Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Rumah Baru Kami


__ADS_3

Rissa tak bisa berkata-kata selain berdecak kagum sambil terus memanjatkan syukur di dalam hatinya saat Sam membawanya ke rumah baru mereka. Dua hari ini, usai kembali dari Singapura, mereka memang tinggal di hotel sesuai pilihan Sam, setelah itu barulah suaminya tersebut memperlihatkan rumah tersebut.


Rumah ini memang tak sebesar rumah keluarga Sam, namun terlihat sangat nyaman. Taman yang hijau, cukup luas dan terlihat terawat. Rumah tiga kamar dengan cat putih dan perabotan berwarna senada. Rissa seperti memiliki istana impiannya, bahkan ini jauh lebih luar biasa dari apa yang selama ini ia harap-harap. Baiknya Tuhan kepadanya meski ia sendiri merasa belum menjadi orang baik.


"Kenapa termenung saja, ayo masuk!" Sam membuyarkan lamunan istrinya. "Aku berusaha mendesain semuanya sebaik mungkin, ku harap kamu menyukainya." Tambah Sam, sambil menunjukkan kamar mereka.


"Ya, aku suka. Suka sekali!" Rissa tertawa riang.


"Lalu apa rencana kita setelah ini?"


"Tentang?"


"Sayang, kamu pasti sudah diajak bicara sama ibu, kan? Bagaimana menurut kamu?"


"Kita tetap dengan apa yang sudah kita sepakati ya?"


Sepasang mata bulat Rissa menatap Sam penuh harap. Ia memang masih takut jika harus masuk meja operasi. Ia tak mau jadi kelinci percobaan.


"Bisa kamu ceritakan, apa yang sudah kamu dan dua orang rekanmu alami?" Tanya Sam.


Rissa mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Saat manager menawarkan sebuah projek baru. Sebagai peracik obat. Hanya saja tempatnya tak sama dengan butuh lainnya. Mereka akan ditempatkan di ruang hijau. Hanya ada tiga orang yang terjaring. Tiga-tiganya hampir memiliki latar belakang perekonomian yang sama. Rissa sendiri saat itu harus mengumpulkan uang banyak untuk dipersembahkan pada Bu Upi agar merestui pernikahannya dengan mas Fian.

__ADS_1


Dua orang meracik di ruang utama, sementara Rissa di ruangan awal, dekat dengan pintu keluar. Tugas itu sebenarnya untuk sepekan, namun hari pertama, salah satu temannya jatuh pingsan. Esoknya meninggal dunia. Temannya satu lagi, tiga hari kemudian sakit-sakitan. Sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Mengingat itu membuat Rissa merinding.


Dirinya sendiri belum pernah masuk ruang utama karena di hari keempat, proyek tersebut dibatalkan. Mereka bertiga tetap mendapatkan uang. Sempat terdengar gosip-gosip beredar di lingkungan para buruh, bahkan ia sendiri dipertanyakan oleh teman-temannya. Untungnya ia baik-baik saja sejak sekarang makanya isu bahwa mereka bertiga dijadikan sebagai kelinci percobaan terbantahkan dengan kesehatannya.


"Bisa jadi karena kamu gak masuk di ruang utama, Ris. Makanya kondisi kamu jauh lebih baik dari dua rekanmu." Ungkap Sam. "Tapi kita tak boleh lemah. Tetap makan vitamin dan antivirus yang aku berikan!" Perintahnya. Rissa mengangguk-angguk.


***


Ada banyak bibit tanaman yang Rissa beli di toko online. Sayuran, apotik hidup dan bunga-bunga kesukaannya. Pagi ini, usai sarapan ia langsung menyibukkan diri dengan tanaman tersebut di halaman depan. Suaminya sudah menyerahkan kepengurusan taman ini padanya. Jadi Rissa bebas mau dibikin apa.


"Kamu yakin tidak mau dibantu?" Sam muncul sambil menenteng tas kerjanya. Ia memang sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit sebab sudah beberapa hari tak masuk kerja.


"Yap. Aku akan baik-baik saja, jadi berangkatlah dengan tenang bekerjanya ya suamiku sayang." Rissa mengecup pipi Sam hingga membuat Sam kikuk dengan sikap spontan istrinya.


