Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Dua Rasa Hati Perempuan


__ADS_3

"Kamu harus segera sembuh, setelah itu baru kita urus pernikahannya. Ada baiknya dipercepat saja. Sebab saya tak mau Sam semakin lama dalam kebimbangan." kata dokter Ines pada Eka yang masih berbaring. "Sam sepertinya sudah mencintai kamu, ia benar-benar mengkhawatirkan kamu." tambah ibunya dokter Sam.


Mendengar cerita dokter Ines tentang kekhawatiran Sam barusan membuat hati Eka Berbunga-bunga. Sam sudah bisa menerima dirinya. Jika memang itu semua benar, ia tak menyesali apa yang dilakukannya tadi. Bahkan jika harus kehilangan nyawa pun ia rela asal Sam mau melihatnya.


Kini, semangat untuk sembuh itu begitu besar agar bisa segera bersanding dengan pujaan hatinya.


"Oh ya, tolong berikan perawatan yang terbaik untuknya." kata dokter Ines pada perawat yang berjaga. " Pastikan ia mendapatkan kamar terbaik." tambah dokter Ines.


"Tapi maaf Bu, kamar di rumah sakit ini sudah penuh, tinggal satu. kamar kelas dua yang diisi dua pasien." kata perawat.


"Tak apa, tapi tolong jangan diisi pasien lain. Kamar itu Kami booking." ujar dokter Ines.


"Maaf bu, sudah ada pasien yang juga mendaftar dan akan segera dipindahkan ke kamar tersebut." jelas perawat tersebut.


Dokter Ines sebenarnya keberatan jika Eka harus digabung dengan pasien lain, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa sebab rumah sakit ini sedang penuh pasien, hanya tersisa satu kamar kelas dua. Ia sebenarnya ingin memindahkan Eka ke rumah sakit swasta yang lebih besar sebab rumah sakit milik keluarganya masih dalam masa pembangunan ulang, namun pihak panti mengatakan sebaiknya Eka di sini saja mengingat rumah sakit ini paling dekat dengan panti dan supaya yang jaga transportasi bolak-baliknya mudah.


"Baiklah kalau begitu. Tapi kalau sudah ada kamar kosong sebaiknya ambil satu kamar saja untuk kenyamanan!" kata dokter Ines. Menegaskan.


Eka sendiri sebenarnya kesal dengan ibu kepala yang mempertahankan dirinya agar tetap di rawat di sini. Harusnya mereka menerima tawaran dokter Ines sebab setelah menikah dengan dokter Sam ia bukan lagi seperti anak panti lainnya, ia adalah menantu keluarga kaya. Istri dari dokter kepala yang tampan, kaya dah punya masa depan cerah.


***


Di balik tirai, Rissa yang terbaring tak berdaya mendengar semuanya. Hatinya telah hancur mendapatkan pengakuan ibu mertuanya kalau Sam mencintai Eka. Bahkan begitu khawatir dengan kondisi Eka saat ini.

__ADS_1


"Apakah rasa cinta suaminya pada Eka sama besar dengan rasa cinta pada dirinya? Atau justru lebih besar pada Eka? Kenapa begitu cepat posisinya tergantikan?" Rissa terus bersenandika.


Ia menangis dalam diam, menahan sakit yang amat luar biasa. Raga dan jiwanya sama-sama hancur dalam satu waktu. Kalau tak ada anak dalam kandungannya mungkin Rissa tak akan mampu bertahan usai mendengarkan itu semua.


***


Rissa dimasukkan ke ruang rawat inap. Ia masih belum bisa memejamkan mata sebab sebentar lagi Eka akan diantarkan ke sini. Mereka akan tidur berdampingan hanya dipisahkan tirai. Persis seperti waktu mereka masih tinggal di panti.


Persaudaraan itu, apakah harus seperti ini? Rissa sendiri tak berani membayangkan dirinya nanti jika Eka menikah dengan Sam. Tak mungkin juga ia terus menyembunyikan dirinya sendiri, bagaimana nasib anaknya nanti?


"Nak, apa kamu mau makan?" tanya bibi Erna yang menemani, sementara Dasril harus pulang sebab ia masih ada beberapa urusan.


