
Mayang tak menyadari kalau ekspresi abangnya berubah. Ia masih saja mengomel hingga tiba-tiba motor pinjaman tetangga dihidupkan abangnya. Untungnya motor itu agak macet-macetan sehingga Mayang bisa meloncat ke bangku penumpang sebelum Fian tancap gas menuju rumah.
Sepanjang perjalanan, berulang kali Mayang mengingatkan abangnya untuk mengurangi kecepatan tapi Fian tak peduli. Hatinya sudah dipenuhi amarah, ia hanya ingin sampai rumah untuk melampiaskan semuanya.
Benar saja, sampai rumah, Fian mengamuk sejadi-jadinya. Ibunya yang baru pulang jadi buruh cuci di perumahan dekat kontrakan mereka dibuat kaget. Fian membanting satu stel kursi butut mereka, memecahkan kaca lemari reot mereka juga kaca rumah kontrakan. Ia membuat berantakan kamar ibunya, menghamburkan dan merobek sebagian pakaian ibunya hingga ibunya menangis histeris.
"Mas berhenti!" Juan mencoba menghentikan abangnya. Mereka sampai bergulat hingga adiknya berhasil mengunci Fian sampai tak berkutik karena kebetulan Juan pernah menjadi atlit taekwondo.
"Lepas, lepas anak kecil!" Teriak Fian.
"Nggak akan sampai kamu minta maaf sama ibu, mas!" Kata Juan, tak kalah emosi. Meski ia tak terlalu dekat dengan ibunya namun sebagai anak yang baik, Juan tak rela ibunya diperlukan seperti itu. "Minta maaf nggak sama ibu!" Kata Juan lagi.
"Nggak akan. Ibu sudah menghancurkan aku. Gara-gara keegoisan ibu aku kehilangan Rissa. Dia sudah menikah dengan laki-laki lain. Sekarang ibu puas!" Kata Fian sambil menangis.
__ADS_1
Juan yang awalnya memeganginya spontan melepaskan pegangan Fian. Tapi abangnya sudah berhenti mengamuk.
"Apa mas?" tanya Juan.
"Rissa baru saja melangsungkan pernikahan." Kata Mayang. Yang masih dibuat kaget dengan perbuatan abangnya tadi. Mengamuk sejadi-jadinya.
"Yah!" Juan langsung terduduk lemas. Usahanya selama ini sia-sia. Padahal ia sedang bekerja keras mengumpulkan uang agar bisa menikahi mantan kakaknya tersebut. Juan memang serius dengan perasaanya. Ia mencintai Rissa dan ingin menikahinya. Tak hanya terpesona dengan kecantikan Rissa, namun juga karena sifat Rissa yang baik, ceria dan selalu bersemangat. Makanya ia bekerja agar tak sama seperti abangnya. Ia ingin membiayai Rissa, menanggung beban hidupnya.. Sebagai buruh angkat di pasar. Mengajar les bimbel anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Dan juga jadi tukang antar paket. Bahkan apapun pekerjaan serabutan yang bisa ia kerjakan dilakoninya asal mendapatkan uang. Sedikit lagi rencananya Juan akan melamar Rissa namun sayang gadis itu sudah terlanjur dinikahi oleh orang lain.
"Kata siapa? Fian nggak akan pernah jadi Sarjana, Fian sudah di DO, Bu!" ungkap Fian.
"Apa? Kamu di DO? Maksud kamu apa Fian? Kenapa bisa di DO? Kamu kan akan lulus kuliah. Tinggal satu semester lagi. Kamu jangan macam-macam ya Fian!" Bu Upi benar-benar emosi mendengar keterangan putranya yang menyatakan kegagalannya. Semua karena Fian tak pernah masuk kuliah. Ia sibuk main. Bersenang-senang dengan uang yang diberikan ibunya, hasil kerja keras sebagai buruh cuci dan gosok. Selain itu, Fian juga malas. Otaknya tak mampu untuk kuliah. "Ya ampun Fian, kamu mau membunuh ibumu? Kamu mau ibumu mati mendadak dengan semua ini?" Bu Upi melotot sambil menahan sakit di dadanya.
