
"Fian!" seru Tari. "Ngapain kamu ke sini?" tanya Tari, sambil menarik jaket mas Fian agar tak semakin mendekat padaku. Ia benar-benar kesal karena suasana yang semula romantis buyar karenanya.
"Lepas, Tar!" teriak mas Fian. Ia benar-benar seolah terlihat tak rela melihat seorang lelaki berdiri di hadapan aku dan mengajak menikah, padahal ia yang meninggalkan aku. Lalu maksudnya biar aku menjomblo selamanya?. "Rissa, ngapain kamu sama dia? Siapa dia, Ros? Jawab pertanyaanku!" bentak mas Fian.
"Apa urusannya sama kamu, kenapa juga Rissa harus menjawab pertanyaan kamu? Nggak sadar, kamu ini bukan siapa-siapa Rissa lagi. Kamu hanya masa lalu yang sudah dibuang di tong sampah!" cetus Tari.
"Oh, jadi dia yang namanya Fian? Sekarang saya minta kamu pergi dari sini!" kata Dokter Sam dengan tegas, sambil menunjuk pintu keluar rooftop.
"Lo nggak bisa ngusir gue. Lo bukan siapa-siapa. Lagian berani sekali lu mendekati Rissa." Mas Fian mendekat, ia hendak memukul dokter Sam, tapi lelaki itu lebih lihai, usai menangkis, ia langsung memelintir pergelangan tangan mas Fian hingga ia memekik kesakitan. "Lepas ... lepas ... sakit!" pekik Fian.
"Udah dok," kataku yang sangat khawatir kalau perkelahian ini berlanjut.
Mendengar permintaanku, dokter Sam melepaskan cengkeramannya, lalu mendorong mas Fian sambil menyuruhnya agar pergi dari tempat ini.
"Kamu nggak dengar,silakan pergi!" kata Tari.
"Tapi ... Rissa, kamu kan mencintai aku, jangan mau sama dia!" teriak mas Fian lagi.
"Kamu benar-benar nggak tahu diri, ya. Sudah jelas-jelas kamu yang mencampakkan Rissa. Oh ya, satu lagi. Kamu lupa dengan apa yang kamu katakan tadi padaku? Bukankah kamu menyatakan cinta padaku? Sekarang pengen sama Rissa lagi. Benar-benar laki-laki tidak punya pendirian!" karena geram, dengan sekuat tenaga, Tari menyeret mas Fian agar keluar dari rooftop. "Silakan dilanjutkan lamarannya, biar aku yang mengurus pecundang ini!" kata Tari sambil melambaikan tangan.
***
Angin bertiup sepoi-sepoi. Aku dan dokter Sam masih berdiri berhadap-hadapan. Usai menyatakan isi hatinya, aku tak mau buka mulut sedikitpun sebab benar-benar gugup dan takut salah.
"Hem," dokter Sam berdehem, mencoba mencairkan suasana. Ia bisa merasakan bahwa saat ini aku benar-benar tegang, mungkin terlihat dari raut wajahku yang entah seperti apa saat ini. Namun lelaki itu belum bisa menerka, apakah penyebab utamanya. Apa karena lamaran yang ia ajukan, atau justru karena kehadiran lelaki tadi. "Kamu tidak ingin menjawab pertanyaan aku?" tanya dokter Sam lagi.
"Aku tidak tahu harus jawab apa." ucapku, sambil meremas ujung gaun. benar-benar bingung.
__ADS_1
"Kalau begitu jawab saja ya."
"Kenapa begitu?"
"Ya, berarti kamu sudah menerima. Mengenai pernikahan, kita bisa atur wkatunya sampai kamu benar-benar yakin. Yang jelas, kamu jadi pasanganku dulu."
"Lho?"
"Pokoknya jawab ya!"
"Aku tidak mau. Aku ... ya."
Senyum di wajah dokter Sam langsung terkembang, membuat aku yang sedang mencuri pandang jadi salah tingkah. "Ahhh, kenapa ia begitu tampan!" Aku hanya bisa menggumam di dalam hati. merasa pipi ini merona merah sebab malu.
"Baiklah. Mulai sekarang kamu adalah calon istriku karena aku tak suka pacaran. Kalau kamu sudah yakin dan nyaman denganku, katakan sesegera mungkin agar aku bisa menikahimu.
