Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Kisah Eka, Pengagum Rahasia Dokter Sam


__ADS_3

Saat itu usia Eka tujuh belas tahun. Ia baru duduk di bangku kelas dua SMA. Eka yang berprestasi mendapatkan kesempatan mewakili sekolahnya studi banding ke luar negeri. Siapa sangka, ia bertemu dengan Sam saat kunjungan ke universitas dimana Sam yang baru praktek dokter umum juga sedang mengambil spesialis sebagai dokter bedah.


Remaja itu terpesona pada pandangan pertama dengan wajah Sam yang tampan. Tak hanya itu, Eka yang sempat sakit karena sulit beradaptasi dengan cuaca di luar negeri sempat di rawat di instalasi gawat darurat dimana Sam yang jadi dokter jaganya. Rasanya Eka seperti mendapatkan keberuntungan. Bisa bertemu, lalu dirawat semalam oleh dokter tersebut.


Kembalinya ke tanah air, Eka yang telah jatuh hati pada dokter Sam selalu menyebut nama lelaki itu dalam doa-doanya. Ia juga bermimpi bisa kuliah di tempat yang sama. Namun sayang, meski berprestasi tapi Eka tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena panti asuhan tempatnya tinggal tak memiliki dana lebih, saat itu donatur berkurang karena krisis ekonomi.


Eka benar-benar sedih. Tapi ia tak pernah berhenti berdoa, berharap, entah kapan bisa ketemu dengan dokter Sam lagi. Ia bahkan berani untuk menyebut namanya sebagai jodoh yang diharapkan. Eka berprinsip, bukankah meminta pada Allah tak boleh tanggung -tanggung. Apalagi urusan jodoh. Ia sangat yakin dokter Sam laki-laki yang tak hanya tampan dan cerdas, namun juga salih sebab saat jadi dokter jaga, selama satu hari dirawat olehnya, Eka selalu memperhatikan, dijam salat maka lelaki itu akan pergi untuk melaksanakan kewajibannya. Padahal mereka sedang berada di luar negeri.


"Ia adalah imam impianku." Begitu kata Eka saat itu.


Mengingat kenangan itu membuat Eka tersenyum. Ia tak sadar kalau sahabatnya memperhatikan dirinya.


"Kamu lagi ngelamun apa?" Rissa penasaran.


"Memang kamu mau tau?" tanya Eka.


"Yap! Kasih tau aku, Ka!" pinta Rissa.


"Nggak. Nanti kamu marah." Eka membalas Rissa.

__ADS_1


"Jangan-jangan kamu mikirin laki-laki ya?" Tuduh Rissa.


Mendadak wajah Eka berubah. Ia langsung pucat pasi sebab takut Rissa tahu apa yang ia pikirkan. Tak berapa lama terdengar suara tawa Rissa.


"Berarti benar. Kamu lagi mikirin laki-laki. Soalnya setiap membahas ini, wajah kamu selalu berubah. Sekarang ayo ceritakan, apa sudah ada yang cocok?" Rissa langsung bangkit dari tidurnya, duduk menghadap Eka, siap mendengarkan cerita teman masa kecilnya.


"Aku nggak bisa cerita." Kata Eka. Tak mungkin ia menceritakan semuanya pada Rissa. Bisa-bisa sahabat masa kecilnya itu marah, atau yang lebih buruk lagi, ia akan dibenci tak hanya oleh Rissa, tapi juga oleh dokter Sam, penghuni panti dan semua yang mengenal mereka.


Sebenarnya, saat pertama kali kembali melihat Sam setelah tiga tahun tak bertemu, Eka sempat kaget. Ia begitu bahagia. Bahkan sampai menangis dalam diam sebab akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali. Eka sempat menyangka bahwa dokter Sam adalah jodohnya karena pertemuan itu. Namun, setelah tahu bahwa dokter Sam akan menikahi Rissa, hatinya langsung hancur. Ia pun kembali menangis sejadi-jadinya. Bahkan untuk bertemu mereka saja hatinya tak sanggup. Sayangnya Eka tak bisa mengatakan semua itu pada siapapun.


