Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Melanjutkan Misi


__ADS_3

"Apakah kita akan melanjutkan cita-cita ayah?" Sam menatap dua adiknya. Yoga dan Ash yang sengaja dipanggilnya untuk membahas ini.


"Kamu tak harus mengikuti semua perkataan Rissa." Kata Yoga. "Ia tak tahu bagaimana bahayanya melakukan sebuah penelitian. Lagipula kita belum terlalu ahli, Sam!" Kata Yoga. "Aku melihat ilkau terlalu menurutinya seolah-olah kau ini adalah bawahannya. Dia suruh ini, kau lakukan. Dia larang ini, kau taati. Benar-benar menyebalkan sekali. Seolah dia yang menyetir kamu!"


"Hei, kau lupa kalau Abang kita ini sudah spesialis dan juga peneliti." Ash mengingatkan Yoga. "Bang, apapun yang menurutmu bagus, aku akan mengikutinya."


"Tapi tidak penelitian seperti ini!" Kata Yoga. "Ini terlalu bahaya. ayah kita saja sampai ... ahhh, sudahlah. Lupakan. Aku malas membahasnya!" Yoga jadi uring-uringan.


"Kamu juga tak lupa kan Ga, istriku adalah salah satu dari korbannya?" Kata Sam. "Ada paman, profesor Tao dan doktor Ahsan yang siap membantu kita." Sam mengingatkan. "Kalau bukan kita yang melanjutkan hingga selesai, lalu siapa? Pasien-pasien itu membutuhkan orang-orang yang mau terus menemukan obat-obatan yang bisa menyembuhkan mereka!"


"Ibu tak akan mengizinkan." Yoga menegaskan. Kali ini ia sangat yakin bisa menjegal langkah Abang dan adiknya karena ia sangat yakin ibu mereka tak akan pernah merestui ide gila ini setelah apa yang terjadi pada ayah mereka. Sebenarnya sebagai seorang dokter dan juga anak dokter Syahril, Yoga pun ingin melakukan sesuatu untuk bidang kesehatan, tapi ia takut dengan risikonya.


"Kita gak harus memberitahu Ibu. Bagaimana?" Tanya Sam.


"Aku ikut!" Ash tetap angkat tangan.


"Baik. Satu adik lebih baik ketimbang tak ada yang mendukung!" Sam hendak pergi sebab ia harus menyiapkan semuanya dikarenakan pabrik mereka masih dalam perbaikan, jadi harus ada mini lab. Termasuk menghubungi Profesor Tao, pamannya dan doktor Ahsan.


"Sam, jangan terlalu memanjakan istrimu. Aku lihat, kau terlalu mengikuti semua keinginannya. Kau berlebihan Sam. Ia hanya perempuan biasa, tak paham dengan dunia kerja kita. Lagipula kita belum ahli Sam!" Yoga mengingatkan lagi. Tapi Sam tetap berlalu.

__ADS_1


***


Melakukan penelitian ulang bukan hal mudah, meski Dokter Syahril sudah mempersiapkan semua catatannya dengan sangat lengkap. Namun tetap saja butuh dana yang tak sedikit. Sam harus memutar otak, apalagi saat ini rumah sakit dan pabrik mereka sedang dibangun ulang dan juga butuh biaya yang tak sedikit.


Untungnya, paman mereka profesor Hamis, profesor Tao dan doktor Ahsan mau bergabung. Ditambah Dasril, Sam dan Ash siap melakukan penelitian. Sebuah penelitian yang didasari rasa kemanusiaan. Baru saja selesai rapat, Yoga datang ke lab yang akan mereka jadikan tempat penelitian.


"Aku akan bergabung!" Kata Yoga, yang disambut pelukan hangat dari Ash namun segera ditepis oleh Yoga yang merasa geli dengan tingkah sok akrab adiknya. "Tapi ingat, kalau terjadi apa-apa kau dan kakak ipar yang harus bertanggung jawab Sam!" Kata Yoga.


"Cukup aku sendiri saja, tak usah bawa-bawa Rissa." Kata Sam. "Besok akan kita mulai. Kau tak mau menemui Carissa dulu, setidaknya katakan isi hatimu padanya agar kalau kenapa-napa kamu gak menyesal nantinya." Canda Sam.


