
"Pe ... pergi!" ucapku dengan nada suara bergetar. Aku benar-benar takut. Meski ia sangat tampan tapi tetap saja statusnya hantu. Aku masih normal untuk tak menyukai makhluk lain.
"Kamu masih sakit?" tanyanya, semakin dekat denganku.
"Han ... han ... hantu," aku benar-benar akan menangis ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang perawat datang membawa selang infus, rasanya benar-benar membuat lega. Bahkan lebih melegakan ketimbang ketika aku bisa melunasi uang kosan yang menunggak. "Mbak to tolong saya!" pintaku, masih dengan suara bergetar sambil menunjuk ke arah hantu yang memakai jas dokter tersebut.
"Ya, ada apa mbak?" Tanya perawat sembari melirik ke arah hantu tersebut. Lalu ia menundukkan kepalanya. Seperti takut-takut. Aku jadi semakin yakin, tapi setidaknya ada seseorang yang bisa membantuku, apa lagi perawat tersebut memakai kerudung, ku harap bisa membaca doa apa saja untuk mengusir makhluk halus tersebut. Kalaupun tidak berhasil setidaknya aku ada teman. Mungkin aku akan mengorbankan mbak perawat itu untuk dimangsa hantu dokter. Maafkan aku mbak perawat, tapi aku gak punya pilihan lain.
"Tolong, tolong usir hantu itu!" pintaku sambil menunjuk padanya.
"Hantu?" tanya perawat. "Mbak Rissa demam atau tadi habis pingsan lagi?" perawat itu kini sudah berada di sisiku, dan dengan cekatan mengganti tabung infusnya.
"Enggak. Aku nggak apa-apa. Itu, hantu itu. Tolong suster!" pintaku. Ia menunjuk ke arah lelaki yang masih berdiri mematung.
"Maksudnya siapa, mbak? Dokter Sam?" tanya perawat tersebut dengan kening berkerut.
"Siapa? Bu ... bukannya dia itu hantu? Maksud saya, dia itu dokter Safril Pratama, kan? Itu, seperti yang ada di papan namanya." Aku menunjuk papan nama bertuliskan S. Pratama di jas lelaki itu. "Ia dokter yang mati bunuh diri itu, kan?" Aku meyakinkan. Sambil terus mengawasi sang dokter dengan sebelah mata.
"Hihihi, mbak ini ada-ada saja. Ini dokter Sam, bukan dokter Safril." perawat itu tersenyum, lalu pamit Setelah menyelesaikan tugasnya mengganti tabung infusku.
"Bagaimana ini, apakah ia akan mencekik ku?" Aku hanya bisa mengira-ngira dalam hatinya setelah ditinggalkan berdua dengan lelaki yang belum tahu identitasnya. Ya, aku kini mulai bingung, siapa sebenarnya lelaki itu? Bukankah namanya dokter S. Pratama. Di daftar nama dokter yang tertera pada bagian informasi tidak ada yang namanya dokter Sam. Lalu siapa ia dan mau apa di sini?
"Hei," lelaki yang belum jelas identitasnya itu menjentikkan jarinya di hadapan aku sehingga aku tersadar dari lamunan bertepatan dengan kepergian perawat. "Jadi kamu mengira kalau aku itu adalah hantu?" Ia bertanya dengan gaya sambil melipat tangan di dada.
"Jadi siapa sebenarnya kamu?" Aku balik bertanya.
Lelaki itu akhirnya menjelaskan siapa ia sebenarnya padakiy. Namanya dokter Sam Pratama. Dokter bedah yang belum sebulan pindah ke rumah sakit ini. Sebelumnya dokter Sam praktek di Singapura, itulah kenapa namanya belum ada di bagian informasi sebab ia belum full praktek di sini.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari dokter Sam, aku bisa bernafas lega, setidaknya tahu bahwa ternyata dokter itu bukanlah hantu.
"Lalu kenapa Anda mau melamar aku? Anda mau mencandai aku, mentang-mentang aku ini pasien kanker yang sewaktu-waktu bisa meninggal dunia?" tanyaku lagi.
"Kata siapa? Aku sungguh-sungguh. Buktinya kemarin aku menunggu seharian di rooftop dan sekarang mencarimu ke sini." ujarnya.
"Tapi kenapa aku? Kita kan belum saling kenal."
Dokter Sam tak menjawab, ia hanya diam.
