Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Kegilaan Fian


__ADS_3

Seorang perempuan dengan makeup menor mendatangi Fian. Ia menuntut agar Fian menikahinya atau mengembalikan sejumlah uang dengan nominal yang tak sedikit. Untuk bisa lolos dari perempuan itu, akhirnnya Fian berbohong dengan janji akan menikahinya. Ia butuh waktu untuk membelikan mahar. Mendengar itu, Sonya, perempuan yang entah keberapa yang dijodohkan ibu dan adik perempuannya itu akhirnya membiarkan Fian pergi. Laki-laki itu sampai lari tunggang langgang.


"Untung saja ia percaya. Kalau tidak ia pasti tak akan melepaskan aku!" Fian bergumam. "Lagian, bagaimana mungkin ibu sama Mayang bisa sekejam itu menjodohkan aku dengan ondel-ondel itu. Jauh sekali kalau dibandingkan Rissa. Bak langit dan kerak bumi." Fian bergidik ngeri. Sekarang ia harus bergerak cepat agar bisa lepas dari perempuan itu. Ia punya hutang sepuluh juga dan sudah jatuh tempo, dalam bulan ini ia harus mendapatkan uang tersebut padahal Fian belum bekerja dan apesnya ia baru saja di DO tanpa sepengetahuan ibunya karena Fian yakin kalau ibunya tahu maka ia akan dihajar habis-habisan sebab Fian adalah satu-satunya harapan ibunya untuk merubah nasib keluarga mereka, tempat ibunya bergantung di hari tua.


Ibunya Fian begitu memaksakan diri agar putra sulungnya itu bisa kuliah. Dengan bantuan dari Rissa, akhirnnya anaknya bisa juga melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Namun Fian menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menghabiskan empat belas semester sebab sebenarnya Fian tak punya minat untuk kuliah, otaknya pun tak mampu. Ambisi ibunya yang membuatnya bisa jadi mahasiswa.


Sampai di ruang rawat inap Rissa, Fian di hadang oleh Tari. Ada dokter Sam juga di sana. Sebenarnya Fian agak-agak ngeri berhadapan dengan dokter itu sebab sebelumnya ia pernah diusir, namun Fian merasa dokter itu gak mungkin membuat keonaran di rumah sakit, ditambah ini rumah sakitnya sendiri. Ia sudah membuat ancang-ancang, kalau dokter itu berani melarangnya maka ia akan berteriak dan membuka kedok kejahatan ayahnya dokter tersebut agar semua orang tahu dan tak lagi berobat di rumah sakit ini.


"Aku punya hak untuk bertemu Rissa. Kalian berdua bukan siapa-siapanya. Aku hanya akan pergi kalau Rissa yang menyuruhku!" Kata Fian dengan percaya diri sebab ia tahu Rissa sedang tak sadarkan diri.


"Kau ini benar-benar laki-laki tak tahu malu!" Tari mengumpat, namun tak bisa berbuat apa-apa ditambah dokter Sam hanya diam menatap Fian yang semakin mendekati ranjang Rissa.


"Pergilah!" Kata dokter Sam. Akhirnya ia buka mulut setelah mendengar perdebatan Fian dan Tari.


"Anda tidak dengar kata-kata saya? Saya akan pergi kalau Rissa yang menyuruh. Tapi lihat, Rissa nggak nyuruh, tuh. Dia nyaman-nyaman saja saya di sini? Lihat, kan?" Fian terkekeh. "Lagian, harusnya anda yang pergi dokter. Kan anda yang membuat Rissa seperti ini. Gara-gara anda hubungan saya dan Rissa harus berakhir. Harusnya anda malu sudah merusak hubungan orang lain. Rissa itu milik saya, ia hanya mencintai saya. Ia hanya ...."


"Stop!" Tari berteriak. "Bisa nggak kamu diam saja, hah? Sana pergi!" Tari mengusir Fian. "Aku benar-benar heran ada manusia setidak tahu malu seperti kamu. Bisa-bisanya kamu masih saja muncul di hadapannya Rissa. Apa kamu tak punya muka? Hah? Pergi nggak?" Tari kehilangan kesabarannya.


