Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Tangisan Sam


__ADS_3

Eka masih duduk mematung, ini untuk kedua kalinya ia kembali ke rumah sakit yang kini sebagian besar sudah jadi puing-puing. Ia tak lagi peduli dengan orang-orang yang lalu lalang. Bahkan, ia tak peduli dengan kondisinya yang sudah kacau balau. Sejujurnya ia takut, bagaimana kalau Sam mempertanyakan keberadaan Rissa. Apa yang harus dijawabnya? Kemarin, ibu kepala mengabari kalau Sam mencarinya. Mengingat itu membuat tubuhnya bergetar hebat. Ia ingin menangis namun air matanya sudah kering sejak semalam.


"Eka?" Tari mendekat. "Eka? Rissa ... mana Rissa? Aku ditelepon dokter Sam, katanya Rissa terakhir bersama kamu. Benar?" tanya Tari dengan penuh harap.


Tari baru pulang dari kampungnya. Ia segera menuju rumah sakit yang sudah terbakar ditemani oleh Abas. Sebenarnya mereka akan melangsungkan pernikahan, namun mendengar berita ini membuat Tari memutuskan untuk segera ke Jakarta. Ia tak bisa menunda-nunda meski akan menjalani acara sakral. Baginya, pernikahan yang meski sudah dipersiapkan sedemikian rupa masih bisa diundur dibandingkan tahu keberadaan sahabatnya.


"Ka, jawab? Kenapa kamu diam saja?" Tari mengguncang tubuh Eka agar mau bicara


Eka benar-benar bingung harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia mengakui semuanya sebab bisa-bisa semua orang marah dan membencinya. Eka sangat takut sekali. Makanya dalam kondisi terpojok, muncul bisikan setan agar ia berbohong saja dan sayangnya Eka memilih jalan itu untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Rissa ... Rissa," Eka gemetar. "Dia masih di kamarnya." Kata Eka.


"Tapi ... kok bisa? Bukannya kalian bersama? Kenapa kamu enggak menolong Rissa? Bukannya dokter Sam meminta kamu menjaganya sampai suaminya kembali?" Tari mendesak, saking emosinya ia sampai mendorong-dorong tubuh Eka. Untungnya ada Abas yang membantu memisahkan dua perempuan itu.


"Aku mau menolongnya, Tar. Mau. Tapi ... kamu nggak tahu bagaimana kondisik kala itu. Beberapa menit sebelum kejadian kebakaran, aku diminta Rissa untuk membeli makanan di kantin. Ia bilang lapar, ingin makan. Aku sudah bilang agar minta bantuan perawat saja karena aku takut meninggalkan Rissa sendiri. Aku ingin menjaga amanah dokter Sam. Namun ia tetap memaksa. Aku tak punya pilihan sebab akupun kasihan melihatnya kelaparan. Makanya aku ke kantin. Tapi siapa sangka, kejadian itu terjadi. Aku sudah berusaha menuju kamar Rissa namun karena situasi sangat kacau makanya aku tak bisa meraih Rissa. Sampai api hampir menbakarku, aku tak bisa mendapatkannya." Eka menangis. "Maafkan aku Tar, kalau aku tahu akan seperti ini, aku lebih baik menerima dimarahi Rissa daripada membiarkan dirinya sendiri. Tapi kan semuanya takdir Tuhan, aku tak bisa mengelak."

__ADS_1


"Maaf Ka, aku hanya takut terjadi hal buruk pada Rissa." Tari memeluk erat Eka. Ia merasa bersalah sudah berbicara keras pada Eka. Harusnya ia juga berempati pada Eka. Melihat kondisi dirinya yang seperti itu sudah bisa ditebak ia pun terpukul. Harusnya tak perlu ditekan lagi karena hatinya pun pasti tertekan.


Ya Tuhan aku sudah berbohong. Aku sudah mengelabui Tari. Bagaimana ini? Eka merasa sangat gelisah, namun ia sudah terlanjur melakukan sebuah kebohongan untuk menyelamatkan dirinya sesaat tanpa ia sadari akan terjerumus dalam kebohongan yang lebih besar lagi.