"Hallo, aku bertanya kenapa tidak dijawab?"
"Karena aku yakin bisa bahagia denganmu."
"Hah? Alasan yang aneh. Kita saja baru bertemu tiga kali. sudahlah, jangan melanjutkan bualan ini lagi. Sungguh, candaan anda tidak lucu!"
"Hah, sungguh?" Aku nyaris terlonjak, sebab yang diyakini bahwa lelaki yang mengajak perempuan bertemu keluarganya berarti ia benar-benar sungguh-sungguh menjalin hubungan. Tetapi tiba-tiba nyaliku ciut mendengar ajakan dokter Sam sebab aku teringat akan mas Fian.
Lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu juga pernah mengajaknya bertemu dengan ibunya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali dan yang aku dapatkan adalah penolakan. Padahal kala itu kondisi kesehatan aku baik-baik saja. Tapi sekarang aku sudah menderita kanker. Aku langsung patah semangat.
Tak akan ada orang tua yang mau menerima jodoh anaknya seorang yang penyakitan sepertinya sebab nanti hanya akan menyusahkan saja.
"Ya, aku sungguh-sungguh!" ucapnya.
"Terimakasih, tapi aku menolak tawaran anda dokter." Aku tak ingin merasakan penolakan untuk kedua kalinya. Apalagi dalam kondisi sakit seperti ini, tak akan mudah bagiku mendengarkan kata-kata kasar yang penuh pengkhinaan seperti yang diucapkan oleh ibunya mas Fian pada Sean.
"Kenapa? Apa karena mantanmu itu? Hei, ia sudah mencampakkan kamu sampai mau bunuh diri, lalu kenapa kamu masih ingin bertahan dengannya?" Dokter Sam masih berusaha membujuk. Tapi aku bertahan karena tak yakin. .
__ADS_1
"Siapa bilang? Aku juga sudah mencampakkannya. Aku ini perempuan mahal, kemarin-kemarin memang sempat khilaf, tapi sekarang aku sudah bertaubat. Aku sudah sadar dengan kebodohanku dan sekarang aku sudah melupakannya!"
"Hmm, lalu kenapa menolak ? Padahal kamu belum memberi kesempatan. Cobalah dulu, siapa tahu aku adalah lelaki yang tepat untuk jadi jodohmu."
"Jodoh itu bukan untuk coba-coba. Kan sudah kukatakan, sekarang aku adalah perempuan mahal!"
"Baiklah, kalau begitu aku akan berjuang untuk mendapatkan kamu!"
Aku terkekeh, tapi tak melarang juga jika dokter Sam mau berusaha mendekati. Tapi aku juga akan tetap pada pendirian untuk tidak memberikan kesempatan pada siapapun, termasuk pada doker Sam meskipun lelaki itu memiliki paras rupawan dan juga bermasa depan cerah. Bagiki, sekarang lebih baik fokus pada kesehatan saja. Aku tak punya siapa-siapa untuk diandalkan selain diri sendiri.
***
Pulang dari tempat kerja,Tari buru-buru menemui aku di rumah sakit. Usai mendapatkan pesan, aku menceritakan pertemuan dengan dokter tersebut dan ia benar-benar penasaran.
"Ris ... kalau ia benar-benar manusia, sebaiknya terima saja. Ini demi masa depan kamu!" ujar Tari.
"Aku tidak mau." Aku tetap menolak.
"Ris, dengar baik-baik. Kamu itu masih sakit, entah kapan sembuhnya. Tidak mungkin mengandalkan perusahaan selamanya. Makanya kamu harus punya sandaran. Jadi terima saja lamaran dokter Sam."
"Nggak. Aku nggak mau. Lagian aku masih punya tempat bersandar yang tak akan meninggalkan aku. Ialah Tuhan. Hanya Dia tempat bersandar trrbaik yang tak akan mengecewakan, Tar." Aku berubah menjadi ustadzah, sembari menceramahi Tari.
"Benar juga sih. Tapi kenapa kamu menolaknya?"
"Aku takut jika ibunya juga menolak ku seperti ibunya mas Fian. Aku sudah tidak punya mental sekuat dulu untuk mendengarkan hinaan yang ditujukan padaku tentang kemiskinan, tak berpendidikan dan sekarang penyakitku."
"Rissa!" Tari memeluk aku erat. "Tak apa gak berjodoh dengan dokter itu, yang penting kamu bahagia selalu ya Ris!"
__ADS_1