Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
20 Tahun


__ADS_3

"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun sayang, selamat ulang tahun." Sam berdiri di hadapan Rissa sambil memegang sebuah kue tart coklat dengan jejeran lilin kecil memenuhi bagian tengah kue. Rissa yang baru bangun terkesima melihat pemandangan di hadapannya. Ia tak menyangka akan mendapatkan surprise seperti ini dari suaminya.


Rissa tersenyum puas usai meniup lilin. Ia semakin bahagia ketika Sam menyatakan memberinya sebuah permintaan sebagai hadiah ulang tahunnya. Sebenarnya tak ada yang diinginkan Rissa lagi sebab rasanya semua sudah dia dapatkan usai menjadi istri Sam. Tapi Sam mengijinkan Rissa untuk menyimpan permintaan itu dulu hingga ia benar-benar memiliki sesuatu yang diinginkan dan Sam janji akan mewujudkan, apapun itu.


"Baiklah, aku akan menyimpan tiket emasku yang ku sebut dengan keberuntungan. Sebab ini benar-benar sebuah keajaiban dalam hidupku. Dihargai oleh pasangan sendiri." ucap Rissa dengan suara pelan.


"Dengar ... aku akan selalu menyayangi kamu, apapun yang terjadi. Bagiku kamu sangat berharga!" Sam menekankan. Ia benar-benar tak mau istrinya merasakan perasaan tak bahagia lagi. Untuk itu ia siap melakukan apapun.


"Oh ya sayang, kapan kita ke rumah sakitnya?" Tanya Rissa, mengingat mereka sudah dua hari di sini dan Sam tak kunjung mengungkit masalah berobat. Padahal sebelumnya Sam mengatakan hari pertama sampai mereka akan langsung ke rumah sakit. Sebenarnya Rissa curiga ada sesuatu, tapi ia tak terlalu ambil pusing, berobat ataupun tidak bukan hal penting untuknya sebab sekarang ia merasa kondisi tubuhnya membaik, berada dekat dengan Sam sudah lebih dari cukup. Ia sehat dan akan baik-baik saja.


Sam tak menjawab, malah mengalihkan pembicaraan makanya Rissa semakin yakin ada hal yang tidak beres.


***


Rissa akhirnya memberanikan diri menelepon dokter Ines, ibu mertuanya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dokter Ines awalnya tidak tega menjelaskan, namun Rissa mendesak dan karena merasa ia berhak tahu makanya akhirnya dokter Ines menceritakan semuanya juga.


[Jadi begitu?] Rissa gemetar. Separah itukah virus yang ada di kepalanya?


Usai menutup telepon, Rissa termenung. Ia tak menyangka akan sebegini rumitnya. Untuk pertama kalinya akhirnya ia merasa ketakutan juga. Ia baru saja merasakan kebahagiaan masa akan meninggal secepat itu kalau tidak menjalani eksperimen yang diceritakan ibu mertuanya.


Untuk pertama kalinya, Rissa membaca semua artikel berkaitan dua rekan kerjanya yang sama-sama jadi bahan penelitian para profesor itu. Memang agak susah menemukan berita lengkapnya di internet, tapi dari gambaran kematian mereka saja sudah bisa membuat Rissa linglung ketakutan.

__ADS_1


"Sayang," tiba-tiba saja dokter Sam pulang. Melihat ekspresi Rissa yang sedih membuat dokter Sam khawatir kalau terjadi sesuatu pada istrinya, usai di sesak barulah Rissa buka suara kalau ia sudah tahu semuanya.


"Aku nggak akan kenapa-napa, kan?" Tanya Rissa sambil memaksakan senyum. "Sayang, aku sangat yakin aku akan panjang umur. Orang bilang, hati yang bahagia bisa jadi sebuah obat. Aku akan hidup dengan bahagia karena ada kamu dan nanti kita akan punya anak-anak yang banyak. Tapi tidak untuk dijadikan eksperimen. Anak-anak kita akan tumbuh layaknya anak-anak normal lainnya. Tak perlu ada penelitian penelitian dalam hidupku. Aku gak membutuhkan itu!" Rissa yang awalnya berusaha tenang akhirnnya terbawa emosi juga. Sebenarnya ia sangat takut, makanya jadi terguncang seperti ini.


