
Sam berdiri di depan halaman panti, ia memandang bangunan sederhana itu, seolah mencari kenangan istrinya, Rissa, di sana. Sekilas senyum simpul terukir di bibirnya, lelaki itu membayangkan bagaimana masa kecil perempuan yang amat dicintainya itu. Gadis kecil yang aktif, ceria dan juga usil namun sebenarnya hatinya amatlah baik.
"Andai aku bertemu kamu lebih awal, pasti tak akan ku biarkan lelaki lain mendekati kamu. Saat itu juga akan ku ikat kamu agar kita bisa bersama lebih lama lagi." Sam berbicara dengan dirinya sendiri.
"Sayang, aku benar-benar merindukan kamu. Sudah tiga bulanan kita tak bertemu. Aku rindu mendengar celotehan tanpa beban yang selalu mengalir dari lisanmu. Setiap bersama denganmu, aku seperti manusia tanpa beban. Hidup tenang, mengalir seperti air begitu saja."
Pelan, senyum Sam hilang. Berganti dengan mendung di netranya.
"Ini terlalu sebentar, Rissa. Kamu curang, menghilang begitu saja. Kembali sayang, kembali. Aku mohon!" Sam ingin berteriak tapi ia tak mampu.
***
"Dokter Sam?" Salah seorang pengasuh di panti ini mendapati Sam berdiri mematung di depan halaman. "Oh pasti mau nyari Eka, ya? Sebentar sebentar. Saya panggilkan dulu. Dokter silakan duduk di sana." ia menunjuk arah ruang tamu yang berada paling depan dari bangunan panti. Lalu berlalu dengan cepat masuk ke dalam.
Sam tak mendengarkan, ia masih menikmati pencarian jejak Rissa di setiap sudut panti hingga tanpa sadar seseorang sudah berada tak jauh darinya.
"Dok?" sapa perempuan itu lagi hingga lamunan Sam buyar. Eka, gadis itu berdiri hanya beberapa meter darinya sambil tersenyum sumringah mendapati Sam yang datang ke sini tanpa pemberitahuan sebelumnya. "Ada apa, dok? Kok ngabarin sebelumnya?" tanya Eka lagi.
__ADS_1
"Ada yang ingin saya sampaikan." kata dokter Sam.
"Apa?" ia menatap dokter Sam, karena tak ada jawaban diajaknya dokter Sam masuk ke dalam, namun lelaki itu kembali menolak, hanya mau diajak duduk di teras panti. "Apa ada hal yang perlu dibicarakan tentang pernikahan?" tanya Eka.
Dokter Sam mengangguk.
"Oh, memang masih kurang apa?" Eka yang baru saja bertemu dengan calon ibu mertuanya merasa semuanya sudah diatur dengan sangat baik. Ia tak yakin ada yang terlewati sebab dokter Ines memakai jasa WO terkenal di kota ini. Semua sudah selesai dipersiapkan dari A sampai ke Z. Mereka hanya tinggal mengecek kekurangannya. Namun karena Sam datang ke sini, Eka jadi khawatir kalau-kalau memang ada yang tak beres sebab Eka tau bahwa Sam itu orang yang sangat teliti.
"Saya tidak mau melanjutkan pernikahan ini lagi." kata Sam.
"Maksudnya?" Eka memandang Sam tak berkedip.
"Apa? Dok, dokter bicara apa? Siapa yang mau menggantikan posisi Rissa? Saya hanya ingin membantu Rissa melanjutkan tugasnya mendampingi dokter. Bukan untuk mengambil posisinya. Saya tahu Rissa istimewa untuk dokter, ia punya tempat khusus. Tidak apa-apa. Saya paham itu, tapi bagaimana pun kita harus menjalankan amanah Rissa. Iya, kan?" kata Eka dengan penuh harap.
Sebenarnya hati Eka sangat panas ketika dokter Sam menyatakan tak bisa menggantikan posisi Rissa. Ia marah. Kenapa sudah tiada pun ia tak bisa mengalahkan Rissa. Selalu saja Rissa yang menang. Padahal selama ini ia sudah berusaha menjadi perempuan baik hati agar bisa dianggap istimewa seperti Rissa, tapi nyatanya ia tetap saja nomor dua!
