Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Kamu Nggak Diajak, Fian!


__ADS_3

AKU dan Tari terkejut menerima kiriman paket makanan dan vitamin yang cukup banyak. Pengirimnya adalah dokter Sam. Ia menuliskan pesan di kartu ucapan.


Aku berbeda dengan lelaki kebanyakan. Tak suka membelikan bunga untuk kekasihku. Tetapi aku akan memperhatikan kesehatannya, makanya kukirimkan makanan bergizi dan vitamin untukmu. Habiskan ya!


Sam.


"Wow, romantis sekali. Benar-benar dokter sejati. Selalu memperhatikan kesehatan kekasihnya!" Pekik Tari. Meski hadiah itu bukan untuknya, tapi Tari ikut tersipu mendapatinya. "Aku rasa ia benar-benar serius, Ris. Kamu harus kembali berpikir untuk menerimanya! Bayangkan, sesempurna itu, jauh sekali dibandingkan Fian, masa kamu tolak? Feelingku ia serius dan inilah Jodoh kamu!"


"Aghhh, aku tak mau!" Aku menggeleng tegas.


"Ayolah Rissa!"


"Tidak!"


Perdebatan kami kembali terjadi. Meskipun geram padaku, tapi Tari tidak bisa memaksakan kehendaknya. Ia tahu, orang yang menderita kanker kadang emosinya tidak stabil. Tidak akan mudah bagiku untuk menjalankan semua ini. Tari hanya geram saja pada Fian dan keluarganya sebab sudah membuat aku trauma dengan kata-kata jahatnya mereka.


***


"Hei Nam, sudah bangun kamu?" Tari menyapa. Ia tadi pulang sebentar untuk mencuci kain kami. "Atau jangan-jangan kamu nggak bisa tidur, ya?" tanya Tari. Sore ini aku memintanya untuk mengantarkan ke rooftop. Dokter Sam meminta aku kembali datang ke sana untuk memberikan jawaban. Padahal kemarin sudah ku tegaskan.


"Duh Tar, kenapa lama? Kamu tahu saja. Aku benar-benar deg-degan. Apa yang harus kukatakan padanya nanti?" ungkapku yang bersemu merah saat Tari masuk dan langsung menggoda dengan lamaran dokter Sam. "Aku benar-benar takut. Kenapa juga harus bicara di rooftop lagi? Kan sudah kukatakan kemarin kalau aku tak mau menjalin hubungan dengan siapapun hingga benar-benar sembuh. Dan itu entah bisa terjadi atau tidak." Aku langsung menundukkan kepala.


"Hei kamu itu, ini bukan waktunya untuk bersedih, tapi waktunya berbahagia karena sudah ada lelaki tampan dan bermasa depan cerah yang melamarmu. Jadi aku tidak perlu repot-repot mencarikan jodoh lelaki kaya raya untukmu. Iya, kan?"


"Hahahaha." Aku tertawa. "Tapi aku harus jawab apa?" Aku kembali cemberut.


***


Seorang perawat masuk, bukan karena dipanggil atau untuk mengganti infusku karena masih banyak. Tapi ia datang membawakan satu kotak berukuran cukup besar, berwarna hitam. "Ini dari dokter Sam, mbak." kata perawat tersebut, sambil tersenyum-senyum padaku. Entah apa maksudnya.


"Untuk saya?" Aku masih tak percaya. Tapi hati mulai deg-degan.

__ADS_1


Dokter Sam meminta datang ke rooftop, tapi juga memberikan kotak ini. Untuk menjawab rasa penasaran kami berdua, setelah perawat itu pergi, aku dan Tari membuka kotaknya dan mereka mendapati sebuah gaun panjang berwarna merah muda. Gaun yang sangat cantik.


"Cantik sekali!" puji aku dan Tari bersamaan. Kami memegangi gaun tersebut dengan penuh ketakjuban.


"Ris, sekarang cepat pakai gaunnya!" perintah Tari. "Sebentar lagi kita harus ke rooftop." tambahnya.


"Kenapa pakai gaunnya?" tanyaku dengan polosnya.


"Hei, dokter Sam mengirimkan gaun ini pasti dengan maksud agar kamu memakainya. Jadi sekarang pakailah."


"Oh begitu ya?"


Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Tari segera membantuku berganti pakaian. Tak lupa ia membantu merapikan rambutku.


"Sempurna. Kamu seperti tuan putri yang sebentar lagi akan bertemu dengan pangerannya!" cetus Tari.


