
Sam masih sibuk dengan komputernya. Ia tidak berniat beranjak meskipun badannya sudah teramat letih dan kedua netranya mengantuk sebab beberapa hari ini tenaganya terkuras untuk mencari tahu keberadaan empat profesor yang membantu proyek ayahnya. Mereka menghilang saat mengetahui apa yang mereka kerjakan gagal.
"Sam, kamu masih belum tidur juga?" dokter Ines masuk ke dalam ruang kerja anaknya.
"Belum ada titik terang, Bu." ujar dokter Sam.
"Istirahat dulu, Sam. Dari beberapa hari lalu ibu lihat kamu terlalu bekerja keras. Ingat, kesehatan kamu juga penting. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menjaga Rissa?"
"Ya bu."
"Kalau begitu segera matikan laptop kamu dan tidurlah!"
"Tapi bagaimana dengan para profesor dan formulanya?"
"Sam, kita semua sama-sama sedang berusaha. Tapi hasil akhir itu adalah kehendak Allah."
Dokter Sam tak bisa mengelak lagi, ia segera berlalu menuju kamarnya di lantai dua rumah mereka. Tetapi bukannya istirahat, lelaki itu malah sibuk dengan ponselnya. Ia harus memastikan apakah kondisi Rissa saat ini baik-baik saja. Dokter Sam beruntung ada Tari yang mau menjadi tangan kanannya, mengurus Rissa saat gadis itu menutup diri darinya.
Usai tahu bahwa Rissa baik-baik saja, dokter Sam menghubungi Carissa. Gadis itu, selain menjadi orang kepercayaannya di pabrik, juga kini membantu menyelidiki siapa saja yang ikut serta dalam proyek ayahnya.
Sebenarnya Sam dan Carissa cukup dekat, selain mereka menjadi saudara tiri karena ayah dan ibunya menikah, sebelumnya Sam dan Carissa juga sama-sama menjalin persahabatan di sekolah. Tapi hubungan mereka sempat renggang karena pernikahan ayah Sam dengan ibu kandung Carissa. Lambat lain, hubungan mereka kembali mencair setelah beberapa kesalah fahaman diluruskan oleh dokter Ines. Tak ada adegan rebut -rebutan. Hubungan ibunya dan ayahnya benar-benar sudah berakhir barulah setelah itu ibunya Carissa masuk.
[Aku rasa kamu harus segera membawa gadis itu ke Singapura.] pesan dari Carissa. Sebenarnya ia tak ingin memberikan usul tersebut sebab sejujurnya Carissa menyimpan perasaan pada Sam, tapi ia juga tak ingin melihat Sam patah hati jika terjadi sesuatu pada Rissa.
Sam melempar ponselnya sembarangan. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, mencoba memejamkan kedua matanya, tapi bayangan wajah Rissa terus muncul. Gadis itu tidak tahu apa-apa, tapi ia harus jadi korban keserakahan beberapa orang.
"Ahhh Rissa!" dokter Sam mengacak rambutnya, ia ingin berteriak, tapi takut membuat heboh suasana rumah.
__ADS_1
Kini ia kembali bangkit, mengambil kembali ponsel yang dibuangnya sembarang. Menghubungi seseorang yang bisa dipercaya untuk mengurus segala keperluannya di Singapura. Dokter Sam sudah bertekad, ia akan segera membawa Rissa pergi, meski gadis itu menolak sekalipun.
***
Meski sebenarnya hatinya masih sedih setelah memutuskan hubungan dengan dokter Sam, tetapi Rissa tidak lagi seterpuruk kemarin. Ia sudah memutuskan akan memulai kembali lembaran hidupnya meski tanpa seorang kekasih. Ia memang terlahir tanpa keluarga, tapi masih ada yang tulus menyayanginya, salah satunya Tari sahabatnya.
"Nah begini dong, pagi-pagi sudah rapi." kata Tari, saat melihat Rissa yang sedang berdandan di kamarnya. "Tapi ngomong-ngomong kamu mau kemana? Kamu kan masih dapat cuti bekerja."
"Aku mau jalan-jalan sebentar. Mau buang suntuk." kata Rissa sambil memaksakan senyum.
Langkah Rissa terhenti di depan pagar kosannya saat melihat Fian yang buru-buru mendekat begitu melihatnya keluar. Rissa menduga, Fian sudah sejak tadi menunggunya. Mungkin karena mas Abas dan Bu Yana sudah melarang Fian untuk berkeliaran di sekitar kosan, makanya ia memilih untuk sembunyi.
