
Aku sudah berbaring dengan pakaian rapi yang sengaja dibelikan oleh Tari untukku. Sebuah baju panjang berwarna putih tulang, sehingga membuat penampilanku semakin sempurna meski tanpa polesan makeup.
Tetapi aku masih sangat gugup sebab sebentar lagi dokter Sam dan keluarganya akan datang ke sini.
Aku pernah mendengar bahwa orang-orang kaya biasanya lebih ribet ketimbang mereka yang perekonomiannya menengah ke bawah. Yang pas-pasan seperti mas Fian saja ibu dan adik perempuannya jelas sekali menentangnya. Lalu bagaimana dengan keluarga dokter Sam nantinya?
Tiba-tiba aku ingat sinetron yang pernah ditonton dahulu waktu masih dl panti. Dimana ada seorang lelaki kaya yang menyukai perempuan miskin. Keluarganya menentang keras, bahkan sampai membuat kehidupan perempuan tersebut sengsara. Rasa-rasanya sangat melelahkan.
Lalu apakah hal itu akan terjadi juga padaku? Apa aku sanggup? Bagaimana kalau aku down, padahal dalam kondisi seperti ini ditekankan untuk selalu punya perasaan bahagia karena itu mempengaruhi imun.
"Jangan mikirin yang macam-macam, Ris. Kamu belum tahu kebenarannya, kan? Apakah keluarga dokter Sam seperti itu atau tidak. Bagaimana kalau ternyata mereka baik? Apa kamu nggak malu sendiri sudah berprasangka yang bukan-bukan.
Lagian sejak kapan kamu perduli dengan sinetron di televisi? Selama ini bukannya kamu sibuk kerja untuk menghidupi Fian sama keluarganya?" sindir Tari.
"Sudahlah Tar, enggak usah ungkit dia lagi. Lagipula dia kan sekarang lebih memilih kamu!" Aku balik menyindir Tari.
"Iihhhh ogah. Aku nggak sebucin dan sebodoh kamu yang rela mempertahankan anak mami seperti Fian, wajah nggak seberapa tapi kelakuan ampun. Lagian kamu yakin dia benar-benar suka sama aku? Jangan-jangan dia punya rencana lain? Fian itu memang enggak bisa diandalkan, tapi otaknya cukup licik untuk memperdaya orang lain. Baru punya wajah pas-pasan saja sudah sok-sokan mau jadi playboy. Norak!"
"Hahahaha," aku langsung tertawa terbahak-bahak, tapi jujur hati ini juga ciut. Benar sekali kata Tari, betapa bpdohnya aku selama ini.
"Jadikan ini pembelajaran hidup. Jangan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sudah cukup kamu menyia-nyiakan lima tahun hidup kamu untuknya!" tegas Tari. "Tapi lumayan juga untuk kamu ceritakan ke anak cucu kamu nantinya, Ris. Bahwa dulu, sebelum menikah dengan kakek kalian, nenek itu pernah bucin sama laki-laki manja yang nggak bertanggung jawab. Bayangkan, nenek membiayai hidupnya selama dua tahun!"
"Iihhhh Tari!" Aku langsung manyun. "Tapi, apa aku bisa bertahan selama itu?"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Sakitku, Tar. Apa aku bisa bertahan selama itu?" tiba-tiba aku merasa begitu ketakutan. Takut jika tak bisa bertahan lama lalu meninggal dunia. Ada banyak hal yang belum dilakukan. Bahkan aku merasa tidak punya sesuatu untuk bekalku kembali. "Bagaimana ini?" Aku bergumam dengan sangat khawatir.
***
Ada empat orang yang datang menemuiku pagi itu. Dokter Sam dan dua adiknya; Dokter Yoga Pratama dan Ash Pratama yang sekarang juga sedang kuliah kedokteran, serta seorang perempuan yang sudah tidak asing bagiku. Ialah Dokter Ines. Dokter yang selama ini memeriksaku. Aku jadi semakin gugup, tetapi suasana perkenalan cepat mencair sebab kehangatan dokter Ines dan Ash. Hanya dokter Yoga yang agak sedikit dingin, hanya berdiri diam seperti patung.