Setelah patah hati ditinggal menikah oleh dokter Sam, Eka tak yakin ia bisa jatuh cinta pada laki-laki lain. Hatinya kini sudah merasa hampa. Meski ada beberapa yang datang ke panti untuk melamarnya, namun Eka menolak. Ia tak sanggup menerima pinangan laki-laki manapun sebab tak yakin bisa jatuh cinta dan membangun cinta dengan mereka.


"Yah, kenapa sih Ka. Kita itu kan sahabat. Malah sudah seperti saudara. Harusnya kamu terbuka. Masa tak ada satupun yang mendatangi kamu? Kata bunda saja sudah ada beberapa yang melamar. Lagian kamu itu perempuan cantik dan pintar, aku sangat yakin banyak yang mau. Kamu saja yang pilih -pilih. Iya, kan?" kata Rissa.


"Ka ... kamu?" Rissa langsung memeluk Eka. Ia menepuk pelan punggung Eka untuk memberi Eka isyarat bahwa ia akan mendukung Eka. "Patah hati memang menyakitkan, Ka. aku juga pernah merasakannya. kamu tahu kan bagaimana Mas Fian mencampakkan aku. Tapi percaya, setelah kamu menemukan cinta yang tepat maka semua sakit hati itu akan terobati!" Kata Rissa.


"Lelaki itu beda dengan Fian, Ris. Aku tak yakin bisa menemukan pria yang lebih baik darinya. Ia sudah mendekati tipe sempurna. Rasanya akan sulit sembuh." Eka memaksakan senyum.


"Kalau begitu kembali kejar cintan!" Rissa memberi semangat.

__ADS_1


"Nggak mungkin. Ia sudah menikah Ris."


Rissa diam. Ia menatap iba sahabatnya. Kalau sudah begini kasusnya memang akan sulit sembuhnya. "Apa ia laki-laki yang salih?" tanya Rissa.


"Ya." Jawab Eka.


"Kalau begitu, kenapa tak minta ia untuk menikahi kamu juga."


"Maksudnya kamu, Ris?"


"Poli ... Poligami. Aku juga nggak yakin. Tapi menurutku ini bisa jadi solusi. Aku pernah baca novel bahwa laki-laki salih biasanya mau menikah lagi."


"Bagaimana dengan istrinya? Apakah ia akan memberi izin?" Eka menatap Rissa penuh harap. Ia merasa mendapatkan angin segar setelah kehilangan semangat hidupnya selama beberapa bulan ini. "Bagaimana Ris?" tanya Eka lagi sebab Rissa tak juga memberikan jawaban.


"Aku juga tak tahu, Ka. Mungkin kamu bisa cari tahu."


"Kalau kamu diposisi itu, apakah kamu akan memberi izin?" Eka masih belum bisa mengalihkan perhatiannya dari Rissa. Ia ingin mendapatkan jawaban Rissa, ia butuh jawaban itu. "Lelaki itu,aku mengenalnya tiga tahun lalu saat studi banding. Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, Ris. aku terus berdoa agar ia menjadi jodohku. Tapi ternyata saat kami dipertemukan kembali, lelaki itu menikah dengan perempuan lain. Aku patah hati, Ris. Aku bahkan seperti kehilangan semangat hidupku. Tapi mendengar masukan dari kamu, rasanya aku seperti mendapatkan harapan. Kamu tahu, kan, Ris. Aku sulit untuk jatuh cinta. Ini untuk pertama kalinya dan aku sangat berharap padanya. Sangat, Ris!"


Rissa sendiri belum bisa memberikan jawaban. Ia malah ngeri sendiri dengan apa yang ia katakan pada Eka. Tanpa sadar ia malah menyesal sudah mengatakan hal tersebut. Harusnya ia tak memberi Eka harapan. Harusnya ia membiarkan Eka membunuh harapannya pada laki-laki yang telah memiliki pasangan itu dan berdoa agar Eka bisa sembuh dengan sendirinya.

__ADS_1


Namun, apa yang sudah dilontarkan tak mungkin ditarik kembali sehingga yang ada hanyalah penyesalan.


"Kenapa diam, Ris? Apa jawaban yang akan kamu berikan kalau kamu diposisi itu?" Eka terus mendesak hingga tiba-tiba terdengar suara tawa Rissa, sehingga Eka yang sempat tegang langsung terdiam tak bisa berkata-kata.


__ADS_2