Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Kembali Ke Panti


__ADS_3

"Oh, kalau begitu diantar sama Abas saja, ya." Bu Yana langsung memberikan isyarat pada anaknya agar menawarkan diri. Sejak awal pindah ke sini, Bu Yana sudah menunjukkan kepeduliannya padaku. Ia begitu berharap aku itu bisa jadi menantunya. Katanya, selain cantik parasnya, aku itu rajin bekerja dan ramah dengan orang-orang. mudah sekali dekat dengan siapapun sebab karakter yang ceriwis. Sayangnya Bu Yana sempat merasa kecewa karena dulu aku sudah punya pacar. Harapan itu rasanya tak ada karena aku terlihat begitu menyayangi mas Fian, apapun yang diinginkan lelaki itu selalu aku usahakan.


"Nggak usah Bu, aku naik bis saja." kataku lagi.


"Udah, di antar Abas saja. Ya kan Bas." Bu Yana langsung menyenggol anaknya.


"Aku mau mampir-mampir dulu, Bu." Aku memberi alasan dan mas Abas mengaminkan karena sebelumnya kami sudah sama-sama bicara. Sebelum semakin dipaksa, aku buru-buru kabur.


Sepanjang jalan, aku terus berpikir, betapa bodohnya sebab sudah mau menjadi sapi perah untuk mas Fian dan keluarganya.


Ada banyak hal yang dikorbankan untuk bisa bersatu dengan mas Fian. Mungkin kala itu aku terlalu gegabah, mengikuti ego saja. Tanpa bisa menilai mana yang baik dan yang buruk. Bahkan aku mengabaikan nasihat-nasihat dari orang-orang yang menyayangi dengan tulis, ialah bunda-bundq di panti yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang.


Akj berjalan pelan sembari mengenang masa kecil yang meski tanpa orang tua, tetapi cukup kasih sayang dari bunda-bunda di panti asuhan.


Kini, bayangan gadis kecil berusia delapan tahun dengan rambut panjang yang hitam, berlari kecil untuk bersembunyi usai membuat kegaduhan muncul di hadapanku. Bahkan suara panggilan bunda Nida, yang mengasuh aku sejak bayi terdengar jelas di telinga ini.


"Rissa ... Rissa ... dimana kamu berada?" bunda Nida terus memanggil namaku, pengasuh itu tak ingin masuk sebelum menemukanku. Ini pasti karena Eka, gadis yang selisih usianya lebih tua satu tahun dariku itu mengadu. Aku memang suka mengusilinya hingga menangis. Kalau sudah begitu biasanya aku lari bersembunyi sampai orang-orang panti tak lagi mempedulikannya karena sibuk dengan urusan lain.


"Ris!" panggil seseorang.


Aku tak asing dengan suara itu. Benar saja, saat menoleh ke belakang, ada Eka di sana. Menatap dengan terkejut, sampai-sampai kantong yang dibawanya tercecer ke tanah. "Apa benar itu kamu, Ris?" Eka mendekat, dengan tangan gemetaran, ia memegang tangan dan pipiku. "Ya Tuhan, ternyata benar itu kamu. Pantas saja sejak pagi tadi mataku terus bergerak-gerak, ternyata mau bertemu kembali denganmu." Eka memelukku secara refleks, sementara yang dipeluk hanya diam mematung, tak berani membalas meskipun ada begitu besar rindu di dada. "Kamu akhirnya pulang juga, kami semua sangat merindukanmu. Ris, kemana saja kamu selama tiga tahun ini? Kenapa tiba-tiba memutuskan pergi tanpa pamit. Kamu tahu, bunda Nida sampai sakit setelah kamu pergi. Ia takut kamu kenapa-kenapa, tapi tak bisa membantu sebab ibu kepala tidak mengizinkan melapor pada polisi."


"Maaf. Lalu bagaimana kabar bunda Nida sekarang?"


"Ris, bunda Nida ...." Eka menatap dengan penuh kesedihan.

__ADS_1


"Kenapa? Bunda Nida nggak apa-apa, kan? Apa ia marah padaku?"


"Enggak Ris, bunda sangat sayang sama kamu. Kamu tahu itu kan? Hanya saja Allah lebih sayang padanya."


"Maksudnya?"


"Bunda sudah enggak ada, Ris."


"Apa?" tubuhku langsung lemas, rasanya benar-benar sakit. Tiba-tiba aku ambruk.