"Heh Tari, jangan ngelunjak ya kamu. Dibayar berapa kamu sama dokter itu? Kamu kira aku nggak tahu, dari Informan yang aku percaya, kamu dibayar kan oleh perusahaan untuk terus menjaga Rissa. Kalian sengaja menyekap dia agar tak bicara pada siapapun tentang kejahatan kalian. Benar-benar memalukan. Ini yang dinamakan sahabat? Sahabat apaan, hanya demi uang kamu membungkam Rissa. Memaksanya agar mau menikah dengan dokter itu. Supaya Rissa nggak bicara dengan siapapun. Kamu itu, sebelum semua kekacauan ini terjadi, kamu bukan siapa-siapa Rissa. Bahkan ia tak mendengar kamu. Jadi jangan sok kepedean menyebut diri sebagai sahabat Rissa. Harusnya kamu yang malu, tak tahu diri, kamu itu memanfaatkan kondisi Rissa demi keuntungan pribadi. Perempuan busuk!" teriak Fian.

__ADS_1


Bruk. Sebuah pukulan mendarat di wajah Fian. Dokter Sam yang melakukannya. Ia sudah teramat geram mendengar ocehan laki-laki ini.


"Anda ... berani-beraninya, akan saya adukan ke kantor polisi agar anda ditahan!" Ancam Fian.


"Silakan lakukan!" Dokter Sam menantang.


"Ris, bangunlah sayang. Lihatlah betapa kurang ajarnya mereka. Kamu harus mendengarkan aku. Kamu harus bangun!" Fian berusaha membangunkan Rissa.


"Heh benalu, kamu mau apain Rissa? Dia nggak sadarkan diri, nggak akan bangun. Saja, pergilah!" Tari kembali mengusir.


Fian tetap bersikukuh, bertahan sambil berusaha membangunkan Rissa. Ia mengabaikan Tari dan dokter Sam. Makanya Tari berniat untuk memanggil satpam agar menyeret Fian dari rumah sakit ini.


"Kalian kenapa?" tanya Rissa, sambil melihat ke arah Fian dan Tari.


"Rissa!" Tari memekik. "Kamu sudah bangun? Kamu nggak apa-apa? Apa ada yang sakit?" Tari langsung memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Dimana ini? Mas Fian?" Rissa menatap bingung.


"Ya sayang, ini aku." Fian mendekat dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Dokter?" Rissa beralih.


"Kalian lihat, aku ... Akulah yang bisa membangunkan Rissa. Ia seperti putri tidur yang terbangun karena kedatangan pangerannya!" Fian tertawa penuh kemenangan, ia menatap dokter Sam dengan tatapan mengejek. "Perasaan itu tak bisa dibohongi. Hatinya masih tertuju padaku!" Katanya dengan penuh percaya diri.


Sepasang mata dokter Sam menatap Rissa. Tatapan penuh rasa cemburu. Benarkah ia telah kalah? Benarkah ia tak spesial makanya selama ini panggilannya tak bisa membangunkan Rissa. Sementara laki-laki itu, sekali saja, sudah bisa membangunkan Rissa.


Sam benar-benar bergejolak. Ia cemburu, kesal dan juga sedih. Kenapa belum juga menjadi spesial dihati perempuannya?


"Ris, kamu enggak apa-apa?" Tari menyadari perubahan ekspresi wajah dokter Sam. Ia yakin laki-laki itu tak sedang baik-baik saja. Makanya ia berusaha mengambil alih sembari memikirkan cara untuk mengusir Fian sebab kalau harus menyeret sendiri ia sangat yakin tak akan sanggup karena badan Fian jauh lebih besar darinya.


"Rissa, aku disini, menunggui kamu, aku nggak bisa melihat kamu seperti Ini sendiri. Aku sedih sayang." Kata Fian, membuat tari mual.


"Dok," Rissa melihat ke arah dokter Sam. "Katanya mau jagain, kenapa ada dia?" Rissa menunjuk Fian sehingga membuat Tari tersenyum sementara Fian langsung kecut.


"Aku akan panggilkan satpam!" Tari segera berlari keluar.


"Ris, aku disini nungguin kamu. Aku sayang sama kamu. Aku yang sudah membuat kamu bangun. Katakan padaku kalau kamu juga masih mencintai aku, kan? Oh, kalau kamu nggak mau bilang, enggak apa-apa. Aku paham, kamu pasti malu, kan. Aku nggak akan membiarkan kamu sendirian. Aku akan menjaga kamu. Kita kembali seperti dulu ya." Kata Fian panjang lebar.


Namun tak berapa lama Tari datang membawa empat orang satpam yang langsung menggotong Fian keluar dari rumah sakit ini.

__ADS_1


__ADS_2