"Ris. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Ayo kita bicara sebentar." Fian menarik paksa lengan Rissa agar segera menjauh dari kosan sebelum ada yang melihat lalu mengusirnya.
"Aku nggak mau!" sekuat tenaga Rissa menyentak Fian. Pegangannya pun terlepas sebab Fian tak menyangka Rissa akan dengan siaga melepaskannya. "Sudah kukatakan jangan temui aku lagi. Aku nggak mau bicara sama kamu. Ngerti! Kalau kamu tetap maksa, aku akan teriak supaya ibu kosku keluar dan kamu diusir dari sini."
"Karena dulu aku masih bodoh!"
"Jangan begitu Ris."
"Memang benar. Dulu aku bodoh, mau saja ngikutin keinginan kamu. Tapi sekarang aku sadar, kamu itu jahat. Hanya manfaatkan aku. Iya, kan?"
"Enggak begitu, Rissa. Tapi kalau kamu beranggapan seperti itu, aku minta maaf. Aku akan mengubah semuanya menjadi seperti yang kamu mau dan kedatanganku ke sini untuk membawa kabar bahagia. Ibu sudah merestui hubungan kita, Ris. Ibu sudah menerima kamu sebagai calon menantunya!"
Rissa tak beraksi apapun setelah mendengar penjelasan Fian. Berita yang dulu begitu diharapkannya kini tak berarti lagi setelah diputuskan sepihak. Lagipula Rissa tahu, Fian dan keluarganya melakukan ini semua pasti karena sesuatu hal. Uang, pasti itu!
"Bagaimana Ris? Kamu mau ketemu ibu sekarang dan menikah denganku?" tanya Fian.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba ibumu merestui? Bukannya selama ini tidak suka sama aku?" Rissa menyelidik.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan Ris, sekarang ibu sudah sadar. Ibu berhak mendapatkan kesempatan punya menantu seperti kamu." kata Fian dengan sok bijak.
"Kesempatan? Lalu bagaimana dengan kesehatanku? Aku kan penyakitan dan butuh biaya besar untuk berobat jika sewaktu-waktu sakitku kambuh."
"Tidak usah khawatir, kami sudah membicarakan semuanya. Kamu kan akan mendapatkan kompensasi dari pabrik. Minimal satu miliar. Itu cukup untuk biaya hidup kita semua. Iya, kan?"
Rissa tersenyum miris mendengar jawaban Fian. Benar, kan. Mereka tak benar-benar tulus. Selalu ada alasan melakukan semuanya. Ia melambaikan tangan sebagai isyarat tak ingin membicarakan tentang ini lagi, tapi Fian tak mau menyerah begitu saja, ia tetap memaksakan Fian.
"Rissa!" panggilan Dokter Sam membuat Rissa dan Fian berhenti berdebat.
Rissa benar-benar dihadapkan pada kondisi yang membingungkan. Di depannya ada lelaki yang kini dicintainya, tetapi membuatnya patah hati. Lebih sakit dari pada saat putus cinta dengan Fian.
Sementara di belakangnya ada lelaki menyebalkan yang ingin dihindari oleh Rissa dan tak mau ditemuinya lagi seumur hidup.
"Aku harus bagaimana?" Rissa tak bisa berkata-kata. Maju salah, mundur pun rasanya salah.
"Apa lelaki itu mengganggumu lagi?" tanya dokter Sam dengan tegas, bersiap ingin menghadang Fian agar tak mendekati Rissa lagi.
"Heh dokter, jangan sok ikut campur urusan kami. Anda siapkan saja ganti rugi untuk Rissa sebelum kami bawa kasus ini ke pengadilan!" seru Fian dengan sikap jumawa.
"Jauhi Rissa. Ia tidak nyaman berada di dekatmu!" kata Dokter Sam.
"Lalu anda kira Rissa nyaman berada di dekat anda? Ris, katakan padanya kalau kamu juga tidak ingin dekat-dekat dengannya!" pinta Fian, masih dengan besar kepala.
Rissa masih diam, sejenak ia menatap dokter Sam. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya tidak karuan."Aku tak ingin berbicara apalagi bertemu denganmu lagi!" kata Rissa, sambil menghadap ke arah Fian.
__ADS_1