"Tega kamu mas! Aku menahan diri nggak maksa pengen kuliah tapi kamu tega menghancurkan semuanya. Kamu diberhentikan kuliah. Jahat kamu. Lagian ibu juga, sudah tahu mas Fian nggak mau kuliah masih dipaksakan..ini akibatnya!" Mayang tak kalah marah. Ia merasa semuanya sia-sia padahal sebelumnya ia sudah berusaha merelakan jika abangnya yang kuliah. Tapi kini ia kembali menyesalinya.
__ADS_1
Keluarga itu saling teriak. Frustasi dengan apa yang sudah terjadi. Bu Upi kecewa pada Fian, Mayang kecewa pada ibu dan masnya, sementara Fian kecewa pada ibunya. Sumpah serapah diiringi tangis keluar dari mulut masing-masing. Bahkan saking kesalnya ibunya sampai menyumpah Rissa yang tak tahu apa-apa. Tentu saja Fian dan Juan tak terima Rissa dibawa ikut serta. Fian yang gagal kenapa harus Rissa dijadikan kambing hitamnya.
"Sejak awal Fian nggak mau kuliah Bu. Fian mau kerja saja lalu menikah dengan Rissa. Tapi ibu terus memaksakan kehendak. Membuat Fian jadi malas. Akhirnya ya begini. Ibu terus menghalangi hubungan kami hingga Rissa dinikahi orang lain!" Kata Fian lagi.
"Dan segala kekacauan ini nggak ada hubungannya dengan kak Rissa, Bu. Justru kak Rissa sudah banyak membantu keluarga kita. Ibu mengakui atau tidak, bahkan sebagian besar kebutuhan kita ditanggung oleh kak Rissa. Tapi tetap saja, ia selalu buruk Dimata ibu. Ia tak pernah ada baiknya. Aku benar-benar malu dengan keluarga ini. Anak laki-lakinya menyandarkan diri pada perempuan yatim piatu Tapi bukannya mengingatkan anaknya, ibu malah menikmati jerih payahnya kak Rissa, namun bersamaan dengan itu ibu juga menolaknya mentah-mentah. Lalu mau ibu apa?" ucap Juan yang sudah tak bisa menahan kekecewaannya. "Aku Menyerah dengan keluarga ini. Aku pergi!" Kata Juan. Ia segera mengambil tasnya, memasukkan beberapa lembar pakaian.
"Kamu mau kemana Juan?" Tanya Bu Upi. Sembari menahan bungsunya. Meski ia tak seperhatian pada Fian, namun Bu Upi juga menyayangi Juan. Hanya saja, bungsunya itu jauh lebih dewasa dari sulungnya, makanya perhatiannya tertuju pada Fian saja. "Juan, jangan pergi. Juan!" Panggil Bu Upi. Namun Juan mengabaikan. Ia berlalu meninggalkan kontrakan tiga petak yang sudah sangat berantakan oleh ulah abangnya sambil berlari kecil. "Fian ... Mayang, lihat itu. Adik kalian pergi. Ayo cepat kejar Juan. Suruh dia pulang. Dia nggak punya siapa-siapa selain kita. Jadi ayo jemput dia." Kata Bu Upi pada dua anaknya yang lebih besar.
Fian dan Mayang mengabaikan perintah ibunya. Sebenarnya mereka pun sudah malas tinggal bersama namun mereka berdua tak punya nyali seperti adiknya, tak ada pekerjaan, pendapatan yang tetap dan sangat malas untuk bekerja. Makanya mereka memilih numpang hidup selagi ibunya masih ada.
Sayangnya, meski amarah mereka bertiga sudah sama-sama reda, namun masalah belum selesai sebab yang punya kontrakan datang. Rupanya ia tahu ada keributan dari laporan tetangga.
"Kalian memang selalu saja membuat masalah. Sudah nunggak empat bulan, sekarang malah merusak rumah saya. Pokoknya kalian harus angkat kaki dari sini dan membayar ganti rugi atas semua kerusakan ini." Tuntut pemilik kontrakan. "Kalau kalian tidak mau bayar maka Fian akan saya penjarakan sebagai jaminan!".
__ADS_1