Jadi, kalau kamu ingin mendapatkan pengawasan dan pelayanan sempurna dariku. Cepat-cepat katakan bahwa kamu ingin menikah denganku. Mengerti?"
"Ya!" jawab ku. Entah mengapa aku yang semula ragu kini begitu mudah yakin pada dokter Sam. Mungkinkah karena sudah merasa nyaman, tapi kenapa begitu cepat? Lalu, apa benar semuanya akan semulus ini? Seperti cerita di novel-novel saja. Setelah menderita dengan masalalu yang buruk lalu mendapat ganti yang benar -benar spek tinggi seperti dokter Sam. Tampan, kaya, mapan, baik, penuh kasih sayang. entah kenapa tiba-tiba jadi ngeri sendiri, khawatir akan ada ujian lagi nantinya.
***
Ruang tempatku di rawat. Kami berdua yang biasanya jadi tetangga kamar kos kini sedang asyik berbincang sambil tertawa-tawa, masih membahas dokter Sam. Memuji ketampanannya, kecerdasan dan keromantisannya.
"Kamu benar-benar beruntung, Ris. Aku senang sekali akhirnya kamu menerima Dokter Sam meski sebenarnya aku kecewa. Harusnya kamu mau saja di ajak menikah cepat olehnya. Apalagi coba yang kamu pertimbangkan. Ia benar-benar serius." cetus Tari.
"Aku hanya butuh sedikit waktu agar terbiasa di sampingnya. Kamu tahu bagaimana perbedaan dokter Sam dan mas Fian? Mereka bagai langit dan bumi. Pasti juga berbeda berada di sisinya. Apalagi aku belum mengenal keluarganya. Aku butuh keberanian supaya nanti jika keluarganya menolak, aku tak patah hati."
__ADS_1
"Semoga saja keluarganya menerima!"
"Hm, tapi tetap saja deg-degan. Bayangkan, besok ia akan membawa ibu dan saudaranya menemuiku di sini. Aku harus bagaimana?"
"Tenang saja Ris, aku akan selalu mendampingi kamu. Tetap jadi Rissa yang biasanya. Aku yakin, mereka semua akan menyukaimu."
"Semoga saja."
Aku menatap ke jendela kamar. Menatap lurus ke depan. Sejujurnya masih belum siap. Tapi juga tak ada alasan untuk berlama-lama. Aku takut, jika diundur-undur, ternyata keluarganya dokter Sam tak menyukaiku, tetapi perasan makin dalam, pastilah tidak mudah untuk menyembuhkan. Akan sangat lebih sakit ketimbang putus dari mas Fian.
"Tar," tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Kenapa?" tanya Tari.
"Apa mas Fian benar menyatakan cinta padamu?" Aku memandang sahabatku penuh selidik. Memastikan apa yang tadi di rooftop.
"Ya. Tapi kamu jangan sedih, itu semua tidak penting." kata Tari.
"Oh." Aku kembali membuang muka. Ada sesuatu yang sakit terasa di dada inj. Bukan karena cemburu sebab mas Fian sudah menemukan penggantiku, tapi kecewa saja. Ternyata bagi mas Fian aku bukan siapa-siapa. Benar kata orang-orang di sekelilingku selama ini. Betapa bodoh dan buta mata saat bersama mas Fian. Bisa-bisanya ia berfikiran kalau mas Fian kelak akan berjuang untukku seperti aku berjuang selama ini untuk lelaki itu.
Senyum sinis terkembang di bibirku . Aku benar-benar menyesali kebodohan sendiri. Kebodohan yang sangat menyedihkan. Aku rela menukar orang-orang yang tulus menyayangi diriku dengan lelaki yang bahkan tak paham arti tanggung jawab.
"Bodohnya aku selama ini!" cetusku.
"Kamu hanya khilaf saja. Wajar Ris, usia kamu saat itu masih belasan tahun..di masa puber kadang orang-orang melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang sebelumnya." kata Tari.
Senyumku makin terkembang. Ahhh, penyesalan ini tak akan merubah semuanya, tapi rasa sakitnya sangatlah nyata. Sungguh menyedihkan.
__ADS_1