Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Kacau


__ADS_3

Mata Rissa terbuka. Bulu matanya yang lentik mengerjap. Air matanya sudah kering. Meski masih terlalu lemas, ia memaksakan untuk bangkit. Pergi tanpa sepengetahuan Tari.


Rissa menumpang pada ojek yang mangkal di ujung gang kosannya. Tujuannya adalah rumah sakit Pratama. Ia ingin tahu kebenaran dari informasi yang diberikan oleh Fian.. sejujurnya Rissa benar-benar terpukul mengetahui semuanya. Hatinya yang semula berbunga-bunga mendadak layu mendengarkan semuanya.


Langkah Rissa terhenti di depan pintu ruangan dokter Sam. Dari pintu yang sedikit terbuka, ia mengintip Dokter Sam tengah berbincang dengan seseorang yang tidak terlihat jelas oleh Rissa, sebab ia berdiri membelakangi. Perempuan berperawakan tinggi langsing dengan rambut panjang terurai sebahu.


"Bu Carissa." Rissa mengerutkan keningnya. Ia adalah salah satu pimpinan di pabrik tempatnya bekerja. Tiba-tiba Rissa ingat sesuatu. Berarti perkiraannya benar, bahwa sebelumnya ia merasakan pernah bertemu dengan Dokter Sam. Jangan-jangan gosip itu benar bahwa dokter Sam adalah kekasih Bu Carissa.


"Caris ... aku harus bagaimana?" dokter Sam menekuk wajahnya ke meja. "Aku benar-benar khawatir dengan gadis itu."


"Ayah tidak bermaksud buruk, Sam. Ia ingin membantu pasiennya." jawab dokter Carissa. "Bawa saja gadis itu ke Singapura. Di sana pengobatannya juga lebih baik."


Dokter Sam bangkit dari duduknya, ia hendak berjalan, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sosok gadis yang berdiri mematung di depan pintu.


"Rissa!" panggil dokter Sam.


Rissa hendak berpaling, baru berbalik tapi langkahnya sudah terhenti oleh dokter Sam.


"Lepas!" kata Rissa.


"Ris ... kamu sedang apa di sini?" tanya dokter Sam.


"Harusnya saya yang tanya. Apa arti semuanya ini? Anda ingin memperalat saya?" cecar Rissa.


Tak ingin menjadi tontonan orang-orang, Dokter Sam membawa Rissa masuk meski gadis itu terus meronta. Ia merasa tak nyaman karena sekarang berada satu ruangan dengan Bu Carissa. Salah satu orang yang diseganinya di pabrik sebab masih muda tapi karirnya sudah bagus.


"Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik." kata dokter Sam.


"Ini. Saya mau mengembalikan ini!" Rissa melepaskan cincin pemberian dokter Sam.


"Sepertinya aku harus pergi dulu agar kalian leluasa bicara." Carissa segera meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya dokter Sam.


"Saya sudah tahu semuanya. Dokter melakukan itu semua karena merasa kasihan pada saya. Juga perasaan bersalah atas apa yang dilakukan ayah dokter pada saya. Iya, kan?" tanya Rissa dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Ris,"


"Sudahlah. Sekarang sudahi saja semuanya. Anda tidak perlu lagi berpura-pura. Semua itu hanya menyakitkan saja!" Rissa hendak keluar, tapi dokter Sam kembali mencekal pergelangan tangannya. "Lepaskan!"


"Ris ... Baiklah, aku akan jujur. Aku mendekati kamu karena perasaan bersalah. Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang dilakukan ayahku ...."


"Oh, berarti benar!" Rissa tersenyum miris.


"Tapi, setelah aku menjalaninya. Aku tidak bisa memungkiri kalau aku nyaman berada di sisi kamu."


"Hanya nyaman saja?"


"Ris!"


Rissa hendak berlalu, tapi lagi-lagi dokter Sam menarik tangannya. Ia tidak mengizinkan Rissa berlalu sehingga membuat gadis itu berlinang air mata.


"Lepaskan aku. Jangan persulit hidupku lagi. Anda sudah memberikan harapan palsu dan itu rasanya jauh lebih sakit daripada kanker atau apapun yang kini menyerang tubuhku!" Rissa segera berlalu, kali ini ia benar-benar tidak memberikan kesempatan pada dokter Sam untuk menghalangi langkahnya.


***


Dokter Sam benar-benar merasa kacau. Ia tak tahu harus melakukan apa. Kepalanya pusing memikirkan Rissa, tetapi gadis itu tak memberinya kesempatan apapun untuk bicara. Bahkan ia mengembalikan cincin yang dihadiahkan sebagai pertanda lamaran.