Yoga merasa apa yang dikatakan abangnya itu benar juga. Ia segera pergi ke rumah besar milik ayah mereka untuk menemui Carissa. Sayangnya gadis pujaan hatinya itu tak ada di sana, sebab Carissa sedang mencari pekerjaan. Untungnya pesannya di balas sehingga Yoga bisa menemui Carissa.


"Kenapa tiba-tiba mencari? Apa ada sesuatu yang tak beres dengan Sam?" Carissa menebak. Ia tampak khawatir.


Usai mendengar itu, Carissa diam sesaat, lalu kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Merasa aneh dengan apa yang dikatakan Yoga.


"Lelucon ini benar-benar sukses membuatku tertawa!" ungkap Carissa. "Kau berhasil menghiburku, dik!" Carissa menepuk pelan pundak Sam.


"Caris, aku serius. Aku mencintai kamu." kata Yoga lagi. "Butuh waktu lama untuk bisa jujur. Tapi aku harus melakukannya sebab kami akan melakukan misi rahasia yang cukup berbahaya. Jadi, ada kemungkinan aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi."

__ADS_1


"Yoga!" Carissa kaget. "Kamu ... ahhh, kenapa Ga. Kita kan teman, juga saudara. Lagipula kamu tahu aku mencintai siapa!' ungkap Carissa.


"Ya, sangat tahu. Makanya butuh waktu untukku hingga akhirnya bisa mengungkapkan ini Caris."


Ini pengakuan yang membuat Carissa kaget. Tapi Yoga berhasil membuatnya percaya bahwa yang dikatakan benar. meski ia berusaha sekuat mungkin menolak kesaksian Yoga.


"Aku, Sam dan yang lainnya akan melanjutkan penelitian ayah. Kau tahu betapa sibuknya kami nantinya. Makanya aku pamit." kata Yoga.


"Tunggu!" kata Carissa, sebelum Yoga pergi. "Boleh aku bergabung? Ya aku tahu aku tak banyak dibutuhkan karena aku bukanlah dokter atau ahli medis. Tapi aku paham pencatatan. Barangkali kalian butuh asisten. Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk paman Syahril. Beliau sudah melakukan banyak kebaikan untukku, ibu dan abangku Max. Tapi kamu tahu sendiri apa yang dilakukan Max, ia mengkhianati paman. Jadi, biar aku melakukan sesuatu hal untuk membalas kebaikan paman meski apa yang ku lakukan nantinya tak seberapa." pinta Carissa.


Pengakuan Yoga sebenarnya membuat Carissa tak nyaman. Mereka yang biasanya dekat kini jadi canggung. Tapi Carissa merasa ini adalah momen yang tepat untuk membalas jasa. Belum tentu kelak ada kesempatan lain.


Untuk hati, biarlah mengalir saja. Bagaimanapun perasaannya tertuju pada Sam dan tak semudah itu tiba-tiba dialihkan pada Yoga.


"Kamu yakin? Tapi ini berbahaya lho." ungkap Yoga.


"Tak masalah. Aku juga pernah mendampingi paman. Dan penelitian yang kami lakukan jauh lebih berbahaya karena keluar dari jalur SOP." kata Carissa.


"Baiklah. Kalau begitu nanti akan ku sampaikan pada Sam tentang permintaan kamu untuk bergabung." kata Yoga. "Lalu tentang aku?"

__ADS_1


"Ga, beri aku waktu. Tak semudah itu berpaling. Kamu tahu kan bagaimana perasaan aku ... maksud aku, selama ini kita teman, tak bisa tiba-tiba berubah jadi spesial. Butuh waktu. Lagipula apa kata Tante Ines. Ia tak akan suka jika anaknya menjalin hubungan denganku sebab kita sudah jadi saudara!" kata Carissa.


"Baik. Aku mengerti Caris. Aku akan menanti sampai kamu membuka hatimu untukku." kata Yoga. Ia melambaikan tangannya pada Carissa, lalu berlalu dengan perasaan lega. Setidaknya ia sudah berusaha. Jujur pada perasaannya sendiri. Seperti yang dikatakan Sam.


__ADS_2