
Sudah pukul dua belas malam. Aku kembali membaringkan diri di kasur. Mataku sudah terlalu mengantuk. Tapi baru hendak memejamkan mata, tiba-tiba Tari kembali berteriak.
"Ris ... lihat-lihat ini. Sepertinya ini cocok sama kamu." Tari memperlihatkan ponselnya padaku. Sejak pulang dari mall ia memang sibuk membuatkan akun untukku di platform pencarian jodoh. Entah sudah berapa banyak akun yang dirasa cocok dichat oleh Tari.
Tari sudah bertekad akan mencarikan jodoh, lelaki kaya raya untukku agar bisa menanggung biaya hidupku nantinya.
"Udahlah Ri, aku nggak mau ikutan yang kayak kayak gituan. Kalau kamu mau, kamu aja yang daftar sendiri." aku menepis pelan Hp Tari.
"Loh kok aku. Aku kan nggak butuh sokongan dana. Aku malah yang menyokong ibu dan adik-adikku."
"Ri, kamu kan marah banget saat Fian terus merongrong aku soal dana. Kamu sampai mengatakan ia menjadikanku sapi perah. Terus sekarang kamu mau melakukan hal yang sama ke orang lain? Nggak, aku nggak mau meskipun aku sangat butuh. Itu sama saja kita menelan air ludah yang sudah diludahi. Aku nggak mau menikah dengan seseorang hanya agar ia mau membiayai biaya hidupku nantinya. Aku nggak mau Ri, aku masih punya harga diri!"
"Iya juga sih, Ris. Maafin aku sudah ngasih ide buruk untukmu. Aku hanya kepancing si Fian saja. Lagian nyari di platform date seperti ini juga biasanya riskan. Logika saja, mana ada orang kaya yang mainannya seperti itu, mereka biasanya nyari di circle mereka. Iya kan?"
"Ya. Mending sekarang kita tidur. Aku benar-benar sudah ngantuk. Besok kita harus ke rumah sakit, kan?"
Tari segera kembali ke kamarnya, sementara aku masih terus berpikir tentang hidup selanjutnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" aku berbisik pada diri sendiri.
"Oh ya, laki-laki itu. Bagaimana aku bisa melupakannya. Aku harus melakukan apa yang dikatakannya!" aku kembali bangkit dari tidur, lalu hendak keluar, tapi sadar sekarang sudah terlalu larut.
"Dia sudah mengatakan, jangan bergantung pada manusia. Tapi pada Tuhan!" aku tersenyum. "Ya benar, dulu bunda di panti juga mengatakan hal yang sama agar aku tak bergantung pada manusia. Aku harus bisa bersabar. Aku gak akan menyerah!" kataku.
Malam ini, dalam keheningan malam, setelah lama absen, aku kembali lagi, menghadap Rabb penciptaku, meminta ampunannya, memohon keridhaan-Nya.
***
Pukul empat lewat tiga puluh menit, aki susah terbangun di atas sajadah, lalu segera berjalan keluar kamar. Mengambil wudhu, lalu salat Subuh.
__ADS_1
"Ahhh rasanya nyaman sekali." ucapku, usai berdoa dengan berurai air mata.
Selama ini ia memang tak punya teman untuk berbicara. Dengan Tari hanya sekedarnya saja sebab Tari pun sama sibuknya denganku. Tari punya tanggungan, ibu dan tiga adiknya yang masih kecil-kecil di kampung. Mereka butuh kiriman uang lebih banyak lagi, makanya sebagai anak sulung yang merangkap tulang punggung keluarga, ia bekerja keras. Sama seperti aku, tak hanya sebagai buruh pabrik, tapi juga mencari tambahan di waktu kosong. Apapaun kami lakukan, asalkan halal. Makanya kalau pulang kerja, saking lelahnya kami tak punya waktu lagi untuk saling berbincang. Tidur, hanya itu yang kami butuhkan agar kondisi kembali fitt untuk bekerja esok harinya lagi.