"Maaf sayang, maaf. Aku janji akan berusaha untuk menjaga kamu!" Kata Sam.


"Kalau begitu ayo kita pulang saja. Aku nggak mau disini. Ayo pulang!" Rissa merengek. Ia yang hanya lulusan SMA tak bisa memikirkan kecanggihan ilmu pengetahuan sejauh itu. Tentang penelitian-penelitian yang diluar akalnya sebab ia yang awam.


***


Rissa bermimpi buruk. Ia dibangunkan oleh Sam dengan kondisi basah kuyup karena banjir keringat. Usai pembicaraan itu ia jadi parno, takut kenapa-napa. Makanya sampai terbawa ke alam bawah sadarnya dan menjadi mimpi buruk.


"Untuk apa ke rumah sakit? Kan nggak ada obatnya." Jawab Rissa dengan suara pelan.


"Sayang ... maaf, tapi setidaknya kamu bisa mendapatkan vitamin agar lebih segar." Kata Sam.


"Enggak usah, aku nggak apa-apa." Baru saja ia hendak bangkit namun langsung tersungkur, untungnya Sam siaga, langsung menyambut Rissa dan membantunya duduk.


"Tuh kan, kamu lemas sekali. Ayo kita ke rumah sakit saja. Aku akan menggendong kamu." Kata Sam.


"Enggak usah." Jawab Rissa.

__ADS_1


"Tapi,"


"Aku bilang nggak usah ya nggak usah!" Rissa yang sudah terbawa emosi akhirnnya berbicara keras juga. Sebenarnya ia tak berniat begitu, hanya saja perasaanya sedang kacau makanya kelepasan seperti itu. "Maaf, aku ...."


"Nggak apa-apa. Aku mengerti." Sam memeluk Rissa, memberinya energi agar perempuan itu tahu bahwa ada laki-laki yang akan selalu ada untuknya.


"Aku takut,"


"Ya, aku mengerti. Aku akan mendampingi kamu. Kita tak akan menjalani pengobatan yang tak kamu inginkan."


"Aku takut mati. Aku takut masuk neraka, aku ... baru saja merasa hidup bahagia tapi semuanya akan hilang!" Tangis Rissa pecah. Ia benar-benar takut. Selama dua puluh tahun ini hidupnya sembarangan. Hanya sibuk dengan urusan dunia. Kini, setelah ia sakit, ia berhadapan dengan kematian. Makanya ia khawatir, bagaimana kalau tiba-tiba meninggal sementara belum ada bekal yang ia miliki.


"Ayo kita berubah sama-sama." Kata Sam. "Sembari berobat. Kita perbaiki semuanya. Siapa tahu dengan begitu Tuhan akan membantu kita."


Untuk pertama kalinya Rissa salat berjamaah bersama suaminya. Selama ini Sam selalu salat sendiri. Rissa sudah diajak tapi menolak dengan berbagai alasan makanya Sam tak terlalu memaksakan.


Sepasang pengantin baru itu melaksanakan salat tahajjud bersama. Mereka banjir air mata, mengadukan segala keresahan hati masing-masing. Sam yang tak henti mendoakan Rissa, Sementara Rissa meresahkan bekal hidupnya. Ia benar-benar takut. Ia ingin hidup lebih lama lagi. Ia ingin merasakan punya keluarga lengkap. Punya anak-anak yang banyak.


"Kenapa kamu tak mau melakukannya?" tanya Rissa hati-hati. "Kamu takut anak-anak kita jadi eksperimen, kan? Atau kamu takut aku tak sanggup menjalankannya lalu mati?"


"Bukan begitu, aku hanya ...." Sam tak mampu menjawab sebab tuduhan Rissa benar. Ia sengaja tak memberi hak Rissa sebagai istri meski ia mampu sebab ia takut Rissa tambah sakit nantinya atau ia tergoda dengan apa yang ditawarkan profesor pada anaknya nanti demi menyelamatkan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2