Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Rissa Vs Eka!


__ADS_3

"Aaaaa!" Eka terperanjat. Ia kaget melihat Rissa bangun. Sementara Rissa juga sama, kaget melihat bantal di hadapannya. Mereka berdua sama-sama ketakutan, seperti sama-sama mengingat kejadian yang dahulu pernah terjadi.


Tiga tahun lalu, saat Rissa masih berusia tujuh belas tahun. Ketika ia sakit tifus karena terlalu lelah menghadapi ujian kelulusan. Setelah berobat ke dokter, ia tertidur usai minum obat. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang menarik kepalanya hingga terbentur, tidak terlalu sakit karena langsung jatuh ke atas kasur namun cukup membuatnya kaget. Waktu Rissa membuka mata, ia semakin dibuat jaget mendapati bantal di hadapannya. Seseorang yang memegang bantal itu adalah Eka. Ya, Eka. Teman sekamarnya sejak kecil yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.


Kala itu, Rissa tak mau berpikir apa-apa sebab ia takut dengan pikirannya sendiri. Begitu terbangun, mereka berdua sama-sama kaget. Eka buru-buru pergi sementara dirinya masih diam seperti patung. Setelah kejadian itu, tak ada lagi percakapan antara mereka. Bahkan ketika hanya ada mereka berdua di dalam kamar. Tak lama Rissa memutuskan kabur dari panti asuhan untuk tinggal di kos-kosan yang dekat dengan Fian.


Hari ini, kejadian itu terulang lagi. Kini, Rissa tak bisa lagi berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Makanya ia yang masih sangat lemah mempertanyakan kepada Eka maksud semua ini. Sebab rasanya bukan lagi sekedar dugaan. Eka sudah terlalu nekat!


"Kamu ... dulu juga melakukannya padaku. Sekarang kenapa lagi? Kenapa Ka, kenapa?" tanya Rissa dengan suara lemah. Sementara bantal yang dipegang Eka terjatuh ke lantai.


"Kamu ... kamu bicara apa Ris?" Eka gemetar. Ia sudah tertangkap basah namun Rissa tak lagi seperti dulu seolah tak terjadi apa-apa. Rissa jelas-jelas menunjukkan sikap seharusnya, mempertanyakan apa yang ia lakukan.


"Kamu mau membekap aku?" kata Rissa.

__ADS_1


"Itu ... kamu bicara apa?" Eka balik bertanya. Merasa tak terima dengan apa yang Rissa katakan meski itu benar.


"Kamu mau membekap aku. Kamu mau membunuh aku?" Rissa menegaskan dengan suara bergetar sebab tenaganya belum sepenuhnya pulih.


Namun, bukannya mengaku, Eka malah membantah. Ia mempertanyakan balik apa yang dipertanyakan oleh Rissa.


"Nggak usah bohong lagi, Ka. Atau kamu mau aku mendatangkan orang lain sebagai penengah kita?" Kata Rissa.


"Apa maksudmu?" Eka mulai frontal sebab ia semakin tersudut.


"Apa? Kamu mau adukan pada siapa? Hah?" Eka semakin ketakutan kalau-kalau Rissa buka mulut maka semuanya akan hancur. Satu sisi ia benar-benar ketakutan namun sisi lain ia pun merasa bersalah, kenapa bisa senekat ini. "Kamu mau adukan aku pada ibu kepala, pada polisi atau pada dokter Sam? Iya? Kamu mau melakukan itu agar semua orang membenci aku, agar tak ada lagi yang peduli padaku? Iya Rissa? Asal kamu tahu Ris, tanpa kamu perlu memberitahu apa yang aku lakukan pun, orang-orang tak pernah menganggap aku. Itu semua karena kamu. Ya, karena kamu Rissa!" Eka balas berteriak.


Suara keras Rissa dan Eka mengundang kedatangan perawat yang ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Sayangnya, saat mereka akan masuk, Eka yang merasa sudah sangat terpojok meneriaki mereka agar tak masuk atau ikut campur.

__ADS_1


"Sekarang kamu lihat, Rissa. Semua orang akan tahu siapa aku. Sudah tak ada gunanya lagi menyembunyikan semuanya. Tak ada gunanya bersikap seolah-olah menjadi anak baik karena memang tak akan ada yang peduli sebab ada kamu di samping aku. Kamu yang selalu merebut perhatian mereka. Puas kan kamu Rissa. Aku begini karena kamu. Kamu yang entah sengaja atau tidak selalu merebut apapun yang aku mau. Kamu itu jahat Rissa, kamu kejam sehingga membuat aku seperti ini!" Kata Eka. Menumpahkan semua rasa kesalnya pada Rissa.


"Aku nggak pernah ingin menyakiti kamu. Seperti apa yang kita katakan kala itu, bahwa kita bersaudara Ka. Aku juga menganggap kamu seperti saudara sendiri tapi entah kenapa kamu tega mau membekap aku usai ujian kelulusan SMA dan sekarang kamu mengulanginya lagi!" Kata Rissa.


"Kamu mau tahu kenapa? Karena kamu ibu kepala membatalkan beasiswa untukku bisa kuliah. Hanya ada satu beasiswa ke perguruan tinggi dan lagi-lagi yang dipilih adalah kamu padahal aku jauh lebih berprestasi dari pada kamu, Rissa. Aku yang selalu juara kelas, aku yang selalu menang olimpiade, aku yang selalu berprestasi tapi tetap kamu yang mereka lihat. Aku benci itu, Rissa. Aku benci! Aku ingin kuliah tapi mereka tak memberi kesempatan. Bahkan ketika kamu pergi dari panti pun mereka tak mengabaikan aku yang sudah menunggu dengan harapan teramat besar. Kamu itu benalu dalam hidupku, termasuk dokter Sam, ia adalah laki-laki yang lebih dulu aku cintai tapi ternyata karena kamu ia melupakan aku!" Kata Eka.


"Sam? Dokter Sam?" Rissa melihat ke arah pintu kamar, dari tirai yang terbuka cukup lebar ia bisa melihat suaminya ada di sana.


Tak hanya mata Rissa, namun juga Eka kini menatap seorang lelaki berkulit putih memakai Hoodie berwarna hitam berdiri di sana. Lelaki itu, entah kapan ada di sana, namun berhasil membuat kedua perempuan yang terlibat adu mulut itu langsung diam seribu bahasa.


Rissa takut Sam mendengar pertengkaran ia dan Eka sehingga membuat Sam marah pada Eka. Sedangkan Eka menduga Sam sudah mendengar semuanya, makanya ia tampak gusar. Ia berusaha berpikir cepat harus melakukan apa namun tak ada satu ide pun yang keluar dari mulutnya.


Nekat, Eka mencabut infus di tangannya. Rasanya amat perih. Namun hatinya lebih perih membayangkan jika Sam membencinya. Makanya dengan sisa tenaga akhirnnya ia meninggalkan ruangan tempat mereka dirawat.

__ADS_1


"Eka!" Panggil Rissa. Sejujurnya, meski Rissa marah dengan apa yang dilakukan Eka namun ia tetap menyayangi teman sekamarnya itu. Rissa mencoba memikirkan sebab Eka melakukan semua itu padanya. Rasa iri yang teramat besar memang kadang bisa membuat seseorang jadi buruk. Rissa memang menyadari bunda-bunda di panti memang sangat menyayangi dirinya dengan berlebihan namun Rissa tak sadar jika apa yang didapatkan olehnya itu bisa memancing rasa sakit hati saudara pantinya sendiri.


__ADS_2