Dokter Ines memberikan bungkusan berisi kado untukku. Entah apa isinya, aku tak berani membukanya meski begitu penasaran. Aku yang biasanya ceriwis hanya bisa berkata satu-satu sebab terlalu grogi bertemu dengan keluarga dokter Sam.
Mereka begitu hangat sehingga membuat aku nyaman. Belum pernah aku merasa senyaman ini dengan keluarga asing, apalagi baru ku kenali.
"Rissa ... siapapun pilihan Sam, sebagai ibunya, saya selalu mendukung. Jadi, jangan sungkan dan silakan menganggap saya seperti ibu kandungmu sendiri. Apalagi saya tahu kamu sudah tidak punya orang tua. Pasti tidak mudah untuk kamu menghadapi situasi seperti sekarang ini. Kamu benar-benar anak yang kuat dan saya snagat yakin bahwa pilihan Sam sangatlah tepat." ucap Bu Ines.
" Ini benar-benar keberuntungan untukku!" kataku dalam hati. Aku benar-benar bersyukur sekali dan rasanya tak ada alasan untuk menolak semua itu.
Sayangnya pertemuan itu tak berlangsung lama sebab kesibukan Sam dan keluarga. Mereka pamit dan dokter Ines berjanji akan menemui aku kembali. Setelah kepergian dokter Sam dan keluarganya, aku dan Tari bernafas lega
"Kamu lihatkan. Persis seperti yang aku katakan, keluarga dokter Sam sangat hangat sekali. Mereka menerima kamu dengan tangan terbuka. Lalu apalagi yang kamu pikirkan?" tanya Tari.
"Aku hanya terheran-heran saja. Kenapa mereka begitu baik?" ujarku. Masih menganggap ini hanyalah mimpi. Ya, aku bahkan belum berani berharap bahwa ini nyata dan akhirnya akan seindah ini.
"Duh, Rissa. Jangan nambah beban pikiran aku lagi, Deh. Kamu sudah mendapatkan keluarga baru yang menerima kamu apa adanya. Harusnya disyukuri. Sekarang kamu harus mempersiapkan diri kamu sendiri agar mereka semakin sayang padamu."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Kalian kan akan menikah, kamu dan dokter Sam. Makanya harus mempersiapkan smeuanya!"
Aku yang smeula sudah tenang kembali gugup memikirkan pernikahan dengan dokter Sam. Apakah secepat itu?
"Tunggu apalagi, Ris? Dokter Sam akan menjaga kamu dengan sangat baik." kata Tari, meyakinkan.
"Lalu bagaimana dengan kamu?" Aku balik bertanya.
"Kenapa denganku?"
"Kenapa kamu ingin aku cepat-ceoqt menikah? Apa kamu sudah bosan menjagaku?"
"Isss, bukan begitu. Aku hanya takut kamu menemukan orang yang salah, Ris. Aku tidak ingin kamu seperti dulu lagi. Bekerja keras dari Senin sampai Ahad, tapi tidak mendapatkan apapun selain penghinaan setiap saat padahal kamu sudha berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka.
Tapi aku bersyukur, mungkin ini hikmahnya. Kamu mendapatkan ganti yang lebih baik lagi dari sebelumnya."
"Tar!" Aku tak bisa berkata-kata. Spontan memeluk sahabatku itu dengan erat. Diam-diam, aku juga berharap agar Tari mendapatkan jodoh yang tak kalah baiknya dari dokter Sam. Semoga Allah segerakan. Aamiin. "Aku ingin kita sama-sama bahagia, Tari." Kataku.
"Tentu saja Ris. Kita akan sama-sama bahagia. Jadi ayo terus bersemangat hingga dihalalkan oleh pangeran kita." Tari bersorak gembira.
"Ya, kita memantaskan diri ya." Kami kembali berpelukan dengan hati gembira.
__ADS_1