Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Rencana Masa Depan


__ADS_3

Dokter Sam tersenyum, sementara Fian pucat pasi. Ia tak menyangka Rissa akan mengusirnya. Ditambah dokter Sam menggertak Fian sehingga membuat lelaki itu lari terbirit-birit.


"Terimakasih." kata dokter Sam.


"Untuk apa?" Rissa balik bertanya.


"Sudah memilih aku."


"Kata siapa?"


"Kata hatiku."


"GR!"


"Tapi benarkan?"


"Masih aku pertimbangkan."


"Hm, baiklah. Akan kutunggu."


"Kalau anda bisa mencintaiku."


Senyum di wajah Dokter Sam kembali terkembang. Begitu juga dengan Rissa.


Rissa dan donter Sam masih betah berdiri berhadap-hadapan meski tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Hanya sesekali saling pandang, melempar senyum malu-malu. Lalu menundukkan wajahnya untuk menghilangkan rasa canggung. Layaknya muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.


"Ris ... dokter Sam. Kalian di sini?" tiba-tiba panggilan Tari menyadarkan mereka dari nyanyian virus merah jambu sehingga membuat keduanya salah tingkah. Tak tahu harus menjawab apa. "Aku kira kamu benar-benar mau jalan-jalan untuk buang suntuk. Ternyata nongkrong di sini. Benar-benar ampuh ya buang suntuknya." Tari menyindir Rissa hingga pipi Rissa langsung berubah merona.


"Oh itu, tadi ...." Rissa tak tahu harus bicara apa.


"Ya sudah. Kalau buang suntuknya kayak gini aku nggak khawatir. Lanjutkan saja, aku mau pergi kerja dulu." ungkap Tari, sambil melambaikan tangannya. Tak lupa ia memberi isyarat pertanda menggoda Rissa yang ketahuan kembali dekat dengan dokter Sam sehingga membuat gadis itu jadi kelabakan. "Saya pamit dulu dok!" seru Tari pada dokter Sam. "Titip teman saya, ya dok. Tolong jangan sampai dia bad mood lagi." Tari nyengir.


"Oh ya." dokter Sam hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak kalah canggung.


Kembali, hanya tertinggal Rissa dan dokter Sam berdua saja. Mereka kembali dalam diam. Sebenarnya sama-sama tidak nyaman jika harus berdiri dan saling diam, tapi mereka sama-sama tak ingin melewatkan momen kebersamaan ini.

__ADS_1


"Hem," dokter Sam berdehem. Membuat Rissa panas dingin. "Kamu tadi katanya mau jalan-jalan? Silakan, kalau mau dilanjutkan." kata dokter Sam.


"Hah?" Rissa cemberut. Tadi memang pengen jalan-jalan, tapi sekarang ingin berbincang-bincang dahulu.


"Silakan." Dokter Sam mempersilahkan lagi.


"Iya. Aku pergi." Rissa masih cemberut. Berat sekali rasanya harus melangkah. Sebenarnya, di sini dengan lelaki itu sudah bisa membuang rasa suntuknya, tapi ia juga malu untuk mengatakan kalau ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama.


"Kenapa masih diam saja? Katanya mau jalan-jalan?"


"Iya-iya, aku berangkat sekarang." sambil menghentakkan kakinya, Rissa mulai melangkah. Tetapi baru beberapa langkah, ia terhenti karena menyadari bahwa dokter Sam mengikutinya. "Anda mengikuti aku?" Rissa berbalik.


"Hm,"


"Kenapa?"


"Saya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja. Lagipula, sepertinya kamu masih ingin dekat lebih lama dengan saya. Iya, kan?"


Rissa tak menjawab, hanya menundukkan kepalanya agar dokter Sam tak melihat rona di wajahnya. Dokter Sam berjalan lebih dulu, dua langkah di depan Rissa, lalu gadis itu mengikutinya dari belakang.


"Hah?" Rissa terbelalak.


"Supaya saya bisa menjaga kamu tanpa ada batasan. Kamu juga bisa bisa bersama saya tanpa ada batasan. Kalau seperti ini saya takut."


"Takut kenapa?"


"Ada banyak setan yang membersamai kita." bisik Dokter Sam.


"Oh, kalau begitu pergilah."


"Ris ... ayo kita berubah sama-sama. Jadi lebih baik." pinta dokter Sam lagi.


