Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Apakah Ia Hantu?


__ADS_3

"Dokter Pratama? Maksudnya?" pihak informasi menatap bingung pada Tari. Ia bahkan sampai mencolek teman di sebelahnya, lalu mereka saling berbisik.


"Iya, dokter Safril Pratama. Kami ada perlu dengan beliau. Bisa kami tahu dimana ruangan prakteknya?" kata Tari dengan penuh percaya diri.


"Dokter Safril? Untuk apa ya mbak-mbak di sini mau ketemu?" tanya teman si resepsionis.


"Ada hal penting! Kemarin kami sempat ngobrol, dan sekarang ingin melanjutkan apa yang kami obrolkan tapi kebetulan kami lupa janjian." jawab Tari lagi.


"Janjian? Kemarin ngobrol? kalian yakin, itu dengan dokter Sahril?" tanyanya lagi, ia kembali saling colek dengan temannya.


"Iya. Jadi, bisa kan kami ketemu dokter Sahril? di mana ruangannya? Ia ada praktek kan hari ini?" tanya Tari lagi, ia sudah tak sabaran.


"Tapi dokter Sahril sudah meninggal." jawab pihak informasi setelah mereka saling pandang.


"Apa? Meninggal?" kataku dan Tari bersamaan.


Rasanya aku mau pingsan ketika mendengar cerita dari bagian informasi bahwa dokter Safril sudah meninggal sejak tiga bulan lalu. Ia bunuh diri dari atas Rooftop.


Pantas saja, ia selalu berada di rooftop. Tadi, keningnya juga dingin. Ia menepiskan tanganku. Jadi, ia adalah hantu?


Bruk. Aku kembali tak sadarkan diri. Untung saja ini di rumah sakit sehingga bisa cepat mendapatkan penanganan.


***


Aku masih terbaring lemah di atas tempat tidur meski sudah seharian setelah tak sadarkan diri usai mengetahui kalau dokter yang ku temui di rooftop adalah hantu. Ya, bagaimana aku tidak syok kalau ternyata selama tiga kali pertemuan aku berbincang dengan hantu, makhluk yang berbeda alam denganku.

__ADS_1


Ujian apalagi ini?


Aku juga menyesali, kenapa juga jantung ini bisa berdebar-debar. Tetap saja, meski penampakannya tampan, kalau nanti sudah berubah wujud ke aslinya pasti sangat menyeramkan. Aku langsung bergidik ngeri. sampai memejamkan kedua mata sembari menggelengkan kepala dengan cepat agar ingatan tentang hantu itu hilang.


"Oh tidak!" aku menggelengkan kepala lagi sebab wajahnya masih terbayang, sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


"Ris, sudah, jangan dipikirkan lagi!" cetus Tari.


"Bagaimana caranya supaya nggak kepikiran. Bayangkan, aku tiga kali bertemu dengannya dan ia sampai melamarku. Mengerikan sekali, bukan? Kalau kami jadi menikah, bisa-bisa ia akan membawaku ke negerinya yang tidak terjamah oleh manusia atau jangan-jangan aku akan dibunuhnya agar sama-sama jadi hantu." aku tambah ketakutan. Heran juga, kenapa makhluk halus bisa suka padaku?


"Ngaco kamu. Kalau ia mau membunuh, pasti sudah dilakukan sejak awal, atau ia tak perlu susah-susah menghalangimu untuk bunuh diri. Dibiarkan saja biar kamu mati."


"Lha, terus untuk apa ia hadir di hidupku?"


"Iihhhh tetap saja ngeri. Kamu nggak takut apa Tar kalau punya teman yang hidupnya dengan hantu? Nanti bisa-bisa kamu ditaksir sama hantu juga. Hahahaha. Lagian ini bukan sinetron Tari, manusia bisa bersatu dengan makhluk yang beda alan. Ngaco banget. Terlalu tinggi khayalannya!"


"ihhh amit-amit. Ya pasti takutlah. Kalau itu terjadi aku akan menjauhi kamu. Gila aja, seram ihh! Kamu juga jangan dekat-dekat aku, lho Ris. Masa kamu tega, selama ini aku sudah baik tapi kamu tega sama aku. Harusnya kamu dekati Mayang saja."