***


"Bu, mohon biarkan aku kembali. Aku akan baik-baik saja. Aku harus mencari istriku." Sam memohon di hadapan ibunya dengan berlutut, ia meneteskan air matanya. Berharap agar hati ibunya luluh. "Aku tahu Bu, ibu pernah kecewa pada ayah karena tak berusaha lebih maksimal memperjuangkan cintanya. Aku juga tahu ibu kecewa pada diri sendiri karena tak melakukan hal yang sama. Sekarang, jangan biarkan aku melakukan hal yang sama. Suatu saat kecewa pada diriku sendiri karena tak berjuang untuk orang yang aku cintai. Mungkin, rasaku jauh lebih mati ketimbang saat ayah dan ibu berpisah." Kata Sam


"Ya Tuhan ... Sam!" Pecah tangis dokter Ines, ia ikut berlutut, memeluk erat anaknya.


"Izinkan aku, Bu. Tolong." Pinta Sam


Izin itu akhirnya diberikan juga. Semua orang ikhlas melepas kepergian Sam kecuali Carissa. Sungguh ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada lelaki yang hingga kini masih dan akan selalu dicintainya. Carissa ingin melarang, namun siapa ia, bahkan bagi Sam ia tak lebih dari seorang saudara tiri.


***

__ADS_1


Sam kembali ke tanah air setelah hari keempat pembakaran rumah sakit ditemani beberapa orang suruhan ibunya. Sampai di bandara pun ia disambut lebih banyak lagi orang suruhan ibunya. Sam langsung meluncur ke rumah sakit dikawal ketat. Ia sengaja berpenampilan biasa sesuai instruksi bodyguardnya agar tak mencolok perhatian.


Sebenarnya kasus ini sudah ditangani pihak berwajib. Sudah ada beberapa nama yang dikantongi. Nama-nama orang yang menunggangi demonstran adalah mereka yang menjadi saingan bisnis keluarga Pratama. Tapi, mereka belum tersentuh hukum karena kekuasaan yang tak main-main. Setelah menemukan Rissa, Sam bertekad akan menyelesaikan semuanya, menuntut balas atas penghancuran pabrik dan rumah sakit mereka. Terutama rumah sakit yang akibat kebakaran terjadi banyak berjatuhan korban.


"Bagaimana? Kalian sudah menemukan istri saya?" tanya Sam pada beberapa suruhan ibunya.


"Ini, apa bapak mengenal ini?" tanya seorang pimpinan bodyguard.


Sam mengambil cincin yang diberikan. Ini adalah cincin pernikahan milik Rissa yang belum berikan. Rissa memakai ini dan ditemukan di ruangan kamar Rissa. Kemungkinan cincin ini terlepas sebab memang ukurannya agak besar. Setelah sakyr, Rissa memang mengurus.


"Ada tiga jenazah yang kami temukan di ruangan tersebut." Kata bodyguard tersebut.


"Tiga?" Sam gemetar. Namun ia tetap ikut menuju tempat dimana tiga mayat itu berada. "Ya Tuhan, aku tak akan sanggup kalau terjadi hal buruk padanya. Aku tak sanggup." Sam berbisik pada dirinya sendiri. Ia semakin gemetar ketika berada di dekat tiga mayat tersebut. Tiga-tiganya terbakar sekujur badan. Kondisi orang terbakar biasanya badannya mengecil jadi sukit untuk dideteksi.


"Hanya tiga jenazah ini juga yang tak bisa diidentifikasi karena tak ada yang mengatakan kehilangan keluarga. Tapi kami sudah melakukan tes DNA dan sedang menunggu hasilnya." Lapornya.

__ADS_1


Sam keluar dari ruangan tempat jenazah itu berada. Ia segera mencari kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Sakit sekali rasanya. Ditambah kepalanya berputar-putar.


Keluar dari kamar mandi, Sam butuh udara segar untuk menetralisir dirinya sendiri. Ia sampai harus berjalan ke arah taman dengan sempoyongan. Berusaha mengalihkan perhatian. Saat itulah muncul Tari dan Eka yang rupanya sudah melihat kedatangan Sam tapi saat akan mengejar, Sam keburu masuk, untungnya sekarang mereka bisa menemui Sam.


__ADS_2