"Berubah seperti apa?"


"Saya pernah melakukan sebuah kesalahan yang membuat saya menyesal, entah sampai kapan penyesalan itu bisa hilang.

__ADS_1


Saat usia saya masih terlalu dini, ayah dan ibu saya berpisah. Keputusan mereka itu benar-benar membuat saya kecewa, apalagi tak lama ayah saya menikah dengan perempuan yang cukup saya kenal. Ia adalah ibu dari Carissa. Seseorang yang pernah menjadi teman di masa kecil saya.


Keputusan ayah membuat saya meninggalkannya. Saya minta di sekolahkan di luar negeri. Pergi tanpa pamit dan tak bertemu lagi hingga akhirnya saya mendengar kabar bahwa ia meninggal dunia.


Ternyata kepergiannya menjadi penyesalan terbesar di hidup saya sebab saya sangat menyayanginya. Tapi tak pernah bisa mengatakannya. Setiap ia minta bertemu, atau menelfon, saya selalu menghindar.


Rissa ... saya tahu, ayah saya adalah penyebab sakit yang kamu derita. Tapi, ia bukan orang jahat.. bertahun-tahun ia mengabdikan dirinya untuk menyembuhkan pasiennya. Makanya ia nekat membuat penemuan baru. Tapi akhirnya ia kalah. Akibat merasa bersalah, ia memutuskan bunuh diri sebab begitu putus asa.


Rissa, sebelum kita bertemu di rooftop, aku pernah mengikutimu secara diam-diam. Aku ingin minta maaf secara langsung. Tapi tak sanggup sebab melihat senyum dan keceriaan di wajah kamu rasanya tak sanggup melihat semua itu hilang. Saat itu, aku merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi aku tahu, kamu masih punya kekasih. Lelaki parasit itu.


Siapa sangka, kita ketemu di rooftop. Pertemuan itu membuat saya bertekad bahwa saya harus mendapat kamu. Saya tak ingin melihat kamu bersedih lagi sebab saya rasa wajah kamu tidak cocok menyiratkan kesedihan. Karakter kamu adalah gadis ceria yang tak pernah menyerah. Karena itu, aku meminta padamu, Ris. Berbahagialah mulai sekarang. Jangan sedih lagi. Kau harus tetap semangat karena aku akan berjuang untuk kesembuhan dan kebahagiaanmu."


Sepasang mata bulat Rissa berkaca-kaca. Meski ia tak mengenal dokter Sahril Pratama, tapi mendengar cerita dokter Sam, ia juga yakin kalau orang yang membuatnya sakit itu adalah lelaki yang baik.


"Ris, apa kamu mau menikah denganku?" tanya dokter Sam lagi.


"Ya!" jawab Rissa. Tak ada alasan untuk menolak lelaki ini. Apalagi setelah ia tahu kalau dokter Sam juga mencintainya.


***


Rissa tak bisa berhenti tersenyum, sebab mengingat kejadian tadi. Saat dokter Sam melamarnya. Tidak terpikirkan oleh Rissa bahwa semua akan seindah ini. Ia sudah bisa merelakan semua yang menimpa dirinya.


Tapi apakah semuanya akan sesempurna itu?


Perlahan senyum Rissa pudar, bersamaan dengan rasa sakit yang mulai menyerang kepalanya. Seperti ada ribuan paku yang menghujam. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.


Sakit sekali!


Sayangnya, tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut Rissa selain air mata yang tak kalah deras.


Sakit sekali!


Rissa meringkuk di atas lantai, ia berusaha meremas kepalanya. Mengalihkan rasa sakit. Tapi usahanya tak berhasil. Hingga ia memuntahkan cairan berwarna merah dari mulutnya. Amis. Rissa muntah darah. Karena begitu sakit, akhirnya ia tak sadarkan diri.


*Jangan ... Jangan panggil aku sekarang, Tuhan. Aku ingin bahagia. Aku juga ingin menjadi obat untuk dokter Sam. Ia masih punya luka di hatinya. Kalau aku sembuh, setidaknya ia bisa memaafkan dirinya sendiri sebab sudah berhasil membantu ayahnya. Aku mohon, jangan panggil aku sekarang. Beri aku sedikit saja waktu. Sedikit lagi.

__ADS_1


__ADS_2