"Tuh kan. Iya deh, aku nggak bakalan gangguin kamu, kan kamu teman terbaikku."


Sudah pukul enam lewat tiga puluh menit, Tari pamit karena ada hal yang harus ia urus di pabrik. Ia janji akan segera kembali secepatnya.


"Hati-hati ya Ris, jangan ke rooftop lagi, apalagi sendirian. Jangan mikirin hantu itu lagi. Biasanya kalau kamu pikirkan maka ia akan datang." ujar Tari, sebelum berangkat. "Aku akan mampir di ruang perawat dulu, mesanin supaya nanti gantiin infus kamu yang sudah tinggal sepertiga." Tari pamit sambil melambaikan tangannya.


***

__ADS_1


Beberapa orang dokter dan bagian administrasi rumah sakit mendatangi ruang rawat inapku. Mereka mempertanyakan tentang kebenaran aku bertemu dengan hantu dokter yang sudah meninggal itu. Mereka agak heran dan aku sangat yakin mereka tak percaya dengan apa yang aku alami.


Lagian siapa juga yang mau ngarang cerita seperti itu. Apa mereka mengira aku melakukannya supaya viral? Memang mereka tak tahu kalau aku saja takut dengan pertemuan itu.


Untungnya mereka tidak berlama-lama di kamarku. Mereka hanya meminta agar aku tak menceritakan kejadian tersebut kepada orang lain agar tak mengundang hal yang tidak diinginkan. Aku hanya mengangguk -angguk. Setuju!


***


Aku berniat untuk tidur sebab mata ini sudah sangat mengantuk. Ketika hendak menarik selimut karena udara terasa lebih dingin, tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka. Ku pikir itu adalah perawat yang dipanggil Tari. Makanya aku hanya mengintip sebentar dari balik selimut tapi tiba-tiba aku terbelalak, kantuk yang tadi menyerang langsung hilang.


"Ha ... ha ... han," aku tak sanggup berkata-kata, tubuh ini gemetaran melihat sosok memakai jas putih itu berjalan mendekat ke arahku. Andai saja saat ini bisa pingsan, mungkin itulah yang terbaik. Tapi kesadaran ini tak juga mau hilang hingga membuatku gemetaran.


Aku tak tahu harus melakukan apa. Hanya berharap segera tak sadarkan diri agar tidak perlu melihat hantu itu lagi. Tapi kesadaran ini tak kunjung hilang. Untuk bangkit dan berlari dari kamar inipun aku tak mampu sebab tubuh ini masih lemah, lagipula hantu itu berdiri tepat di depan pintu, sama saja bunuh diri jika harus menerjang atau menerobosnya, bahkan sekedar berteriak pun aku tak sanggup.


"Habislah aku!" begitu pikirku.


aku mulai menyesali, kenapa selama tiga tahun ini tak pernah lagi beribadah sehingga tak ada hafalan doa maupun ayat pendek yang bisa dibaca. Padahal aku tahu, ayat-ayat Allah bisa mengusir makhluk halus.


Mungkin karena itulah hantu itu mendekati aku sebab ia bisa merasakan kalau ibadahku benar-benar sedang berada di titik terendah. aku semakin menyesal, ingin menangis, tapi air matapun tak bisa mengalir. Kini aku hanya bisa pasrah, jika memang ini akhir hidupku, dikejar-kejar oleh hantu, atau, jika Tuhan memberi kesempatan kedua maka aku mulai berjanji pada diri sendiri akan berubah jadi lebih baik. Ya, aku meminta kesempatan kedua pada Tuhan. Rasa-rasanya, bagiku, meninggal karena kanker jauh lebih baik ketimbang meninggal karena dikejar-kejar hantu. Horor sekali, bagi orang yang tak suka hal-hal seperti itu, aku merasa sangat takut sekali.


"Hei, kenapa kamu tidak datang kemarin? Aku menunggumu seharian!" katanya.


Sementara aku hanya bisa mendekap erat selimut, apalagi saat aku melihat hantu berpakaian dokter tersebut berjalan mendekat ke arah tempat tidurku.


Apakah ia akan mencekikku? Atau membawanya pergi ke dunia ghaib? Aku masih mengira-ngira.

__ADS_1


__ADS_2