"Hmm, tapi rasanya aneh." Aku masih ragu-ragu.


"Aku ...." aku tak bisa melanjutkan perkataan, takut kalau-kalau Tari akan marah nantinya.


"Kamu akan menerima lamaran dokter Sam, kan?"


Aku mengernyitkan kening, tak tahu harus menjawab apa karena kemarin sudah dijawab tidak, masa harus diulangi lagi. Sejujurnya aku terlalu takut, tapi juga senang. Hanya saja tak ingin terlalu mengikuti keinginan sendiri. Aku ingin membuat keputusan yang bijaksana.


"Ris?" Tari mengguncang pelan lenganku. "Kamu masih mikirin apa lagi? lihatlah, ia belum juga menyerah. itu namanya ia benar-benar suka sama kamu. Kalaupun kamu nolak lagi, ia pasti akan terus berjuang. Jadi mending nyerah saja Ris. Terima saja dan hidup bahagia dengannya!"


"Entahlah."


"Kalau begitu ayo kita pergi!"


Tari segera berlalu keluar, menarik kursi roda, membawa ke dalam, lalu membantuku agar duduk di atasnya.

__ADS_1


Setelah semuanya dirasa sempurna, Tari mendorong kursi roda menuju lift untuk membawa aku ke rooftop. Tak jauh dari mereka, dua pasang mata yang berdiri berjauhan memandang ke arah kami. Salah seorang memilih mengikuti, sementara yabg satunya lagi memilih berlalu begitu saja.


***


Rooftop itu tiba-tiba berubah. Dipenuhi balon berwarna biru muda dan pink. Juga kertas warna-warni, dengan warna-warna pastel. Di ujung, di tempat dimana aku pernah ingin melompat, ada meja dengan dua kursi putih dihiasi renda berwarna putih.


"Siapa yang merubahnya?" tanyaku dalam hati.


"Cantik sekali. Ternyata dokter Sam benar-benar romantis!" puji Tari, tanpa bisa mengedipkan matanya. Diam-diam ia pun berdoa agar bisa menemukan jodoh seperti dokter Sam. Paling tidak tingkat keromantisannya.


"Hem," seorang lelaki memakai jas hitam berdehem. Ternyata dokter Sam, berbeda dari biasanya, penampilan dokter Sam semakin menawan. Aku dan Tari sampai tidak bisa berkedip.


"Kamu sudah datang?" tanyanya dengan lembut padaku. "Kamu pasti sahabatnya Rissa? Terimakasih sudah menjadi teman yang baik untuknya. Saya berhutang Budi padamu." ucap dokter Sam pada Tari.


"Oh ... tidak apa-apa dok, saya juga punya hutang budi pada Rissa. Banyak sekali!" kata Tari dengan penuh semangat.


Entah kenapa, meski baru melihat sekali, Tari yakin, dokter Sam adalah jodoh terbaik untuk aku. Semua kriteria yang diharapkannya untuk menjadi pendamping hidup ku rasanya ada padanya. Lelaki tampan yang berpendidikan, profesinya sebagai dokter, apalagi jebolan luar negeri rasa-rasanya sudah bisa jadi jaminan bahwa perekonomiannya pastilah baik.


Selain itu, Tari juga bisa merasakan bagaimana sayangnya dokter Sam padaku. Buktinya, saat aku datang ia langsung menyambut. Caranya menyapa begitu penuh kasih sayang.


"Aghhhh ... kalian harus segera menikah!" ucap Tari dalam hati, sambil berteriak-teriak penuh harap.


"Kamu mau ke sana?" tanya dokter Sam padaku. Ia mengambil alih kursi roda dari Tari, lalu membawanya menuju meja kecil di pinggir rooftop.


Aku tak bisa berkata apa-apa selain pasrah. benar-benar bingung, takut jika dokter Sam kembali mempertanyakan. Sejujurnya aku benar-benar belum siap.


"Rissa, kau tahu, pertama bertemu denganmu, aku begitu yakin kalau kau akan jadi pasangan yang tepat untukku." Dokter Sam memandang sekilas. "Maukah kau menikah denganku?" tanyanya. Lagi.


"Tidak!" seseorang berteriak sambil setengah berlari mendekat.


Dengan nafas ngos-ngosan ia mendekati kami. Haduh, kenapa harus ada mas Fian di sini? Kamu kan ngga diajak!

__ADS_1


__ADS_2