
Helikopter yang dimaksud dokter Ines akhirnnya datang. Mendarat di atas rooftop. Mereka langsung naik ke dalam. Satu diisi dokter Ines dan anak-anaknya. Satunya lagi oleh Bu Amelia dan anak-anaknya. Setelah itu mereka terbang tinggi menuju bandara, kecuali Max, yang lain tanpa membawa apapun sebab di Amerika dokter Ines punya aset yang lebih dari cukup untuk mereka.
Sam sempat melihat kerumunan orang-orang di depan rumah mereka. Lalu saat terbang melewati rumah sakit, terlihat juga pemandangan yang sama.
"Sayang maaf, aku akan segera datang menjemput kamu. Kita akan terbang bersama ke Amerika." Kata Sam dalam hatinya. Ia sebenarnya khawatir karena sudah meninggalkan Rissa hampir tiga jam, namun karena Rissa ditemani oleh sahabatnya makanya Sam agak sedikit tenang. Setidaknya Rissa tak benar -benar sendiri meski sebenarnya ia lebih tenang kalau menemani sendiri.
Sampai di bandara, baru saja hendak turun dari helikopter, seseorang membekap mulut Sam dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius hingga kesadaran Sam hilang. Lalu mereka menggotong Sam menuju jet pribadi yang sudah disiapkan dokter Ines.
"Yoga, tolong atur agar Sam tetap tak sadarkan diri hingga kita sampai di Amerika." Kata dokter Ines pada anaknya. Tak lupa ia memberikan tas berisi peralatan medis yang memang sudah dipesan pada orang-orang suruhannya.
Dengan sigap, Yoga dibantu Ash memasang infus berisi obat tidur. Setelah itu mereka terbang menuju Amerika.
***
Jet mendarat di bandara kecil milik seorang teman dokter Ines, mereka menuju rumah dokter Ines yang berada di area perkebunan. Rumah besar bergaya modern dengan halaman luas ditanami berbagai jenis bunga. Dulu, waktu mantan suaminya akhirnya memutuskan untuk menikah lagi, dokter Ines memboyong ketiga putranya ke sini untuk menenangkan diri. Ia memang sangat sedih namun berusaha menyimpan semuanya dengan rapi seolah semua baik-baik saja. Tapi bukannya tenang, ia malah semakin gelisah di sini sebab rumah ini menyimpan banyak kenangan bersama dokter Syahril. Makanya setelah itu ia tak pernah lagi ke sini.
Ya, rumah ini memang hadiah ketika mereka berhasil menyelesaikan studi dan memiliki Sam. Dokter Syahril yang mendekornya sedemikian rupa sehingga tiap sudut rumah ini penuh kenangan bagi mereka.
__ADS_1
Namun, dokter Ines tak punya pilihan lain sebab Amelia dan anak-anaknya ikut, tak mungkin ia membawa mereka ke apartemennya di tengah kota Los Angeles. Apartemen itu tak terlalu besar, hanya cukup untuk dirinya dan ketiga putranya
"Kita sudah sampai!" Kata dokter Ines. Ia mempersilahkan semuanya masuk, lalu menyuruh pelayan yang menjaga rumah ini untuk mengangkat Sam ke kamar. Sekilas, dokter Ines melihat wajah Sam, matanya basah seperti sedang menangis.
"Maafkan ibu, nak. Ini demi kebaikan kami." Ia berbisik. Ini pilihan terbaik yang ia pilih, demi keselamatan putranya.
***
Rissa masih tak sadarkan diri ketika api menyala semakin besar, bahkan kini bersiap menyambar kamarnya yang berada paling belakang dari rumah sakit, dekat dengan mes dokter dan perawat.
"Bu ... Bu Rissa. Bu Rissa!" seorang perawat masuk ke ruangan Rissa untuk menyelamatkan istri pimpinan mereka, namun karena tak melihat Rissa berada di atas ranjangnya maka perawat itu mengira kalau Rissa sudah keluar duluan. Mungkin ada yang menolongnya. Makanya ia memutuskan segera ikut keluar menyelamatkan diri.
Panas. Api terus berkobar dengan cepatnya. Melahap apapun yang tersedia di hadapannya. Dalam kondisi terjatuh, Rissa merasakan panas itu, makanya ia terbangun dengan keringat bercucuran. Namun Rissa tak bisa berbuat apapun sebab kondisinya sangat lemah.
"Tuhanku, aku banyak dosa. Mohon jangan biarkan malaikat maut menjemputku sekarang sebab aku ingin jadi orang baik dulu, hambaMu yang taat. Aku juga punya janji untuk bertahan selama dua puluh ribu hari pada suamiku. Jangan biarkan aku menjadi pendusta." Kata Rissa. Lalu ia memanggil nama Sam, berharap suaminya segera menolongnya.
***
__ADS_1
Berita kebakaran itu akhirnya sampai juga ke keluarga Pratama. Mereka langsung mengingat Rissa. Dokter Ines paling pucat pasi. Sam belum juga sadarkan diri, bagaimana reaksinya kalau tahu rumah sakit kebakaran dan sampai sekarang belum juga ada kabar dari Rissa.
"Cari dia sekarang juga, apapun keadaannya ia harus ketemu!" Kata dokter Ines. Ia masih terduduk lemas. Menyesal sudah meninggalkan menantunya itu di sana sendiri. Tiba-tiba berbagai pikiran buruk muncul di benaknya. Bagaimana kalau Rissa tak ditemukan atau kalau hak buruk terjadi padanya. "Ya Tuhan bagaimana ini?" Dokter Ines menangis.
"Tante, tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja." Carissa memeluk dokter Ines yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri. Pada dokter Ines, Carissa memang sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari ibu kandungnya sendiri.
"Aku sudah bayar orang juga untuk cari Rissa." Kata Yoga, usai menutup telepon. Sama seperti ibunya, Yoga yang sebelumnya tak terlalu peduli pada Rissa bahkan terasa tak menerima kehadiran kakak iparnya itu merasa bersalah. Diam-diam ia berjanji jika Rissa ketemu maka ia akan memperlakukan Rissa dengan baik. "Ia pasti akan ditemukan!"
"Kita doakan saja semoga Rissa segera ketemu dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Bu Amelia.
***
Eka yang baru saja sampai di panti dibuat terkejut oleh berita yang dibawa ibu panti yang mengatakan kalau rumah sakit tempat Rissa dirawat mengalami kebakaran. Tapi mereka tak tahu kalau Rissa ditinggal sendiri. Saat itulah Eka sadar bahwa ia yang diberita tanggung jawab untuk menjaga Rissa hingga dokter Sam datang.
"Bagaimana ini, Rissa nggak apa-apa, kan? Apa dokter Sam sudah datang setelah aku pergi?" Eka terus berbicara dengan dirinya sendiri. Karena panggilan darinya tak kunjung dijawab oleh Rissa, makanya ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tanpa mendapatkan izin dari ibu kepala panti. Yang terpenting sekarang bahwa Rissa baik-baik saja.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa seceroboh ini. Semoga saja tak terjadi apa-apa sama Rissa!" Sampai di rumah sakit, Eka langsung menuju informasi, mempertanyakan keberadaan Rissa. Berita yang ia dapat bahwa Rissa belum ditemukan membuat Eka semakin dirundung rasa bersalah.
__ADS_1