Aku baru selesai mengaji, tiba-tiba dari jendela, Tari melihat tak percaya sebab aku yang biasanya bangun agak siang kini bisa bangun lebih pagi.
"Angin apa yang membuatmu bisa bangun lebih pagi?" tanya Tari.
"Aku tadi salat Subuh, makanya bangun lebih awal. " kataku.
"Ka.u salat? Mengaji juga?"
"Ya, memang kenapa?" aku paham kenapa Tari heran seperti itu. Hari-hari kami tak pernah melakukannya karena kami terlalu lelah dengan pekerjaan. Pergi pagi, pulang sore atau Maghrib, bahkan kadang sampai larut malam kalau sedang lembur.
"Tidak ... tidak." Tari tertawa terkekeh-kekeh.
Aku dah Tari saling pandang. Kami sama-sama berpikir. Mengejar dunia memang melelahkan, kenapa sampai lupa akhirat.
Hidup di Jakarta memang keras. Apalagi kalau kita hanyalah butuh biasa tapi menjadi tulang punggung keluarga, bisa dipastikan tak ada hari untuk bersenang-senang.
"Kau dapat motivasi dari mana? Apakah karena sakitmu itu? Ris, aku senang kamu berubah jadi lebih baik, tapi aku tak suka kalau kamu jadi patah semangat seolah akan mati besok. Rissa, usia itu tak ada yang tahu. Bisa saja si Fian yang duluan, kan?" kata Tari.
"Lho, kenapa bawa-bawa dia segala?" tanyaku.
"Karena baiknya memang begitu. Kalau nggak meninggal duluan, Kasihan sama calon korbannya selanjutnya, kecuali si Tante-tante itu ya. Aku sudah tak peduli karena ia songong! banyak yang nggak tahan!" kata Tari.
"Siapa bilang aku patah semangat? Aku hanya teringat kata-kata seseorang."
"Siapa?" Tari mendekat, ia penasaran dengan seseorang yang aku maksud.
__ADS_1
"Namanya dokter Pratama."
"Seperti nama pemilik perusahaan tempat kita bekerja saja. Apa dia dokter yang menangani masalahmu?"
"Bukan, aku menemuinya di rooftop."
"Rooftop? Ngapain dia di sana? Untuk apa kamu ke rooftop?"
Aku nyengir. Berusaha menutup -nutupi, tapi Tari berhasil menutup masalahku.
"Rissa, jawab pertanyaanku!" kata Tari.
"Semula aku mau bunuh diri, tapi tidak jadi karena dicegah olehnya." aku memaksakan senyum.
"Astagfirullah, Rissa. Aneh ya kamu, ngapain mau bunuh diri, harusnya bersyukur lepas dari dia!"
"Sudahlah, sekarang aku sudah sadar, itu berkat kata-katanya." aku tersenyum. Lalu berjanji, keadaan itu tak akan pernah terulang lagi. Aku akan berusaha untuk tetap bertahan meskipun sebenarnya akupun juga lelah.
"Hmm, sepertinya ia berkesan untukmu. Apakah ini pertanda kau sudah move on dari lelaki parasit itu?"
"Iiihhh, bicara apa. Bagaiaman mungkin aku bisa berharap padanya. Ia itu dokter dan sepertinya bukan orang sembarangan."
"Oh ya?"
"Ahhh sudahlah. Kamu itu bicara apa? Jangan menggodaku terus. Lagi pula itu tidak mungkin terjadi, aku hanya gadis yatim piatu yang penyakitan. Sementara dia adalah seorang dokter.".
"Tidak ada yang tidak mungkin Ris? Aku berharap kalian berjodoh.".
"Apa?" aku menggelengkan kepala, meski pipinya ikut bersemu merah, membayangkan apa yang dikatakan oleh Tari. "Aghhh tidak. Kamu harus tahu diri Rissa!" pekik Rissa pada dirinya sendiri.
__ADS_1