." aku memaksakan senyum. Meski rasanya pusing usai bicara dengan Juan.


"Ris, aku sudah dengar semuanya dan aku mohon jangan pernah membuka hatimu untuk mereka. Aku sangat yakin ia tak tulus. Bisa saja ia begitu karena tahu kamu sedang banyak uang atau memang ia ingin memanfaatkan kamu lagi " kata mas Abas lagi.


"Tunggu sebentar, dari mana mas tahu? Mas nguping ya? Oooo, sepertinya di sini sudah enggak nyaman lagi. Sejak kapan tak ada privasi di sini lagi?" aku protes karena mas Abas rupanya diam-diam mendengar dari teras rumahnya. Ia sengaja bersembunyi agar bisa mendengar pembicaraan kami.


"Ris, aku nggak mau kamu dimanfaatkan lagi. Oke, aku akui, akupun suka sama kamu Rissa!" mas Abas akhirnya ikut-ikutan mengungkapkan perasaan yang sudah ia pendam sejak aku pertama kali datang ke sini. Ia setia menunggu-nunggu momen kapan aku putus dari mas Fian. "Bahkan aku sudah bicara pada ibu dan ibuku setuju, Ris. Asalkan tidak merebut kekasih orang. Sekarang setelah kamu sendiri aku baru berani maju."


"Duhh apa-apaan ini. Mas, aku itu sedang nggak memikirkan pasangan. Aku ingin sendiri dulu. Lagipula aku ini sedang sakit mas, sakit yang nggak main-main. Aku harus menghabiskan banyak waktu untuk berobat. Jadi mohon lupakan saja perasaan ini. Aku sudah menganggap mas dan ibu seperti keluarga sendiri. Tetaplah seperti itu. aku mohon. Satu lagi, aku memang nggak berhak mengatur perasaan mas Abas, tapi mas harus tahu, ada seseorang yang aku yakini jauh lebih baik dariku yang juga diam-diam menyukai mas. Hanya saja ia tak berani menyatakan diri. Ia menyimpannya dalam diam. Aku yakin ia akan jadi pasangan yang baik untuk mas. Tari, ia orangnya mas. Mungkin mas bisa membuka hati untuk untuknya. Aku akan sangat bahagia jika kalian bisa bersama."


Mas Abas sempat kaget. Ia tak menyangka jika Tari sama seperti dirinya. Menyimpan perasaan dalam diam. Namun mas Abas belum bisa membuka hati untuk Tari. Entah kalau nanti. Ia masih butuh menyembuhkan luka usai patah hati karena ditolak usai memendam cinta terlalu lama.


"Jadi aku benar-benar tak akan mendapatkan kesempatan, Ris?" tanya mas Abas.


"Maaf mas, enggak. Kita tetap seperti sekarang saja. Jadi teman yang baik. Maafin aku." pintaku. "Oh ya, satu lagi. Tolong jangan sampai Tari tahu ini semua." pintaku yang gak mau Tari patah hati karena aku.


Mas Abas mengangguk. Ia memaksakan senyum yang terlihat aneh di wajahnya. Wajar, orang patah hati itu suasana hatinya pasti tak enak.

__ADS_1


Meski begitu, aku tetap berharap suatu saat, entah kapan, mas Abas bisa membuka hati untuk Tari. Meski ia tak memiliki wajah yang cantik namun hatinya sungguh luar biasa baik. Tak hanya mas Abas yang akan beruntung mendapatkan Tari, tapi juga ibunya sebab hati Tari itu luar biasa baiknya.


Ngomongin Tari, aku jadi kangen padanya. Makanya aku buru-buru naik ke kamar untuk menelepon Tari. Mempertanyakan bagaimana keadaan ibunya.


__ADS_2