"Siapa?"


"Tunggu saja." Sam membalas mengecup kening Rissa, lalu pamit berangkat ke rumah sakit.


***


Usai berkebun, Rissa kembali mandi. Ia lalu sibuk di dapur, menyiapkan hidangan untuk seseorang yang akan datang ke rumahnya. Begitu selesai, orang yang dimaksud Sam datang. Ternyata Tari. Melihat sahabatnya berdiri di depan pintu, Rissa melonjak bahagia. Ia benar-benar senang akhirnnya bisa ketemu lagi setelah dua pekanan tak bertemu.

__ADS_1


"Kenapa nggak ngabarin aku langsung. Kamu itu sahabat aku atau Sam?" Rissa menekuk wajahnya. Ia pura-pura marah.


"Maaf maaf. Aku ingin memberi kejutan. Tapi kedatanganku kesini juga membawa kabar gembira." ujar Tari.


"Apa?"


"Ris, aku dan Abas akan menikah. Ia sudah melamarku!" malu-malu Tari memperlihatkan cincin di jari manisnya yang sempat tak terpantau oleh mata Rissa.


"Hah, benar? Wah, aku senang sekali. Akhirnya kamu akan menyusul aku, Tar. Seperti yang kita inginkan, kita akan mendapatkan pangeran yang kita sukai!" Rissa dan Tati melonjak kegirangan. Mereka merayakan jodoh yang diberikan Tuhan dengan suka cita.


"Aku benar-benar bahagia. Rissa, sebentar lagi aku akan jadi istri. Sama seperti kamu. Oh ya, kita sama-sama punya anak nantinya ya. Kalau anak kita laki-laki, atau sama-sama perempuan maka mereka akan jadi sahabat seperti kita. Tapi kalau mereka lawan jenis maka kita jodohkan. Bahagia sekali kalau kita bisa besanan Ris!" ucap Tari dengan penuh suka cita.


Tiba-tiba, senyum diwajah Rissa pudar. Bagaimana mau punya anak, Sam saja belum menyentuhnya sama sekali. Padahal ia sudah memasrahkan semuanya. Tapi Sam terlalu takut. Ia belum siap memiliki keturunan sebab takut anak itu akan jadi eksperimen untuk menyembuhkan ibunya.


"Ris, kamu kenapa?" tanya Tari. Ia bingung dengan perubahan ekspresi Rissa. Tari jadi sungkan, apakah sahabatnya enggan besanan dengannya. Ia pun akhirnya menyadari siapa ia dan Rissa saat ini. Mereka sudah berbeda. Rissa sudah jadi istri orang kaya. Istri seorang dokter, sekaligus kepala rumah sakit yang kekayaan keluarga mereka tak main-main.


Sementara dirinya. Tari sadar, kalau ia jadi menikah dengan Abas. Hanya sebuah kosan dengan delapan kamar yang akan jadi andalan mereka. Benar-benar bak bumi dan langit. Bisa-bisanya ia berpikir menjadi besan Rissa. sekarang sahabatnya itu tak berubah saja sudah bagus.


"Maaf kalau ada kata-kataku yang salah, Ris." ucap Tari. "Lupakan saja apa yang aku katakan tadi. Oh ya, yang penting kamu nanti harus hadir di pernikahanku. Aku ingin kamu yang menemani. Tapi ya nikahannya di kampung aku, Ris. Kamu dan dokter Sam hadir ya. Aku akan senang sekali, kalian akan jadi tamu kehormatan!" ungkap Tari.


"Ya Tar, InshaAllah aku akan hadir." Rissa berusaha bersikap biasa meski sebenarnya hatinya galau.

__ADS_1


Kenapa ia dan Sam tak punya anak saja. Ia bisa memastikan anaknya tak akan dijadikan eksperimen karena ia pun tak rela anak mereka nanti dijadikan kelinci percobaan.


"Tar ... semoga kamu bahagia ya. Bisa segera punya anak juga setelah menikah." kata Rissa, dengan pikiran yang tak lagi fokus hingga pertemuan dua sahabat itu lebih banyak diisi dengan saling diam Padahal mereka merindukan pertemuan ini.


__ADS_2