Eka sendiri sebenarnya tak mau dikalahkan Rissa. ia sudah punya rencana, kelak, setelah ia punya anak dari dokter Sam maka ia akan memaksa dokter Sam untuk melupakan Rissa dengan menjadikan anak mereka sebagai tameng.
__ADS_1
Namun ternyata, perjalanan menuju sana tidaklah mudah. Ia benar-benar harus berjuang keras untuk meyakinkan dokter Sam agar tetap mau menikah dengannya.
"Maaf, tapi saya tetap tidak bisa. Saya akan hubungi WO untuk membatalkan semuanya!" kata dokter Sam.
"Dok, tunggu sebentar. Kenapa dokter bisa segegabah ini? Apa salah saya? Saya hanya ingin membantu Rissa agar ia tenang di sana namun anda tega melakukan semua ini. Kalau pernikahan ini batal, bagaimana saya bisa menghadapi semua orang. Akan ditaruh dimana muka saya? saya sungguh malu, dok! Tujuan saya hanya ingin membantu Rissa. Malu pada orang-orang karena batal nikah tak akan seberapa dibandingkan malu dan rasa bersalah pada Rissa. Tolong pikirkan baik-baik. Demi Rissa!" Eka benar-bemar ketakutan jika pernikahan ini gagal. Segala mimpinya akan gagal. Padahal ia sudah menabuh genderang perang dengan pihak panti terutama ibu kepala panti. Tiba-tiba Eka ingat sesuatu. "Dok, apakah dokter membatalkan rencana pernikahan ini karena ibu kepala?" tanya Eka, berusaha menyelidik.
"Tidak. Tidak ada hubungan dengan siapapun." kata dokter Sam.
"Kalau ada kesalahah pahaman saya bisa jelaskan semua, tapi tolong jangan begini. Jangan batalkan pernikahannya. Tak apa anda tak mencinta saya, yang penting izinkan saya menunaikan janji saya pada Rissa agar hati saya tenang." Eka terus menginap, berharap hati dokter Sam terketuk, namun keputusan lelaki itu sudah bulat. Ia bahkan terlihat tak terlalu peduli dengan Eka.
"Saya sudah sampaikan semuanya, sekarang saya mau pamit. Tolong sampaikan permohonan maaf saya pada ibu kepala dan orang-orang panti atas pembatalan ini. Oh ya, kamu tak perlu mengembalikan apapun, silakan pakai jika kamu berkenan, kalau tidak bisa disumbangkan saja."
Baru saja dokter Sam hendak berlalu, tiba-tiba Eka langsung menghambur ke hadapan San, ia berlutut, memohon agar dokter muda itu mau mencabut keputusannya. Eka bahkan tak mau bangkit jika dokter Sam tetap dengan keputusannya.
"Tolonglah, jangan lakukan itu. Ini demi Rissa!" pinta Eka
"Eka!" tiba-tiba dari pintu depan panti keluar ibu kepala yang ternyata sudah mendengar semuanya sejak tadi. Ia meminta Eka untuk bangkit, tak baik melakukan hal tersebut. "Semua sudah diputuskan dokter Sam, terimalah dengan kesabaran dan lapang dada, Eka." kata ibu kepala.
__ADS_1
"Ibu bicara apa? Ibu kira saya bisa diam saja dengan semua ini? Oh, atau benar dugaan saya kalau ibulah di balik ini semua. Ibu tak mau kalau saya menggantikan posisi Rissa. Ibu kan yang mempengaruhi Dokter Sam. Ibu benar -benar jahat! Selama ini saya diam dengan ketidakadilan ibu pada saya dan ibu kepala " Eka mengecam ibu kepala.
Sikapnya itu membuat Sam semakin tahu siapa sebenarnya perempuan itu. Ia pun mulai meragukan perkataan Eka, apalagi tak ada saksi dan masukan dari ibu kepala. Lega juga hatinya tak jadi menikah dengannya. Entah seperti apa sebenarnya karakter Eka .