Eka berteriak histeris, meminta bantuan pada siapapun. Untung saja jaraknya dengan panti cukup dekat jadi orang-orang panti bisa membantu Eka membopong aku masuk ke dalam.


Semua orang benar-benar khawatir sebab aku tidak sadarkan diri cukup lama. Bahkan ibu kepala berulang kali mempertanyakan kenapa aku bisa begini pada Eka.


Semua orang saling pandang. Tak ada yang bisa menjawab sebab selama tiga tahun ini aku kan menghilang dari panti tanpa kabar apapun. Ibu kepala dan bunda Nida yang paling kecewa dengan keputusanku kala itu. Itulah sebabnya kenapa ibu kepala tidak mau mencari aku.


"Bagaimana ini, ibu kepala?" kini giliran Eka yang bertanya.


"Kita tunggu sebentar lagi, kalau tidak ada perkembangan, kita bawa Rissa ke rumah sakit."


Tiga puluh menit telah berlalu. Aku sudah sadarkan diri. Tentunya dengan wajah yang masih pucat karena sedih memikirkan tentang bunda Nida. Jujur, akj merasa sangat bersalah. Sebab sudah membuat bunda yang merawatku sejak bayi meninggal dunia. Andai bisa memutar waktu, aku tak akan mengikuti ego, tak akan memenangkan Fian. Aku akan menggunakan akal sehat. Sayangnya semua sudah terjadi, bunda Nida sudah tiada dan mungkin inilah balasan untuk aku, aku ditinggalkan begitu saja dengan kondisi yang sedang sakit.


"Rissa, ikut ibu. Kita bicara di kantor." kata ibu kepala dengan suara dingin.


Meski belum pulih betul, aku menurut saja. ikut ke ruangan ibu kepala. Di sana, kami berdua berbincang.

__ADS_1


"Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?" Tanya ibu kepala. Ia memulai dengan mempertanyakan kondisiku, bukan langsung menghakimi atas kesalahan tiga tahun lalu.


Aku tidak menjawab. Barulah setelah pertanyaan kedua bisa buka mulut. "Ibu ... maafkan aku!" pintaku. "Aku benar-benar bodoh, tidak tahu kalau perbuatanku akan membuat bunda Nida meninggal."


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang, beritahu ibu, apa kamu baik-baik saja?"


Aku menggelengkan kepala. Lalu menceritakan apa yang sudah menimpanya. "Mungkin ini hukuman dari Allah sebab aku sudah membuat bunda Nida meninggal."


"Ris, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sekarang ibu mau tanya lagi, apakah kamu sudah melakukan pengobatan secara maksimal?"


"Pekan depan saya akan menjalani kemoterapi, Bu. Untuk itu saya datang ke sini. Minta maaf dan meminta doa agar semua lancar."


"Lalu lelaki itu. Kemana ia. Kenapa tidak mengantarkan kamu?"


Lagi-lagi aku tidak bisa berkata, hanya bisa kembali menunduk, sehingga ibu kepala kembali bertanya. "Hubungan kami sudah berakhir Bu, ia sudah memutuskan aku karena penyakitku."


"Jadi kalian belum menikah?"


"Belum ibu kepala."


"Bukankah waktu itu disurat kamu katakan akan menikah dengannya. Itulah kenapa ibu tak mencari kamu lagi sebab ibu tak ingin menghancurkan kebahagiaan kamu. Ibu takut jika ternyata tindakan ibu justru membuat kamu tidak bahagia. Jika pada akhirnya kalian akan menikah ibu tak masalah, tapi ternyata ia tak menepati janjinya!"


"Bu, maafkan aku."


"Ini pelajaran penting untuk kamu Rissa. Jatuh cinta boleh, asalkan jangan egois dengan cinta. Memaksakan kehendak meski tak mendapatkan izin dari keluarga yang membesarkan. Bagaimanapun juga,restu itu sangatlah penting. Rissa, kalau ia sudah meninggalkan kamu, sebaiknya sekarang tinggal di sini saja. Kamu sedang sakit, harus ada yang mengurus. Apalagi sakit kamu bukan sakit biasa. Ibu ...." belum selesai ibu kepala bicara, aku langsung menghambur dalam pelukan ibu kepala. Aku ingin merasakan ketenangan itu, berada dalam pelukan seorang ibu meski ibu kepala bukan ibu kandungku, tapi kami anak-anak panti selalu menganggap ia seperti ibu kandung sendiri.

__ADS_1


__ADS_2