
Pagi ini, sebelum ke lab untuk memulai penelitiannya, Sam mengantarkan istrinya menuju kosan untuk menemui Tari sahabatnya. Setelah menikah dengan Abas, Tari kini tinggal bersama keluarga suaminya. Rissa sendiri belum tahu bagaimana kabar sahabatnya itu sebab saat ia kembali usia menghilang karena kejadian kebakaran, Tari tengah berada di kampung halamannya untuk melangsungkan pernikahan yang sempat tertunda untuk menghormati dirinya.
Makanya sekarang Rissa ingin memberi kejutan sekaligus memberi hadiah untuk Tari dan mas Abas. Ia sudah tak sabar, sembari menggenggam erat kado pernikahan yang sudah disiapkannya jauh-jauh hari. Sepasang pakaian untuk Tari dan Abas. Juga tiket liburan ke Bali dari Sam untuk mereka. Tak lupa ia membawa makanan dan minuman yang cukup banyak yang tentunya akan diberikan untuk keluarga kecil Tari dan ibu mertuanya. Mereka sangat berjasa terhadap Rissa, makanya ia sangat ingin membalasnya dengan kebaikan yang mungkin tak akan bisa menggantikan kebaikan Bu Yana dan keluarganya.
Sebenarnya Sam agak bimbang memberikan hadiah tersebut mengingat dirinya dan Rissa saja belum bulan madu. Namun Rissa mengatakan tak mengapa. Ia akan bersabar menanti hingga pekerjaan suaminya selesai.
Sampai di depan gang, mobil berhenti sesuai permintaan Rissa. Gang ini memang tak terlalu besar, namun cukup untuk satu mobil. Hanya saja Rissa ingin memberi kejutan, makanya ia meminta turun di sini saja
"Ingat, kalau sudah selesai langsung telfon ya supaya aku bisa meminta supir untuk menjemput kamu." kata Sam, sambil mencium kening istrinya. "Aku sangat mencintaimu, sayang." ungkap Sam.
"Aku juga. Bayi kita juga!" ujar Rissa sambil tersenyum. Ia yang berpembawaan ceria langsung tersenyum sumringah kala Sam kembali mengucapkan kata cinta untuk dirinya dan calon anak mereka.
"Ingat untuk selalu berhati-hati. Kalau ada apa-apa langsung kabari!" Sam kembali mengingatkan.
"Siap!" sebelum suaminya kembali mengucapkan kata cinta dan mengulangi pesan agar ia berhati-hati dan menghubungi kalau ada apa-apa, Rissa segera turun. Ia melambaikan tangan lalu berlalu masuk ke dalam gang. Sementara Sam hanya bisa melihat kepergian istrinya dari dalam mobil. Setelah Rissa hilang dari pandangannya barulah ia berlalu menuju lab.
***
Di jalan kecil, antara kosan dan rumah Bu Yana, mertuanya Tari, Rissa berdiri. Ia tersenyum melihat tempat tinggalnya selama beberapa tahun setelah keluar dari panti asuhan. Tempat yang sederhana namun menjadi tempat ternyaman karena di sana ia tinggal. Meski tanpa keluarga namun tetap hangat karena ada Tari, Bu Yana dan mas Abas. Mereka bertiga begitu baik pada Rissa. Makanya ia datang ke sini sebagai tanda bahwa ia mengingat mereka.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" Rissa melongok ke depan pintu sembari mengetuk pelan beberapa kali. Dari dalam rumah terdengar suara Tari. Mendengarnya Rissa jadi tak sabar. "Baaaa!" Rissa mengagetkan Tari hingga sahabatnya itu terperanjat.
"Ri Rissa?" kata Tari. Ia langsung melompat, memeluk Rissa erat-erat hingga Rissa kesusahan bernafas. Untungnya Bu Yana segera datang sehingga Tari melepaskan pelukannya.