"Sam ... ada apa?" dokter Ines masuk ke dalam ruangan putra sulungnya. Ia buru-buru ke sini setelah mendengar kabar dari Carissa.


"Ia sudah tahu semuanya." ujar dokter Sam sambil meremas rambutnya.


"Lalu?"

__ADS_1


"Ia memutuskan hubungan kami, lalu pergi tanpa memberikan kesempatan padaku untuk menjelaskan semuanya."


"Lalu kamu tidak mengejarnya?"


"Bu ... Rissa sudah menepisku!"


"Tapi itu bukan berarti semuanya benar-benar sudah berakhir. Toh kamu bisa menjelaskan semuanya. Kamu tak bersalah di sini, hanya ingin menolong gadis itu."


"Bu, apalagi yang bisa kulakukan pada orang yang sudah menolak ku dengan keras."


"Sam, Rissa itu sama seperti perempuan kebanyakan. Meski ia menolak belum tentu ia benar-benar sudah menutup semua pintu kesempatan. Kamu harus berjuang agar benar-benar mendapatkan hatinya."


"Begitukah, Bu?"


"Yap!"


"Lalu bagaimana dengan formulanya?"


"Itu urusanku, sekarang majulah!" dokter Ines mendorong punggung anaknya agar segera bergerak mengejar Rissa yang sudah pergi sejak beberapa waktu lalu. Sejujurnya ia merasa de Javu. Dulu, peristiwa yang sama pernah terjadi antara dirinya dan mantan suaminya, ayah Sam. Ia mengatakan tidak mau lagi dan suaminya dengan polosnya menganggap ia benar-benar sudah tidak mau lagi melanjutkan hubungan itu sehingga tak pernah ada perjuangan padahal mereka masih sama-sama mencintai


Kala itu, malam sebelum menikah dengan calon istri barunya, dokter Syahril Pratama menemui dokter Ines. Ia mengaku frustasi sebab masih mencintai dokter Ines namun selama ini tak berani memperjuangkan. Makanya ia mencari pelarian, menjalin hubungan dengan istri barunya. Namun malam sebelum menikah ia memberanikan diri menemui dokter Ines untuk membuat hatinya lega dengan mengungkapkan semuanya kembali.


"Aku masih sangat mencintai kamu Ines. Sampai kapanpun, hanya kamu dan anak-anak yang ada dalam hatiku. Maafkan aku, berpaling adalah caraku untuk melupakan kamu tapi ternyata tetap saja tak bisa. Aku masih memikirkan kalian." Kata dokter Syahril saat itu.


Bisa-bisanya ia mengatakan hal tersebut padahal esok pagi akan menjalani pernikahan. Dokter Ines sangat tahu diri, meski ia pun masih mencintai mantan suaminya namun ia juga tak mau menghancurkan kehidupan perempuan lain. Makanya ia menyatakan dengan tegas tak mau menerima mantan suaminya kembali sebab hatinya sudah tidak mencintai ayah dari anak-anaknya. Keputusan itu membuat hati dokter Syahril mantap untuk melanjutkan pernikahan barunya. Keputusan yang terbaik bagi mereka berdua meski masih sama-sama cinta.


Dan sekarang anaknya itu melakukan hal yang sama, merelakan begitu saja perempuan pertama yang ia cintai hanya karena perkataannya. Padahal dokter Ines tahu kalau Rissa pasti mencintai anaknya.


***


Rissa masih duduk bertopang dagu di depan taman kota. Tiba-tiba seseorang yang tak diharapkannya datang menghampiri. Orang yang sudah mengintai Rissa sejak ia pergi dari kosan, ke rumah sakit hingga ke tempat ini.

__ADS_1


"Ris ...." kata Fian, tanpa perlu minta izin ia langsung duduk di sebelahnya. Sebenarnya Rissa sudah memberikan isyarat agar ia pergi tapi Fian tidak mempedulikan, ia tetap memaksakan diri berada di samping Rissa. "Aku tahu kamu bingung dengan semua yang terjadi. Tidak seharusnya juga aku meninggalkan kamu saat kondisi kamu benar-benar gamang." ungkap Fian. "Ris, jujur ... aku memang sempat gamang saat tahu kamu sakit. Tapi jujur, aku begitu karena takut kamu tidak mendapatkan yang terbaik. Aku tak punya jalan lalin selain harus melepaskan kamu. Maafkan aku Rissa."


__ADS_2