Karena Rissa menolak, bibi Erna pamit ke kantin sebab ia tak membawa bekal, makanya hendak membeli di luar.


Sepeninggalan bibi Erna, Rissa larut dalam lamunannya. Ia masih memikirkan bagaimana nasibnya dan calon anaknya nanti. Namun lamunan itu tersadar ketika perawat mengantarkan Eka ke kamarnya.


"Ka!" bunda Mila, yang mendapatkan giliran menjaga Eka malam ini mengingatkan agar Eka menjaga sikapnya


"Hanya tinggal kamar ini, Bu " kata perawat yang sepertinya juga tidak terlalu suka pada Eka, makanya dari tadi ia memilih tak terlalu meladeni Eka. Karena sudah tak tahan saja pada akhirnya ia bicara.


"Bisa tolong katakan pada pasien sebelah agar menjaga ketenangan dan kenyamanan di kamar ini karena aku nggak bisa istirahat di kamar yang berbagi dengan orang lain!" Eka menegaskan.


"Astagfirullah Eka!" bunda Mila terdengar kesal, namun ia hanya geleng-geleng kepala, tak mau menghampiri Rissa yang berada di rumah sebelah.

__ADS_1


Setelah kepergian perawat, Eka masih saja mengomel, ada saja yang diprotesnya. Bunda Mila mungkin sudah kesal makanya ia memilih keluar dengan alasan mencari makan.


Sementara Rissa sudah nyaris terlelap karena lelah dan juga efek obat tidur yang mulai bereaksi agar ia bisa istirahat.


***


"Benar-benar ya, siapa sih yang dirawat di sebelah, kenapa tak merespon aku!" Eka menggerutu sebab panggilannya pada Rissa diabaikan. Akhirnya Eka bangkit, menyibak tirai pemisah dirinya dan Eka, betapa kagetnya ia mendapati yang tertidur di sebelah adalah Rissa. Melihat itu, wajah Eka langsung pucat, untung saja perempuan itu tertidur, makanya ia buru-buru menutupnya.


"Itu ... itu bukan mimpi, kan? Itu benar Rissa?" Eka mencubit pipinya. Sakit. Ia juga mengigit lidahnya. Tetap sakit. Makanya ia gemetaran.


Kalau itu benar-benar Rissa, lalu sekarang bagaiman? Bagaimana kalau dokter Sam melihat perempuan itu, apakah dokter Sam akan tetap melihat dirinya atau malah mengabaikan?


Dalam kondisi seperti itu, Eka benar-benar tak bisa tenang. Ia takut ada yang tahu tentang Rissa meski sebenarnya ia pun penasaran, bagaimana Rissa bisa berada di sini?


Pelan, Eka kembali mengintip, memastikan apakah itu benar-benar Rissa. Dan benar saja, dari samping, perempuan itu benar-benar nyata seperti Rissa. Berarti ia masih hidup.


Eka kembali menutup tirainya. Ia berusaha berpikir Keras, bagaimanapun Sam tak boleh tahu kalau di sini ada Rissa. Tapi bagaimana cara menyembunyikan Rissa?


Begitu bunda Mila kembali bersama dengan seorang ibu-ibu yang ternyata orang yang menjaga Rissa, Eka segera meminta agar bunda Mila membawanya pulang. Ia juga melarang bunda Mila bicara dengan orang di sebelah.


"Kenapa pulang sekarang? Kamu kan masih sakit. Kondisi kamu belum sepenuhnya membaik. Sebaiknya istirahat dulu agak dua atau tiga hari untuk memastikan kalau kamu benar-benar sudah baik." kata bunda Mila yang bersiap tidur.


"Enggak Bun, aku nggak apa-apa. Aku sudah sehat. Ayo kita pulang saja!" ajak Eka.

__ADS_1


"Ini sudah malam. Setidaknya tunggu dokter Ines dan dokter Sam dulu. Besok mereka akan datang ke sini." kata bunda Mila


"Hah, ke sini. Nggak nggak nggak. Mereka nggak boleh ke sini. Lagian bunda jangan bicara keras-keras!" Eka memperingati bunda Mila sebab ia takut Rissa mendengar. Akibatnya malam ini Eka benar-benar tak bisa memejamkan matanya.


__ADS_2