Mereka bertiga saling melepas rindu. Tari dan Bu Yana mendengar cerita singkat Rissa tentang apa yang menimpanya. Mereka bertiga juga sampai menitikkan air mata sebab ini semua seperti mimpi. Mereka sangat bahagia sebab akhirnya harapan mereka terwujud agar Rissa kembali yang semula dirasa mustahil namun ternyata Allah berkehendak lain
"Kalian ngobrol dulu ya. Ibu mau kepasar dulu membelikan makanan. Pokoknya saling melepas rindu saja. Ibu benar-benar bahagia kamu kembali, Ris!" Bu Yana kembali memeluk Rissa sebelum akhirnya pamit ke pasar.
Rissa juga bercerita pada Tari bahwa sebentar lagi ia akan punya anak. Kabar gembira itu diikuti kabar yang serupa dari Tari. Rupanya mereka berdua sama-sama menjadi ibu hamil, hanya saja kandungan Tari masih sangat muda.
"Wahhh senangnya. Kalau anak kita lahir nanti pasti mereka akan jadi teman." ungkap Tari
"Nggak hanya sekedar teman, tapi saudara!" tambah Rissa, membuat Tari yang sempat canggung khawatir Rissa tak terima akhirnya bisa tersenyum lega sebab sahabatnya itu benar-benar tak berubah. Ia tidak sombong meski sudah menjadi istri dari dokter muda yang kaya raya.
***
Carissa tampak canggung ketika berhadapan dengan Sam. Ia tersenyum malu ketika Sam memberikan jas untuk masuk ke lab. Ini seperti sebuah perhatian kecil yang membuatnya berbunga-bunga. Dari dulu Sam itu memang begitu, selalu memberikan perhatian sederhana namun sukses membuat Carissa bahagia. Namun senyum itu langsung pudar ketika mata Carissa bertatapan dengan Yoga. Rupanya sejak tadi ia memperhatikan Carissa, termasuk ketika Carissa salah tingkah hingga canggung pada Sam.
"Tak usah terlalu berlebihan, bersikap biasa saja!" Yoga berbisik pada abangnya.
__ADS_1
"Apa?" Sam tak paham.
"Carissa!" jawab Yoga
"Oh," Sam melirik Carissa dan tak sengaja Carissa pun mencuri pandang pada Sam hingga gadis itu kembali tersipu malu dan pemandangan itu tak lepas dari pandangan Yoga, makanya ia semakin kesal. Kenapa harus seperti itu?
"Konsentrasi saja pada tugasmu!" Sam menegaskan.
"Tapi Caris terus mencuri pandang padamu!" Yoga terus menegaskan.
"Itu urusan dia, tak ada urusan dengan aku!" balas Sam. "Lagian siapa yang bisa mengontrol hati orang lain! Tugas kamu itu hanya berusaha mendapatkan hatinya, kalau masih juga gagal ya sudah, berarti ia bukan jodoh kamu!" tambah Sam. Ia segera menuju kaca ruang biru, tempat obat-obatan itu akan ditata. Sam mengintip sambil menyamakan catatan ayahnya dengan apa yang sudah dikerjakan. Langkah-langkahnya sudah sesuai, sekarang tinggal menunggu racikan dari Doktor Ahsan dan profesor Tao.
"Rissa ... aku tengah berusaha, bukan hanya untuk melanjutkan penelitian ayah, tapi juga untuk menemukan obat untuk kamu." Sam berbisik pada dirinya sendiri.
***
Rissa sudah berada di rumah. Ia pulang dari rumah Tari usai makan siang. Sekarang Ia tengah membuat tulisan-tulisan di kertas origami yang kemudian di liat dan dimasukkan dalam botol bening yang cukup besar. Sudah sepekan lebih Rissa mengerjakannya namun belum juga selesai.
Tulisan-tulisan ini akan menggantikan aku menemani Sam. Kata Rissa. Ia masih sangat bersemangat menyiapkan hampir dua puluh ribu tulisan kecil yang dicicil tiap harinya.
__ADS_1
Sebenarnya Rissa juga sedih jika harus menuliskan seperti ini sebab ia ingin menemani langsung Sam hingga akhir namun ia juga masih ketakutan dengan kemungkinan yang mungkin saja terjadi.
"Semoga ini cukup." kata Rissa, ia melirik kalender di atas meja. "Suamiku, aku akan bertahan sekuat mungkin agar bisa terus menemani kamu hingga akhir!" ungkap Rissa lagi. "Juga anak kita!"